
Tidak berapa lama kemudian Kevin langsung pergi keruang Aron, dia menghela napas panjang sebelum dia mengatakan sesuatu pada Tuan nya tersebut.
"Tu-tuan ...," ucap Kevin gugup dan ketika itu Aron memotong ucapannya.
"Ada apa? Apa ada hal penting, aku lihat kau sangat gugup," Aron menaikkan kedua alisnya dan melanjutkan ucapannya, "Jika bukan hal penting sebaiknya kau pergi sana, aku sedang banyak pekerjaan."
"Bukan begitu Tuan muda, ada yang ingin saya sampaikan. Ini mengenai nona Sena," ucap Kevin menundukkan kepalanya.
"Sena? Ada urusan apalagi dengan wanita itu, jangan bilang dia pergi ke kantor untuk mengunjungi ku lagi!" sahut Aron yang menupangkan dagunya.
Kevin meneguk salivanya, tak khayal dia mulai berpikir harus seperti apa dia mengatakan hal tersebut.
"Begini Tuan muda, tadi saya dihubungi oleh ayah anda. Dia bilang untuk menyuruh Anda segera pulang," ucap Kevin sebelum dia menyambung kalimat nya tersebut, "Anda diperintahkan untuk makan malam di rumah, katanya nona Sena akan ikut serta juga makan malam kali ini."
Mendengar penjelasan Kevin, Aron mulai paham kenapa pria itu terlihat gugup saat akan mengatakan hal itu. Dia mengerti, pasti ayahnya akan mengancam Kevin jika saja pria itu tidak menyampaikan pesannya pada Aron.
"Kabari ayah ku, aku pasti akan ikut makan malam. Tapi mungkin agak telat," perintah Aron pada Kevin.
"Siap Tuan, akan saya sampaikan." ucap Kevin yang langsung menuruti perkataan Aron.
Akhirnya Kevin bisa bernapas lega, setelah mengetahui Tuan mudanya tersebut menyetujui perintah dari ayah. Dan dia juga merasa lega bisa lepas dari sang macan dan naga itu.
******
Matahari menunjukkan teriknya, hari ini cuaca sangat panas. Beberapa orang banyak yang berkeringat meski AC dinyalakan, tetapi suhu saat ini membuat orang ingin merendamkan tubuhnya lama dalam air.
Di antara banyak orang yang sedang merasa kepanasan, terlihat seorang pria tua yang menenteng sebuah alat perlengkapan.
"Haduh, pantas saja panas. Ternyata ini masalahnya ...," ucap pria tua tersebut.
__ADS_1
"Bagaimana Pak? Apa ada masalah dengan AC tersebut?" tanya seseorang pada pria tua tersebut.
"Iya, hanya ada masalah sedikit. Pasti dengan cepat akan saya perbaiki." sahut pria tua itu.
Benar saja. Belum sampai setengah jam pria tua tersebut sudah memperbaiki AC yang semulanya tidak bekerja dengan baik.
"Nah, sudah selesai."
"Wah, Pak Hardi memang hebat. Pantas saja perusahaan sudah lama memperkerjakan bapak," seseorang memuji pria tua yang di panggil Pak Hardi tersebut.
"Benar dari dulu hingga sekarang, teknisi mesin terbaik hanya Pak Hardi seorang di perusahaan ini," ucap orang lain yang juga ikut memuji Pak Hardi.
"Kalian terlalu memuji ini hanya pekerjaan kecil," jawab Pak Hardi.
Tetap saja orang yang berada di ruangan tersebut memuji pria tua itu, mereka hanya kagum, bagaimana bisa orang sehebat itu masih bertahan menjadi teknisi mesin bertahun-tahun di sebuah perusahaan. Padahal jika dia mau, pria tua tersebut bisa saja sudah lama mengembangkan bakat nya dan mungkin memiliki perusahaan sendiri.
Tiba-tiba ada yang menepuk bahu pria tua tersebut.
"Eh, Bos. Apa ada yang bisa saya bantu?" ucap Pak Hardi.
"Ayo, ikut aku!" kata pria tersebut.
Di dalam ruangan itu terlihat Pak Hardi dan pria yang dipanggil bos nya tadi sedang duduk.
"Kau ini masih saja memanggil ku dengan sebutan bos, Kitakan sudah berteman lama. Panggil saja aku seperti kita saat muda," ucap pria itu.
"Inikan di kantor, mana mungkin aku harus memanggil mu dengan sebutan nama saja. Apalagi dihadapan semua karyawan mu," Pak Hardi hanya menunjukkan ekspresi selaku bawahan.
"Aku tidak bisa jika teman lama ku terlalu meninggikan diriku, kita sudah berteman lama untuk apa terlalu formal," kata pria itu yang mendelikkan matanya pada Pak Hardi.
__ADS_1
"Iya, iya Anton. Teman lamaku yang sampai sekarang sangat baik padaku," ucap Pak Hardi yang juga menepuk-nepukan tangan nya di bahu pria.
"Kau ini baru saja aku bilang jangan meninggikan diriku, tapi sudah bertingkah selayaknya Hardi sang ketua genster sekolah," ucap Pak Anton yang menjadi bos Pak Hardi saat ini.
"Sebenarnya aku sebagai bos merasa tidak berguna jika dihadapan mu, dari dulu hingga sekarang kau tetap orang yang sangat berguna. Kalau bukan warisan mungkin saja saat ini aku hanya pria biasa dan bukan seorang bos."
"Takdir mu sudah bagus Anton, coba kau lihat diriku ini. Hanya seorang teknisi mesin," kata Pak Hardi menghela napas, "Kalau bukan karena mu, mana bisa aku bekerja di perusahaan sebesar ini."
"Hardi, Hardi jiwa merendah mu memang luar biasa. Pantas kau disebut sahabat terbaik ku," ucap Pak Anton yang menguatkan Pak Hardi.
"Andai saja Mahendra ada di sini, pasti kita akan banyak berbincang mengenai segala hal. Iyakan Anton?"
"Mahendra sekarang sudah terlalu sibuk, atau bahkan dia sudah melupakan kita," kata Pak Anton dengan memasang wajah juteknya, "Semenjak kelulusan kita di perguruan tinggi, Mahendra tidak pernah memberi kabar pada kita. Apalagi saat dia sudah diangkat menjadi CEO perusahaan keluarga nya yaitu keluarga Atalla."
"Kau jangan bilang begitu, bisa jadikan dia memang sibuk.Kau bahkan juga sibuk bahkan melupakan aku, yang lebih rendah dari pada kalian berdua," ucap Pak Hardi yang tak kalah memasang wajah juteknya, "Lain kali kita ajak saja Mahendra untuk bertemu, dan berbincang. Mungkin saja jika tak sibuk dia pasti mau."
"Baik, terserah kau saja Hardi."
"Nah ini baru teman ku Anton, jarang-jarang kan trio kita berkumpul lagi," ucap Pak Hardi penuh semangat.
Pak Anton hanya menganggukkan kepalanya saha, karena dia merasa perkataan teman nya tersebut juga benar. Dia sangat rindu ingin berkumpul dengan kedua temannya tersebut, meski dia tahu teman nya yaitu Pak Mahendra sangat sulit untuk dihubungi.
"Oh iya, Hardi aku ingin memberitahu mu. Sebentar lagi anakku Victor akan segera pulang, aku rasa dia sudah mengabari Hana anak mu."
"Benarkah? Aku rasa iya, Hana juga pasti sudah mempersiapkan sesuatu untuk bertemu dengan Victor," Pak Hardi yang juga ikut senang.
"Dan juga aku sudah lama tidak bertemu dengan Victor, pasti dia juga semakin tampan," Pak Hardi menambahkan ucapannya.
Kedua pria tersebut masih sibuk dengan pembicaraan nya, mengenai teman bahkan sampai anak-anak mereka. Benar kata seseorang mungkin ini takdir, selayak nya Pak Hardi, Pak Anton dan Pak Mahendra yang saling mengenak. Siapa sangka ada sebuah kisah baru yang muncul dari hasil persahabatan ketiga orang tersebut.
__ADS_1
******
Bersambung...