
"Ghea sudah lapar, Bang! Masakannya sudah matang?" Tanya Ghea yang kini sudah ikut mendekat ke arah Emily dan Galen.
Gadis sembilan belas tahun tersebut, memeriksa masakan Emily yang sudah dipindahkan ke mangkuk saji. Hanya tinggal membawanya ke meja makan.
"Cuci tangan dulu sana! Ganti baju! Baru pulang udah mau langsung makan aja!" Cerocos Galen yang langsung ditanggapi Ghea dengan cibiran.
"Baunya harum. Apa masakannya sudah matang?" Tanya Papi Bian yang baru datang dari arah pintu utama.
"Sudah, Pi! Hanya tinggal menyajikan saja!" Jawab Galen yang sudah membawa mangkuk berisi sup sayur ke meja makan. Emily menyusul dan membawa piring berisi ayam goreng tepung serta sambal hasil ulegan perdana Emily.
"Kelihatan lezat!" Papi Bian sudah mengambil posisi duduk di meja makan, bersebelahan dengan Ghea yang hanya mencuci tangannya dan mengabaikan perintah sang abang untuk berganti baju.
Perut lapar Ghea harus diutamakan ketimbang baju Ghea yang tidak kotor juga.
Paling hanya bau keringat karena Ghea yang seharian mondar-mandir di kampus mengikuti kelas hari ini.
"Mommy kemana? Tidak ikut makan siang?" Tanya Emily pada Galen karena wamita itu tak melihat sang Mom mertua.
"Mommy masih meeting di kantor. Harusnya sudah pulang saat jam makan siang. Mungkin masih terjebak macet. Kita makan duluan saja!" Tutur Papi Bian memberikan penjelasan pada Emily.
"Emily mengangguk paham dan segera menyendokkan nasi ke piringnya dan juga ke piring Galen.
Papi Bian sendiri sudah menuangkan sup sayur hasil masakan Emily ke atas piringnya. Pria paruh baya itu segera menyuapkan nasi beserta sayur sup ke dalam mulutnya untuk mencicipi rasanya.
Sesaat, Papi Bian hanya diam merasakan sup sayur Emily yang terasa lain.
Ghea yang hampir menyuapkan nasi ke dalam mulut, mendadak tak jadi melakukannya karena melihat ekspresi wajah Papi Bian.
Pun dengan Galen dan Emily yang langsung mengernyit bersamaan, bertanya-tanya apa yang salah dengan masakan Emily kali ini.
"Ada apa, Pi?" Galen yang terlebih dahulu buka suara dan bertanya.
"Yang masak sup sayurnya kamu, Emily?" Tanya Papi Bian menatap serius ke arah Emily.
"Iya, Pi!" Perasaan Emily benar-benar tak enak sekarang.
Jangan-jangan supnya keasinan.
Mati kau, Emily!
"Apa garam di dapur habis?" Tanya Papi Bian lagi yang langsung membuat Emily melongo.
"Masih banyak, Pi!" Jawab Emily yang seakan tersadar.
Cepat-cepat istri Galen itu mencicipi sup buatannya. Galen ikut mencicipi dan pasangan pengantin baru tersebut sama-sama terdiam sejenak setelah merasakan sup buatan Emily yang rasanya....
Hambar!
"Kau tadi tidak mencicipinya dulu? Kenapa bisa lupa memasukkan gula dan garam?" Cecar Galen berbisik pada Emily.
"Aku lupa. Tadi aku pikir sudah mencicipinya tadi," jawab Emily ikut berbisik dan meringis.
__ADS_1
"Hambar. Nggak ada rasanya," bisik Galen lagi yang sontak membuat Emily merengut.
"Siang semua. Apa Mom terlambat untuk makan siang?" Sapaan Mom Mua yang baru datang mencairkan ketegangan di meja makan.
"Wah, menunya sup sayur. Apa Emily yang memasak?" Tanya Mom Mia yang langsung duduk disamping Ghea dan menatap bingung pada semua anggota keluarga Biantara yang masih diam.
"Kenapa semua diam?" Tanya Mom Mia heran seraya mengambil sendok untuk mencicipi sup sayur Emily.
Baru juga Emily mau mencegah.
Tapi tangan Mom Mia cepat sekali menyuapkan sendok berisi potongan wortel dan buncis dari dalam sup ke mulutnya.
Emily belum sempat mencegahnya. Dan kini Mom kandung Galen tersebut terdiam dengan raut wajah datar sama seperti Papi Bian dan Ghea.
Emily semakin menundukkan wajahnya dan merasa bersalah.
Baru juga disuruh masak!
Malah nggak ada rasanya.
"Makan pakai ayam tepungnya juga nggak masalah, pasti enak," Ghea mencairkan keheningan dan segera meraih sepotong ayam goreng tepung, lalu menambahkan sambal juga ke piringnya.
Adik kandung Galen itu baru saja menggigit ayamnya, saat mendapati bagian tengah ayam yang masih merah dan belum matang sempurna.
Ya ampun!
"Ayamnya belum matang, Kak!" Ucap Ghea yang langsung meletakkan ayamnya kembali ke piring.
"Tadi aku kan udah bilang pake api ke-" Galen berbisik pada Emily dan sedikit mengomel, saat Mom Mia menyela dengan cepat.
"Galen! Turun ke bawah dan ambil makan siang dari bawah saja!" Titah Mom Mia yang langsung membuat Galen memundurkan kursinya.
"Baik, Mom!"
Galen berjalan cepat ke arah pintu utama dan sudah menghilang dengan cepat.
Sementara Emily masih menundukkan wajahnya dan merasa sangat-sangat bersalah.
Andai Emily tidak cengengesan saat Bunda mengajarinya masak, Emily pasti tak akan membuat keluarga Galen kecewa berat begini.
Duh!
Rasanya Emily mau membenamkan dirinya ke dasar bumi saja.
Emily bukan gadis cengeng.
Tapi saat ini mata Emily mendadak terasa panas dan Emily ingin menangis.
Galen pasti juga akan mengomeli Emily habis-habisan setelah ini.
"Tapi sambal buatan Kakak enak, kok!" Ucap Ghea lagi yang kini sedang memakan nasi sambil dicolekin di sambal.
__ADS_1
Mom Mia dan Papi Bian ikut mencicipi sambal Emily.
"Iya, sambalnya enak," puji Papi Bian yang raut wajahnya masih tetap datar.
"Emily minta maaf, Mommy, Papi, Ghea," Emily menatap bergantian pada keluarga Galen tersebut.
Mata Emily sudah berkaca-kaca sekarang.
"Emily, Sayang! Tidak perlu menangis, oke!" Mom Mia berusaha menenangkan Emily yang mulai berurai airmata.
"Sebentar lagi makanannya di antar, Mom!" Lapor Galen yang sudah kembali dari bawah.
"Em, lain kali-" Galen belum menyelesaikan kalimatnya saat Emily tiba-tiba sudah bangkit dari duduknya dan mengusap kasar airmata di kedua pipinya.
"Em-Emily ke kamar dulu," pamit Emily tanpa menatap salah satu anggota keluarga Biantara. Emily langsung meninggalkan ruang makan dan masuk ke kamar.
"Em!" Galen hendak mengejar Emily, namun Mom Mia mencegah dengan cepat.
"Biar Mom saja!" Ucap Mom Mia tegas yang langsung menyusul Emily masuk ke kamar.
"Abang, sih!" Ghea menyalahkan Galen yang tadi mengomeli Emily.
"Apa? Kamu itu yang kebanyakan komentar!" Galen balik menyalahkan Ghea.
"Sudah! Sudah!" Papi Bian segera melerai kedua anaknya yang berdebat, bersamaan dengan makanan dari kafe yang sudah siap dan diantar ke atas.
Setelah menyingkirkan masakan Emily yang kacau, tiga anggota keluarga Biantara tersebut sefera menikmati makan siang mereka.
.
.
.
Mohon maaf sebelumnya.
Seminggu ke depan, othor mau fokus ke Audrey dulu.
Emily tetap UP setiap hari tapi nggak janji bisa 2 eps per hari. Tapi tetap diusahakan biar bisa 2 eps per hari.
BTW, yang dialami Emily pengalaman pribadi othor, ya.
Pertama kali disuruh masak ayam goreng di rumah mertua, othor gosongin ayam gorengnya sampai diceramahin sama orang serumah.
Mewek deh
😅😅
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.
__ADS_1