
Aron yang berada di kantor, sibuk dengan tumpukan berkas yang harus dia tanda tangani. Karena beberapa hari terakhir ini Aron sedikit mengabaikan pekerjaan nya, terlebih lagi saat hari dimana dia bertemu dengan Hana di taman. Entah mengapa waktu berlalu begitu cepat baginya, sampai terdengar seseorang mengetuk pintu dibalik ruangan dia bekerja.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Silahkan masuk," ucap Aron kepada orang tersebut.
"Permisi pak, ini saya bawakan proposal yang tadi Bapak inginkan," ucap orang tersebut.
"Letakkan saja di meja, biar nanti aku baca." Sahut Aron.
"Baik pak."
Aron mulai melihat isi proposal yang dibawakan oleh salah satu karyawan nya tadi, melihat isinya pria tersebut sedikit memasang senyum nya. Entah apa yang dipikirkan nya dan apa isi proposal tersebut.
"Jika berhasil, hal ini akan memperkuat perusahaan Atalla. Bagaimana pun aku harus bisa mengendalikan nya," Aron bergumam seraya membolak-balikkan halaman proposal yang ada di tangannya.
******
Di kediaman keluarga Atalla sendiri. Sisil adik Aron yang sedang duduk santai di halaman belakang rumah nya yang cukup luas, dia terlihat sedang membaca buku novel ditemani secangkir teh hangat dan biskuit.
"Aku sudah berulang kali membaca novel ini, sungguh tidak membosankan. Benar-benar penulis idolaku dapat membuat orang lain hanyut dalam ceritanya," ucapnya yang tetap fokus pada buku tersebut.
"Eh ... Tapi kapan ya, kak Aron menepati janjinya. Dia bilang akan mempertemukan ku dengan idolaku tapi sampai saat ini, tidak ada kabarnya," Sisil memiringkan kepalanya mengingat akan janji kakaknya, "Sebaiknya nanti aku tanyakan lagi saja, agar dia ingat."
__ADS_1
Belum lama dia bergumam. Sisil dikejutkan dengan seorang wanita yang tiba-tiba berdiri di hadapan nya.
"Hai, ini pasti Sisil kan adiknya Aron? Perkenalkan aku Sena, panggil saja Kak Sena. Kau mungkin sudah tahu siapa aku," ternyata itu Sena yang langsung saja memperkenalkan diri pada Sisil.
"Kak Sena? Iya aku tahu siapa kakak," jawab Sisil yang sedikit mengubah posisi duduknya.
"Ya, aku Sena yang mungkin sebentar lagi akan menjadi bagian keluarga Atalla," ucap Sena yang sedikit menyombongkan diri.
What? Jadi dia wanita yang ingin di jodohkan dengan kakak ku. Pantas saja kak Aron tidak menyukainya, wanita ini dengan percaya diri nya mengatakan akan jadi bagian keluarga Atalla. Aku tidak habis pikir katanya dia wanita yang elegan, tapi dari cara bicaranya saja sudah menyombongkan diri.
Sisil hanya berucap dalam hatinya, melihat Sena yang berkata seperti itu.
Bukan berarti Sisil menolak keberadaan Seba saat ini, mengingat Sisil sangat menjaga kesopanan dan tutur katanya, maka dia tetap memasang senyum manis di wajahnya.
"Aku tidak menyangka kak Sena bisa datang kesini, aku sudah lama ingin mengetahui kak Sena seperti apa," ucap Sisil berbohong.
"Aku menghargai kak Sena jadi kurasa tidak apa menjaga tutur kata," Sisil menjawab dengan anggun.
Sena yang mendengar ucapan Sisil hanya bisa berucap dalam hatinya.
Aku kira adik Aron mudah untuk didekati, apalagi dia juga kuliah di luar negeri yang otomatis banyak bertemu orang dan mungkin memiliki pergaulan bebas. Ternyata dia masih menjaga sikapnya, seolah-olah akulah yang tidak tahu sopan santun meski aku lebih tua ketimbang nya. Aku tak akan melepaskan mu Sisil, karena untuk mendapatkan Aron sesungguhnya aku harus mendapatkan seluruh hati keluarga Atalla.
"Adik Sisil bukan begitu maksud ku, kau tidak perlu terlalu formal dengan diriku ini. Anggap saja kita sudah lama saling mengenal," ucap Sena.
__ADS_1
"Baik kak Sena, akan aku biasakan," Sisil hanya menyetujui ucapan Sena. Lagian toh, dia memang belum terbiasa dengan orang baru apalagi orang seperti Sena. Dia harus lebih menjaga ucapannya, dia juga tidak tahu bisa saja ada alasan lain di otak Sena yang ingin terlihat akrab dengan nya.
"Sisil aku kesini juga ingin mengenal lebih keluarga Atalla, maka dari itu agar kita lebih akrab bagaimana akhir pekan nanti aku mengajakmu pergi belanja di mal, bagaimana bisa kan?" tawaran Sena terhadap Sisil.
"Hemm ... aku rasa tidak ada kegiatan akhir pekan nanti, baiklah aku ikut." Sisil menganggukkan kepalanya, menyetujui untuk ikut pegi ke mal akhir pekan nanti.
Jika kak Aron bisa ikut permainan wanita ini, maka aku Sisil sebagai adiknya pasti juga bisa mengikuti alur permainan nya. Kita lihat seberapa jauh dia bisa melangkah.
******
"Haduh, aku harus katakan pada Tuan muda. Bahwa hari ini dia harus segera pulang. Katanya nona Sena berkunjung ke kediaman keluarga Atalla untuk makan malam bersama," Kevin yang mondar-mandir di sebuah tempat.
"Tapi jika aku katakan saat ini bisa jadi dia marah, dia kan juga bilang hari ini mau menuntaskan semua pekerjaan nya."
Wajah Kevin sedikit bingung. Dilain tempat orang tua Aron menghubungi Kevin agar segera menyuruh Aron cepat pulang kerumah, dan dilain sisi dia mengetahui bahwa Tuan muda nya sedang tidak mau diganggu.
"Tidak katakan nanti dapat gigitan macan dari Tuan Besar, kalau dikatakan aku akan dapat semburan api naga dari Tuan muda," ucap Kevin yang menggenggam kedua tangannya dan menggertakkan giginya.
"Arghhh ... kenapa aku bisa, bekerja dengan para hewan buas ini ya Tuhan."
Para karyawan lain yang melihat Kevin dari tadi hanya bisa mengernyitkan dahi mereka, tidak biasanya Kevin terlihat sangat aneh dan cemas seperti itu.
"Baiklah akan aku katakan saja pada Tuan muda. Mendapatkan semburan api naga lebih baik daripada digigit dan dikoyak oleh macan buas seperti Tuan Besar sungguh aku akan mati jika itu terjadi," akhirnya Kevin memutuskan mana yang akan dia pilih.
__ADS_1
******
Bersambung ...