
Riki sudah sampai di kosan Sasya pukul 5 sore, hari ini adalah akhir pekan, jadwal Sasya pulang ke Jakarta, setelah 2 minggu tidak pulang, dia sangat merindukan Mamanya. Saat dia sedang menyiapkan barang bawaanya, Riki mengirimi dia pesan agar menunggunya untuk pulang ke Jakarta bersama, karena dia sudah seminggu juga di Bandung untuk menyelesaikan pekerjaannya. Karena Hana tidak pulang, akhirnya Sasya pun menyetujui untuk pulang bersama Riki, daripada dia harus naik bus sendirian.
"Sudah siap?" Tanya Riki.
"Hm." Jawab Sasya sambil mengangguk. Dia lalu memasuki mobil Riki.
"Tapi maaf ya, ada barang aku ketinggalan di hotel, jadi aku harus balik ke hotel dulu, nggak papa kan?" Tanya Riki saat baru saja mulai mengemudikan mobilnya.
"Emang harus banget ya?" Tanya Sasya.
"Iya. Bentar doang kok, abis itu langsung cus Jakarta."
"Yaudah." Jawab Sasya pasrah.
Sampai di hotel, Riki langsung berlari ke kamarnya, sedangkan Sasya memilih menunggu lobi. Sasya mengambil ponselnya san menjawab pesan dari Maura yang memberitahu Sasya bahwa Senin besok dia sudah mulai bekerja di hotel Riki. Sasya ber chat ria dengan Maura sambil tersenyum sendiri, karena adik pacarnya itu terus menyuruhnya untuk menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya pada Riki karena sudah mau menerima dia di hotelnya.
Sasya melirik lift saat beberapa orang keluar dari sana, karena dia merasa Riki sudah terlalu lama untuk sekedar mengambil barang yang tertinggal.
Tapi betapa terkejutnya dia melihat Riki yang keluar dari lift bersama sosok wanita yang pernah membuatnya kesal. Wanita itu terus membuntuti Riki yang berjalan menghampirinya.
"Ayo, kita jalan sekarang." Ajak Riki yang tidak memperdulikan wanita dibelakangnya terus memanggil namanya. Hingga wanita itu akhirnya menarik tangan Riki dengan kasar.
"Riki, tunggu!" Teriak wanita itu, hingga membuat orang-orang disekitanya melihat ke arahnya.
"Apa lagi sih, Sheil? Aku udah bilang kan aku buru-buru." Ucap Riki sambil menepis tangan Sheila.
Ya, Sheila yang mengecap dirinya sebagai pacar Riki, tapi Riki sama sekali tidak pernah menganggap bahwa mereka pacaran.
"Buru-buru apa? Mau pergi sama dia?" Sheila menunjuk Sasya.
"Kalau iya kenapa? Bukan urusan kamu juga kan?" kata Riki sambil berlalu dan menarik tangan Sasya.
"Dasar cewek gatel, nggak punya malu nyamper-nyamperin cowok di hotel." Kata Sheila pelan tapi masih bisa di dengar oleh Riki dan Sasya.
Sasya melepas tangannya yang ditarik oleh Riki. Hatinya begitu panas dan kesal. Lalu dia berbalik dan menghampiri Sheila lagi.
Riki sempat menahannya, tapi Sasya tidak menghiraukannya.
"Kalau memang gue gatel, terus lo apa? Udah ditolak masih juga ngejar-ngejar. Siapa disini yang nggak punya malu? Hm?"
Sasya berhasil membuat Sheila diam seribu bahasa. Lalu dia berbalik dan melanjutkan langkahnya. Riki pun dibuat terkejut dengan perkataan Sasya. Dia tidak menyangka Sasya berani membalas Sheila.
Sasya sampai di mobil Riki lebih dulu, disusul Riki yang berlari kecil di belakang Sasya mengimbangi Sasya yang berjalan dengan langkah lebar.
"Cepetan buka pintunya." Kata Sasya. Riki lalu buru-buru menekan tombol yang membuat mobil tidak terkunci lagi.
Sasya masuk ke mobil dengan dan menutup pintu mobil dengan kencang.
"Buset dah, cewek kalau lagi kesel emang menyeramkan." Batin Riki. Dia pun buru-buru masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Jadi cewek gatel itu tadi yang ketinggalan?" Tanya Sasya masih kesal.
"Sembarangan. Tadi aku ketemu dia di depan kamar aku, entah dari mana dia tahu kamar aku. Pasti dia manfaatin Papa aku."
"Bohong. Bilang aja kalian udah janjian kan?"
"Sumpah aku nggak bohong, aku aja kaget lihat dia udah ada di depan kamar aku. Nggak tahu juga mau ngapain dianya."
"Pinter banget ngeles."
"Astaga, Sya. aku nggak menggubris sama sekali omongannya, aku masuk kamar, ambil barang aku yang ketinggalan terus langsung turun lagi, kamu tahu sendiri kan tadi keluar lift aku langsung menghampiri kamu." Kata Riki membela diri.
"Nagapin kamu jelasin ke aku? Nggak ada hubungannya juga sama aku, kamu mau ngapain sama dia bukan urusan aku."
"Iya, ya. Ngapain juga aku jelasin ke kamu." Kata Riki.
"Ish!" Sasya tambah kesal.
"Aku jelasin biar kamu nggak salah paham, soalnya tadi aku kira kamu cemburu."
"Siapa juga yang cemburu."
"Terus itu apa? Kok kesel banget kayaknya."
"Yaa... kesel aja... dia bilang aku kegatelan, nggak punya malu, sendirinya nggak ngaca."
"Malah ketawa sih." Sasya makin merengut
"Habisnya kamu lucu kalau lagi cemburu."
"Aku nggak cemburu!"
"Ya apalah itu, kamu lucu banget kalau lagi kesel, nggemesin." Kata Riki mencubit pipi Sasya.
"Apaan sih pegang-pegang."
"Kenapa? Nggak suka dipegang? Atau mau aku cium lagi?"
Sasya terdiam, seketika dia teringat dengan ciumannya di kamar Riki beberapa minggu lalu, pipinya langsung merona. Dia langsung menghadapkan wajahnya ke jendela samping.
"Nggak usah bahas itu ya, lupain aja kejadian waktu itu."
"Enak aja lupain. Nggak bisa segampang itu ya." Jawab Riki.
"Gampang kok, tinggal nggak usah diingat-ingat lagi."
"Emang kamu bisa lupain?"
"Aku punya pacar ya, kamu harus ingat."
__ADS_1
"Mana pacar kamu? Punya tapi berasa nggak punya, mending jomblo sekalian."
Sasya terdiam lagi mendengar perkataan Riki. Masalahnya benar apa yang dikatakan Riki. Semenjak Rafa sibuk mengurus pembuatan albumnya, komunikasinya dengan Rafa berkurang drastis, bisa dihitung jari mereka mengobrol di telepon, bahkan bertemu saja tidak bisa. Pertemuan terakhir mereka adalah saat perayaan hari jadi mereka da menghabiskan malam di hotel waktu itu.
"Sya..?"
Panggilan Riki membuatnya tersadar dari lamunannya.
"Hm?" Jawab Sasya.
"Kamu lapar? Mau makan dulu?" Tanya Riki mengalihkan pembicaraan.
"Nggak, aku mau tidur aja." Jawab Sasya tanpa menoleh pada Riki. Dia lalu memundurkan kursinya lalu merubah posisinya.
"Maaf." Kata Riki.
Sasya menoleh pada Riki.
"Kenapa minta maaf?" Tanya Sasya bingung.
"Maaf kalau aku berharap hungungan kamu dan Rafa berakhir. Maaf kalau aku akan selalu ada di samping kamu, dan nggak akan pernah tinggalin kamu. Maaf kalau aku menunggu kamu untuk jadi milikku."
Sasya tidak bisa berkata apa-apa. Dia memilih diam tidak menjawab dan memejamkan matanya.
Riki manatap Sasya yang sudah memejamkan matanya, tangannya terulur ke kepala Sasya. Lalu mengusap ujung kepala Sasya.
Sasya pun merasakan kehangatan tangan Riki. Tapi dia memilih untuk tetap tidak membuka matanya.
Riki sampai di halaman rumah Sasya, dia membangunkan Sasya yang akhirnya benar-benar tertidur selama perjalanan, dan meninggalkan Riki menyetir sendirian.
"Sudah sampai?" Sasya mengerjapkan matanya.
"Sudah tuan putri." Jawab Riki lalu membuka sabuk pengamanya, dan kemudian turun.
Sasya ikut turun setelah memastikan matanya benar-benar bisa terbuka karena rasa kantuk yang masih tersisa.
Riki mengantar Sasya masuk ke rumah dengan membawakan tasnya. Sasya yang masih mengantuk langsung menuju kamarnya.
"Lo bareng Sasya dari Bandung?" Tanya Juna yang menghampiri Riki.
"Iya, nih tas adek lo. Udah dijalan tidur terus bukannya nemenin nyetir, turun juga main turun aja, tas nya nggak dibawa." Kata Riki mengadu pada Juna.
"Sory ya, dan makasih uda nganter Sasya." Kata Juna sambil menerima tas Sasya.
"Hm." Jawab Riki
"Makasih juga udah nerima Irene di hotel lo, besok Senin katanya dia udah mulai kerja."
"Sama-sama." Jawab Riki lagi.
__ADS_1