Kamulah Jodohku

Kamulah Jodohku
Salah Sangka


__ADS_3

Akhirnya Hana menerima alamat yang Kevin kirim lewat pesan.


"Alamatnya disini? Baiklah, aku pergi saja sekarang."


Mata Hana tertuju pada tempat dimana alamat yang diberikan Kevin, dirinya masih bingung apa benar dia harus memberikan naskah ke tempat ini?


"Inikan apartemen, memang nya siapa yang tinggal disini? Sudahlah aku cari saja." ucap Hana.


Sampai di pintu apartemen. Hana memencet bel pemilik apartemen tersebut, tidak berapa lama kemudian pintu apartemen itu terbuka.


"Kevin, kenapa lagi. Apa ada barang yang tinggal ..." Belum selesai bicara, sang pemilik apartemen yang ternyata itu Aron terkejut, melihat siapa yang memencet bel apartemen nya.


Mata mereka saling bertemu, keduanya terdiam tak bersuara. Tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, Hana yang semula biasa saja, ketika melihat Aron dia malah lebih syok menerima kenyataan bahwa alamat yang Kevin kirim ternyata milik pria yang tidak ingin dia temui.


"Hana ... kenapa kau bisa kesini?" ucap Aron sedikit lama.


"Kata Kevin aku harus memberikan naskah asli ini pada nya, tapi aku juga bingung kenapa alamat apartemen ini yang dia berikan," jawab Hana yang menelan saliva nya, tidak tahu mau bilang apalagi.


Kevin? Dasar anak itu, ternyata dia sengaja menyuruh Hana kesini. Pasti karena percakapan tadi. Ini terlihat konyol. Kevin awas kau ya!


Aron bergumam dalam hatinya, mengutuk Kevin yang semena-mena melakukan sesuatu tanpa izinnya. Meski bisa dikatakan ide Kevin ini tidak terlalu buruk, apalagi dia dengan mudah menipu Hana hanya untuk memberikan naskah. Padahal ide nya ini hanya untuk membantu Aron agar bisa lebih dekat dengan Hana.


"Ehem, iya aku yang menyuruh Kevin untuk mengantar kan naskah. Tapi karena dia sibuk, mungkin langsung menyuruh mu datang kesini," ujar Aron.


"Kalau begitu ini naskahnya, aku pulang dulu Tuan ..."


"Aku tidak langsung menyuruh mu pulang dan hei, kenapa memanggil ku masih dengan sebutan Tuan? Bukankah kita sudah sepakat hanya memanggil sebutan nama saja?" Beberapa pertanyaan Aron yang menatap intens Hana, "Masuk, jangan menolak."


Huh! Kalau bukan karena Kevin pasti aku tidak akan kesini, jika tahu itu dia aku tempatkan saja naskah ini di bawah pintu apartemen nya. Kevin apa yang kau lakukan, kenapa kau menyuruhku masuk ke kandang singa!!!

__ADS_1


Hana hanya mengikuti Aron dari belakang, jalan nya sedikit lambat, sampai ...


Brukkk..


Dia menabrak punggung Aron.


"Kau berjalan pakai mata atau tidak sih? Kalau jalan jangan menunduk!" Seru Aron yang langsung membalikkan tubuhnya menghadap Hana, "Atau jangan-jangan kau sengaja ya, ingin memeluk ku dari belakang?"


Aron nampak tersenyum jahil saat melihat Hana.


"KAU! Siapa juga yang mau memeluk mu. Salah sendiri berhenti tiba-tiba, pantas aku menabrak punggung mu," ucap Hana yang kesal ketika di tuduh ingin memeluk Aron.


"Hei, kenapa marah? Kalau tidak ya biasa saja, aku juga tidak mau di peluk oleh mu," ucap Aron yang mengangkat bahunya merasa tidak bersalah atas perkataan nya.


Rasanya ingin sekali Hana melakban mulut pria tersebut, dan mengikat seluruh tubuhnya. Tapi apalah daya itu hanya keinginan nya saja, bisa saja jika dialah yang di perlakukan seperti itu. Mengingat dia ada di dalam apartemen Aron, tempat kandang singa yang tidak tahu apa yang akan dilakukan nya, jika Hana melakukan kesalahan. Jadi menurut nya saat ini untuk tidak melawan pria tersebut.


"Duduklah dulu, kau boleh pulang jika aku suruh pulang." tegas Aron.


Hana melihat sekeliling isi apartemen Aron, dia masih sedikit kagum bahwa pria ini masuk kategori orang yang menjaga kebersihan buktinya apartemen nya terlihat sangat rapih, tidak seperti kebanyakan seorang pria yang biasanya tempat tinggalnya sedikit acak dan berantakan.


"Huaaa ... meski hanya apartemen tapi barang-barangnya sangat antik dan mahal, bahkan sangat tertata rapih," gumam Hana dengan tatapan kagum nya, "Beginilah jika jadi orang kaya yang kelebihan harta."


Tidak peduli jika ada Aron disana, Hana terus mengutarakan rasa kagumnya. Padahal Aron bisa saja dengar.


Aron terkekeh kecil, dia yang mendengar ucapan Hana hanya bisa menikmati wajah Hana yang berseri-seri melihat sekeliling isi apartemen.


"Bir?" tunjuk Hana mengarah meja dekat sofa.


"Ehh ... tadi aku dan Kevin yang minum bir tersebut, aku menyuruhnya membawa beberapa makanan dan sedikit bir."

__ADS_1


"Kalian para pria benar-benar aneh, pagi-pagi sudah minum bir," ucap Hana.


"Memangnya kenapa, tidak peduli pagi atau malam. Tidak ada aturan minum bir di waktu tertentu, apa kau takut aku mabuk? Dan melakukan hal aneh padamu?" ucap Aron.


Tidak mau menjawab ucapan Aron lagi, Hana hanya diam. Daripada harus berdebat dengan pria tersebut. Sedangkan Aron terus memasang wajah dan pertanyaan jahilnya.


"Aron, akukan sudah mengantarkan naskah itu. Jadi izinkan aku pulang, buat apa aku disini lama-lama, nanti ada yang salah tanggapan," ucap Hana meyakinkan dirinya untuk segera pulang, "Tidak mungkinkan seorang wanita seenaknya masuk ke apartemen seorang pria bujangan."


Aron mendekati Hana, semakin dekat. Hana yang sedari tadi duduk di sofa merasa terpojokkan, seketika itu terlihat Aron seperti ingin menindih tubuh Hana, kedua tangan pria itu seraya mengunci tubuh Hana. Tangan satu nya di dudukan sofa dan yang satunya lagi di samping bahu Hana, sebuah pikiran di otak Hana muncul.


Mau apa pria ini? Kenapa dia seperti akan berbuat hal aneh padaku. Tidak, tidak, aku harus melakukan sesuatu sebelum dia berbuat macam-macam. Tapi, tunggu dulu kenapa badanku seakan tidak bisa bergerak.


Hana hanya bisa memejamkan matanya, tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.


"Kenapa kau memejamkan mata? Awas dulu. Lihat kau menduduki ponsel ku Hana, aku mau mengambilnya." ucap Aron yang tangan nya mengambil ponsel dekat Hana duduk dan kembali berdiri ke posisi normal.


"Ti-ti-tidak ... aku pikir tadi kenapa tiba-tiba kau menindih tubuh ku, kalau begitu bilang saja ponsel mu aku duduki, tidak usah seperti tadi," ujar Hana yang gugup dan canggung.


"Lagian tadi aku mau mengambil langsung ponsel ku, eh tapi kau sendiri langsung memojokkan tubuh mu," ujar Aron.


Malu, marah, sekaligus canggung wajah Hana terlihat memerah bagaimana tidak, pikiran nya tadi hanya tertuju bahwa Aron akan melakukan sesuatu yang aneh padanya, dan ternyata pria itu malah terlihat seperti mengerjainya. Dari saat di depan pintu dia menabrak punggung pria tersebut, sampai ketika Aron terlihat menindih badan nya yang ternyata hanya untuk mengambil ponsel. Terlihat Hana lah yang kebanyakan berpikiran aneh.


Aron, kau ... benar-benar pria aneh. Kenapa aku selalu bertemu dengan mu, awas kau ya nanti akan aku balas perbuatan mu akibat mengerjai ku. Dan Kevin ini semua gara-gara kau, tidak atasan dan bawahan sama-sama jahil.


Aron yang langsung membalikkan tubuhnya, membelakangi Hana. Hanya menahan tawanya melihat ekspresi Hana yang seperti itu, hal ini membuatnya melupakan segala pikiran mengenai perjodohan nya dengan Sena. Karena Hana akhirnya dia bisa ceria akan segala sesuatu yang membuat pikiran nya kacau beberapa hari ini, meski harus sedikit menjahili wanita yang sedang kesal itu.


*****


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2