
Rafa benar-benar memberikan yang terbaik untuk Sasya malam ini. Sasya merasa sangat terharu dan juga bahagia. Karena ini adalah pertama kalinya Rafa mengajaknya makan malam romantis di sebuah restoran mewah selama 6 tahun mereka pacaran.
Rafa memotongkan steak untuk Sasya, lalu menyuapi nya kue yang sudah dipotongnya. Rafa terus menggenggam tangan Sasya. Mereka menikmati makan malam dengan sangat romantis.
"Sayang, makasih ya sudah menemani aku selama 6 tahun ini. Kamu selalu terima aku apa adanya. Aku memang belum bisa menjadi yang terbaik untuk kamu, tapi aku akan terus mencoba memberikan yang terbaik untuk kamu. Semoga kamu tetap sabar nunggu aku ya." Kata Rafa.
Sasya terharu mendengar perkataan Rafa. Dia berusaha menahan air mata yang akan tumpah dari matanya.
"Aku juga makasih sama kamu. Buat aku, kamu sudah menjadi yang terbaik. I love you."
"I love you more." Rafa lalu mencium tangan Sasya. "Tapi maaf ya, aku nggak kasih kado apa-apa buat kamu."
"Ini perayaan anniversary terindah buat aku, aku nggak butuh kado lagi, makasih ya, sayang. Aku nggak akan lupain hari ini."
Rafa mengangguk.
"Anything for you." Jawab Rafa.
Makan malam selesai, mereka keluar dari restoran. Saat sampai di depan lift, Rafa menekan tombol naik, Sasya menatap heran pada Rafa.
"Kok naik? Bukannya harusnya kita turun ya?" Tanya Sasya.
"Aku udah bilang kan tadi, kita mau cek in disini malam ini." Jawab Rafa.
"Apa?"
Rafa menarik tangan Sasya masuk ke dalam lift. Di dalam lift, Sasya terus menatap Rafa.
"Apa?" Tanya Rafa sambil tersenyum.
"Kamu serius?" Sasya masih tidak percaya.
"Kenapa?"
"ini kita mau kemana?"
Ting.
Pintu lift terbuka. Rafa kembali menarik tangan Sasya lalu keluar dari lift. Rafa terus menggandeng Sasya sampai di depan sebuah kamar. Rafa mengeluarkan sebuah kartu dari sakunya, lalu membuka pintu kamar dengan kartu itu.
Lagi-lagi Rafa menarik tangan Sasya dan membawanya masuk ke kamar.
Sasya melihat sekeliling kamar. Ini bukan kamar biasa. Kamar ini cukup besar, dia menyimpan banyak pertanyaan untuk Rafa.
"Rafa, ini kamar siapa?" Tanya Sasya.
"Kamar aku." Jawab Rafa. Dia lalu melangkah mendekati Sasya. Tangannya menyentuh rambut Sasya, dan mulai membelainya. Rafa mendekatkan bibirnya pada bibir Sasya. Tapi Sasya langsung menahan tubuh Rafa.
Rafa menatap Sasya dengan kecewa.
"Kamu jelasin dulu. Darimana kamu bisa dapatkan ini semua? Tadi makan malam di restoran, sekarang nginap di hotel?"
__ADS_1
Rafa menatap Sasya dengan lembut. Lalu membelai rambut Sasya lagi.
"Aku sudah tanda tangan kontrak dengan label musik yang kemarin aku ceritakan kemarin. Hotel dan restoran malam ini adalah hadiah kecil dari produser aku sebelum aku mulai sibuk dalam pembuatan album beberapa bulan ke depan." Jelas Rafa.
"Hadiah?" Sasya masih bingung.
"Tenang aja, produser aku laki-laki yang sudah beristri. Dia memberikan hadiah kecil ini dari kantong pribadinya."
"Kok bisa?" Tanya Sasya lagi.
"Ya bisa dong. Pas aku bilang aku mau menemui pacar aku di Bandung sebelum mulai sibuk, dia lalu memberikan aku hadiah kecil ini." Jawab Rafa sambil menarik ujung hidung Sasya.
"Mobil?"
"Mobil tadi? Itu punya kantor, aku pinjam." Jawab Rafa sambil meringis.
"Ooo..." Sasya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Sudah jelas tuan putri?"
"Sudah." Jawab Sasya.
Rafa pun melanjutkan aksinya. Dia memegang belakang kepala Sasya, lalu menautkan bibirnya ke bibir Sasya. Mereka berciuman melepas rindu setelah beberapa bulan tidak bertemu.
Tangan Rafa mulai turun ke baju Sasya. Dia melepas satu per satu kancing baju Sasya. Dalam sekejap baju Sasya terlepas dan jatuh ke lantai.
Rafa menghentikan ciumannya. Dia membuka bajunya, dan membuangnya juga ke lantai. Lalu menggendong Sasya ke kasur.
Rafa tidak bisa lagi mengendalikan dirinya yang sudah dipenuhi hasrat akibat rindu yang terlalu lama dia tahan. Mereka pun akhirnya melepas rindu di atas kasur.
Rafa masih berbaring di atas kasur setelah pelepasan rindu bersama Sasya dengan hanya berbalut selimut di tubuhnya. Dia menatap langit-langit kamarnya sambil tersenyum mengingat apa yang sudah dia lakukan bersama Sasya barusan.
Bunyi ponsel Sasya membuyarkan lamunannya. Dia mengambil ponsel Sasya dari atas nakas, lalu melirik ke kamar mandi. Dia mendengar suara air dari dalam kamar mandi, Sasya masih belum selesai mandi.
Rafa meletakkan kembali ponsel Sasya, tapi ada yang membuatnya penasaran. Karena Rafa sempat membaca sedikit nama yang tertera di layar ponsel Sasya.
"Riki?" Rafa mencoba mengingat, sepertinya dia pernah mendengar nama itu.
"O iya, laki-laki yang pernah bertemu dengan Bunda, dan juga yang mengantar Sasya waktu kita bertemu di belakang Bang Juna." Batin Rafa.
Rafa mengambil kembali ponsel Sasya. Ada chat yang tertera di layar ponsel Sasya.
"Sudah sampai kosan? Gimana hari pertama kerja setelah liburan?"
Pintu kamar mandi terbuka. Rafa dengan cepat menaruh kembali ponsel Sasya.
Sasya keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk kimono. Lalu duduk di samping Rafa.
"Kamu nggak mandi?" Tanya Sasya.
"Nanti ah." Jawab Rafa. Dia lalu menarik tangan Sasya dan membawanya ke pelukannya.
__ADS_1
"Rambut aku masih basah." Kata Sasya.
"Sebentar aja. Aku masih kangen banget sama kamu." Kata Rafa sambil memeluk erat tubuh Sasya. "Oya, kata Hana kamu kemarin habis liburan?" Tanya Rafa.
Rafa sedikit berbohong, sebenarnya Hana tidak pernah mengatakan soal liburan Sasya padanya. Rafa hanya mencoba mencari informasi dari mulut Sasya langsung.
"Ooh, liburan kemarin. Sebenarnya itu liburan Jeni, dia mau keliling Bandung untuk merayakan selesai ujian sekolahnya." Jawab Sasya.
"Jadi kamu sama Jeni keliling Bandung?" Tanya Rafa lagi.
"Nggak cuma sama Jeni sih, sama Bang Juna, Irene, sahabatnya Jeni dan Kak Riki." Jawab Sasya.
Rafa mengangguk. Dia sedikit lega karena Sasya menyebut nama Riki juga.
"Kak Riki yang nganter kamu ketemu aku waktu aku mau antar kamu pulang ke Bandung?"
"Iya, Kak Riki teman Bang Juna. Kebetulan Bang Juna dan Jeni menginap di hotel Kak Riki, jadi Bang Juna ngajak Kak Riki ikut sekalian."
"Hotel? Kak Riki punya hotel?"
"Iya, emang aku belum pernah cerita ya?"
Rafa menggeleng.
"Kak Riki punya hotel di Bandung dan Jakarta."
"Ooh."
Rafa merasa tenang dan lega. Ternyata Sasya tidak berbohong soal liburan yang dibicarakan Riki dalam chat di ponsel Sasya.
Lain dengan Sasya. Jantungnya berdegup kencang saat membicarakan Riki di hadapan Rafa. Mengingat semalam dia berciuman dengan Riki, Sasya merasa sangat bersalah karena menyembunyikan hubungannya dengan Riki.
Sebenarnya dia tidak selingkuh, karena dia dan Riki tidak ada hubungan apa-apa. Tapi dia sudah berciuman dengan Riki semalam, bahkan mereka sudah pernah tidur bersama di hotel. Apa itu bisa disebut selingkuh?
Pertanyaan itu terus berputar di otak Sasya. Sasya berperang dengan batinnya sendiri. Di satu sisi dia sangat mencintainya Rafa, tapi di sisi lain dia tidak bisa memungkiri bahwa dia juga selalu memikirkan Riki.
"Hatcii!" Sasya kembali bersin.
"Kamu kenapa? Pilek?" Tanya Rafa.
"Iya, sebenarnya dari tadi pagi aku flu, kepala juga pusing, tapi pas kamu jemput aku dan bawa aku ke restoran, tiba-tiba sakitnya hilang." Jawab Sasya.
"Jadi gara-gara ketemu aku, kamu jadi sembuh?" Rafa mendekatkan wajahnya ke hadapan Sasya.
"Iya, dan gara-gara kamu juga flunya balik lagi." Jawab Sasya.
"Kok aku?"
"Iya, karena kamu bikin aku keramas malam-malam." Jawab Sasya, laku mencium bibir Rafa.
Rafa menyambut ciuman Sasya dengan senang hati.
__ADS_1