
Juna dan Irene sampai di rumah Irene. Mobil Juna hendak masuk ke halaman rumah Irene, tapi ternyata di halaman rumah Irene ada mobil yang sudah terparkir.
"Itu mobil siapa, Ren?" Tanya Juna.
"Irene juga nggak tahu, Bang." Jawab Irene.
Mereka lalu turun dari mobil. Dan saat mereka hendak masuk ke dalam, Ibu Irene keluar bersama Pak Surya, Papa Riki.
"Om Surya." Panggil Juna.
Pak Surya terkejut melihat Juna.
"Juna? Kamu disini?" Tanya Pak Surya.
"Iya, Om. Saya mengantar Irene pulang." Jawab Juna.
"Irene? Ini anak kamu, El?" Tanya Pak Surya pada Bu Elena, Ibu Irene.
"Iya, ini anak aku, Irene. Irene, ini Om Surya, kamu pasti sudah tahu kan, karena dia pemilik Hotel tempat kamu kerja." Kata Ibu Irene.
"Iya, Buk. Irene tahu. Selamat malam, Pak." Sapa Irene pada Pak Surya.
"Panggil Om aja, ini kan bukan di tempat kerja." Kata Pak Surya.
"Om Surya ini teman Ibu dulu, sudah 30 tahun kami tidak pernah bertemu, dan baru bertemu lagi beberapa hari yang lalu, kamu ingat kan, Ren?" Cerita Ibu Irene.
"Iya, Bu. Waktu ibu antar pesanan untuk teman Irene kan?"
"Iya." Jawan Ibu Irene.
"Dan Juna ini sebagai?" Tanya Pak Surya yang penasaran juga kenapa Juna bisa ada disini.
"Saya pacarnya Irene, Om." Jawab Juna dengan percaya diri.
Ibu Irene tersenyum. Lain dengan Irene yang terlihat malu.
"Oh, terakhir kita ketemu kamu bilang belum punya pacar?" Tanya Pak Surya lagi.
"Iya, Om. Kita juga baru 2 hari ini pacaran." Jawab Juna lagi.
"Pasangan baru rupanya, haha..." Lihat kamu sama Irene Om jadi ingat Riki, sampai kapan dia mau berpetualang." Pak Surya tiba-tiba curhat.
"Nanti pasti ada saatnya, Om." jawab Juna.
__ADS_1
"Iya, benar. Oya, kapan-kapan kita makan malam bersama ya, dengan Riki juga, dan kamu Juna. Irene mau kan?" Ajak Pak Surya.
"Eh, iya, Om. Irene terserah Ibu aja" Jawab Irene.
Lalu semua menatap pada Ibu Irene.
"Mau kan, El?" Tanya Pak Surya.
Ibu Irene tersenyum.
"Iya." Jawab Ibu Irene sambil mengangguk.
"Oke, nanti aku cari waktunya. Kalau gitu aku pamit dulu, El. Terimakasih jamuan tehnya." Pamit Pak Surya.
"Iya, Mas." Jawab Ibu Irene.
"Irene, Juna, Om pamit dulu ya."
"Iya, Om." Jawab keduanya.
Pak Surya lalu masuk ke mobilnya dan langsung meninggalkan rumah Irene.
"Jadi Ibuk dan Om Surya teman lama?" Tanya Irene.
Ibu Irene lalu duduk di kursi teras. Irene dan Juna ikut duduk sambil menunggu jawaban dari Ibu Irene.
"Hah? Mantan?" Irene terkejut, lalu dia dan Juna saling menatap.
"Iya, dulu Ibuk dan Om Surya pacaran sejak SMA, setelah kami lulus, Om Surya membawa Ibu ke rumahnya untuk dikenalkan dengan orangtuanya. Tapi orangtua Om Surya tidak menerima Ibu, karena Ibu waktu itu hanya anak seorang buruh."
Irene dan Juna masih mendengarkan cerita Ibu Rene dengan serius.
"Terus, Buk?" Tanya Irene penasaran.
"Lalu Om Surya dikirim ke luar kota untuk melanjutkan kuliah, kemananya Ibu nggak tahu. Saat itu yang Ibu tahu, Om Surya dan keluarga meninggalkan kota dan tidak pernah kembali." Lanjut Ibu Irene.
"Menurut cerita Riki, Papanya menikah dengan Mamanya karena dijodohkan, dan Om Surya tidak pernah mencintai Mama Riki sampai Mama Riki jatuh sakit dan akhirnya meninggal." Cerita Juna.
"Apa?" Irene terkejut.
"Iya, Riki pernah cerita, Mama Riki meninggal waktu kami masih sekolah, saat itu keluarga Mama Riki menyalahkan Om Surya yang tidak pernah perduli pada Mama Riki, hingga stres dan jatuh sakit."
Irene menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia tidak percaya kalau Om Surya orang yang seperti itu.
__ADS_1
Ibu Irene meneteskan air mata, tak lama dia langsung beranjak dan masuk ke dalam rumah.
"Kasihan ya Mamanya Kak Riki. Apa Om Surya seperti itu karena Ibuk?" Tanah Irene pada Juna saat Ibunya sudah masuk ke dalam.
"Mungkin, Abang juga nggak tahu." Jawab Juna.
Sementara saat Juna pergi dari rumah mengantar Irene, Sasya langsung berpamitan pada orang tuanya untuk bertemu dengan teman-teman SMA nya yang sedang mengadakan reuni. Tentu saja itu hanya alasan Sasya karena sebenarnya Sasya hendak bertemu dengan Rafa.
Sejak kemarin Sasya sudah membuat janji dengan Rafa bahwa dia akan datang dalam acara perkenalan single baru Rafa di sebuah Cafe dimana tempat Rafa dan teman-teman bandnya dulu sering manggung. Dia juga sudah membuat janji dengan Hana untuk bertemu di Cafe itu karena teman-teman band Rafa yang dulu akan datang semua untuk memberi semangat pada Rafa, dan tentunya Bagas dan Hana juga akan datang.
Sasya mengirim pesan chat pada Maura, karena siang tadi Maura menelpon Sasya agar Sasya mau membawanya juga melihat Kakaknya. Akhirnya Sasya membuat kesepakatan untuk berangkat bersama ke Cafe bersama Maura.
Sampai di Cafe Sasya dan Maura langsung mencari tempat duduk agar bisa melihat Rafa dengan jelas. Saat mereka sedang mencari tempat, ada seseorang melambaikan tangannya pada Sasya, ternyata dia adalah Hana, yang sudah datang terlebih dahulu bersama Bagas dan juga teman-teman band Rafa lainnya.
Sasya dan Maura langsung berbaur dengan Hana dan yang lainnya. Mereka pun bersalaman dan saling menyapa karena sudah lama tidak bertemu dengan Sasya.
Sampai akhirnya waktu yang ditunggu tiba, seorang MC Cafe tersebut membuka acara lalu memperkenalkan Rafa yang saat ini sebagai bintang tamu di Cafe itu, yang akan membawakan single terbarunya.
Rafa mendapat sambutan meriah dari para pengunjung Cafe dan yang membuat tambah ramai adalah tepuk tangan dan teriakan dari teman-temannya sendiri.
Rafa dan bandnya memang sudah dikenal oleh para tamu yang sering nongkrong di Cafe itu. Jadi tidak diragukan lagi kalau dia mendapat sambutan hangat dari para pengunjung.
Rafa mulai menyanyikan 1 lagu, para pengunjung menonton dengan hikmat, mereka sangat menikmati suara dan lagu yang dibawakan oleh Rafa. Memang suara Rafa sangat enak didengar oleh telinga, tidak salah jika dia sudah mempunyai banyak fans jauh sebelum rekaman.
Lagu pertama sudah selesai dinyanyikan oleh Rafa, dan mendapat sambutan tepuk tengan meriah dari para pengunjung Cafe.
Rafa lalu turun dan menghampiri teman-temannya, serta Sasya dan Maura. Rafa bersalaman dan berpelukan ala pria dengan teman-teman bandnya, lalu dia memeluk Maura dan juga Sasya. Banyak mata melihat kedekatan Rafa dan kedua gadis itu hingga tak sedikit dari para pengunjung Cafe khususnya para wanita yang bertanya-tanya siapa kedua gadis yang beruntung bisa dipeluk oleh Rafa.
Rafa lalu ikut berkumpul bersama teman-temannya dan mengobrol serta bercanda dengan mereka.
Saat itu, ponsel Sasya berdering, dia lalu melihat ponselnya. Rafa yang duduk di samping Sasya ikut mengintip dan dapat melihat dengan jelas nama Riki di layar ponsel Sasya.
Sasya lalu menerima panggilan telepon itu.
"Halo." Sapa Sasya.
Sasya mendengar perkataan Riki dari ponsel yang menempel di telinganya.
"Apa?!" Sasya terkejut dan langsung berdiri
Semua yang ada disitu langsung menatap Sasya. Sasya mematikan panggilan teleponnya
"Maaf, aku harus pergi." Kata Sasya pada Rafa.
__ADS_1
"Kenapa? Ada apa?" Tanya Rafa yang ikut bingung melihat wajah Sasya yang mendadak berubah pucat.
"Abang aku kecelakaan." Jawab Sasya.