Kamulah Jodohku

Kamulah Jodohku
Kecurigaan Juna


__ADS_3

Riki membawa Sasya keluar dari Rumah Sakit keesokan harinya setelah Riki selesai mengurus administrasi. Sasya pulang ke Jakarta diantar oleh Riki, seperti janji Riki kemarin. Sampai di rumah, Sasya masuk dan tidak menemukan 1 orang pun di rumah, dia melirik jam di tangannya, baru jam 11 siang, pantas saja.


Riki masuk membawakan tas Sasya, lalu langsung pamit pulang karena dia harus bekerja. Untung saja pekerjaannya di Bandung bisa diserahkan pada Pak Hasan, asistennya, jadi dia tidak perlu kembali ke Bandung.


Sasya menuju ke dapur, mencari keberadaan Mamanya, dia tahu jam segini Mamanya pasti sedang sibuk memasak untuk makan siang.


"Mama." Panggil Sasya.


Mama Sasya yang sedang memotong sayur terkejut mendengar suara Sasya.


"Sasya." Mama Sasya langsung mengahampiri Sasya. Mama Sasya memandang Sasya dari dekat, kedua tangannya merangkup wajah Sasya. "Kamu nggak papa, sayang?"


"Sasya nggak papa, Mah."


"Kamu sakit? Kenapa hari kerja gini kamu bisa pulang? Pasti ada apa-apa kan?" Tanya Mama Sasya panik, lalu memegang kening Sasya, ternyata tidak panas.


"Sasya cuma nggak enak badan, Mah." Jawab Sasya sambil tersenyum.


"Tuh kan benar. Ayo Mama antar ke kamar kamu." Mama Sasya menggandeng tangan Sasya.


"Tapi Sasya laper, Mah. Sasya pengen makan masakan Mama." Kata Sasya dengan manja.


"Mama belum selseai masak, kamu mau tunggu, bentar lagi selesai kok, biar dibantu sama Mbak Lastri." Kata Mama Sasya.


Sasya mengangguk dengan semangat.


Sasya menunggu di meja makan sembari melihat Mamanya yang sedang memasak. Dia sangat merindukan sang Mama. Ingin sekali dia menangis di pelukan Mamanya, tapi dia tidak mau membuat Mamanya khawatir. Tapi saat ini, melihat Mamanya saja perasaannya sudah mulai membaik.


Sampai di kantor, Riki duduk di kursi kerjanya, lalu membuka laptop dan mengerjakan pekerjaannya yang tertunda. Di depannya sudah menumpuk berkas yang harus dia periksa dan tanda tangani.


Tok tok.


"Masuk." Kata Riki sambil menatap pintu, melihat siapa yang datang.


Perlahan pintu dibuka.


"Juna."


Juna masuk menghampiri Riki.


"Tumben lo kesini nggak ngabarin dulu." Kata Riki yang berdiri dan menghampiri Juna, lalu mengajak Juna duduk di sofa.


"Mampir bentar, tadi habis ketemu orang di bawah." Jawab Juna.


"Oh, gue kira ada perlu apa."


"Jadi kalau nggak ada perlu apa-apa nggak boleh kesini?"


"Nggak gitu, sensi amat sih lo, lagi PMS?" Goda Riki.

__ADS_1


Juna hanya tersenyum sinis.


Tok tok.


Pintu diketuk lagi, Ríki dan Juna melihat ke arah pintu bersamaan.


Papa Riki muncul dari balik pintu.


"Rik, lagi sibuk?" Tanya Papa Riki. "Eh, ada Juna juga."


"Siang, Om." Sapa Juna.


"Siang, kebetulan Papa mau ajak Ríki makan siang, sekalian aja yuk." Ajak Papa Riki.


"Oh iya, sudah jam makan siang ya? Kita makan bareng, Jun." Ajak Riki.


Juna mengangguk, ketiganya lalu berjalan ke restoran bersama.


Juna, Riki dan Papanya sedang makan bersama di restoran.


"Gimana perusahaan kamu, Jun? Papa kamu masih aktif kan?" Tanya Papa Riki.


"Masih, Om. Sama kayak Om gini, tiap hari masih sibuk."


"Haha, tua bukan alasan untuk bermalas-malasan." Jawab Papa Riki.


"Ngomong-ngomong, kalian masih betah jomblo nih? kalian sudah nggak muda lagi lho." Tanya Papa Riki.


"Enak aja, kita masih muda kalik, Pa." Riki membela diri.


"Ya setidaknya kalian punya pacar yang bisa diajak menikah sebentar lagi, jangan sampai karena sibuk bekerja sampai menunda nikah."


"Santai, Om. Kalau sudah ketemu jodohnya sih maunya langsung menikah." Jawab Juna.


"Masalahnya belum ketemu jodohnya, hahaha." Timpal Riki.


Ketiganya tertawa bersama.


"Terus kabar calon yang mau kamu kenalin ke Papa gimana, Rik?" Tanya Papa Riki pada anaknya.


Riki terkejut, dia langsung melirik Juna.


"Hm, sabar, Pa, nanti pasti aku bawa ke hadapan Papa." Jawab Riki lalu meminum air putih.


"Siapa? Sheila?" Tanya Juna.


"Bukan, enak aja!" Bantah Riki.


"Om pikir juga Sheila, ternyata bukan."

__ADS_1


"Om kenal Sheila?" Tanya Juna.


"Iya, ternyata dia anak temen bokap gue." Jawab Riki.


"Oh, terus siapa? kok gue nggak tahu." Tanya Juna penasaran.


"Lho, Juna nggak tahu?" Tanya Papa Riki.


"Nggak, Om."


"Anak Bandung, makanya dia sekarang jadi rajin bolak-balik Bandung."


"Uhuk-uhuk." Riki tersedak.


Juna menatap Riki dengan tatapan tajam.


"Papa sok tahu." Riki mencoba mengelak, dia tidak mau Juna curiga padanya.


"Lho, memang iya, kan. Kemarin kamu bilang mau ketemu seseorang di Bandung, perempuan itu kan yang mau kamu kenalin ke Papa?"


Riki melirik Juna, Juna masih menatapnya dengan tajam. Riki semakin salah tingkah.


"Haha, sok tahu nih, Papa."


Sasya sedang duduk di teras menikmati sore sambil meminum teh buatan Mamanya. Dia memandangi bunga-bunga yang bermekaran dengan indah memenuhi taman Mamanya itu, kebalikan dari hatinya yang saat ini sedang layu.


Sesaat Sasya terlintas bayangannya bersama Rafa di masa lalu, saat mereka selalu bersama. Sasya selalu menemani Rafa kemanapun Rafa manggung, dari mulai masih mengikuti pensi dari sekolah satu ke sekolah lain, sampai saat Rafa dan temannya manggung dari Cafe satu ke Cafe lain. Mereka menyusuri jalan dengan berboncengan motor, melewati panas dan hujan bersama. Saat dimana Rafa berhenti di pinggir jalan hanya untuk membelikan Sasya minuman dingin karena panasnya terik matahari, dan saat dimana Rafa memberikan jaketnya untuk Sasya agar Sasya tidak basah karena hujan. Dia tidak menyangka 5 tahun sudah mereka melewati susah senang bersama.


Tapi perlahan kebersamaan itu kian berkurang, saat Sasya mulai kerja di Bandung, dan Rafa mulai sibuk manggung untuk mencari nafkah. Karena Rafa tidak kuliah, dan hanya itu yang bisa dia kerjakan untuk menafkahi Ibu dan kedua adiknya. Akhir pekan yang menjadikan waktu mereka satu-satunya untuk bisa bertemu, semakin lama tidak ada lagi karena kesibukan mereka masing-masing.


"Sasya, kamu kok disini?" Tanya Juna yang tiba-tiba sudah berada di belakang Sasya dan seketika membuyarkan lamunan Sasya.


"Abang." Sasya menghampiri Juna lalu memeluknya.


"Abang bilang apa, nggak usah kerja dulu, nggak nurut sih, jadi bolak-balik kan." Kata Juna sambil mengusap punggung adiknya.


"Sasya cuti 3 hari, Bang. Lusa sudah harus kerja lagi." Kata Sasya sambil mengurai pelukannya.


"Ya sudah, kamu tenangin diri dulu di rumah." Juna mengusap kepala Sasya.


Sasya mengangguk.


"Ngomong-ngomong kamu kesini naik apa? Diantar Riki?" Tanya Juna.


"Iya, kok Abang tahu?" Sasya terkejut darimana Abangnya tahu dia pulang bersama Riki.


"Iya, Abang tadi ketemu Riki waktu rapat di hotelnya Riki." Jawab Juna bohong. Padahal dia hanya menebak kalau Sasya pulang bersama Riki, tapi ternyata tebakan Juna benar.


Juna semakin curiga dengan Riki. Apa gadis Bandung yang diceritakan Papa Riki tadi adalah Sasya, adiknya. Jika memang benar, dia tidak tahu harus merasa senang atau marah, karena pasalnya di satu sisi Sasya terlepas dari Rafa jika bersama Riki, Tapi di sisi lain, dia tahu sifat Riki yang tidak pernah serius dalam menjalin hubungan dengan wanita.

__ADS_1


__ADS_2