Kamulah Jodohku

Kamulah Jodohku
Cinta Lama Bersemi Kembali


__ADS_3

Irene berbaring di atas kasurnya. Berkali-kali dia melirik ponselnya. Dia sedang menunggu kabar dari Juna. Pagi tadi Juna berpamitan bahwa dia akan pergi ke Surabaya untuk perjalanan dinas, sehingga dia tidak bisa mengantar Irene berangkat kerja. Dan sore tadi pun Irene juga pulang sendiri dengan menggunakan ojek online.


Seharian ini dia merasa sangat gelisah karena belum mendengar kabar dari laki-laki yang sekarang sudah berstatus menjadi pacarnya itu.


Tak lama ponselnya berdering. Irene langsung mengambil ponselnya, dan melihat ada 1 panggilan video. Irene terkejut, karena bukan hanya panggilan biasa, tapi panggilan video yang membuatnya langsung panik.


Irene berlari ke arah cermin, dia merapikan rambutnya yang acak-acakan. Dia juga memoles bibirnya dengan lipstik tipis yang membuat wajahnya sedikit cerah. Lalu dia menerima panggilan video itu.


"Halo." Sapa Irene. Nampak wajah Juna di layar ponsel Irene. Wajah yang sedari tadi membuatnya gelisah karena seharian tidak melihatnya. Dia sendiri sedikit kecewa karena setelah mereka berstatus pacaran, malah Juna langsung meninggalkannya untuk dinas ke luar kota.


"Hai, kamu lagi apa? kok lama banget angkatnya?" Tanya Juna.


"Hm, itu... tadi lagi bantu Ibu di dapur." Jawab Irene bohong.


"Ooh... Ngomong-ngomong pacar Abang apa kabar?" Tanya Juna lagi.


Wajah Irene langsung bersemu merah. Juna menyebutnya sebagai pacar, jantung Irene mulai berdebar.


"Kok diam aja? Nggak suka ya Abang telepon, atau mau chatingan aja?"


"Eh jangan!" Protes Irene.


"Hmm... kangen ya sama Abang?" Goda Juna.


Wajah Irene semakin bersemu.


"Kamu nggemesin banget sih, bikin aku pengen cepat pulang." Kata Juna lagi.


"Emang Abang kapan pulang?" Tanya Irene.


"Hmm... Rencana sih masih 2 hari lagi disini. Kenapa?"


"Nggak papa, cuma tanya aja." Jawab Irene.


"Ooh, kirain udah kangen." Kata Juna dengan wajah kecewa.


Irene tertawa melihat wajah Juna.


"Kok ketawa sih? Beneran nggak kangen ya? padahal aku kangen banget lho sama kamu." Kata Juna lagi.


"Irene juga kangen kok sama Abang." Jawab Irene lirih.


"Apa? Abang nggak dengar?" Tanya Juna, padahal dia mendengar dengan jelas apa yang diakatakan Irene.


"Ih, nggak dengar yaudah." Kata Irene ngambek.


"Kok marah sih? Abang beneran nggak dengar, ulangi lagi dong, tadi kamu ngomong apa?" Bujuk Juna.


"Nggak mau."


"Hahaha, gitu aja ngambek. Yaudah kamu istirahat ya, sudah malam." Kata Juna.

__ADS_1


"Kok udahan?" Protes Irene lagi.


"Kenapa? kamu masih kangen kan sama Abang? pakai nggak mau ngaku."


"Bukan gitu, Irene kan masih pengen ngobrol sama Abang." Jawab Irene.


"Yaudah, Abang temenin kamu ngobrol, sebenarnya Abang juga masih pengen lihat wajah kamu sih."


Irene kembali tersipu malu.


"Abang udah makan malam?" Tanya Irene.


"Sudah. Kamu sendiri?" Juna balik bertanya.


"Irene udah kok." Jawab Irene. "Oya, Bang. Ada yang mau Irene ceritain."


"Mau cerita apa? Hm?"


"Tadi siang, Ibuk ke Hotel antar pesanan teman Irene, terus nggak sengaja ketemu Kak Riki dan Papanya, ternyata Ibuk dan Papanya Kak Riki saling kenal." Cerita Irene.


"Oya? mereka kenal dimana? Teman sekolah dulu atau gimana?" Tanya Juna ikut penasaran.


"Irene nggak tahu, Irene pengen nanyain juga ini ke Ibuk, tapi sejak Irene pulang tadi Ibuk di kamar terus, pas Irene ajak makan aja Ibuk bilang nanti aja belum lapar."


"Ya sudah, mungkin Ibu lagi lelah, mau istirahat. Besok aja kamu tanya kalau Ibu sudah terlihat baikan." Kata Juna.


"Hm, iya, Bang."


"Ngomong-ngomong, pacar Abang nggak nakal kan selama Abang pergi?"


"Hahaha..."


Tanpa sadar mereka terus mengobrol sampai malam semakin larut.


Sementara di rumah Riki.


Riki melihat Papanya masih duduk di teras saat Riki hendak mengambil minum di dapur.


Riki menengok jam, pukul 11 malam. Dia lalu menghampiri Papanya.


"Pa, belum tidur?" Tanya Riki yang membuat Papanya terkejut.


"Eh, Rik. Papa belum ngantuk." jawab Papa Riki.


Riki lalu duduk di samping Papanya.


"Tumben Papa malam-malam masih duduk disini?" Tanya Riki lagi.


"Hmm, Papa belum bisa tidur." Jawab Papa Riki.


"Oh iya, Pa. Papa kenal sama Ibunya Irene?" Tanya Riki yang teringat kejadian tadi siang.

__ADS_1


"Irene?" Papa Riki bingung.


"Iya, Irene. Yang aku ajak ngobrol di depan sambil nunggu mobil tadi siang. Pas Papa ketemu Ibunya, Papa langsung suruh aku berangkat rapat sendiri." Jawab Riki.


"Oh itu... Iya, Papa kenal sama Ibunya teman kamu, Elena." Kata Papa Riki sambil menatap sebuah foto di genggamannya.


Riki melirik sedikit poto yang dibawa Papanya.


"Foto apa itu, Pa?" Tanya Riki.


Tanpa menjawab, Papa Riki menyerahkan foto itu pada Riki.


Riki mengambil foto itu dari tangan Papanya. Lalu memperhatikannya dengan seksama.


"Ini...?" Riki melihat sosok perempuan yang sedang dirangkul Papanya, foto yang sudah sangat lama.


"Iya. Itu Elena. Wanita yang Papa cintai 30 tahun yang lalu, dan sampai sekarang. Yang membuat Papa tidak bisa mencintai almarhum Mama kamu." Jawab Papa Riki.


Riki terkejut. Jadi wanita ini yang membuat Mamanya sakit hati pada Papa selama masa hidupnya, yang membuat Mamanya tidak pernah merasakan cinta dari Papa hingga akhir hayatnya.


"Jadi Papa bertemu lagi dengan cinta lama Papa?" Tanya Riki.


"Iya."


"Terus apa yang akan Papa lakukan?" Tanya Riki lagi.


"Menurut kamu, Apa yang harus Papa lakukan?"


"Setahu aku, Ayahnya Irene sudah lama meninggal. Kalau memang Papa dan Ibunya Irene sudah sama-sama sendiri, nggak ada salahnya Papa mengejar cinta lama Papa lagi." Jawab Riki.


"Kamu tidak keberatan?" Tanya Papa Riki.


"Untuk apa aku keberatan? Ini kan hidup Papa, aku nggak berhak menghalangi kebahagiaan Papa. Aku akan selalu mendukung Papa asalkan itu membuat Papa bahagia."


Jawaban bijak dari Riki membuat Papanya tersenyum pada Riki. Dia sudah menyangka Riki akan mendukungnya untuk mendapakan cinta lamanya kembali.


"Makasih ya, Nak. Besok Papa akan mencoba menemui Elena lagi."


"Semangat, Pa. Kalau butuh bantuan aku, aku siap kok." Kata Riki memberi semangat pda Papanya.


"Sepertinya Papa bisa sendiri, tapi tetap, makasih atas tawaran bantuannya, hahaha..."


"Hahaha..." Riki tertawa melihat Papanya yang penuh percaya diri.


"Yaudah, Pa. Aku masuk dulu, Papa juga masuk gih, udah malam, nanti masuk angin. Angin malam kan nggak bagus untuk orang tua." Goda Riki.


"Siapa yang kamu bilang tua? Enak aja, Papa masih muda, sama kayak kamu." Protes Papa Riki.


"Iya, iyaa terserah. Kalau besok pusing, cari obat ada di kotak obat di dapur ya." Kata Riki sambil berlalu.


"Papa masih sehat, Papa akan membawa Mama baru buat kamu." Jawab Papa Riki.

__ADS_1


"Hahaha, Iya deh aku tunggu."


Papa Riki menggelengkan kepalanya melihat kelauan anaknya. Sebenarnya dia sudah tahu kalau Riki akan mendukung sepenuhnya saat dia bilang akan mendapatkan kembali cinta lamanya. Dia sangat mengenal Riki, anak satu-satunya.yanh tidak pernah mengecewakannya.


__ADS_2