
Acara reuni pun berakhir, kini orang-orang banyak yang sudah pulang. Adapula diantara mereka yang masih ingin melepas kerinduan satu sama lain karena sudah lama tidak bertemu.
Sena yang pergi bersama Aron, juga merasa masih ingin berkumpul dengan sahabat semasa sekolahnya. Apalagi dia belum puas untuk memamerkan Aron pada teman-temannya, padahal sudah jelas dia tadi hampir dipermalukan oleh Aron.
"Aron, kita jangan pulang dulu ya? Teman-temanku mengajak kita pergi ke tempat karaoke, kamu mau ikutkan?"
Dengan muka datarnya, Aron sama sekali tidak menjawab pertanyaan Sena. Dia hanya melirik wanita itu dengan acuh.
"Kenapa tidak jawab? Ayolah, mereka sudah lama menunggu," berusaha menarik tangan Aron.
Berhubung Sena perempuan, pastinya sulit untuknya menarik tangan Aron untuk mengikuti nya lagi.
"Aku hanya menemani mu di acara reuni, bukan ke tempat lain. Jika kau ingin pergi, ya pergi saja sendiri. Aku capek, ingin pulang." Gertak Aron.
Cairan bening di pelupuk mata Sena tampak turun dari matanya, seketika wanita itu ingin menangis melihat Aron memperlakukan nya seperti itu. Aron yang melihat Sena seperti itu menghela napasnya panjang, dia tahu air mata itu, bukan air mata sesungguhnya.
"Percuma kau menangis walaupun sampai akhir dunia, aku tidak akan ikut dengan mu lagi."
Meninggalkan Sena sendirian, Sena sangat kesal. Baru kali ini dia benar di tolak mentah-mentah oleh seorang pria, yang pria itu ternyata ingin dijodohkan dengannya.
"Aron, aku pasti tidak akan tinggal diam!"
*******
Dilain sisi, Hana, Silva dan Victor juga akan segera pulang. Mereka bertiga berjalan bersamaan.
"Aku akan mengantar kalian berdua," ucap Victor.
"Kami jadi tidak enak, hari sudah malam. Apa kak Victor tidak keberatan?" ujar Hana.
"Tidak kok, untuk apa aku keberatan? Justru karena hari sudah malam, kalian sebaiknya aku antar."
__ADS_1
Silva sendiri sangat senang, karena dirinya dan Hana tadi pergi naik bus dan itu harus dua kali singgah di halte bus. Pasalnya jarak rumah Hana dan tempat acara reuni lumayan jauh.
"Aku setuju, ayolah Hana kita naik mobil kak Victor saja. Dia juga baru pulang dari luar negeri, sangat bagus jika kita menghabiskan waktu bersama," rayunya membujuk Hana.
"Iya, iya kita naik mobil kak Victor. Let's go."
Belum sampai mobil sontak saja tangan Hana diraih oleh seseorang yang menariknya.
"Apa-apaan ini? Lepaskan aku Aron!" Seru Hana.
Victor juga terkejut akan perbuatan Aron yang langsung menarik Hana ikut dengannya.
"Hei bung, lepaskan Hana."
"Aku yang akan mengantarnya pulang, kau pulanglah Victor. Tidak perlu mengkhawatirkan Hana."
Ingin menarik kembali Hana, tapi Aron sudah lebih cekatan menarik nya masuk ke dalam mobil.
"Sial ... kenapa Aron melakukan ini dengan Hana, apa hubungan mereka sampai pria seperti Aron mendekati Hana, bukankah tadi dia datang bersama Sena? Lalu mengajak Hana pulang. Cih, awas kau Aron," dirinya terus menggerutu dengan perilaku Aron yang seperti tanpa sadar menarik Hana.
"Ckckck ... tidak aku sangka, Hana luar biasa.
," gumamnya pelan dan didengar Victor.
"Apa maksud mu Silva? Dan kenapa Aron bisa mengenal Hana, ceritakan semuanya padaku?"
'Glek' ... Silva menelan salivanya, baru sadar Victor ada disampingnya.
"Ceritanya panjang, nanti akan aku ceritakan dengan kak Victor. Tapi sebelumnya aku mau tanya kak Victor darimana mengenal Aron? Bukankah dia tidak satu sekolah dengan kita?"
"Dia memang tidak satu sekolah dengan kita, tapi dulu dia pernah satu universitas denganku, sebenarnya kami juga rekan bisnis."
__ADS_1
******
Tidak bisa dihitung sudah berapa kali Hana naik mobil Aron, dan dia berharap ini terakhir kalinya.
"Kau tidak bisa melakukan hal semau mu, tadi kau bersama Sena, dan kini ingin pulang denganku? Dasar Playboy ..."
Dengan perasaan yang masih campur aduk, sesuatu yang tidak di sangka menjadi kenyataan.
CUP
Bibir sexy Aron mendarat di bibir tipis Hana, walau ciuman itu hanya sekejap tetap saja mata Hana tidak berkedip menatap wajah Aron yang masih dihadapannya.
Dengan senyum jahilnya Aron membisikkan sesuatu, "Bukankah sudah aku katakan padamu, jika kau banyak bicara maka ..." menunjuk bibir Hana. "Maka bibir ini akan jadi milikku, semoga kau ingat Hana."
Wajah Hana merah padam, untuk pertama kali bibirnya disentuh oleh seorang pria yang bahkan tidak dia sangka akan merebut ciuman pertamanya. Adegan yang mendadak tadi juga masih terbayang dalam ingatannya, ingin menghapus ingatan tersebut tetap saja saat melihat Aron bagaikan 'Reply' adegan itu serasa terus diulang. Padahal Aron mengecup bibirnya sekali.
Ini tidak mungkin, first kiss ku? Kenapa harus pria ini yang memiliki nya, seharusnya pria pujaan ku yang melakukan nya. Aronn ... kenapa kau terus mengganggu ku!
Menutup mulutnya rapat-rapat dengan tangan, Hana seperti baru saja bertemu hantu. Rasa takutnya diselimuti dengan perasaan was-was, tidak tahu apa yang akan dilakukan Aron jika dia terus lengah.
"Sebenarnya itu first kiss ku, Hana. Aku harap itu juga berlaku untuk mu," ucap Aron hati-hati, kini giliran wajahnya yang merah padam.
"Bohong, pria seperti mu mana mungkin baru pertama kali ciuman, seharusnya aku yang mengatakan itu first kiss ku. Huh, munafik!"
Tidak percaya dengan pengakuan Aron, Hana terus menggerutu.
"Aku tidak menyuruh mu untuk mempercayai ku, tapi aku hanya memberi pengakuan sebenarnya. Maaf, jika aku mendadak melakukan nya, lain kali pasti tidak kok," Aron mengedipkan sebelah matanya. Menggoda Hana mengasyikkan bagi dirinya.
"Tapi aku juga berterimakasih, ternyata bibirmu manis Hana. Hehe," sekali lagi Aron benar-benar pada puncak gombalnya.
******
__ADS_1
IG : @al.be.ga_
~AlBeGa~