Kamulah Jodohku

Kamulah Jodohku
Sasya sakit


__ADS_3

Sasya bangun dengan memegang kepalanya, entah kenapa dia merasakan pusing yang begitu hebat, hingga dia tidak sanggup berdiri.


Sasya sampai di kos tadi malam diantar oleh Juna, karena Juna tidak bisa membiarkan Sasya pulang ke Bandung sendiri. Setelah perdebatan panjang, karena Sasya menolak perintah Juna untuk tinggal di Jakarta beberapa hari lagi sampai keaadaan hatinya membaik, akhirnya Juna menyerah dan mengijinkan Sasya pulang ke Bandung dengan syarat kalau dia sendiri yang mengantar. Sasya dengan terpaksa menyetujui syarat Abangnya itu.


Sampai di kos Sasya, Juna langsung menyuruh Sasya istirahat, dan dia pun segera kembali ke Jakarta.


Dan pagi ini Sasya bangun hendak bersiap ke kantor, tapi dia tidak sanggup berdiri.


Tok Tok Tok


"Sya, lo udah bangun belum?" Teriak Hana dari luar kamar Sasya.


Sasya tidak sanggup berdiri, dia hanya bisa terdiam sambil terus memegang kepalanya.


"Sya..." Hana lalu membuka pintu kamar Sasya yang ternyata tidak dikunci itu.


Hana melihat Sasya yang masih terbaring. Hana menghampiri Sasya.


"Sya, lo nggak papa?" Tanya Hana.


Sasya tidak menjawab, dia masih memegangi kepalanya.


Hana mendekati Sasya, dia panik melihat wajah Sasya yang begitu pucat. Hana memegang kening Sasya.


"Astaga, Sya. Badan lo panas banget. Lo nggak papa? Mau gue antar ke dokter?"


"Kepala gue pusing banget." Kata Sasya dengan lemas.


"Mau ke dokter?"


"Nggak usah, tolong ambilin obat sakit kepala aja, Han, di laci maja gue." Pinta Sasya.


"Tapi lo belum sarapan, gue ambilin sarapan dulu ya." Kata Hana, lalu beranjak ke dapur mengambilkan Sasya makanan.


Beberapa saat kemudian Hana masuk kembali ke kamar Sasya dengan membawa 1 nampan berisi nasi goreng dan air putih.


"Ini, lo makan dulu, baru minum obatnya ya." Kata Hana. Dia lalu mengambil obat di laci meja Sasya, dan meletakkannya di nampan sebelah gelas berisi air putih.


"Makasih, Han."


"Yaudah, gue tinggal siap-siap dulu ya, lo nggak usah kerja dulu hari ini." Kata Hana.


Sasya mengangguk.

__ADS_1


Sasya memakan nasi gorengnnya, tapi dia hanya bisa menelan 2 sendok saja, karena perutnya terasa mual. Dia lalu meminum obat sakit kepala yang sudah disiapkan Hana, dan merebahkan tubuhnya lagi di kasur.


Beberapa saat kemudian Hana kembali masuk ke kamar Sasya. Dia melihat Sasya yang sudah memejamkan matanya lagi. Hana memegang kembali kening Sasya, masih panas. Hana sangat mengkhawatirkan keadaan Sasya.


"Sya, gue berangkat kerja dulu ya. Kalau berasa sakit banget lo langsung telepon gue ya." Bisik Hana di dekat Sasya.


Sasya hanya mengangguk. Lalu Hana keluar dari kamar Sasya dengan membawa nampan berisi nasi goreng yang tidak dihabiskan oleh Sasya.


"Nanti siang gue bawain makanan lagi." Kata Hana. Sasya mengangguk lagi dengan mata masih terpejam.


Siang harinya, Hana pulang ke kos dengan membawa makan siang untuk Sasya. Dia memasuki kamar Sasya. Sasya terlihat masih terbaring lemas. Hana memegang kening Sasya lagi, masih panas.


Hana menyiapkan makanan untuk Sasya, lalu membantu Sasya untuk duduk agar bisa makan dan meminum obatnya lagi.


"Sya, makan dulu ya, ni gue bawain obat penurun panas, dari pagi panas lo belum turun-turun."


Sasya menuruti perintah Hana, dia mencoba membuka mulutnya dan memakan nasi yang disuapi Hana. Tapi sama seperti tadi pagi, dia hanya bisa memakan 2 sendok nasi karena perutnya kembali merasa mual.


Hana tidak bisa memaksa Sasya, karena wajah Sasya sangat pucat saat menahann rasa mualnya. Dia lalu menyuruh Sasya untuk berbaring lagi.


Sasya langsung memejamkan matanya.


"Obatnya jangan lupa diminum ya, Sya." Hana mengingatkan Sasya.


Sasya mengangguk.


Sasya mengangguk lagi. Sasya benar-benar lemas, hingga tidak sanggup untuk berbicara.


Saat Hana hendak keluar dari kamar Sasya, ponsel Sasya berbunyi. Hana mengambil ponsel Sasya dan melihat sekilas sebelum diberikan pada Sasya.


Riki mengirim pesan pada Sasya. Hana melihat Sasya yang sudah tertidur. Hana lalu berinisiatif untuk membuka pesan dari Riki itu.


"Gimana keadaan kamu? Aku harap kamu nggak terus-terusan kepikiran soal pacar kamu kemarin."


Hana mengerutkan keningnya. Dia penasaran bagaimana Riki bisa tahu kalau kemarin Sasya bertemu dengan Rafa. Dan apa yang sebenarnya terjadi, apa Sasya sempat bertemu Rafa, Hana menjadi tambah penasaran karena Sasya belum cerita bagaimana kelanjutannya saat dia mengejar Rafa ke parkiran, dan dia sendiri juga lupa untuk menanyakannya karena pagi tadi dia melihat Sasya sudah tidak berdaya.


"Kak, ini Hana. Sasya sakit, panas tinggi, tapi dia menolak diajak ke dokter. Kakak bisa bantu aku bujuk dia, aku khawatir sekali."


Hana memberanikan diri membalas pesan dari Riki, karena dia sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu.


Setelah membalas pesan dati Riki, Hana lalu menyimpan kembali ponsel Sasya, dan keluar dari kamar Sasya untuk kembali ke kantor.


Di sisi lain, Riki membaca pesan dari Hana. Lalu secepat kilat dia menyambar jas nya di kursi, dan segera meninggalkan ruangannya.

__ADS_1


Riki mengemudikan mobilnya dengan kencang, dia panik karena mendengar Sasya sakit. Tak butuh waktu lama dia pun sampai di kos Sasya.


Riki turun dari mobil lalu langsung menuju kamar Sasya. Dia mengetuk pintu kamar Sasya. Setelah beberapa saat belum juga ada jawaban dari Sasya. Riki lalu membuka pintu kamar Sasya yang tidak dikunci.


"Sya..." Panggil Riki.


Sasya bergerak, Riki mendekati Sasya. Betapa terkejutnya Riki melihat Sasya yang sudah bermandikan peluh, dan wajah yang meringis kesakitan.


"Sya, kamu nggak papa?" Tanya Riki panik.


Sasya tidak menjawab.


Riki memegang kening Sasya. Dia pun terlonjak kaget. Tanpa pikir panjang Riki menggendong Sasya dan membawanya keluar dari kamar. Tak lupa dia menyambar ponsel Sasya untuk memberi kabar pada Hana.


Riki membawa Sasya masuk ke mobilnya. Lalu dengan cepat membawa Sasya ke Rumah sakit terdekat.


Sampai di Rumah sakit, Riki membawa Sasya ke ruang IGD, dia menyerahkan Sasya pada dokter dan perawat yang dengan sigap langsung memeriksa keadaan Sasya.


Ríki menunggu di ruang tunggu, sambil menunggu dia mengetik pesan pada Hana dengan ponsel Sasya untuk memberitahukan bahwa Sasya sedang bersamanya di rumah sakit.


Beberapa saat kemudian, dokter memanggil Riki untuk menjelaskan keadaan Sasya.


"Gimana keadaan Sasya, Dok?"


"Maaf, kalau boleh tahu, anda siapanya?" Tanya dokter.


"Saya temannya, Dok."


"Hm, begini, Pak. Pasien tidak ada penyakit serius, kalau menurut saya, mungkin pasien sedang banyak pikiran, hingga tubuhnya drop, pasien juga mengalamai dehidrasi sehingga harus kami pasang infus. Dan juga pasien mengalami maag akut, apa sebelumnya pasien punya riwayat penyakit maag?"


"Maag? Saya kurang tahu, Dok."


"Ya sudah untuk semetara biarkan pasien istirahat dulu disini sampai infusnya habis, sambil kami terus pantau apa perlu rawat inap atau tidak."


"Oh, iya, Dok. Terimakasih. Saya boleh menemani di dalam kan, Dok?"


"Iya, silahkan."


"Terimakasih, Dok."


Riki lalu masuk menemui Sasya yang sedang terbaring lemas dengan tangan yang sudah terpasang infus. Riki duduk di samping kasur Sasya, dia menggenggam tangan Sasya. Tangan satunya terulur ke wajah Sasya, mengusap pipi Sasya dengan lembut karena tidak mau membangunkan Sasya yang sedang tertidur.


"Segitu terpukul ya kamu, Sya." Kata Riki pelan. Riki lalu mencium kening Sasya.

__ADS_1


__ADS_2