Kamulah Jodohku

Kamulah Jodohku
Makan Malam (2)


__ADS_3

Makanan sudah terhidang di meja makan, tampak keluarga Aron juga sudah berkumpul untuk menikmati makan malam tersebut. Ditambah mereka kedatangan Sena, sehingga suasana sedikit ramai.


"Nak Sena, apa makanan nya enak?" ibu Aron langsung bertanya pada Sena.


"Tante makanan ini sangat enak, pasti ini buatan koki handal dari keluarga Atalla," ucap Sena.


"Ahh, sebenarnya ini bukan masakan koki kami. Kebetulan kau datang kesini, jadi Tante yang buatkan makanan ini langsung. Spesial untuk Sena."


"Sungguh? Tante terimakasih banyak, aku sangat senang jika Tante sendiri yang buatkan makanan ini untuk ku," ucap Sena.


"Lain kali Tante akan buatkan lagi untuk Sena, kalau bisa kapan-kapan kita masak bersama," Nyonya Atalla bersemangat, berharap ada waktu dimana dia bisa masak bersama Sena.


"I-I-Iya, Tante nanti kita masak bersama. Kalau ada waktu," Sena terlihat gugup akan jawabannya tersebut.

__ADS_1


Melihat tingkah Sena yang gugup, sebuah pikiran terlintas di kepala Aron mungkin saja wanita ini tidak pernah sama sekali menyentuh yang namanya dapur.


"Itu ide bagus, aku juga ingin mencicipi masakan Sena. Kau bisa memasakkan?" perkataan Aron bagaikan olokan untuk Sena.


"Aron, kamu ini bicara apasih? Ibu yakin pasti Sena jago memasak, wanita seperti Sena pasti juga terlatih dalam hal urusan dapur," ibu Aron yang mencoba menenangkan Sena.


"Kenapa ibu marah? Aku kan hanya menanyakan hal sepele, Sena adalah anak kesayangan keluarga Martin satu-satunya," sampai dia melanjutkan ucapannya,


"Aku hanya memastikan, walaupun dari keluarga yang serba ada aku berharap Sena bisa melakukan pekerjaan semacam memasak. Lihat Sisil adikku ini, meski sering ayah dan ibu manja tapi dia sudah menguasai banyak resep masakan berkat kemandirian nya."


Telinga Sena sedikit memanas mendengar hal itu, dia akui memang dia tidak bisa memasak. Tapi demi menjaga martabat nya dia harus berpura-pura demi meyakinkan kedua orang tua Aron.


"Aku bisa memasak kok, meskipun mungkin tidak sepandai Sisil. Aku berjanji masakan ku pasti sangat istimewa," Sena membalas sindiran Sisil.

__ADS_1


"Wah ..., kalau begitu benar kata ibu, aku ingin secara langsung melihat kak Sena memasak, dan ingin mencoba masakan kak Sena," bukan Sisil jika kalah bicara dia juga bahkan membuat Sena harus menyetujui hal tersebut.


"B-baik pasti akan aku perlihatkan," jawab Sena lebih gugup ketimbang sebelumnya.


Kedua kakak, adik itu saling bertatapan seolah mereka telah melumpuhkan Sena malam ini. Bahkan dari sorot mata Sisil seolah berkata 'Lihat aku telah mengalahkan nya kak Aron.' Dan Aron hanya mengacungkan jempolnya pada Sisil seolah tidak terlihat kedua orang tuanya dan Sena.


Tidak dapat berkata-kata lagi, Sena hanya dapat mengangguk dan menunjukkan senyum yang seperti di tahan oleh amarah nya. Jika bukan demi menarik perhatian Aron dan orang tuanya mungkin dia sudah marah-marah dengan orang di ruangan itu.


Aron, Sisil kalian pikir aku akan kalah dengan hal seperti ini. Akan ada saatnya kalian berdua tunduk kepada ku, terutama kau Aron. Kau hanya boleh menjadi milik ku dan akan kubuat kau jatuh ke pelukan ku.


Sena hanya dapat menahan seluruh umpatan nya dalam hati.


Tidak tahu siapa yang akan tunduk atau di tundukkan, karena Sena sesungguhnya terlalu menganggap bahwa segala hal akan menjadi miliknya. Padahal dia belum tahu mungkin ada seseorang diluar sana yang akan membuat nya benar-benar kalah telak.

__ADS_1


******


Bersambung...


__ADS_2