
Sasya duduk termenung di halte bus dengan pandangan kosong ke depan. Orang-orang berlalu lalang di depannya pun tak dia hiraukan. Tiba-tiba seseorang datang mendekatinya. Sasya masih tidak sadar bahwa orang tersebut berdiri di sampingnya sambil menatapnya. Orang itu lalu mengambil tas yang sedang dipangku oleh Sasya, dan seketika membuat Sasya terkejut.
"Kak Riki?"
Riki lalu menyambar tangan Sasya dan menariknya agar berjalan mengikutinya, sedangkan tangan satunya membawa tas bawaan Sasya.
"Tunggu, kita mau kemana? Aku harus balik ke Bandung." Kata Sasya sambil berusaha melepas tangannya yang dipegang erat oleh Riki.
"Aku antar." Jawab Riki.
"Nggak usah, aku naik bus aja."
Riki lalu menghentikan langkahnya, dia menatap Sasya dengan tatapan tajam.
"Aku bilang, aku antar." Kata Riki dengan nada mengancam.
Sasya tidak berani menolak lagi karena melihat tatapan Riki yang mengerikan.
Sasya pasrah mengikuti langkah Riki dengan tangan yang masih digenggam oleh Riki hingga sampai ke mobil.
Riki membukakan pintu untuk Sasya. Sasya pun tanpa protes langsung masuk ke kursi penumpang. Dalam hitungan detik mobil Riki pun sudah melaju dengan kencang.
"Kamu sengaja tadi pagi ninggalin aku berdua dengan Jeni?" Tanya Riki tanpa memandang Sasya.
Sasya menatap Riki.
"Nggak kok. Aku beneran mau beli titipan Hana." Jawab Sasya pelan.
"Kan bisa aku antar."
"Tokonya lawan arah sama rumah, jadi daripada muter-muter, mending aku naik taksi. " Sasya mencoba berdalih lagi sambil menundukkan wajahnya.
"Aku nggak mau tahu alasannya. Mulai minggu ini, kamu pulang pergi Jakarta - Bandung bareng sama aku."
Sasya menatap Riki. Dia tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.
"Apa? Kenapa?"
"Kalau kamu nggak mau terpaksa aku bilang sama Juna kalau kamu masih berhubungan dengan Rafa." Jawab Riki.
"Kamu kok jadi ngancam gitu?" Nada bicara Sasya sedikit meninggi.
"Oya, berkat kamu. Aku jadi bisa jujur sama Jeni tentang perasaan aku."
"Jeni? Maksudnya?" Tanya Sasya bingung, tiba-tiba saja Riki mengubah topik pembicaraan.
"Karena kamu tadi ninggalin aku berdua sama Jeni, akhirnya aku bisa jelasin perasaanku yang sebenarnya terhadap dia, bahwa aku cuma menganggap dia nggak lebih dari sekedar adik."
"Apa? Kenapa kamu ngomong gitu sama Jeni? Kamu nggak mikirin perasaan Jeni?" Sasya merasa kesal pada Riki.
"Kenapa cuma perasaan Jeni yang kamu pedulikan? Bagaimana dengan perasaanku?" Tanya Riki balik.
Sasya terdiam. Dia lalu meluruskan kembali duduknya dan menatap jalanan di depannya.
Seketika suasana menjadi hening. Tampak rintik hujan membasahi kaca mobil, membuat sore itu menjadi tambah melow.
Di rumah. Jeni keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Tiba-tiba dia teringat percakapannya dengan Riki di mobil tadi pagi. Dia membuang handuknya ke meja rias, dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.
__ADS_1
"Apa-apaan Kak Riki! Dulu dia bilang aku masih kecil. Sekarang aku udah lulus sekolah, dia bilang cuma anggap aku adik. Hish! Apa dia nggak pernah sedikitpun memandang aku sebagai seorang wanita. Apa di mata dia aku anak kecil terus? Halooo, manusia tumbuh dan berkembang kalik, dasar laki-laki nggak punya perasaan!" Jeni lalu mengambil bantal untuk menutupi wajahnya.
"Huaaaaaaaaaaaaaa!!!!"
Untung saja bantal yang menutupi wajahnya bisa meredam suara teriakannya.
Sementara di rumah sakit. Juna tidak mau melepas tangan Irene sedetik pun.
"Mau kemana?" Tanya Juna saat Irene berusaha melepas genggaman Juna.
"Mau ambil buah, Bang." Jawab Irene.
Juna pun melepas tangan Irene, dan membiarkan Irene mengambil buah.
Irene lalu memotong sebuah apel dan memberikan pada Juna.
"Suapin." Rengek Juna.
Dengan sabar Irene pun menyuapkan sepotong apel ke mulut Juna.
"Padahal kan tangan Abang nggak sakit, kenapa makan apel aja nggak bisa." Sindir Irene.
"Kapan lagi bisa manja sama kamu?" Jawab Juna sambil tersenyum.
Irene pun ikut tersenyum malu.
Cup!
Tiba-tiba satu kecupan mendarat di pipi Irene.
"Kenapa? Emang nggak boleh cium pacar Abang sendiri?" Goda Juna.
"Tapi ini kan di rumah sakit." Jawab Irene dengan malu-malu.
"Berarti kalau nggak di rumah sakit boleh?" Goda Juna lagi.
Pipi Irene semakin merona, sampai tak berani menatap Juna.
"Ren..." Panggil Juna.
Irene lalu menoleh ke arah Juna.
Seketika bibir Juna sudah menempel di bibir Irene.
Dengan cepat Irene lalu menjauhkan wajahnya dari Juna, dan memukul lengan Juna.
"Auw!" Pekik Juna.
"Eh, maaf, Bang. Sakit ya? Irene kekencengan ya mukulnya?" Irene panik melihat Juna kesakitan. Dia pun mengusap lengan Juna yang baru saja dipukulnya.
"Sakit..." Rengek Juna.
"Habisnya Abang sih, Irene kaget tauk." Kata Irene sambil terus mengusap lengan Juna.
Juna lalu menarik tangan Irene hingga wajah Irene kembali berada tepat di depan wajah Juna. Tangan Juna saat ini sudah berada di pipi Irene.
Jantung Irene seakan ingin melompat keluar. Dia tidak sanggup melihat wajah tampan Juna dari jarak sedekat ini.
__ADS_1
Juna terus mendekatkan wajahnya ke Irene, lalu tanpa sadar Irene pun menutup kedua matanya.
Juna tersenyum. Lalu tanpa menunggu lama, Juna mencium bibir Irene dengan lembut.
Irene berusaha mengimbangi Juna, dia tidak tahu harus bagaimana karena ini adalah ciuman pertama baginya, dan Juna pun tahu itu. Mereka berdua pun hanyut dalam perasaan masing-masing. Dan tanpa sadar Irene sangat menikmati ciuman lembut Juna dibibirnya.
Beberapa saat kemudian, Juna melepas ciumannya. Irene pun tersadar. Dia lalu membuka matanya. Dilihatnya Juna yang sedang tersenyum padanya.
"I love you." Bisik Juna.
Irene kembali tersipu.
"Ehem!"
Juna dan Irene terkejut dan langsung melihat ke arah pintu.
"Yang mau ditengokin ternyata malah enak-enakan pacaran." Kata Gery yang berdiri di ambang pintu bersama Brian.
"Tauk nih, padahal kita khawatir banget, eh, yang dikhawatirin malah lagi mesra-mesraan. Jiwa jomblo kita meronta-ronta." Tambah Brian sambil memegang dadanya memelas.
Irene menunduk malu. Melihat Irene yang tiba-tiba mematung, Juna langsung merangkulnya.
"Nggak usah sok sedih, kalau iri cari pacar sana!" Kata Juna.
"Dasar nggak ber pri kemanusiaan!" Gerutu Brian.
Mereka lalu masuk menghampiri Juna.
"Gimana keadaan lo? Udah baikan kan?" Tanya Gery.
"Udah dong, kan ada suster pribadi." Jawab Juna sambil mengeratkan rangkulannya ke Irene.
"Iya, iyaa, yang punya suster pribadi." Brian kembali mengolok.
"Eh, gimana urusan di kantor polisi?" Tanya Juna.
"Beres, lo tenang aja. Urusan sama polisi biar gue yang tanganin." Jawab Gery.
"Ehm, kalian ngobrol deh, Irene mau keluar dulu." Kata Irene sambil melepaskan tangan Juna dari bahunya.
"Mau kemana?" Tanya Juna.
"Mau cari minum dulu." Jawab Irene.
"Jangan lama-lama, ya." Kata Juna sambil tersenyum manis.
"Iyaa."
"Ya elah, manja amat sih lo." Kata Brian sambil memukul bahu Juna.
"Dia bukan manja, tapi lagi bucin." Kata Gery menimpali.
Irene buru-buru berjalan keluar dari kamar, karena dia sudah sangat malu berada di tengah-tengah teman Juna.
"Hati-hati ya, sayang, jangan lama-lama!" Teriak Juna, membuat Irene semakin mempercepat langkahnya.
"Bucin abeeess!" Brian semakin kesal.
__ADS_1