Kamulah Jodohku

Kamulah Jodohku
Curhat Hana


__ADS_3

Sudah dua hari berlalu. Hana masih sibuk dengan naskah novel barunya yang akan segera rilis, dan seminggu sekali dia akan memantau proses pengambilan film yang diangkat dari salah satu novel nya.


Sebenarnya Hana bisa datang ke lokasi shooting itu setiap hari, tapi dia memutuskan untuk seminggu sekali saja pergi kesana. Dalam pikirannya bisa saja jika dia datang setiap hari, dia akan terus bertemu dengan Aron.


Tidak mudah menjadi Hana. Setiap hari harus memikirkan ide cerita, yang akan dia tuangkan dalam sebuah tulisan. Sebagian orang selalu berpikir, terkadang seorang penulis adalah manusia dengan tingkat Imajinasi tinggi. Padahal menjadi seorang penulis bukan hanya tentang imajinasi, tapi juga mengenai bagaimana seorang penulis menarik emosi pembaca nya, sehingga masuk ke dalam cerita tersebut. Belum lagi tuntutan para pembaca yang selalu merasa kekurangan, jika cerita yang disajikan tidak sesuai dengan ekspektasi mereka.


"Yeahhh, akhirnya selesai juga. Aku harus segera menyerahkan naskah ini," Hana terlihat mengeliatkan badan nya, yang sedari tadi duduk di depan komputer.


"Hana, teman mu Silva datang berkunjung. Cepat keluar dari kamar," teriak ibu Hana memanggil.


"Iya Bu, sebentar lagi aku keluar."


Di ruang tamu tampak seorang perempuan memakai baju kantoran sedang duduk manis.


"Silva, wahhh ..., akhirnya kau datang juga. Aku sungguh merindukanmu tahu, semenjak kau sibuk dengan urusan kantor, aku jadi tidak ada teman untuk pergi jalan-jalan dan diajak curhat," ucap Hana yang mengembungkan pipinya.


"Dasar kau saja yang juga sibuk, jadi selama seminggu lebih ini kita hanya bisa berkomunikasi lewat chatting," Silva tak kalah membalas ucapan Hana.


"Hehe, iya juga sih. Aku juga sibuk bahkan tidak sempat memikirkan hal lain," jawab Hana.


Keduanya seperti sudah bertahun-tahun tidak bertemu, mereka hanyut dalam percakapan. Dimana selama seminggu lebih itu, banyak hal yang mungkin kedua gadis itu ingin ceritakan tapi tak tersampaikan.

__ADS_1


Hana yang mulai bercerita mengenai kejadian nya selama tidak bertemu Silva, membuat Silva terlihat mendengarkan nya secara seksama.


"Jadi maksud nya, kau bertemu lagi dengan pria yang salah kau kencani itu?!" Silva terlihat memasang wajah terkejut nya.


"Huss, kecilkan suara mu. Nanti ayah dan ibuku dengar, bahkan yang lebih memalukan nya lagi pria itu sudah bertemu dengan ayah dan ibuku Silva. Huaa, bagaimana ini," wajah Hana terlihat cemberut saat mengatakan hal tersebut, dia tidak bisa menahan nya lagi. Saat ini hanya Silva lah yang menjadi tempat dia bercerita.


Hana melanjutkan ucapannya lagi.


"Lebih buruknya lagi aku harus menghadapi seorang pria yang diburu oleh banyak wanita, lebih tepatnya diburu oleh 'Macan Wanita' dia Aron Atalla, sekaligus penerus perusahaan keluarga Atalla," Hana tambah merengek mengucapkan hal tersebut.


"Aku tidak bisa mengatakan ini keberuntungan atau kesialan mu Hana, tapi mau bagaimana lagi semua telah terjadi," ucap Silva yang juga ikut merasakan isi hati Hana.


"Iya, ini memang sudah terjadi tapi kan setidaknya kau punya solusi untuk ku sebagai teman," Hana merajuk pada teman nya tersebut.


"Oh iya, aku lupa sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin aku katakan padamu. Kau tahu pria yang di kedai kopi saat itu, yang tidak sengaja menabrak kita?" Hana langsung menanyakan hal itu pada Silva.


"Aku ingat dia pria impian ku itukan? Aku berharap bisa bertemu lagi dengan nya, dan berkencan dengan nya," ucap Silva mengatakan hal tersebut seraya tersipu malu.


"Asal kau tahu ya, pria itu ternyata bawahan Aron!" Hana mengucapkan hal tersebut dengan gaya terkejut, seakan-akan tidak menyangka pria yang dimaksud adalah Kevin yang bekerja dengan Aron.


"What? Jadi kau bertemu dengan pria idaman ku? Siapa namanya?" ucap Silva kegirangan.

__ADS_1


Bukannya menanyakan perihal mengapa pria itu bisa bertemu Hana, sebaliknya Silva langsung menanyakan nama pria tersebut.


Jika tahu begini aku lebih baik tidak mengatakannya pada Silva, dia pasti bukannya membantu malah mempersulit. Hadeh ... terpaksa aku harus mengatakan siapa dia.


Hana bergumam dalam hatinya.


"Nama nya Kevin, jika yang aku lihat dia bawahan kepercayaan Aron. Dimana ada Aron pasti ada Kevin," ucap Hana yang juga mengangkat bahu nya.


"Baguslah kalau begitu. Hana coba kau bayangkan, kau bisa bertemu dengan Aron yang menjadi teman kencan mu secara tidak sengaja, dan kau bertemu dengan pangeranku yaitu Kevin. Itu artinya ini sebuah keberuntungan," Silva hanya tersenyum-senyum sendiri mambayangkan hal tersebut.


Tidak butuh waktu lama. Hana langsung berdiri dan meninggalkan Silva.


"Eh ... kau mau kemana? Kita kan belum selesai bicara," sahut Silva.


"Lebih baik aku pergi mengantar naskah novel ku saja, daripada bicara dengan mu. Bukannya mencari solusi malah bilang ini keberuntungan, kau sama saja dengan ayah dan ibuku. Huh! mengesalkan," Hana memasang wajah kesalnya, dan kembali menuju kamarnya.


Sedangkan Silva yang dia tinggalkan sendiri di ruang tamu hanya terdiam, sedikit heran akan sifat Hana.


"Padahalkan aku hanya mengatakan ini keberuntungan, apa ada yang salah? Ah, yang penting saat ini aku tahu siapa pengeran ku Tersebut. Kevin aku datang," Silva berbicara sendiri dan memikirkan dunia Halusinasi nya.


******

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2