
Akhirnya Aron kembali kerumahnya, kini Sena telah membuat dirinya benar-benar dalam masalah besar.
"Aron, aku dari tadi mencarimu. Kau juga tidak bilang dimana alamat apartemen mu," Sena sedikit menggelayut di tangan Aron.
"Lepaskan!" Bentak Aron pada Sena.
Tuan dan nyonya Atalla yang melihat Aron membentak Sena, sontak saja terkejut. Terutama Tn. Atalla jika saja Sena tidak ada disitu dia mungkin sudah memarahi Aron.
"Ehem... Aron kau tidak boleh begitu, Sena sudah lama menunggu mu. Kau malah membentak dia." Sahut Ny. Atalla.
Hanya memasang ekspresi datar Aron tidak mempedulikan ucapan orang tuanya tersebut,
"Ada apalagi sih? Aku sudah katakan, aku sedang tidak ingin diganggu. Ini malah menyuruh ku segera pulang hanya karena ada Sena!"
Kali ini Aron sudah tidak tahan lagi dengan perilaku Sena yang semena-mena mengatur dirinya terutama kedua orang tuanya, contohnya menyuruh Aron untuk menemui nya. Bagi Aron dirinya bukan anak kecil lagi yang sesuka hati untuk diatur.
"Aron, aku hanya ingin mengajak mu pergi keluar, ternyata kau belum pulang dan masih di apartemen mu. Jadi aku berinisiatif tadi menanyakan alamat apartemen mu," suara Sena sedikit manja agar Aron luluh dengannya.
"Nak, lebih baik kau ikut kemauan Sena. Lihat dia meluangkan waktunya hanya untukmu."
Tidak dapat menolak Aron pun menyetujui nya. Entah kemana Sena akan mengajaknya pergi, yang penting saat ini ia tidak mendapatkan tatapan tajam dari kedua orang tuanya.
"Kita akan kemana?" Terlihat Aron mengemudikan mobilnya, menunggu arahan Sena ingin pergi kemana.
"Hari ini ada teman sekolah ku mengajak reuni, jadi ayo kita kesana. Kebetulan mereka sedang berkumpul," seru Sena.
Sebuah gedung yang lumayan besar terlihat dari luar mobil, mereka berhenti di gedung itu. Ternyata disanalah tempat acara reuni teman satu sekolah Sena. Banyak orang yang juga baru datang.
******
"Hana, ayo cepat ganti pakaian nya. Kita tidak boleh telat di acara reuni kali ini," suara cempreng Silva terdengar dari luar kamar Hana.
"Iya, tunggu sebentar aku akan segera keluar," jawab Hana.
Setelah itu Hana dan Silva segera pergi ke tempat dimana teman-teman satu sekolah mereka akan mengadakan reuni.
******
Suasana di dalam ruangan sangat ramai beberapa diantara mereka juga sudah ada yang menggendong anak, ini berarti sebagian dari mereka sudah ada yang berkeluarga.
Tampak Sena menggandeng erat tangan Aron dihadapan semua orang, sehingga orang-orang di sana juga banyak berbisik tidak percaya saat ini Sena ternyata dekat dengan Aron, yang notabenenya sudah banyak dikenal dan dikagumi banyak orang.
__ADS_1
"Sena, ayo kenalkan pria disamping mu pada kami," seorang wanita menggoda Sena.
"Aku lupa mengenalkan nya pada kalian, perkenalkan ini Aron dia adalah..." Belum sempat meneruskan ucapannya Aron langsung memperkenalkan dirinya sendiri.
"Aku Aron, kebetulan aku teman Sena. Tadi dia mengajakku untuk menemaninya ke acara reuni ini," Aron langsung tersenyum penuh kemenangan.
Mereka yang mendengar hal itu ingin menahan tawanya, karena mereka sudah tahu pasti Sena tadi ingin memamerkan Aron pada mereka.
Tidak jauh dari tempat Aron dan Sena berdiri terlihat Hana memperhatikan mereka dari jauh.
"Eh, itu bukannya Aron ya?" Celetus Silva. "Kenapa dia bisa dengan Sena? Jangan bilang wanita itu ingin memamerkan kedekatan nya dengan penerus keluarga Atalla."
"Kau kenal dengan wanita itu? Aku sempat melihat nya dengan pria tengik itu di sebuah restoran," ujar Hana.
"Hana, kau selama ini kemana saja? Masa kau lupa itu Sena, wanita yang dulu juga mengejar-ngejar Kak Victor sayangnya tidak pernah di tanggapi oleh kak Victor." Silva mencoba mengingat kan Hana.
Hana kembali mengingat, dan ternyata benar ia ingat Sena adalah wanita yang dulu sangat sombong bahkan pernah mengaku kekasih kak Victor sayang nya itu hanya halusinasi wanita tersebut.
"Ngomong-ngomong mengenai kak Victor, kau bilang dia akan pulang? Padahal hari ini ada acara reuni sekolah, pasti akan seru jika ada dia," Silva mengarahkan pandangannya pada Hana.
"Katanya dia memang akan pulang, tapi aku belum tahu kapan," timpal Hana.
Tiba-tiba dari belakang kedua wanita tersebut, seorang pria mendadak mengejutkan kedua wanita itu.
Hana dan Silva langsung saja menoleh ke belakang, dan mereka sudah mendapati Victor sudah ada di tempat itu.
"Kak Victor?!" seru Hana dan Silva.
"Kenapa kau tidak bilang sudah pulang, padahalkan aku ingin menyiapkan kejutan untuk mu," Hana terlihat mengerucutkan bibirnya.
"Aduh adik kecilku jangan cemberut begitu. Aku tidak mengatakan kapan aku pulang, karena akulah yang ingin memberikan mu kejutan," Victor terlihat mencubit kedua pipi Hana.
"Ehem... Apa kalian ini tidak menganggap aku ada disini?" kali ini Silva lah yang merasa terabaikan melihat Victor dan Hana.
"Hehe, Silva tidak kok. Aku masih ingat kau ada disini. Kalian kenapa diam saja dari tadi di sini? Sedang memperhatikan apa?" Tanya Victor penasaran.
Silva langsung saja mengarahkan pandangannya pada Aron dan Sena, sehingga Victor mengikuti pandangan tersebut.
"Sena? Eh, itu bukan nya Aron? Kenapa mereka bisa berdua," ujar Victor.
"Sudahlah ayo kita pergi saja, daripada memperhatikan mereka berdua," ajak Hana.
__ADS_1
"Aku kira kau ingin pergi kesana, bukannya Aron juga dekat dengan mu ya," Silva sedikit menyenggol bahu Hana sekaligus mengejek temannya tersebut.
Merasa bingung dengan ucapan Silva, sontak Victor sedikit tertegun dengan perkataan Silva. Saat itu pula Victor langsung menarik tangan Hana menuju kerumunan dimana Aron dan Sena berada.
"Hei lihat itu Victor!"
Sena yang masih asyik bicara dan tetap menggandeng Aron langsung menoleh mendengar nama Victor disebut.
Bukan hanya itu Aron yang tidak tahu apa-apa juga ikut menoleh.
Hana? Kenapa dia bisa ada disini? Hei siapa pria yang berani menggandeng tangan nya tersebut.
Wajah Aron sedikit jengkel melihat Hana sedang bersama seorang pria lain, yang tidak dia kenal. Tapi dia tetap menjaga image nya di hadapan Hana, agar wanita itu tidak mengetahui bahwa dia kini sedang tidak suka melihat Hana dengan pria yang bernama Victor.
"Sena, apa kabar?" Tanya Victor menjabat tangan Sena.
"Victor? Kau juga sudah pulang? Aku baik-baik saja," Sena lebih menggandeng tangan Aron dengan erat saat Victor ingin menjabat tangannya.
"Aron? Aku tidak menyangka kau bisa datang dengan Sena. Aku dengar kau sangat tidak suka menunjukkan kemesraan dengan seorang wanita, apa mungkin aku yang salah dengar ya?" Victor terlihat menyindir Aron.
Sedari tadi juga Hana hanya menundukkan kepalanya, tahu saat ini dihadapan nya ada Aron.
Mendengar ucapan Victor tersebut. Aron langsung saja melepas gandengan tangannya dengan Sena.
"Tidak, aku hanya menemani Sena saja. Lagipula aku dan Sena hanya seorang teman," untuk kedua kalinya ucapan Aron membuat Sena terkejut, kali ini dia benar-benar dipermalukan Aron.
"Oh, begitu padahal aku baru saja ingin beri selamat jika kalian adalah pasangan kekasih."
Hana yang mendengar percakapan itu yang sedikit memanas langsung saja mengangkat kepalanya, niat tidak ingin menatap Aron tapi saat kepalanya sedikit terangkat. Tatapan mereka saling bertemu, sebuah tatapan Aron ditujukan pada Hana seolah dia tidak suka melihat Hana bersama pria yang ada disampingnya.
"Kau sendiri, siapa wanita yang kau gandeng? Bukannya juga aku dengar kau sedang tidak dekat dengan seorang wanita," balas ucapan Aron terhadap Victor.
Jika tadi Aron yang melepas tangan Sena, kini entah mengapa tiba-tiba Hana juga langsung melepaskan gandengannya terhadap Victor.
Kenapa aku lepas sih? Bukan nya ini kesempatan baik menunjukkan pada pria aneh sekaligus tengik itu agar aku tidak di ganggu nya lagi, arghh... Hana kau sungguh bodoh.
Aron langsung saja tersenyum melihat Hana juga melepas tangan nya pada tangan Victor. Seolah dia mengerti bahwa wanita itu bukanlah siapa-siapa Victor.
Bagus, kau lepas tangannya. Jauhkan tangan mu dari tangan pria lain. - Aron.
******
__ADS_1
Bersambung...