
Makan malam telah selesai, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Sena ini sudah malam, bagaimana kalau Aron yang mengantar-mu pulang ke rumah? Sekalian kalian bisa saling berbincang satu sama sama lain," nyonya Atalla menatap Aron seakan memberi kode untuk mengantar Sena.
Aron paham akan tatapan itu, dia mengerti bahwa ibunya ingin dia segera mengantar Sena.
"Aku akan mengantar Sena pulang. Dan ayah, ibu sekalian malam ini mungkin aku akan tidur di apartemenku saja." Aron langsung mengambil kunci mobil.
Tuan dan Nyonya Atalla sangat senang melihat Aron menyetujui untuk mengantar Sena, meskipun malam ini anaknya memutuskan untuk tidur di apartemen miliknya.
"Om, Tante. Sena pulang dulu ya, terimakasih atas undangan makan malam nya. Kapan-kapan kita berkumpul lagi," ucap Sena.
Selama dalam perjalanan Aron hanya fokus menatap ke depan. Sedangkan Sena sendiri sedari tadi terus menatap Aron.
"Aron kau benar ingin mengantar ku?" tanya Sena.
"Iya, kenapa? Kalau kau tidak mau aku bisa menghentikan mobil di sini."
"Maksud ku bukan begitu, kau bilang akan pulang ke apartemen mu. Apa tidak terlalu letih bolak-balik dari rumah ku lalu ke apartemen mu?"
Tidak menjawab Aron terus melajukan mobilnya mengarah rumah Sena, dia tidak peduli akan perkataan wanita itu. Dia paham maksud akan perkataan Sena, daripada di ladeni dia memilih diam.
Sena yang tidak menerima jawaban dari Aron sedikit kesal, mengapa Aron bersifat seperti itu.
__ADS_1
"Kau tidak paham maksud ku?" Tanya Sena lagi, "Kau bisa mengajakku ke apartemen mu saja, lagipula orang tua kita juga pasti tidak akan marah."
Tiba-tiba Aron yang sudah puas mendengar perkataan Sena, mengerem mobilnya secara mendadak.
"Aku yang tidak tahu jalan pikiranmu Sena, bisa-bisanya kau mengatakan hal seperti itu. Kau pikir aku ini pria seperti apa?" Aron meninggikan suaranya,
"Lebih baik kau minum obat, mungkin kau sedikit sakit."
Perkataan Aron membuat Sena terkejut sekaligus tersentak, sebuah ucapan tegas keluar dari mulut Aron. Sena terlalu bodoh secara gamblang mengatakan hal tersebut, ini seperti menunjukkan bahwa dia terlihat murahan.
Diam, hening, bahkan suasana di dalam mobil lebih mengerikan saat Aron mulai marah.
"Sudah sampai, silahkan turun." ucap Aron.
Sena keluar dari mobil, belum sempat mengucapkan terimakasih Aron sudah kembali melajukan mobilnya.
Aron yang masih mengemudi menuju apartemen nya, tangannya sedikit mengurut dahinya. Dia tidak habis pikir Sena mengatakan hal itu, ia tahu sudah sangat banyak wanita yang juga mencoba mengatakan hal-hal seperti itu, bahkan tidak tanggung-tanggung merayu nya hanya untuk bisa tidur dengannya.
"Mereka semua sama saja," ucap Aron sampai dia tertegun akan ucapannya sendiri.
Dia mengingat seseorang.
"Tidak, masih ada satu wanita yang tidak seperti itu ... hanya dia."
__ADS_1
Terlalu hanyut dengan pikirannya Aron hampir saja lupa bahwa dia sedang mengemudi, untungnya dia langsung tersadar.
Sampainya di apartemen dia mengambil sesuatu di mobilnya sebelum masuk kedalam, tapi saat mengambil barang miliknya entah siapa yang meletakkan sebuah buku di mobil nya.
Saat melihat buku tersebut, Aron fokus melihat cover depan buku tersebut. Tertera sebuah judul Novel dan nama pengarangnya.
'Takdir Cinta'
Karya penulis Hana.
Membaca cover itu Aron hanya tersenyum tipis.
"Tidak ada orangnya, bukunya pun ada bersamaku. Takdir kah? Hana aku tidak tahu siapa kau sebenarnya, tapi aku rasa Tuhan merencanakan sesuatu pada kita," gumam Aron yang terus memasang senyumnya.
"Malam ini aku akan baca buku ini saja, aku ingin tahu kenapa banyak orang tergila-gila dengan karyanya."
Sepanjang koridor menuju kamar apartemen, Aron terus menatap buku tersebut bahkan tidak sesekali bergumam seolah mengajak buku itu berbicara. Apa dia menganggap buku itu Hana sungguhan?
******
"Mana buku-ku? Perasaan aku tempatkan di sini?" Sisil sibuk mencari buku nya.
"Wah aku baru ingat, aku meninggalkan nya di mobil kakak. Ahhh, padahal aku belum selesai membacanya."
__ADS_1
******
Bersambung...