Kamulah Jodohku

Kamulah Jodohku
Curhatan Jeni


__ADS_3

"Kalian lagi ngapain?"


Sasya dan Riki terkejut, mereka melihat ke belakang bersamaan.


"Jeni."


"Aku duluan ya, bye..." Riki lalu berlari keluar menyusul Juna yang sudah terlebih dahulu menuju mobil.


Tinggalah Sasya sendiri yang bingung akan menjawab pertanyaan Jeni bagaimana.


"Jen, udah bangun?" Tanya Sasya sambil mencuci piring.


"Kak Sya tadi lagi ngapain sama Kak Riki?" Tanya Jeni yang berjalan mendekati Sasya.


Sasya pura-pura tenang, padahal sebenarnya dia panik kalau Jeni mendengar apa yang dia dan Riki bicarakan tadi.


"Hmm, ini tadi... mata Kak Sya kelilipan... terus Kak Riki bantu tiupin... kamu lihat sendiri kan, ini tangan Kak Sya penuh sabun." Kata Sasya sambil menunjukkan tangannya yang benar sedang penuh sabun karena dia sedang mencuci piring.


"Beneran cuma kelilipan?" Tanya Jeni lagi. Jeni mendekatkan wajahnya untuk melihat mata Sasya.


"Iya, tapi ini udah kok, tadi udah ditiup Kak Riki udah baikan." Kata Sasya dengan masih sedikit panik.


"Oh, aku kira tadi kalian ngapain." Kata Jeni lalu mengambil gelas dan membuat coklat panas. Setelah itu dia duduk di meja makan sambil meminum coklat panasnya.


Sasya yang sudah selesai mencuci piring lalu duduk disamping Jeni.


"Ngomong-ngomong, Kak Riki pagi-pagi gini udah ada disini ngapain Kak?"


"Itu, Bang Juna minta temenin Kak Riki buat main golf sama kliennya, karena Bang Juna nggak terlalu bisa main golf." Jawab Sasya.


"Memangnya Kak Riki bisa main golf?" Tanya Jeni dengan wajah berbinar.


"Kata Bang Juna sih Kak Riki paling jago main golf. Tapi Kak Sya juga nggak tahu, nggak pernah lihat."


"Wah, keren banget, Kak Riki pasti kelihatan ganteng banget pas main golf. Udah berangkat belum ya, Jen mau ikut." Jeni lalu beranjak dari kursinya.


Belum sempat keluar dari ruang makan, sudah terdengar suara mobil yang sudah melaju.


"Yaaah, udah jalan." Kata Jeni sambil kembali duduk di kursinya dengan lesu.


"Yaudah sih, besok kan kamu bisa ajak Kak Riki, alasan aja minta ajarin."


"Wah, bener juga ide Kak Sya." Mata Jeni kembali berbinar.

__ADS_1


"Eh, ngomong-ngomong, Irene sudah mulai kerja ya besok?" Tanya Sasya mengalihkan pembicaraan.


"Hm. Iya, Kak. Dia seneng banget bisa langsung kerja, tahu nggak, kemarin Jen ngantar dia ke Mall buat beli sepatu baru."


Cerita Jeni dengan semangat.


"Oya? baguslah semoga Irene betah kerja di tempat Kak Riki. Akhirnya dia bisa meringankan beban Ibunya, sesuai keinginannya selama ini." Kata Sasya.


"Iya, Kak. Sebenarnya Jen kasihan sama Irene, tapi Jen juga bangga sama dia. Sesulit apapun masalahnya, dia tidak pernah mengeluh, dan selalu pantang menyerah, itu yang Jen suka dari Irene."


"Iya, Kak Sya setuju. Oya, terus kuliah kamu gimana, Jen? Kata Mama kamu mau lanjutin ke Inggris?"


"Sebenarnya itu keinginan Papa, karena Papa punya kenalan dosen di salah satu universitas terbaik disana, Papa mau Jen kuliah di universitas itu." Kata Jeni dengan wajah datar.


"Bagus dong."


"Tapi Jen nggak mau, kenapa harus jauh-jauh, sementara di sini saja banyak juga universitas yang bagus."


"Iya juga sih. Tapi Papa kayak gitu kan karena pengen yang terbaik buat kamu." Kata Sasya,


"Tapi Jen mau menyatakan perasaan Jen sama Kak Riki."


Sasya terkejut mendengar perkataan Jeni.


"Apa?"


"Jadi kamu udah pernah bilang sama Riki, eh, maksud aku Kak Riki kalau kamu suka sama dia." Sasya kembali terkejut.


"Hm." Jeni mengangguk. "Dan Kak Riki bilang kalau Jen masih kecil, sekolah dulu jangan mikir pacaran dulu."


Sasya memijat keningnya. Dia tidak percaya kalau adiknya sesuka itu pada Riki. apa jadinya kalau Jeni tahu apa yang sudah dia lakukan bersama Riki.


Hari senin tiba, Irene sudah siap dengan baju kerja dan sepatu barunya yang dia beli kemarin bersama Jeni. Irene memandang dirinya di kaca, memoles sedikit lipstik ke bibirnya, lalu merapikan rambutnya. Setelah itu dia mengambil tas dan membawanya di atas bahunya.


Irene keluar dari kamar lalu masuk ke kamar Ibunya yang masih duduk bersandar di kasur. Ibu Irene memang sudah pulang dari rumah sakit, tapi kakinya belum sembuh total dan membuatnya harus memakai kruk untuk membantunya berjalan.


"Ibuk, Irene berangkat dulu, ya." Pamit Irene.


"Anak Ibu sudah mau berangkat?"


"Iya, Buk. Doakan Irene biar Irene bisa kerja dengan baik dan betah di tempat kerja yang sekarang." Kata Irene lalu mencium tangan Ibunya.


"Iya, sayang. Ibu selalu doakan kamu yang terbaik." Jawab Ibu Irene sambil mengusap kepala Irene.

__ADS_1


Irene berjalan keluar setelah berpamitan pada Ibunya. Betapa terkejutnya dia saat membuka pintu melihat Juna yang sudah berdiri di depan mobil yang sudah terparkir di halaman rumahnya.


"Bang Juna?"


"Pagi. Udah siap?" Sapa Juna yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya.


"Bang Juna ngapain disini pagi-pagi?" Tanya Irene bingung.


"Mau jemput kamu. Ayo berangkat." Juna lalu membukakan pintu mobil untuk Irene.


"Jemput Irene? Tapi kan Irene bisa berangkat sendiri Bang, banyak kok angkutan umum yang langsung berhenti di depan Hotel Kak Riki."


"Udah sama aku aja, sekalian jalan." Juna mendorong pelan punggung Irene agar segera masuk ke dalam mobil.


Irene pun pasrah saat Juna memaksanya masuk ke mobilnya.


Juna melajukan mobilnya. Irene terus menatap Juna. Hari ini Juna memang terlihat tampan dan rapi seperti biasanya. Tapi entah kenapa jantungnya mendadak berdegup kencang melihat Juna yang duduk di sampingnya.


"Kenapa?" Tanya Juna. seketika membuat Irene terkejut.


"Hm, apa, Bang?" Tanya Irene panik.


"Kamu kenapa lihatin Abang terus?"


"Hm, nggak papa, Bang." Jawab Irene lalu memalingkan wajahnya ke depan. "Sebenarnya Abang nggak perlu jemput Irene, Irene bisa berangkat sendiri."


"Nggak papa, kan sekalian jalan." Jawab Juna.


"Tapi kantor Bang Juna kan nggak searah sama hotel Kak Riki."


Juna gelagapan, di lupa kalau kantornya memang tidak searah dengan hotel Riki, tapi dia sudah terlanjur memakai alasan itu, jadi dia harus mencari alasan lain.


"Hm, itu... Abang ada perlu sama Riki juga." Jawab Juna bohong.


"Ooh." Jawab Irene.


Juna lega Irene hanya menjawab ooh, dan tidak bertanya lagi.


Merekapun duduk dengan diam selama perjalanan, sambil sesekali Juna melirik pada Irene yang nampak sedikit gelisah.


"Kamu nggak papa?" Tanya Juna.


"Irene sedikit grogi, Bang. Nanti gimana ya di kantor? teman-teman pada suka sama Irene nggak ya? Irene takut, Bang. Gimana nanti kalau Irene nggàk bisa kerja yang benar?"

__ADS_1


"Kamu nggak usah takut, kamu harus percaya diri, jadi diri kamu sendiri aja, dan lakukakan yang terbaik yang kamu bisa." Kata Juna sambil mengusap kepala Irene.


Perasaan takut Irene perlahan memudar setelah mendengar nasehat dari Juna. Apalagi melihat senyum Juna yang sangat manis, membuatnya serasa mendapat asupan vitamin yang membuatnya semangat untuk memulai hari


__ADS_2