
"Nanti malam aku jemput di kosan, aku mau nagih hutang. Ada Cafe baru di dekat hotel."
Sasya membaca pesan dari Riki, tanpa membalas, dia lalu meletakkan ponselnya di meja kerjanya.
"Sya, hari ini ada pemadaman listrik di daerah kita, lo tahu?" Kata Hana yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya.
"Hah? yang benar?"
"Iya, ni di status Bu Kos." Kata Hana menunjukkan ponselnya pada Sasya.
"Haaah, nggak bisa mandi air panas dong." Kata Sasya mengacak rambutnya. Padahal dia sudah membayangkan mandi pakai air panas pulang kerja karena bari ini benar-benar membuat dia stress karena banyaknya pekerjaan yang harus dia selesaikan.
"Bukan cuma itu, kita bakalan tidur di kamar kayak di sauna, karena nggak bisa nyalain AC." Kata Hana lagi.
"Haaaa..." Sasya meletakkan kepalanya di meja.
"Gimana kalau pulang kerja kita ke salon aja, cuci rambut, krimbat, atau apalah, biar seger dulu, baru pulang ke kos."
"Ide bagus. Gue setuju." Kata Sasya langsung mengangkat kepalanya.
"Ini gue ada voucher diskon di salon langganan temen gue, tapi agak jauh sih dari sini." Kata Hana.
"Nggak papa, sambil membunuh waktu, biar sampai rumah kita langsung tidur."
"Oke kalau gitu."
Hana dan Sasya ber tos ria.
"Ehem, Sya, laporan yang saya minta sudah selesai?" Tanya seorang wanita paruh baya yang sudah berdiri di depan meja Sasya.
Hana langsung menarik kursinya kembali ke mejanya sendiri.
"Eh. Iya, Bu. Ini sebentar lagi selesai." Jawab Sasya.
"Saya tunggu 15 menit lagi." Kata wanita berkacamata itu lagi, lalu pergi.
"Iya, Bu."
Sasya lalu mempercepat tangannya untuk mengetik laporan yang diminta atasannya itu.
Akhirnya jam pulang kerja tiba. Sasya dan Hana menaiki taksi online yang sudah dipesan Hana. Mereka langsung menuju ke salon yang mereka bicarakan tadi.
"Astaga, aku lupa bilang Kak Riki." Sasya lalu mengambil ponsel dari tas nya, dan mengetik pesan untuk Riki.
"Maaf, Kak. Mendadak aku sama teman-teman kantor harus pergi ke Rumah sakit jenguk teman. Lain kali ya, Kak. 🙏"
Sasya lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya.
"Lo ada janji sama Kak Riki?" Tanya Hana.
__ADS_1
"Iya, biasa. Dia minta temenin makan malam." Jawab Sasya.
"Itu mah modus, bukan minta temenin, memang dia pengen makan bareng lo." Kata Hana.
"Tauk ah. Gue mah ayok aja, makan enak gratis nggak mungkin dong ditolak."
"Dasar cewek gratisan, nggak bisa dengar gratis, langsung berangkat."
"Lo juga cewek diskonan, dengar diskon langsung berangkat." Sasya menjulurkan lidahnya pada Hana.
" Sama berarti, hahaha..."
Mereka pun tertawa bersama.
Satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai di salon yang mereka tuju. Tanpa menunggu lama mereka pun mulai perawatan rambut mereka. Tidak hanya rambut, Sasya juga melakukan perawatan kuku kaki dan tangannya. Karena memang sudah lama dia tidak memanjakan diri di salon.
Di tengah perawatan, Hana menerima telepon dari adiknya di Jakarta.
"Apa? Terus gimana keadaan Mama sekarang?" Hana langsung berdiri dari kursinya. Sasya melihat Hana yang sedang panik.
"Yaudah, aku pulang sekarang." Kata Hana lalu memutus panggilan teleponnya.
"Kenapa, Han?" Tanya Sasya.
"Sya, nyokap gue jatuh di kamar mandi, nggak sadarkan diri, sekarang lagi di bawa ke Rumah Sakit." Kata Hana sambil melepas handuk yang menutupi rambutnya. "Mbak langsung cuci bilas aja ya, saya harus pergi sekarang." Kata Hana pada pegawai salon yang merawat rambutnya.
Setelah selesai Hana langsung berpamitan pada Sasya.
"Tenang dulu, jangan panik, nyokap lo udah di bawa ke rumah sakit. Lo hati-hati di jalan ya." Kata Sasya. Dia tidak tega melihat Hana yang sedang sedih.
"Iya, thanks ya, Sya." Hana lalu berjalan ke kasir, mengambil dompetnya dari tas.
"Udah, tinggal aja, Han, tar gue yang urus, lo langsung pulang aja." Kata Sasya.
"Thanks, Sya." Kata Hana lalu berlari keluar salon.
2 setengah jam Sasya menghabiskan waktu untuk perawatan rambutnya. Dia mengeluarkan dompet di kasir, dan membayar tagihannya dan Hana. Dia keluar dari salon, di depan salon dia melihat sebuah kedai kebab, tiba-tiba saja perutnya terasa ada yang menggelitik, dia merasa lapar. Sasya pun akhirnya memutuskan untuk memesan kebab dan duduk di kedai itu.
Beberapa menit kemudian pesanannya datang. Dia langsung melahap kebab pesanannya itu.
Setelah menghabiskan 1 kebab tanpa sisa, Sasya mengambil ponselnya, lalu membuka aplikasi taksi online. Tapi tiba-tiba saja dia merasa ada yang tidak beres, karena dia tidak bisa membuka aplikasi taksi online tersebut. Entah apa yang terjadi, sepertinya aplikasi taksi online yang dia punya sedang eror. Sasya mendadak panik. Dia sendiri tidak tahu sekarang ada Bandung bagian mana, karena perjalanan ke salon dia tertidur dan tidak memperhatikan jalan.
Sasya mencoba menelpon Hana, tapi dia tidak mungkin meminta tolong Hana yang saat ini juga sedang panik. Sasya menarik napas panjang, lalu menghembuskan dengan pelan. Sejenak dia berpikir. Lalu seketika dia teringat sesuatu, dan menelpon seseorang.
"Halo."
Terdengar jawaban dari seberang sana.
"Halo, Kak. Bisa tolongin aku?" Tanya Sasya.
__ADS_1
Sementara di kamar hotel, Riki baru saja selesai mandi, dan saat merebahkan diri di kasur, dia menerima telepon dari Sasya.
"Kirim lokasi kamu, aku kesana sekarang." Kata Riki, dia menutup panggilan telepon Sasya, lalu memasukkan ponselnya ke saku celana trainingnya. Dia menyambar jaket dari sofa, lalu berlari keluar kamar.
Sasya menunggu di kedai yang sudah ditutup. Di seberang sana salon yang tadi dia datangi juga sudah tutup, dan toko-toko lainnya di daerah situ juga sudah tutup. Tinggal lah dia sendiri. Sasya merasa takut karena tidak ada orang lain disana. Dia duduk di pinggir jalan, sambil terus melihat ponselnya.
Angin dingin mulai merasuki tubuhnya, hingga membuat dia menggigil seketika. Sasya berjongkok sambil melipat tangannya di depan dada.
Seorang laki-laki datang mendekati Sasya. Jantung Sasya sudah mulai berdebar ketakutan.
"Hai, sendirian?" Tanya laki-laki tadi.
Sasya berdiri dan menjauh dari laki-laki itu.
"Nggak usah takut. Ikut aku yuk, dingin disini." Kata laki-laki itu sambil terus berjalan mendekati Sasya.
"Nggak usah, aku nunggu jemputan." Jawab Sasya yang terus berjalan mundur.
"Dijemput? Siapa? Mana?" Laki-laki itu terus mendekati Sasya. Sasya pun berhenti karena tubuhnya sudah menyandar di tembok.
"Ikut aku aja." Laki-laki itu meraih tangan Sasya.
Sasya berusaha melepas tangan laki-laki itu, tapi tidak bisa karena laki-laki itu mencengkram tangan Sasya dengan kuat.
"Ah, sakit. Lepasin!" Teriak Sasya.
"Teriak aja, tidak ada yang akan dengar, daerah sini terkenal sepi kalau sudah malam." Kata laki-laki itu, dia menarik tubuh Sasya hingga mendekati tubuhnya.
"Aaaahhh, lepasin!" Teriak Sasya.
Laki-laki itu mulai menyentuh rambut Sasya.
" Wangi sekali." Kata laki-laki itu.
Tiba-tiba.
Buk!
Laki-laki itu terjatuh di tanah. Sasya terkejut. Dia melihat Riki sudah berada di depannya. Sasya berlari ke arah Riki, lalu langsung memeluknya.
Riki membalas pelukan Sasya.
"Maaf, aku terlambat." Kata Riki mengusap punggung Sasya.
Laki-laki tadi yang tergeletak di tanah lalu berdiri dan berlari menjauh.
Riki membawa Sasya masuk ke mobil.
Riki membuka jaketnya lalu memakaikannya di tubuh Sasya.
__ADS_1
"Kamu nggak papa?" Tanya Riki melihat wajah Sasya yang pucat.
Alih-alih menjawab, Sasya malah menangis. Riki pun memeluk dan menenangkan Sasya.