
Paginya di kediaman keluarga Atalla, para pelayan sibuk menyiapkan hidangan di meja makan.
Aron terlihat turun dari lantai atas dari kamarnya, dia memakai setelan baju kemeja yang sengaja kancing atas nya dibuka, dan jas yang dia pegang di tangan kanannya.
"Ayah, ibu aku pergi berangkat kerja dulu," ucap Aron singkat.
"Aron apa kamu tidak sarapan dulu, ayolah sangat jarang keluarga kita bisa lengkap seperti ini. Apalagi Sisil baru saja pulang dari luar negeri, kau juga sibuk bekerja. Lebih baik kita sarapan bersama dulu," ucap ibu Aron berbinar.
"Baiklah Bu, tapi aku tidak bisa lama. Berikan aku roti selai kacang itu, aku akan memakannya," ucap Aron sembari menuju meja makan.
Memang tidak dipungkiri, keluarga Atalla adalah keluarga dari kalangan atas yang memiliki segalanya. Tapi karena kesibukan masing-masing, keluarga Atalla sendiri jarang berkumpul satu sama lain. Mengingat bisnis keluarga mereka yang sedang berkembang, hal inilah juga yang menjadi pemicu keluarga tersebut jarang berkumpul.
"Kakak, apa kau kemarin sudah bertemu dengan penulis idolaku?" tanya Sisil semangat.
Aron yang sedang menyeruput minuman yang ada didepan nya, terlihat hanya sekilas menatap adiknya tersebut.
"Kakak kenapa diam saja, ayo jawab pertanyaan ku," ucap Sisil geram.
"Kita sedang makan Sisil, tidak baik saat makan banyak bicara," ucap Aron menjawab pertanyaan adiknya.
Orang tua mereka hanya saling menatap, melihat tingkah laku kedua anaknya.
"Sisil habiskan dulu makanan mu, nanti bicara lagi," ujar ibu mereka.
Belum saja Sisil menghabiskan sarapannya, Aron langsung berdiri seraya sudah waktunya dia pergi ke kantor.
"Baiklah, aku sudah menghabiskan sarapan ku. Aku pergi dulu. Bye," ucap Aron singkat dan mulai melangkah kan kakinya.
"Hei nak, pakailah jas mu dulu," sahut ibu Aron.
"Iya akan aku pakai Bu, tapi saat di kantor nanti. Tidak ada salahnya dengan penampilan aku tidak memakai jas, bukankah banyak wanita yang menyukai jika aku seperti ini," jawab Aron pada ibunya seraya mengedipkan mata.
"Anak itu, benar-benar ya sama seperti dirimu saat muda," jelas ibu Aron terhadap suaminya.
__ADS_1
"Ya, jelas. Akukan juga sangat terkenal saat muda," ucap ayah Aron berbangga.
"Iya terkenal sangat jahil nya, kalau bukan menikah denganku mungkin saja kau tidak mendapatkan anak-anak tampan dan cantik seperti mereka. Untungnya Aron anakku tampan, walaupun sifat nya sedikit seperti mu. Huh!" ucap Ibu Aron mengejek suaminya.
Sisil yang sedari tadi di meja makan, hanya bisa memperhatikan kedua orang tuanya melakukan pertengkaran kecil yang sedikit konyol baginya.
******
Sedangkan Hana dirumahnya, terlihat mendapatkan tatapan berjuta pertanyaan dari kedua orang tuanya.
"Ayo, Hana jelaskan pada ibu. Apa pria tadi malam itulah teman kencan mu?" tanya Ibu Hana penuh harap.
"Ibu sebelumnya harus aku katakan lelaki itu bukan teman kencan ku, dia hanya orang yang bekerjasama dengan ku. Jadi tolong jangan banyak tanya," ucap Hana menegaskan.
Ibu maafkan aku, sejujurnya memang dialah teman kencan ku saat itu. Tapi kali ini aku harus berbohong, aku tidak ingin membuat hal ini jadi lebih rumit lagi.
Mendengar ucapan anaknya tersebut, orang tua Hana yang semulanya bersemangat. Kini memasang wajah putus asa mereka.
"Aku sudah bilang dia pria yang sibuk, jadi sangat sulit bertemu dengan nya saat ini," ucap Hana menjelaskan.
"Belum menikah saja sudah sibuk, dan tidak peduli. Apalagi sudah menikah, lebih baik kau dekati saja pria yang tadi malam mengantar mu. Ayah pikir dia pria yang baik, dan tidak sungkan-sungkan mengantar mu pulang walaupun sibuk," ucap ayah Hana dengan penuh keyakinan.
Hah, pria baik? Kurasa ayah harus melihat sifat pria tersebut secara langsung.
Hana terlihat jengkel dengan pertanyaan, dan ucapan dari kedua orang tua nya. Baginya sangat aneh mereka mengatakan hal seperti itu, dia malah berpikir apa benar dia anak kedua orang tuanya? Bisa-bisanya dengan mudah, menyuruhnya untuk mendekati seorang pria yang belum mereka kenal.
******
Sesampainya di kantor terlihat Aron turun dari mobil, dan mulai mengenakan jas nya.
Suara karyawan kantor yang tadi terlihat ribut, mulai menghening. Seketika melihat Aron sudah datang di kantor.
Grep ...
__ADS_1
Entah siapa seorang wanita tiba-tiba memeluk Aron dari belakang.
"Aron, ini aku Sena. Aku sudah sangat ingin bertemu dengan mu," ucap wanita tersebut yang ternyata Sena.
Aron seketika, langsung melepaskan pelukan Sena dari tubuhnya.
"Sena, apa-apaan ini. Kau lihat ini di depan kantor, dan banyak karyawan ku. Bagaimana mungkin kau mempermalukan ku dengan hal seperti ini. Bisa-bisa jatuh derajat ku," ucap Aron kesal.
"Aron, maafkan aku. Sebelumnya aku tidak bisa bertemu dengan mu, maka pagi ini. Aku bersiap-siap menuju kekantor mu, hanya untuk bertemu dengan mu," jawab Sena sedikit manja.
Mendengar hal itu, Aron hanya menghela napasnya panjang.
"Kalau begitu seharusnya kau tahu, pertemuan pertama itu kesalahan mu. Jadi tolong saat ini jangan melakukan kesalahan lagi, jika kau ingin bertemu dengan ku atur jadwal yang baik jangan seperti ini," ucap Aron.
Terdengar beberapa orang, berbicara pelan. Melihat kejadian antara Aron dan Sena. Mereka tidak habis pikir, seharusnya Sena selaku orang yang akan di jodohkan dengan Aron mengerti akan sifat Aron, yang sangat menjaga Image di hadapan semua orang.
"Aku tidak tahu, kalau kau akan marah seperti ini. Tapi sungguh aku sudah sangat ingin bertemu dengan mu Aron, jadi tolong berbaik hatilah," Sena berucap memasang wajah memelas nya.
Wanita ini sungguh licik, bisa-bisanya dia bertingkah seakan tidak bersalah. Apalagi baru kali ini aku dengan nya bertemu dan dia tidak tahu malu langsung memeluk seorang pria seperti ku.
"Baiklah aku maafkan, tapi jangan ulangi lagi."
Sena merasa senang, lalu dia mengatakan sesuatu.
"Karena kau sudah memaafkan aku, bagaimana kalau nanti kita makan siang bersama?" tanya Sena.
"Baiklah, tapi sekarang kau pergi dulu nona Sena. Nanti hubungi aku lagi, saat mau makan siang," jawab Aron.
Aron hanya mengiyakan ucapan Sena, karena jika saja dia menolak tawaran makan siang bersama wanita tersebut. Bisa saja Sena akan mengadukan hal itu kepada orang tuanya, sudah cukup sementara baginya untuk berdebat kali ini.
******
Bersambung...
__ADS_1