Kamulah Jodohku

Kamulah Jodohku
Janji Irene


__ADS_3

"Ini surat lamaran Irene." Kata Juna sambil menyerahkan 1 amplop berisi surat lamaran Irene pada Riki.


Pagi-pagi sekali Juna sudah sampai di kantor Riki dengan wajah lesu.


Riki yang masih duduk di depan laptop lalu menatap Juna yang sedang berdiri di depannya.


"Kok elo yang bawa?" Tanya Riki.


"Kenapa emang?" Juna membalas pertanyaan Riki.


"Kan yang mau kerja Irene? kenapa lo yang bawa surat lamarannya?" Tanya Riki lagi.


"Gue yang wakilin emang nggak boleh?"


"Kok sewot?"


Juna lalu duduk di sofa. Riki yang melihat sahabatnya seperti sedang ada masalah menghampirinya dan duduk disampingnya.


"Gara-gara hasilnya nggak sesuai dengan proposal, gue harus balik lagi ke Bandung buat rapat ulang."


"Cuma balik ke Bandung aja jadi bete, Bandung deket kali, cuma 1 jam dari sini." Kata Riki.


"Iya, lo kan dah biasa bolak-balik."


"Sabar, bro. Namanya juga kerja, pasti capek."


"Yaudah, gue mau langsung berangkat, jangan lupa itu lamaran Irene di urus, kalau bisa besok bisa langsung kerja."


"Kalau lo segitu khawatirnya kenapa lo nggak masukin aja ke perusahaan lo?" Tanya Riki.


"Gue udah bilang, tapi anaknya nggak mau."


"Hahaha, belum apa-apa uda ditolak."


"Sialan lo. Udah ah, gue balik dulu." Juna lalu keluar dari ruangan Riki.


Riki kembali ke maja kerjanya. Dia melihat ada pesan masuk di ponselnya.


"Pagi Kak Riki. Ini Maura. Aku sudah masukin lamaran di hotel Kakak seperti yang Kak Riki minta melalui Kak Sasya. Semoga Kak Riki bisa bantu lebih lanjut. Terimakasih Sebelumnya, Kak."


Riki lalu mengetik sesuatu untuk membalas pesan dari Maura.


"Oke Maura. Akan segera saya proses."


Riki lalu memanggil sekertarisnya masuk.


"Iya, Pak? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Vanya, sekertaris Riki.


"Tolong bawakan lamaran pekerjaan yang sudah masuk untuk posisi admin di kantor, saya mau lihat." Titah Riki.


"Baik, Pak." Jawab Vanya. Lalu dia pun keluar dari ruangan Riki.


Juna sudah dalam perjalanan pulang ke Jakarta, urusan pekerjaan di Bandung sudah selesai, dia pun memutuskan untuk mampir ke Rumah sakit menemui Irene sebelum pulang ke rumahnya.


Tok tok tok.


Irene berdiri dari kursi lalu membukakan pintu.


"Bang Juna." Irene lalu menoleh kanan kiri mencari seseorang. "Jeni nggak ikut?"


"Nggak, Abang sendiri." Jawab Juna.


"Masuk, Bang. Ibu tapi lagi tidur." Ajak Irene.


"Biarin aja, lagian Abang kesini mau ketemu kamu kok." Juna lalu memberikan sebuah bungkusan untuk Irene.


"Ini apa, Bang?" Tanya Irene sambil mengintip isi bungkusan itu.


"Makanan. kamu belum makan kan?"


Irene menggeleng.

__ADS_1


"Yaudah, kamu makan dulu."


Irene mengambil piring dan sendok lalu duduk di sofa, diikuti oleh Juna yang lalu duduk disebelah Irene.


Juna membantu membukakan bungkusan makanan untuk Irene.


"Kok cuma 1? Abang nggak makan?" Tanya Irene.


"Nggak, kamu aja." Jawab Juna sambil memberikan sendok ke tangan Irene.


Irene lalu memakan makanan yang dibelikan Juna.


"Enak?" Tanya Juna.


Irene mengangguk.


Juna terus memperhatikan Irene makan, hingga membuat Irene grogi karena Juna terus menatapnya.


"Abang mau?" Tawar Irene.


Tanpa menjawab, Juna membuka mulutnya. Irene yang paham maksud Juna lalu menyuapkan 1 sendok nasi dan lauk ke mulut Juna.


"Enak juga." Kata Juna sambil mengunyah.


Irene tersenyum.


"Irene suapin lagi ya."


"Nggak usah, ini Abang beliin buat kamu, Abang cuma nyobain aja."


Irene lalu melanjutkan makannya. Masih dengan keadaan grogi karena Juna masih terus menatapnya.


"Abang bisa nggak jangan liatin Irene makan, Irene jadi grogi." Kata Irene pada Juna karena dia tidak sanggup lagi menahan debaran jantungnya.


Juna tertawa.


Lalu dia mengusap sudut bibir Irene karena ada nasi yang menempel.


"Ada nasi di bibir kamu." Kata Juna.


Irene lalu mengusap bibirnya dengan tangannya.


"sudah Abang bersihin." Kata Juna.


"Kenapa pakai tangan sih, Bang?" Protes Irene.


"Terus pakai apa?" Tanya Juna bingung.


"Kan bisa pakai tisu, tangan Abang kan jadi kotor."


"Ooh, Abang pikir pakai apa." Kata Juna lirih.


Beberapa menit kemudian, akhirnya Irene selesai makan setelah dibuat jantungan oleh Juna. Irene tidak kuat berada di dekat Juna karena wajah tampan Juna membuatnya jadi salah tingkah.


"Oh iya, lamaran kamu sudah Abang kasih ke Riki. Semoga ada kabar baik setelah ini."


Irene tersenyum.


"Makasih ya, Bang."


Juna mengangguk.


"Kamu yakin mau kerja di tempat Riki? Nggak mau di tempat Abang aja?" Tanya Juna lagi.


"Yakin, Bang." Jawab Irene dengan yakin.


"Ya sudah, kalau belum diterima di tempat Riki kamu bisa langsung melamar di tempat Abang."


"Siap, Bang."


"Kuliah kamu gimana?" Tanya Juna lagi.

__ADS_1


"Irene tetap lanjut kuliah, Bang. Tapi Irene mau cari yang bisa menyesuaikan jam kerja Irene nanti.


"Apapun itu, semoga yang terbaik buat kamu. Abang yakin, kamu pasti bisa melewati ini semua."


"Makasih, Bang."


Juna lalu mengusap kepala Irene. Irene sudah terbiasa dengan perlakuan Juna yang satu ini. Dia pun hanya tersenyum.


"Kalau gitu, Abang pamit ya. Salam buat Ibu kalau sudah bangun." Kata Juna.


"Iya, Bang. Makasih buat makanannya." Kata Irene.


Juna tersenyum sambil mengusap rambut Irene lagi.


"Kamu istirahat ya. Besok Abang kesini lagi." Kata Juna.


Irene hanya mengangguk.


Juna melambaikan tangannya pada Irene. Irene pun membalasnya.


Setelah Juna keluar dari kamar, Irene masih tersenyum sendiri, hatinya masih berbunga-bunga karena Juna beberapa kali mengusap rambutnya. Tanpa sadar dia menyentuh rambutnya sendiri sambil terus tersenyum.


Irene membalikkan tubuhnya, dia terkejut melihat Ibunya yang sudah duduk bersandar.


"Ibuk. Ibuk udah bangun?" Tanya Irene sambil berjalan menghampiri Ibunya.


"Udah dari tadi." Jawab Ibu Irene.


"Ibuk tahu tadi Bang Juna kesini?"


Ibu Irene mengangguk.


"Kok Ibuk nggak bilang kalau bangun?" Tanya Irene lagi.


"Sengaja biar nggak ganggu kalian." Jawab Ibu Irene sambil terkekeh.


"Ibuk apaan sih." Irene tersenyum malu.


"Ren, Nak Juna baik banget ya. Ibu suka sama Nak Juna. Udah ganteng, sopan..."


Ibu Irene menghentikan kalimatnya.


Irene menatap Ibunya menunggu kelanjutan apa yang ingin dikatakan Ibunya lagi.


"Kok, Ibu muji Nak Juna, pipi kamu yang merah sih?" Ibu Irene menggoda Irene.


"Ih, Ibuk apaan sih, siapa juga yang pipinya merah." Kata Irene sambil memalingkan wajahnya.


"Itu pipi kamu, kenapa jadi merah gitu?"


"Apa sih, Buk. Ini Irene kepanasan, kayaknya AC nya kurang dingin ya, Buk." Kata Irene mencoba mengalihkan pembicaraan.


Ibu Irene tertawa melihat anaknya yang sedang salah tingkah.


"Irene, Ibu Ijinkan kamu bekerja, tapi kamu harus janji sama Ibu ya."


Irene menatap Ibunya yang sudah berubah ke mode serius.


"Apa buk?"


"Biar bagaimanapun, kamu tetap harus kuliah. Itu salah satu amanah almarhum ayah kamu, jadi apapun akan Ibu lakukan supaya kamu tetap bisa melanjutkan kuliah."


Mata Irene mulai berkaca-kaca.


"Iya, Bu. Irene janji sama Ibuk, Irene akan jadi sarjana seperti harapan ayah."


"Makasih ya, Nak."


"Irene yang makasih, Buk. Ibuk sudah susah payah membesarkan Irene sendirian, jadi apapun akan Irene lakukan untuk membuat Ibu bahagia."


Irene lalu memeluk Ibunya dengan erat, sambil menyembunyikan air mata yang tanpa sadar sudah menetes di pipinya.

__ADS_1


__ADS_2