
"Rumah aku masih lurus ke depan, Gal-"
"Len!" Emily bingung harus memenggal nama Galen bagaimana dan mengambil suku kata bagian depan atau belakang saat memanggilnya.
Gal atau Len?
Nggak ada yang terdengar elegant gitu.
Lebih bagus juga Pak!
Tapi pasti nanti mencak-mencak lagi kalau Emily memanggil Pak.
"Galen! Bisa disambung saja dan disebut secara lengkap, nggak?" Gerutu Galen bersungut-sungut.
"Iya aku kan bingung! Maunya kan satu suku kata saja, kayak kalau kamu manggil aku Em, Em itu!" Gumam Emily ikut-ikutan menggerutu.
Ck!
Galen hanya berdecak dan memutar bola matanya.
"Cepat turun!" Perintah Galen nggak ada romantis-romantisnya sama sekali.
Ini sebenarnya tunangan Emily atau musuhnya Emily, sih?
Lebih banyak ketusnya kalau ngomong ketimbang sweet-nya.
Dasar Galen OCD menyebalkan!
"Rumah aku lurus ke depan!" Emily bersedekap dan masih keras kepala.
"Makan malam dulu disini! Ayah Bunda kamu kan masih di rumah sakit! Kalau kamu di rumah sendirian trus kenapa-kenapa bagaimana?" Cecar Galen yang sepertinya khawatir pada Emily.
"Aku kan bukan bocah! Udah sering juga ditinggal Ayah Bunda di rumah sejak dulu. Kenapa kamu lebay begitu?" Sergah Emily yang masih belum beranjak dari dalam mobil Galen.
Ck!
Galen kembali berdecak dan menutup pintu mobilnya dengan kasar. Pria itu memutari mobil silvernya dan ganti membuka pintu mobil di sisi Emily duduk.
"Ayo turun dan makan malam dulu disini! Nanti setelah makan malam aku antar pulang," ucap Galen yang kali ini bicaranya dengan nada lembut.
Galen bahkan membantu melepaskan sabuk pengaman Emily dan meraih tangan gadis itu, membimbingnya untuk keluar dari mobil.
"Aku belum mandi," cicit Emily merasa sungkan untuk masuk ke rumah Galen yang ada di lantai dua kafe.
"Bisa sekalian mandi di dalam nanti, trus pinjam bajunya Ghea. Ukuran kalian kan sama," jawab Galen enteng yang terus melangkah menaiki tangga masih sambil menggandeng Emily.
__ADS_1
"Nggak enak sama Ghea," Emily tetap sungkan.
"Udah nggak usah kebanyakan alasan!"
Galen dan Emily sudah tiba di lantai dua kafe yang merupakan rumah keluarga Biantara. Suasana sepi. Hanya ada Ghea yang sedang cekikikan sendiri di minibar dapur sambil melihat layar ponselnya. Sepertinya sedang video call bersama temannya.
"Mommy dan Papi mana, Ghe!" Tanya Galen pada sang adik.
"Di bawah! Dimana lagi memangnya?" Jawab Ghea tanpa mrnoleh ke arah Galen.
"Pinjam bajumu satu untuk Emily, Ghe!" Ucap Galen selanjutnya yang kali ini langsung membuat Ghea menoleh ke arah Galen yang masih menggandeng tangan Emily.
"Oh, ada Kak Emily!" Ghea turun dari kursinya, mematikan layar ponsel dan segera menyapa Emily.
"Ayo ke kamar Ghea, Kak!" Ajak Ghea seraya mengambil alih lengan Emily dari genggaman Galen.
"Abang mandi juga sana! Bau!" Usir Ghea mengibaskan tangan ke arah Galen.
Ghea dan Emily sudah menghilang dengan cepat ke arah kamar Ghea yang bersebelahan dengan kamar Galen.
Emily sebenarnya belum terlalu akrab dengan adik dari Galen ini dan masih merasa canggung. Bukan hanya Ghea sebenarnya.
Dengan Pak Bian dan Bu Mia juga Emily masih canggung serta kaku. Secara lamaran Galen benar-benar mendadak kemarin. Semua hal tentang Galen saja masih belum Emily ketahui.
Meskipun kata Bunda, nanti setelah menikah, Emily bakal bisa menyesuaikan diri dengan keluarga Galen dan menjadi akrab, tetap saja Emily masih merasa asing dengan keluarga ini. Belum lagi Emily yang merupakan anak tunggal dan tiba-tiba harus menjadi seorang kakak saat sudah menjadi istri Galen nantinya. Semakin menbuat Emily bingung saja.
"Eh, iya! Aku mandi dulu," pamit Emily yang masih canggung. Emily segera masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar Ghea.
Emily mengenakan gaun yang sudah disiapkan oleh Ghea. Gaun bunga-bunga warna hijau tosca tersebut memiliki potongan selutut dengan model A line di bagian bawah, dan garis leher bulat serta lengannya yang hilang entah kemana.
Hampir mirip dengan gaun yang tadi dikenakan oleh Ghea. Sepertinya semua baju adik kandung Galen itu modelnya seperti ini. Karena saat Emily beberapa kali bertemu Ghea, gadis itu memang selalu mengenakan gaun atau baju terusan dan tak pernah mengenakan celana jeans seperti gadis remaja kebanyakan.
Bu Mia juga selalu modis mengenakan gaun atau rok setiap Emily berjumpa dengan calon mertuanya tersebut. Jangan-jangan nanti setelah menikah dengan Galen, Emily juga wajib memakai gaun setiap hari dan harus menbuang semua celana jeans-nya.
Tidaaak!
Emily menyisir sebentar saja rambutnya dan langsung mengikatnya dengan rapi agar Galen tak mencak-mencak. Semuanya untuk Galen. Semuanya demi Galenl
Ish!
Punya calon suami ribet sekali!
Emily membuka pelan pintu kamar Ghea dan melongokkan kepalanya terlebih dahulu untuk memantau situasi.
"Sudah selesai yang mandi?" Tanya Galen yang langsung muncul di depan mata Emily dan sontak membuat Emily terlonjak kaget.
__ADS_1
Ya ampun!
Sudah seperti hantu saja muncul tiba-tiba!
Galen mendorong pintu kamar Ghea lebih lebar agar bisa melihat penampilan Emily.
"Iya baru selesai!" Jawab Emily seraya menurun-nurunkan gaunnya karena merasa tak nyaman memakai gaun selutut begini.
"Udah jangan ditarik-tarik begitu! Nanti sobek gaunnya!" Galen mencegah tangan Emily yang terus saja menarik-narik turun gaunnya.
"Risih!" Gumam Emily seraya merengut.
"Nanti juga terbiasa! Harus terbiasa!" Ucap Galen yang sudah merangkulkan lengannya ke pundak Emily.
"Emang setelah nikah nanti aku udah nggak boleh pakai celana jeans gitu?" Tanya Emily yang merasa keberatan.
"Kata siapa nggak boleh? Aku nggak ngelarang kamu pakai celana jeans. Asal atasannya pakai tunik atau blouse yang rapi, bukan pakai kemeja cowok yang nggak dikancing kayak kemarin-kemarin itu! Bikin mata sepet!" Jawab Galen sedikit bersungut di akhir kalimat.
"Pinjam kemeja kamu aja kalau begitu!" Kekeh Emily yang malah niat sekali membuat Galen marah dan kesal.
Namun bukannya marah atau kesal, jawaban Galen malah mengejutkan dan sukses membuat Emily terperangah.
"Boleh pakai kemeja aku. Tapi pakainya di kamar. Nggak usah pakai dalaman dan celana!" Bisik Galen seraya memasang senyuman aneh ke arah Emily.
Galen sudah,melepaskan rangkulannya pada Emily dan pria itu berjalan cepat ke arah meja makan, bergabung bersama dengan Mom Mia dan Papi Bian serta Ghea yang sudah duduk duluan di ruang makan.
Sementara Emily masih mematung di tempatnya membayangkan dirinya memakai kemeja Galen tanpa celana tanpa dalaman.
Ya ampun!
Liar sekali imajinasi Galen.
Dan sekarang pikiran Emily juga sudah traveling kemana-mana.
"Em! Jangan melamun! Gabung kesini!" Panggilan Mom Mia langsung menyentak lamunan Emily. Bergegas Emily menuju ke meja makan dan ikut bergabung bersama keluarga Biantara.
.
.
.
😂😂😂😂
Auto lembur sampai pagi si Galen nanti.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.