
Rafa berpapasan dengan Riki dan Hana saat keluar dari kamar Sasya. Rafa menatap Riki. Hana yang berada di tengah langsung menghindar. Dia memlilih masuk ke kamar Sasya lebih dulu.
"Bang, aku titip Sasya ya. Dia masih marah, aku coba kasih dia waktu biar tenang dulu."
"Ya." Jawab Riki sambil menepuk pundak Rafa.
"Aku pamit, Bang." Pamit Rafa.
"Ya, hati-hati." Jawab Riki.
Riki masuk ke kamar Sasya, kamar VIP yang sengaja dipilih Riki agar Sasya nyaman beristirahat.
Dia melihat Hana sedang mengusap-usap rambut Sasya yang sedang menangis. Riki mendekati Sasya, berdiri di samping Hana.
"Kamu harus kuat, jangan jadi perempuan lemah. Lakukan apa yang buat kamu bahagia, tinggalkan apa yang buat kamu sedih." Kata Riki, lalu berjalan ke sofa dan duduk di sofa itu.
Sasya memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian Sasya tertidur. Hana merapikan selimut Sasya, lalu mengusap pipi Sasya.
"Kak, Sasya udah tidur. Kakak mau disini atau aku yang jaga Sasya?" Tanya pada Riki.
"Biar aku yang jaga Sasya, kamu pulang aja, istirahat." Jawab Riki.
"Yaudah kalau gitu, aku pamit sekarang, mumpung belum kemalaman, kalau Sasya butuh apa-apa, semua sudah aku siapin di tas yang sudah aku simpan di lemari." Kata Hana lagi.
"Iya, terimakasih."
"Kya, Kak. Aku pulang dulu." Pamit Hana.
"Hati-hati." Jawab Riki.
Riki duduk sambil memegangi tangan Sasya. Tak berapa lama dia meletakkan kepalanya di kasur Sasya. Riki pun tertidur sambil masih memegangi tangan Sasya.
Riki terbangun karena merasakan tangan Sasya yang terus bergerak. Dia melihat Sasya yang sedang berusaha mengambil minum di meja sebelah kasurnya. Riki lalu berdiri dan mambantu Sasya mengambilkan gelas berisikan air putih.
"Kenapa nggak minta tolong?" Tanya Riki sambil memberikan gelas itu pada Sasya.
"Aku nggak mau membangunkan kamu." Jawab Sasya.
"Terus gunanya aku disini untuk apa?" Tanya Riki yang sedikit kecewa.
"Maaf, aku nggak mau merepotkan kamu." Kata Sasya lalu memberikan lagi gelas yang sudah diminumnya pada Riki.
"Kalau nggak mau merepotkan jangan sakit." Kata Riki lagi.
"Siapa juga yang minta kamu bawa aku kesini?"
"Jadi kamu mau Juna tahu dan bawa kamu ke Rumah Sakit?"
Sasya terdiam.
"Aku mau pulang." Kata Sasya.
"Pulang ke rumah Juna?"
Sasya mengangguk.
"Istirahat dulu semalam disini, besok aku antar kamu pulang ke Jakarta." Kata Riki.
"Hutangku semakin banyak, apalagi kamu kasih aku kamar VIP ini, entah kapan aku bisa melunasinya. Huaaaaa..." Kata Sasya lalu menangis dengan kencang.
__ADS_1
"Eh, kamu kenapa?"
"Aku nggak mau berhutang sama kamu selamanya. Huaaaa..."
"Ssssttt... Siapa bilang aku suru kamu ganti biaya Rumah Sakit ini, aku yang minta kamu dirawat disini, jadi aku yang akan bayar biaya rumah sakitnya, aku nggak akan minta ganti kamu." Kata Riki dengan panik karena Sasya masih menangis dengan histeris.
"Beneran?" Tanya Sasya yang langsung berhenti menangis.
"Iya, aku nggak akan minta kamu ganti biaya Rumah Sakit ini."
"Kamu serius? Mana ponsel aku?" Tanya Sasya lagi.
"Ponsel? Buat apa?" Tanya Riki bingung.
"Mau rekam pernyataan kamu tadi, kalau semua biaya Rumah Sakit kamu yang bayar tanpa perlu aku ganti."
"Astaga. Iya, nggak usah direkam. Aku janji, nggak akan minta kamu ganti biaya Rumah Sakit ini."
Sasya tersenyum
"Puas?" Tanya Riki kesal.
"Hahaha." Sasya tertawa puas.
Riki menggelengkan kepalanya.
"Aku khawatir kamu nggak sakit, tapi stress." Kata Riki.
PLAK!
Sasya memukul lengan Riki.
Sasya memainkan ponselnya. Dia merasa sangat bosan karena hanya bisa duduk diam di kasur. Tiba-tiba perutnya terasa lapar karena seharian belum makan
"Kamu lapar?"
Sasya mengangguk.
"Aku tanya suster dulu." Riki lalu keluar menghampiri ruang suster. Tak lama dia kembali ke kamar Sasya.
"Aku udah bilang, sebentar lagi makanan akan dikirim kesini." Kata Riki lalu duduk lagi di kursinya tadi.
15 menit kemudian seorang petugas Rumah Sakit membawakan makanan untuk Sasya.
Riki menyiapkan meja untuk makan Sasya, lalu membukakan penutup makanan, dan memberikan sendok garpu pada Sasya.
"Bisa makan sendiri kan?" Tanya Riki.
Sasya mengangguk.
Sasya melahap memakan makanannya dengan lahap. Riki terpana melihat sikap Sasya yang berubah dibandingkan tadi siang sebelum diberi obat. Sekarang dia sudah nampak seperti Sasya yang dia kenal.
"Kamu yakin kamu mual karena maag?" Tanya Riki.
"Maksud kamu?" Sasya mengerutkan dahinya.
"Kamu yakin mual karena maag? Bukan karena yang lain?"
"Dokter bilang gitu kan?" Jawab Sasya sambil mengunyah makanannya.
"Kamu nggak terlambat datang bulan kan?" Tanya Riki lagi.
__ADS_1
"Kamu ngomong apa sih? Kamu pikir aku hamil?" Sasya nampak kesal.
"Aku kan cuma tanya, karena malam panas kita waktu itu kan aku nggak pakai pengaman."
"Uhuk-uhuk!"
Sasya terkejut mendengar perkataan Riki. Riki lalu memberikan minum pada Sasya.
Wajah Sasya berubah panik, dia lalu mengambil ponselnya, dan membuka kalender datang bulannya.
"Apa yang aku pikirkan, bulan kemarin kan aku udah datang bulan, kenapa aku ikut panik."
"Bulan ini?"
"Bulan ini memang belum waktunya. Memang kamu pikir aku melakukan itu tiap minggu?"
"Jadi terakhir kamu melakukan itu sama aku kan?"
Wajah Sasya memerah. Dia mengangguk malu.
"Baguslah." Jawab Riki sambil menyunggingkan senyumnya.
"Maksud kamu apa sih" Sasya nampak bingung.
"Ya, bagus. Kalau kamu hamil bararti aku yang akan menikahi kamu." Jawab Riki dengan santai.
Sasya melempar bantal ke wajah Riki.
"Aduh, kamu kenapa sih?" Riki terkejut wajahnya dilempar bantal oleh Sasya.
"Siapa juga yang mau menikah sama kamu!?"
"Kalau memang kamu hamil sama aku, ya kamu harus mau menikah sama aku."
"Siapa yang hamil?!" Kali ini Sasya melempar sendok ke wajah Riki, tapi Riki berhasil menghindar.
"Kamu kenapa sih, belum juga menikah udah KDRT!"
"Kenapa ngomongin menikah terus sih, aku nggak mau menikah sama kamu!" Sasya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Hahaha, jangan bilang gitu, nanti karma lho."
"Riki!"
"Hahaha, kamu lucu banget sih." Riki mencoba membuka tangan Sasya yang menutupi wajahnya sendiri. Sasya menolak, tapi tangan Riki lebih kuat. Riki mengambil tangan Sasya dan melihat wajah Sasya yang sudah merah seperti kepiting rebus.
Riki menatap wajah Sasya yang berada tepat di depan wajahnya. Tawa mereka mendadak terhenti. Yang terdengar hanya suara degup dari jantung mereka masing-masing. Mereka masih terdiam selama beberapa detik. Tatapan Riki beralih ke bibir Sasya.
Dengan cepat Sasya memundurkan wajahnya. Riki pun tersadar. Dia melepaskan kedua tangan Sasya. Riki mundur beberapa langkah.
"Jangan coba-coba ambil kesempatan ya." Kata Sasya.
Riki tersenyum.
"Aku tidak akan ambil kesempatan saat kamu sedang patah hati. Aku akan dapatkan ciuman dari kamu saat kamu sudah jatuh cinta padaku." Kata Riki.
Perkataan Riki sukses membuat jantung Sasya hampir keluar dari tempatnya. Apalagi saat Riki tersenyum dengan sangat manis, entah kenapa Sasya merasakan pusing lagi di kepalanya.
Sasya merebahkan tubuhnya di kasur, lalu menarik selimut hingga menutupi wajahnya.
Riki tertawa melihat tingkah Sasya. Dia membereskan tempat makan dari kasur Sasya, lalu menurunkan tempat tidur Sasya ke posisis tidur.
__ADS_1
Sasya masih menyembunyikan wajahnya di bawah selimut. Sedangkan Riki memilih duduk di sofa dan memperhatikan Sasya dari sana.