Kamulah Jodohku

Kamulah Jodohku
Pengakuan Juna


__ADS_3

Pukul 4 sore, di akhir pekan, waktunya pulang. Irene langsung membereskan mejanya dan bergegas pulang.


"Ra, Irene duluan ya. Ada janji sama teman." Pamit Irene.


"Teman apa teman? Sama pacar juga nggak papa, aku ngerti kok." Goda Maura.


"Ih, beneran teman, Ra." Jawab Irene malu-malu.


"Haha, iya deh. Hati-hati ya."


"Bye Maura."


Irene langsung keluar dari Hotel, dia melihat sekeliling mencari seseorang.


"IREEEENE! Panggil seseorang.


Irene lalu menengok ke sumber suara. Dia melihat Jeni yang sedang berlari ke arahnya.


"Jeni!"


Irene dan Jeni lalu berpelukan di pinggir jalan, mereka tidak memperdulikan banyak orang yang melihat ke arah mereka.


"Ya ampun, aku kangen banget sama kamu, Ren. Yang udah kerja sekarang susah banget diajak main." Kata Jeni setelah melepas pelukannya.


"Irene juga kangen sama Jeni. Maaf ya, Irene baru bisa nemenin Jeni main sekarang." Kata Irene sambil mengusap pipi Jeni.


"Nggak papa, yang penting sekarang kita udah ketemu. Dan sekarang saatnya kita... Maiiiin...!"


"Hahaha... Kamu semangat banget, Jen."


"Iya, dong. Udah lama banget kita nggak hang out berdua. Yuk kita berangkat, taksi onlinenya udah nungguin." Jeni menarik tangan Irene menuju sebuah mobil yang sedari tadi sudah menunggu mereka.


Jeni dan Irene turun di sebuah Mall. Mereka lalu masuk ke dalam Mall dan mulai mencuci mata. Pertama kali yang mereka lakukan adalah masuk ke butik langganan mereka, khususnya Jeni, karena Jeni yang sering membeli baju di butik itu, sedangkan Irene, hanya bisa dihitung jari berapa kali dia membeli pakaian di butik itu. Karena buat Irene, daripada untuk membeli baju di butik yang harganya tidak cocok dengan dompetnya, mending dia tabung untuk membeli keperluan lainnya yang lebih bermanfaat.


"Kamu mau beli baju, Jen?" Tanya Irene.


"Nggak sih, mau lihat-lihat aja. Tapi kalau ada yang suka ya beli, hehe." Jawab Jeni.


Irene hanya menggelengkan kepala.


Jeni mulai melihat satu per satu baju yang dipajang di gantungan. Begitu juga Irene. Irene lalu menemukan 1 buah gaun yang modelnya sangat sederhana, dengan warna biru tua yang elegan, dia mengambilnya lalu menempelkannya di tubuhnya di depan cermin.


"Bagus, Ren. Cocok dipakai sama kamu." Kata Jeni yang tiba-tiba sudah berasa di sampingnya.


Irene hanya tersenyum, lalu mengembalikan gaun itu ke tempat semula.


"Lho, nggak jadi dibeli?" Tanya Jeni.

__ADS_1


"Nggak deh, belum gajian." Jawab Irene. "Kamu sendiri? Nggak jadi beli?"


"Nggak ah, nggak ada yang ditaksir." Jawab Jeni.


"Hahaha..." Mereka berdua pun tertawa bersama sambil berjalan keluar dari butik.


Mereka lalu lanjut mengelilingi Mall, dan memasuki setiap toko yang sekira mereka ada barang bagus untuk dilihat, tapi lagi-lagi mereka keluar dari toko dengan tangan kosong. Setelah 1 jam berkeliling, mereka memutuskan masuk ke food court untuk beristirahat.


"Kita beli minum dulu ya, Ren. Aku haus." Kata Jeni.


"Iya, Irene juga haus. Kita duduk situ yuk, Irene pengen minum es boba." Kata Irene menunjuk ke sebuah stand es boba.


"Boleh, aku juga mau deh." Kata Jeni.


Mereka lalu memesan es boba dan duduk di meja yang ksosong.


"Udah lama banget ya kita nggak cuci mata gini, kerasa banget capeknya." Kata Jeni.


"Kaki Irene juga pegel banget." Jawab Irene sambil memijit kakinya.


"Mau kemana lagi habis ini?" Tanya Jeni.


"Hmm... kita lihat bioskop yuk, ada film bagus apa nggak." Usul Irene.


"Mau nonton?" Tanya Jeni lagi.


"Oke."


Mereka sampai di bioskop, yang ternyata suasananya terlihat sepi. Mereka melihat jadwal film yang tayang hari itu, tapi tidak ada yang membuat mereka tertarik.


"Nggak ada yang bagus, Jen." Kata Irene.


"Iya, pantesan aja sepi." Jawab Jeni. "Kita pulang aja yuk, kerumah aku, Kak Sya juga pasti udah sampe rumah." Ajak Jeni.


"Boleh, aku juga kangen sama Kak Sasya." Jawab Irene.


"Kangen sama Kak Sya atau sama Bang Juna?" Goda Jeni.


"Apaan sih, Jen. Irene beneran kangen sama Kak Sasya." Jawab Irene dengan pipi merona.


"Haha, kangen sama Bang Juna juga nggak papa kok." Goda Jeni lagi.


Irene menyetujui Jeni untuk pulang kerumahnya karena dia tahu Juna sedang tidak ada di rumah, karena Jeni juga belum tahu status dia dengan Juna. Irene belum berani bilang bahwa dirinya sudah menjadi pacar dari Abnagnya itu.


Jeni dan Irene pulang ke rumah dengan menaiki taksi online lagi. Sampai di rumah, mereka di sambut oleh Mama Jeni dan juga Sasya yang sudah sampai di rumah lebih dulu di ruang keluarga.


"Irene. Tante kangen banget sama kamu."

__ADS_1


"Irene juga kangen sama tante." Mama Jeni memeluk Irene seperti merindukan anaknya sendiri setelah lama tidak bertemu.


"Gimana perasaan kamu sudah memasuki dunia kerja?" Tanya Mama Jeni lagi.


"Capek tante, tapi seneng sih, temen-temennya enak, kerjanya juga nggak berat, Irene sih sejauh ini menikmati." Jawab Irene.


"Syukurlah. Tante senang kamu bisa mandiri."


"Kak Sya baru sampai?" Tanya Jeni pada Sasya.


"Udah lumayan dari tadi." Jawab Sasya.


"Jen lapar, ada makanan kan, Ma?" Kali ini Jeni bertanya pada Mamanya.


"Ada, yaudah sana makan, ajak Irene juga. Sasya juga belum makan kan? Sana makan sama-sama." Titah Mama Jeni.


Mereka bertiga pun langsung menuju ruang makan.


Jeni langsung duduk di meja makan dan membuka penutup makanan. Sedangkan Irene mengambil gelas dan air putih lalu dibagikan pada Jeni dan Sasya.


"Makasih, Irene." Kata Sasya.


"Sama-sama, Kak." Jawab Irene. Sedangkan Jeni sudah sibuk mengisi piringnya dengan nasi dan lauk pauknya. Mereka lalu makan bersama sambil mengobrol dan bercanda.


Setelah selesai makan, Irene membawa semua piring kotor ke wastafel. Sasya merapikan kembali meja makan, dan Jeni mengisi gelasnya lagi yang sudah kosong dengan air dingin dari lemari es.


"Lho, sudah pada selesai makan." Kata seseorang yang mengejutkan ketiganya.


"Bang Juna? Kapan sampai rumah?" Tanya Jeni.


Irene yang hendak mencuci piring lansgung melihat ke arah Juna, dan jantungnya seketika berdebar dengan kencang.


"Eh, ada Irene juga, padahal Abang baru mau ke rumah kamu." Kata Juna sambil berjalan menghampiri Irene dan mengabaikan pertanyaan Jeni.


Tanpa aba-aba Juna lalu mengusap rambut Irene lalu merangkul Irene.


Jeni dan Sasya menatap Juna dan Irene dengan wajah penuh tanya.


Irene berusaha melepas tangan Juna dari pundaknya, sambil menatap Jeni dan Sasya yang sejak tadi terus memperhatikan mereka.


"Kenapa?" Tanya Juna pada Irene. Juna pun melihat arah pandang Irene yang melihat ke arah Sasya dan Jeni.


"Abang sama Irene..." Jeni bertanya tanpa bisa menyelesaikan kalimatnya.


"Ooh, iya. Abang sama Irene sudah pacaran." Jawab Juna dengan santai.


"Abang." Protes Irene. Irene bermaksud akan mengatakan ini pada Jeni terlebih dahulu agar Jeni tidak terkejut, tapi Juna malah lebih dulu mengaku langsung di hadapan Jeni dan juga Sasya.

__ADS_1


"Apa?!" Sasya dan Jeni terkejut mendengar pengakuan Abangnya.


__ADS_2