
Sasya baru saja selesai mandi, dia membalut rambutnya dengan handuk. Setelah seharian lelah dengan pekerjaannya di kantor, dia memanjakan dirinya bermandikan air hangat untuk menghilangkan penatnya.
Sambil duduk di depan cermin, Sasya membalas chat dari Riki yang memberi kabar bahwa dia sudah dalam perjalanan ke kosannya. Sejak siang Riki sudah mengajaknya untuk menemani makan malam karena dia sedang berada di Bandung hari ini. Sasya tidak bisa menolak karena dia masih berhutang pada Riki, dan Riki tidak mau dibayar dengan uang, melainkan dengan menemaninya makan malam.
Sasya memoles wajahnya dengan serangkaian skin care yang membuatnya nampak segar, lalu dia membuka balutan handuk di kepalanya, dan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Setelah cukup kering, Sasya menyisir rambutnya. Sasya lalu membuka lemarinya untuk memilih baju mana yang cocok untuk makan malam bersama Riki.
Dia memilih-milih baju dengan seksama, ambil 1 gaun lalu dia coba tempelkan di tubuhnya di depan cermin. Lalu dia menggelengkan kepalanya. Dia menaruh kembali gaun tadi di dalam lemari, dan mengambil gaun yang lain. Lalu menempelkan pada tubuhnya lagi di depan cermin. Lagi-lagi dia menggelengkan kepalanya, dan menaruh kembali gaun itu ke dalam lemari. Lalu dia terdiam cukup lama di depan lemari.
"Apa yang lo pikirin sih, Sya. Cuma nemenin Riki makan malam aja lo sibuk milih baju. Kenapa juga lo pengen kelihatan cantik di depan dia." Sasya mengingatkan dirinya sendiri.
Akhirnya dia mengambil 1 gaun berwarna soft pink, yang terlihat sangat sederhana, tapi cocok dipakai di tubuhnya. Saat dia hendak berganti baju, seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Siapa ya? Masak Riki udah sampai, tadi katanya baru dalam perjalanan." Batin Sasya. Lalu dia meletakkan gaunnya di atas kasur.
Sasya berjalan ke arah pintu kamar lalu membukanya.
"SURPRISE!"
Sasya terkejut melihat seorang pria dengan membawa seikat bunga di tangannya.
"Rafa!"
"Hai, sayang." Rafa langsung mencium pipi Sasya.
Sasya hanya bisa terdiam. Rafa menyerahkan seikat bunga yang dibawanya pada Sasya. Sasya menerima dengan senyuman.
"Apa ini?" Tanya Sasya.
"Bunga." Jawab Rafa.
"Iya, aku tahu. Dalam rangka?"
"Dalam rangka aku merindukanmu." Jawab Rafa.
Sasya terdiam.
"Kenapa? Kamu nggak kangen emang sama aku?" Tanya Rafa melihat Sasya yang tidak memberi tanggapan.
"Kangen lah." Jawab Sasya. "Ayo masuk." Ajak Sasya.
Rafa lalu masuk ke kamar Sasya. Dia melihat sebuah gaun yang terbentang dia atas kasur.
"Kamu mau pergi?" Tanya Rafa.
Sasya melihat gaunnya yang tadi belum sempat dia pakai.
"Ah, itu... aku baru mau nyoba, baru beli kemarin." Jawab Sasya bohong. Tidak mungkin dia bilang kalau dia memang mau pergi, karena Rafa pasti akan bertanya lagi dia akan pergi kemana dan dengan siapa.
"Ooh.." Rafa mengambil gaun Sasya lalu memperhatikan gaun itu dari atas sampai bawah.
__ADS_1
"Gaun yang cantik. Aku mau lihat kamu pakai ini." Kata Rafa.
"Emang kamu mau ajak aku kemana?" Tanya Sasya dengan manja.
Rafa mendekati Sasya, lalu berbisik di telinga Sasya.
"Terserah kamu mau kemana." Bisik Rafa. Lalu menyerahkan gaun itu pada Sasya.
Sasya tersenyum menerima gaun itu dari Rafa.
"Aku ganti baju dulu ya." Kata Sasya. Lalu dia masuk ke dalam kamar mandi, tidak lupa menyambar ponselnya dari meja rias.
Di Dalam kamar mandi, Sasya menggantung gaunnya di belakang pintu. Lalu dia langsung mengetik pesan pada Hana.
"Hana, plis tolongin gue. Tolong hadang Kak Riki di depan, di kamar gue ada Rafa."
Sasya meletakkan ponselnya, lalu berganti pakaian. Saat hendak memakai gaunnya, ponsel Sasya berbunyi, ada chat masuk dari Hana.
"Demi apa lo? Kok bisa sih nggak janjian dulu." Balas Hana.
Dengan cepat Sasya membalas chat Hana.
"Mana gue tau, gue udah janjian sama Kak Riki, tiba-tiba aja Rafa dateng kasih surprise. Tolongin gue cepetan hadang Kak Riki di depan, keburu masuk dianya."
Sasya meletakkan ponselnya lagi,lalu bergegas memakai gaunnya.
"Sumpah ya, gue yang deg-degan." Balas Hana lagi.
Setelah selesai memakai gaunnya, Sasya perlahan keluar dari kamar mandi. Saat keluar dari kamar mandi, Rafa memandanginya dari atas sampai bawah.
"Cantik." Puji Rafa. "Berangkat sekarang?"
"Eh, tunggu sebentar. Aku belum dandan." Jawab Sasya. Dia mencoba mengulur waktu agar Rafa tidak bertemu dengan Riki.
Rafa akhirnya mengalah. Dia duduk kembali di sofa, dan menunggu Sasya berdandan.
Tak lama datang pesan masuk dari Hana di ponselnya.
"Aman. Kak Riki di tangan gue."
Sasya menarik nafas lega. Dia mempercepat dandannya. Lalu mengambil tasnya.
"Ayo, aku udah siap." Ajak Sasya.
Rafa lalu berdiri, Sasya menghampiri Rafa, lalu melingkarkan tangannya di lengan Rafa.
Sasya dan Rafa keluar dari kamar. Rafa langsung membawa Sasya masuk ke dalam mobil yang dibawanya.
Dibelakang mobil Rafa, ada sebuah mobil yang juga terparkir disana. Dan sepasang mata memperhatikan Rafa dan Sasya dari dalam mobil. Saat mobil Rafa sudah melaju, 2 orang di dalam mobil itu bernafas dengan lega.
__ADS_1
"Syukurlah, untung kalian nggak ketemu." Kata Hana yang duduk di dalam mobil Riki.
"Kenapa aku jadi kayak mau nyelingkuhin cewek orang ya?" Kata Riki yang juga sudah bisa bernafas lega.
"Bukannya memang gitu?" Goda Hana.
"Sembarangan." Jawab Riki.
"Hehehe, bercanda Kak." Kata Hana cengengesan. "Terus gimana ini, Kak?" Tanya Hana. Dia memperhatikan Riki yang sudah berdandan rapi tapi tidak jadi pergi dengam Sasya karena didahului oleh Rafa.
"Kamu aja yang nemenin aku mau nggak?" Tanya Riki.
"Hah?" Hana terkejut.
"Yaudah kalau nggak mau." Kata Riki dengan kecewa.
"Eh, yaudah ayo, Kak. Cuma nemenin makan kan? Aku perlu ganti baju nggak?" Tanya Hana.
Riki memandangi pakaian yang dipakai Hana sejenak.
"Nggak usah. Kita langsung berangkat aja." Kata Riki, lalu dia menyalakan mesin mobil dan langsung melajukan mobilnya.
Riki membawa Hana ke sebuah Cafe yang dekat dengan kosan Hana dan Sasya.
"Silahkan pesan apa yang kamu mau." Kata Riki pada Hana saat sudah duduk di sebuah meja yang kosong.
Hana lalu membaca menu, tak lama dia memesan makanan dan minuman pada pelayan Cafe, begitu juga dengan Riki.
"Makasih ya, Kak. Gara-gara Rafa, jadi aku yang dapat makan malam gratis." Kata Hana.
"Aku yang makasih, kalau kamu nggak nahan aku masuk tadi, pasti Rafa akan berpikiran macam-macam pada Sasya." Jawab Riki.
"Aku boleh tanya nggak, Kak?" Tanya Hana dengan ragu-ragu.
"Tanya aja." Jawab Riki.
"Kak Riki mau nunggu Sasya sampai kapan?"
Riki menatap Hana. Dia tidak pernah berpikir seseorang menanyakan pertanyaan itu padanya. Dia sendiri tidak tahu harus menjawab apa.
"Aku nggak tahu." Jawab Riki.
Lalu seorang pelayan mengantar pesanan mereka dan meletakkan di atas meja.
"Makasih." Kata Riki dan Hana bersamaan pada pelayan itu.
Hana lalu meminum minumannya.
"Kalau kamu jadi aku? apa yang akan kamu lakukan? Tetap menunggu atau ikhlaskan?" Tanya Riki.
__ADS_1
Kali ini Hana yang nampak berpikir, karena dia juga tidak tahu harus menjawab apa.