Kamulah Jodohku

Kamulah Jodohku
Liburan yang Tertunda


__ADS_3

Pagi hari di Hotel, Juna dan adik-adiknya memilih untuk sarapan pagi di Hotel sebelum melanjutkan kegiatan mereka hari ini di Bandung. Karena Riki ikut sarapan bersama mereka, Juna dan adik-adiknya ikut mendapatkan pelayanan spesial dari restoran Hotel.


"Wah, jarang-jarang nih kita makan di Hotel bareng sama yang punya Hotelnya." Kata Juna sambil melahap sandwich pesanannya.


"Iya lho, makanya jangan ada yang sisa ya, habiskan semua." Jawab Riki.


Lalu seorang pelayan datang membawakan coklat panas.


"Ini coklat panas kesukaan kamu." Kata Riki menyerahkan coklat panas itu pada Sasya.


"Terimakasih." Jawab Sasya.


"Lho, kok cuma Kak Sya yang dikasih, kan kita juga pesan coklat panas." Protes Jeni.


"Oya? Kapan kalian pesan?" Tanya Riki.


"Tadi waktu pesan makan." Jawab Jeni.


"Ooh, ya tunggu sebentar lagi." Kata Riki.


Padahal memang Riki sudah memesan coklat panas itu sebelum mereka semua memesan makanan.


"Lagian tahu dari mana lo kalau Sasya suka coklat panas?" Tanya Juna.


Riki terdiam, dia melakukan kesalahan lagi yang membuat Juna semakin curiga.


"Iya, padahal bukan cuma Kak Sasya yang suka coklat panas, Jeni sama Bang Juna juga suka coklat panas kan?" Tanya Irene.


Lagi-lagi kata-kata Irene yang tanpa sadar dia ucapkan membuat semua yang ada disana terdiam, da menambah kecurigaan Juna tentang sahabat dan adiknya itu.


"Hmm, Ren. Katanya kamu mau langsung cari kerja ya setelah lulus?" Tanya Riki mencoba mengubah topik pembicaraan.


"Iya. Kok Kak Riki tahu?" Tanya Irene.


"Juna yang bilang." Jawab Riki sambil melirik Juna.


"Lho, katanya mau lanjut kuliah?" Tanya Sasya.


"Iya, sambil kuliah, Kak. Irene nggak mau nambahin beban Ibuk." Jawab Irene lagi.


"Kalau mau di Hotel nanti aku coba cari kalau ada yang kosong. Dengar-dengar sih yang di Jakarta butuh beberapa admin lagi."


"Mau, mau, Kak." Jawab Irene dengan antusias. Membuat semua yang ada disana tertawa melihat wajah Irene yang menggemaskan seperti anak kecil.


"Oke, besok aku kabarin lagi ya. Oya, Sya, sekalian Maura juga dikabarin, kan dia juga mau kerja di Hotel." Kata Riki pada Sasya.


"Ya, Kak." Jawab Sasya.


"Maura siapa?" Tanya Juna.


Riki melirik Sasya, dia lupa kalau Juna tidak tahu.


"Hm, temen Sasya, Bang. Kemarin nanya lowongan di Hotel, jadi Sasya tanya Kak Riki." Jawab Sasya.


Riki lalu menganggukkan kepalanya.


Sarapan selesai. Semua kembali ke kamar dan bersiap untuk petualangan berikutnya di kota Bandung.


Sasya, Jeni dan Irene sedang bersiap di kamar. Mereka berganti pakaian dan memulas sedikit wajah mereka dengan make up natural. Setelah siap mereka pun keluar kamar untuk menemui Juna dan Riki yang sudah menunggu di lobi.


"Sudah siap?" Tanya Juna pada ketiga adiknya yang baru saja sampai di lobi.

__ADS_1


"Siap!" jawan mereka bertiga kompak.


"Yuk berangkat." Ajak Juna.


Saat hendak berjalan tiba-tiba ponsel Irene berbunyi. Dia lalu mengambil ponsel dari tas nya, dan menjawab panggilan telepon yang masuk.


"Halo." Jawab Irene.


Sementara Juna dan yang lainnya tetap berdiri menunggu Irene menjawab telepon.


Seketika wajah Irene berubah setelah mendengar seseorang bicara dari ponselnya.


"Apa?" Tanya Irene lirih. "I... iya... Irene pulang sekarang." Kata Irene dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.


"Kenapa, Ren?" Tanya Jeni yang ikut panik melihat Irene tiba-tiba nenangis.


"Irene harus pulang sekarang." Jawab Irene.


"Iya, tapi kenapa?" Tanya Sasya sambil memegang tanga Irene.


"Ibuk... Ibuk jatuh... terus nggak sadarkan diri, sekarang Ibuk di rumah sakit." Jawab Irene lalu menangis dengan kencang.


Jeni memeluk Irene mencoba menenangkan sahabatnya itu.


"Tenang, Ren. Iya kita pulang sekarang." Kata Jeni, lalu melirik Abangnya.


"Iya, kita pulang ke Jakarta sekarang." Kata Juna.


Juna merangkul Irene dan membawanya kembali ke kamar. Sedangkan Jeni tetap menggandeng tangan Irene di sebelahnya.


Beberapa saat kemudian, Juna, Jeni dan Irene berdiri di depan pintu hotel sambil membawa tas mereka, diantar oleh Sasya dan Riki. Mereka menunggu valet yang sedang mengambil mobil Juna.


"Apaan sih, nggak mungkin lah kita biarin kamu pulang sendiri." Jawab Jeni.


"Iya. Kita tetap akan antar kamu pulang." Tambah Juna.


"Maaf ya, gara-gara Irene kalian nggak jadi liburan." Kata Irene merasa bersalah.


"Irene, ini bukan masalah besar. Liburan bisa diganti lain hari, yang penting sekarang Ibu kamu." Kata Sasya sambil merangkul Irene.


"Sasya benar. Ayo, mobil sudah datang." Kata Juna, lalu memasukkan tas nya ke bagasi, Riki membantu membawakan tas Jeni dan Irene dan memasukkan pula ke bagasi.


"Thanks ya, Rik. Gue titip Sasya, tolong antar dia pulang." Kata Juna saat berpamitan.


"Siap, Bro. Tenang aja. Hati-hati di jalan ya." Jawab Riki.


"Thanks."


Juna, Jeni dan Irene lalu masuk ke dalam mobil, setelah berpamitan pada Sasya dan Riki.


Sasya dan Riki melambaikan tangannya pada Juna dan adik-adiknya, hingga mobil mereka melaju keluar dari hotel.


Riki menatap Sasya, hingga membuat Sasya melirik ke arah Riki.


"Kenapa?" Tanya Sasya.


"Mau pulang sekarang?"


"Hmm.. Bang Juna sudah terlanjur bayar kamar untuk 3 hari, sayang kalau nggak dipakai." Jawab Sasya.


"Terus?" Tanya Riki.

__ADS_1


"Aku mau lanjut tidur dulu, pulang besok aja boleh kan? Mau puas-puasin dulu disini." Jawab Sasya.


"Yaudah terserah kamu." Kata Riki lalu berjalan memasuki hotel lagi.


Sasya dan Riki menaiki lift menuju kamar mereka. Riki tidak seperti biasanya. Hari ini dia sangat pendiam, dan membuat Sasya penasaran. Dia melirik pada Riki. Ada yang lain pada wajah Riki.


"Uhuk-uhuk!" Riki terbatuk sambil membelakangi Sasya.


"Kamu kenapa?" Tanya Sasya.


"Nggak papa. Cuma sedikit pusing." Jawab Riki.


"Muka kamu pucat banget. Kamu sakit?" Tanya Sasya dengan wajah panik.


"Agak nggak enak badan aja." Jawab Riki.


Sasya lalu mengulurkan tangannya untuk memegang dahi Riki.


Riki yang tidak siap dengan tindakan Sasya yang sangat tiba-tiba, membuat dia terkejut. Dan tanpa sadar jantungnya pun berdegup sangat kencang.


"Kamu panas." Kata Sasya.


"Ehem." Riki mencoba menormalkan tenggorokannya. Lalu mengambil tangan Sasya dari dahinya.


Sasya lalu tersadar dan segera menjauhkan tangannya dari wajah Riki.


"Maaf." Kata Sasya lirih.


Riki tersenyum.


"Aku nggak papa, istirahat bentar juga sembuh." Kata Riki.


Sasya mengangguk.


"Kamu khawatir ya?" Tanya Riki.


Sasya terkejut dengan pertanyaan Riki.


"Apa? Siapa?" Tanya Sasya gugup.


"Kamu. Tuh kelihatan wajah kamu khawatir pas tau badan aku panas."


"Idih ge er." Jawab Sasya lalu memalingkan wajahnya.


"Hehe, kalau khawatir bilang aja." Kata Riki lagi, dan sukses membuat wajah Sasya merona.


Ting.


Lift berhenti di lantai tujuan mereka, lalu pintu lift pun terbuka.


Sasya buru-buru keluar dari lift dan berjalan menuju kamarnya. Riki mengikuti dari belakang.


"Sya." Panggil Riki. Sasya pun menghentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap Riki.


"Apa?" Tanya Sasya dengan sewot.


"Makasih ya udah khawatirin aku." Kata Riki kembali menggoda Sasya.


"Ish, pede banget sih kamu." Kata Sasya lalu mempercepat langkahnya menuju kamarnya.


Riki hanya tersenyum melihat tingkah Sasya yang menggemaskan.

__ADS_1


__ADS_2