
Perjalanan dari kantor ke Mall lumayan macet. Juna lalu mengambil ponselnya untuk mengabarkan pada Irene bahwa dia mungkin akan terlambat menjemput.
"Nggak usah, Bang. Irene bareng teman Irene."
Juna membaca chat dari Irene. Lalu dia mencoba menelpon Irene dalam perjalanannya. Tapi tidak ada jawaban dari Irene.
Juna mengganti tujuannya langsung ke rumah Irene. Dia berencana menunggu Irene disana. Juna merasa ada yang kurang malam ini karena dia belum melihat wajah Irene.
Saat tiba di rumah Irene, Juna menghentikan mobilnya di depan rumah Irene, karena dia melihat ada sebuah mobil yang terparkir di halaman rumah Irene. Juna melihat ke arah mobil tersebut, dan dia melihat Irene bersama seorang laki-laki berdiri di samping mobil itu. Juna tidak turun dari mobil dan memilih memperhatikan Irene dan laki-laki itu dari dalam mobil.
Tak lama Juna melihat tangan laki-laki itu terulur ke wajah Irene lalu mengusap pipi Irene. Dalam sekejap Juna merasakan hawa panas menyerang tubuhnya saat itu juga. Dia sangat tidak suka melihat pemandangan itu.
Laki-laki itu lalu masuk ke mobil, Irene melambaikan tangannya pada laki-laki itu. Lalu mobil itu keluar dari halaman rumah Irene melewati mobil Juna yang terparkir di luar rumah Irene.
Juna masuk menghampiri Irene.
"Ren." Panggil Juna.
Irene yang hendak masuk ke dalam rumah lalu menengok ke belakang karena mendengar namanya dipanggil.
"Bang Juna." Irene terkejut melihat Juna sudah berada di halaman rumahnya.
"Siapa laki-laki tadi?" Tanya Juna tanpa basa-basi.
"Abang ngapain malam-malam disini?" Tanya Irene yang tidak menghiraukan pertanyaan Juna.
"Abang tanya siapa laki-laki tadi?" Tanya Juna dengan nada meninggi.
Irene terkejut, dia tidak menyangka Juna bisa bicara keras padanya.
"Itu tadi teman Irene." Jawab Irene dengan takut, karena melihat wajah Juna yang tidak seperti biasanya.
"Jadi karena dia kamu nggak mau Abang jemput?" Tanya Juna lagi masih dengan nada tinggi.
"Irene bukannya nggak mau Abang jemput, tapi Irene sudah terlanjur menerima ajakan teman Irene yang mau mengantar Irene pulang sekalian, karena rumah kita searah."
"Alasan kamu aja kan? Tadi kamu bilang mau pergi sama Maura, nyatanya pulang sama laki-laki." Kata Juna lagi.
"Alasan apa sih, Bang? Tadi Irene memang pergi sama Maura, ternyata disana kita nggak sengaja bertemu sama teman kantor yang juga sedang mencari sesuatu untuk dibeli di Mall, lalu kita pergi bertiga, dan makan malam juga bertiga. Memangnya salah ya kalau Irene pergi sama teman-teman Irene." Jawab Irene yang juga sudah meninggikan nada suaranya.
Juna makin kesal.
"Kalau memang teman, kenapa sampai pegang-pegang pipi kamu?"
"Pegang-pegang gimana sih, Bang? Tadi itu ada rambut di pipi Irene. Dia bantu bersihin. Abang kenapa sih? Kok jadi kayak gini?" Irene juga mulai kesal.
Juna menarik nafas panjang. Dia tersadar kalau dia sudah keterlaluan.
"Maafin Abang. Abang cuma kesal lihat laki-laki lain pegang-pegang kamu."
Irene lalu masuk ke teras dan duduk di kursi yang ada di teras.
Juna mendekati Irene, lali duduk disampingnya.
__ADS_1
"Maafin Abang ya. Abang sudah bicara keras sama kamu."
Juna memegang tangan Irene yang berada di atas pangkuan Irene.
"Abang juga kenapa pegang-pegang tangan Irene. Tadi ada laki-laki pegang-pegang Irene Abang nggak suka." Kata Irene tanpa melepaskan tangannya dari genggaman Juna.
Juna terdiam.
"Kenapa Abang marah kalau Irene dekat-dekat dengan laki-laki lain?" Tanya Irene lagi.
Irene teringat perkataan Maura tadi pagi. Mana ada laki-laki yang rela antar jemput cewek kalau memang tidak ada hubungan apa-apa. Selama ini memang Juna tidak menyatakan apa-apa padanya. Bahkan setalah Juna mencium bibirnya saat di rumah sakit, tapi sekalipun Juna tidak pernah bilang suka padanya. Sebenarnya Irene juga bingung dengan sikap Juna. Juna baik dan perhatian padanya, bahkan marah saat dia dekat dengan laki-laki lain. Mungkin ini saatnya Irene bertanya pada Juna apa maksud kebaikan dan perhatian Juna selama ini padanya, sebelum dia terbawa perasaan lebih dalam lagi.
"Abang kenapa diam aja? Nggak mau jawab? Yaudah kalau gitu Irene mau masuk aja, Abang silahkan pulang, sudah malam, Irene mau istirahat." Kata Irene lalu berdiri melepaskan tangannya dari genggaman Juna.
Saat Irene hendak melangkah masuk ke dalam rumah, Juna menahan tangan Irene.
"Irene, tunggu."
Irene menghentikan langkahnya.
"Abang nggak suka kamu dekat-dekat dengan laki-laki lain." Kata Juna.
Irene membalikkan tubuhnya menghadap Juna.
"Apa alasannya Abang nggak suka kalau Irene dekat dengan laki-laki lain?" Tanya Irene lagi. Jantungnya berdegup kencang menunggu jawaban dari Juna.
Juna menarik nafas panjang lagi. Sebenarnya dia ingin sekali bilang kalau dia suka pad Irene, tapi entah kenapa bibirnya terasa berat.
Gantian Irene yang menarik nafas panjang.
"Kalau Abang nggak punya alasan kenapa Abang nggak suka Irene dekat dengan laki-laki lain, berarti Abang juga nggak punya hak buat ngatur Irene mau dekat dengan siapa aja." Jawab Irene lalu menepis tangan Juna. Irene lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
"Abang suka sama kamu, Ren." Kata Juna pelan. Tapi masih terdengar oleh Irene. Irene lalu menghentikan langkahnya.
"Apa?" Tanya Irene setelah membalikkan tubuhnya lagi menghadap Juna.
"Itu alasan Abang nggak suka kamu dekat dengan laki-laki lain. Karena Abang mau kamu hanya dekat dengan Abang, bukan laki-laki lain. Karena Abang suka sama kamu. Abang sayang sama kamu, dan rasa sayang Abang ke kamu beda dengan rasa sayang Abang ke Jeni dan Sasya." Jawab Juna.
Jantung Irene saat ini sedang berdebar kencang. Dia terkejut sekaligus senang mendengar pernyataan Juna.
Irene masih terdiam. Kakinya bahkan mendadak tegang tidak bisa digerakkan.
"Ren..." Panggil Juna.
Irene lalu menatap Juna.
"Hm?"
"Sekarang kamu sudah tahu alasan Abang. Terus apa tanggapan kamu?" Tanya Juna.
Irene menggaruk lehernya. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Hmm... sudah malam, Bang. Irene masuk dulu ya." Kata Irene mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Eeh, mau kemana? Kok masuk? Abang gimana?" Juna menahan tangan Irene lagi.
"Irene ngantuk, Bang." Jawab Irene sambil berusaha melepaskan tangan Juna.
"Enak aja, tadi maksa bilang apa alasan Abang nggak suka kamu dekat dengan laki-laki lain, sekarang udah Abang jawab kamu malah diam aja, malah mau ninggalin Abang." Kata Juna dan tangannya tidak mau melepaskan tangan Irene.
"Terus Irene harus apa?" Tanya Irene dengan polosnya.
"Abang kan udah bilang Abang suka sama kamu, terus sekarang Abang tanya apa tanggapan kamu?"
"Hmm... Irene ggak tahu. Irene bingung mau jawab apa?" Tanya Irene sambil menggaruk lehernya lagi.
"Yaudah kalau gitu Abang ganti pertanyaannya. Gimana perasaan kamu ke Abang?" Tanya Juna lagi.
"Hmm... perasaan Irene..."
"Yaudah Abang ganti lagi pertanyaannya yang lebih gampang. Kamu suka nggak sama Abang?" Tanya Juna.
Tiba-tiba pipi Irene merona.
Juna tersenyum melihat Irene yang malu-malu.
"Kok nggak dijawab?" Desak Juna.
"Iya ini mau dijawab, nggak sabar banget sih." Jawab Irene kesal.
"Iya, iya. Yaudah, jawabannya apa?" Tanya Juna sambil menggoyang-goyangkan tangan Irene.
"Iya. " Jawab Irene sambil menunduk malu.
"Iya apa?" Tanya Juna lagi.
"Ya tadi Abang tanya apa?"
"Ya kamu cuma jawab iya. Iya apa? yang jelas dong."
"Nggak tau ah. Irene mau masuk, Abang pulang gih." Usir Irene.
"Kok malah ngusir? Abang nggak mau pulang kalau kamu belum jawab." Ancam Juna.
"Ih, Abang apaan sih?"
"Makanya jawab!" Paksa Juna.
"Iya, iya. Irene juga suka sama Bang Juna. Puas?" Jawab Irene.
Juna tertawa melihat Irene.
Tanpa disadari Ibu Irene sudah berdiri di ambang pintu.
"Irene suka sama siapa?" Tanya Ibu Irene.
Irene dan Juna sama-sama terkejut melihat Ibu Irene.
__ADS_1