Kamulah Jodohku

Kamulah Jodohku
Kado untuk Raisa


__ADS_3

Sasya, Jeni dan Irene masuk ke sebuah toko di dalam Mall setelah 1 jam mengelilingi 1 Mall tersebut. Toko itu menjual berbagai macam barang-barang dari Korea, dari mulai make up, hiasan rambut, tas, alat makan, aksesoris ponsel dan sebagainya yang sedang hits di kalangan remaja. Sasya mencari sesuatu yang cocok untuk Raisa. Raisa adalah anak perempuan yang tomboy, make up, tas dan aksesoris tidak cocok untuk dia, berada dengan Maura, jika mencari kado untuk Maura sangat mudah, karena dia adalah remaja perempuan yang sangat menyukai aksesoris dan make up, sama seperti Jeni. Sasya berputar dari 1 lorong ke lorong lain, dia belum juga menemukan kado yang pas untuk Raisa.


"Nah, ini dia yang aku cari." Kata Jeni yang berada di samping Sasya.


Jeni mengambil 1 buah headphone berwarna pink dari sebuah etalase yang di atasnya terdapat berbagai macam aksesoris ponsel termasuk headphone.


"Bukannya kamu udah punya ini, Jen?" Tanya Sasya.


"Iya, Kak, punya Jen yang kemarin rusak, makanya Jen mau beli lagi."


Sasya mengambil barang yang sama dengan yang diambil Jeni tapi dengan warna yang berbeda. Benar juga, sepertinya ini cocok untuk Raisa yang suka mendengarkan musik dari ponselnya, batin Sasya.


"Kak Sya mau beli juga?" Tanya Jeni yang melihat Sasya memasukkan headphone itu ke dalam tas belanjanya.


"Hm, mau buat kado untuk temen Kak Sya." Jawab Sasya.


"Oh. Kalau sudah kita ke kasir yuk, Kak."


"Oke. Eh, Irene mana?" Tanya Sasya.


Jeni pun tersadar kalau Irene sudah tidak bersamanya. Jeni dan Sasya memutari toko mencari keberadaan Irene.


Irene sedang berdiri di etalase berisi berbagai macam bentuk cangkir. Dia berdiri memegangi 2 cangkir di 2 tangannya, mengamati bergantian.




"Bagus yang pink." Kata Sasya Yang membuat Irene terkejut.


"Eh, Kak Sya, kaget Irene."


"Mau buat siapa?" Goda Sasya.


"Hmm, buat Irene sendiri kok, Kak. Lucu-lucu aja tulisannya." Jawab Irene.


"Kalian disini ternyata. udah selesai belum? Kita ke kasir kalau udah." Kata Jeni yang baru saja menemukan Irene dan Sasya.


Mereka berjalan ke kasir membayar belanjaan mereka masing-masing. Setelah itu mereka keluar menuju pintu keluar Mall.


"Kak Sya jadi mau langsung pulang ke Bandung?" Tanya Jeni.


"Iya, Kak Sya tadi sudah sekalian pamit Mama, jadi kita pisah disini ya. Kak Sya mau langsung ke terminal." Kata Sasya.


"Oke kalau gitu, Kak Sya hati-hati ya." Kata Jeni lalu memeluk Sasya dengan manja.

__ADS_1


"Iya, Kamu sama Irene juga hati-hati ya pulang ke rumah."


"Iya, Kak. Jawab Jeni dan Irene bersamaan.


"Dadaaa..." Sasya melambaikan tangan pada kedua adiknya itu. Sementara Jeni dan Irene menunggu taksi online yang sudah mereka pesan.


Sasya sampai di rumah Rafa dengan naik taksi online. Dia berpura-pura berjalan ke halte bus, untuk membuat Jeni dan Irene percaya kalau dia benar-benar pulang ke Bandung. Sampai di halte Sasya langsung memesan taksi online lalu menuju rumah Rafa. Dan disinilah dia sekarang.


Sasya mengetuk pintu rumah sederhana bercat hijau itu. Tak lama seseorang membuka pintu dari dalam rumah.


"Sasya, kamu sudah sampai? Naik apa?" Tanya Rafa yang berdiri di depan pintu sambil menengok keluar.


"Naik taksi online." Jawab Sasya.


"Sendiri?" Tanya Rafa lagi.


Sasya mengangguk.


Rafa tersenyum, dia menggandeng tangan Sasya lalu membawanya masuk ke dalam. Tapi dengan cepat Sasya menarik tangannya, hingga membuat Rafa menoleh padanya.


Sasya lalu berjalan mendahului Rafa, lalu masuk ke ruang keluarga. Rafa hanya tersenyum tipis. Dia teringat kalau Sasya sedang marah padanya. Dia pun hanya diam saja, lalu berjalan mengikuti Sasya dari belakang.


"Kak Sasya." Raisa langsung berlari memeluk Sasya saat melihat Sasya berjalan ke arahnya.


"Makasih ya, Kak."


"Ini buat kamu." Sasya menyerahkan 1 tas kertas berisi headphone yang dia beli di Mall tadi. "Maaf ya Kakak nggak sempat bungkus pakai kertas kado." Kata Sasya lagi.


Raisa membuka bungkusan itu. Matanya langsung berbinar.


"Waah, ini yang Raisa pengen udah lama." Kata Raisa mengeluarkan headphone dari tas kertas. "Makasih ya, Kak."


Sasya tersenyum senang. Ternyata pilihannya tidak salah, dia memberikan kado yang memang diinginkan Raisa.


"Sasya, kamu datang kesini aja kita udah seneng, malah repot-repot bawa kado segala." Kata Bunda Rafa yang baru keluar dari dapur.


"Bunda." Sasya lalu menghampiri dan mencium tangan bunda Rafa.


"Gimana kabar kamu, Sayang?" Tanya Bunda Rafa setelah mencium kedua pipi Sasya.


"Baik, bun. Bunda sehat?"


"Alhamdulillah sehat, sayang." Jawab Bunda Rafa lalu merangkul Sasya mengajak duduk di sofa ruang keluarga. Tak lama Maura keluar dari kamar lalu menghampiri Sasya.


"Kak Sya udah datang." Kata Maura lalu mencium tangan Sasya.

__ADS_1


"Kamu baru selesai mandi?" Tanya Sasya yang melihat Maura sangat cerah dan segar.


"Iya, Kak. Baru aja pulang soalnya."


Sasya duduk dikelilingi Bunda dan kedua adik Rafa, mereka asik mengobrol dan bercanda. Maura dan Raisa saling bergantian bercerita pada Sasya. Memang kedua adik Rafa sangat dekat dengan Sasya, begitu juga dengan Bunda Rafa, yang selalu memperlakukan Sasya seperti anaknya sendiri. Sasya pun tidak canggung memeluk Bunda Rafa seperti Ibunya sendiri, dan merangkul Maura dan Raisa seperti adiknya sendiri.


Rafa tersenyum melihat keempat perempuan yang dia cintai berkumpul dan tertawa bersama. Memang seperti inilah mereka sejak dulu. Semenjak Sasya pindah ke Bandung, mereka jadi jarang bertemu dan berkumpul seperti sekarang. Rafa lalu berinisiatif menyiapkan makanan di meja makan, dan sengaja membiarkan Ibunya dan kedua adiknya menemani Sasya.


"Pada asik ngobrol, nggak ada yang mau makan nih?" Tanya Rafa yang menghampirinya mereka.


"O iya, Bunda belum matikan kompor." Kata Bunda Rafa yang langsung berdiri.


"Sudah aku matikan, Bun." Kata Rafa.


"Oh, syukurlah, Bunda lupa. Makasih ya, nak." Kata Bunda Rafa pada Rafa.


"Yaudah kita makan sekarang, sudah aku siapin semua di meja." Ajak Rafa.


"Ayo, Kak." Raisa menarik tangan Sasya menuju ke meja makan.


Sasya duduk di sebelah Rafa di meja makan kecil dengan makanan sederhana di atas meja. Maura dan Raisa duduk berhadapan dengan Rafa dan Sasya, sedangkan Bunda Rafa duduk di sisi lain dengan kursi tambahan, karena meja makan Rafa hanya berisi 4 kursi.


"Karena hari ini ulang tahun Raisa, kita berdoa untuk Raisa ya." Bunda mengangkat kedua tangannya lalu berdoa, diikuti Rafa dan yang lainnya. "Semoga Raisa panjang umur, ditetapkan imannya, tambah rajin ibadahnya, lancar sekolahnya dan tetap menjadi anak cantik kebanggan Bunda dan kakak-kakak."


"Aamiin." Jawab semua bersamaan.


"Sekarang kita makan ya." Bunda Rafa membagikan piring pada anak-anaknya. Rafa memulai mengisi nasi ke piringnya, lalu memberikan pada Bunda.


"Terimakasih, sayang." Kata Bunda Rafa pada Rafa.


Rafa lalu mengisi piring lagi dan kali ini diberikan pada Sasya.


"Makasih." Kata Sasya.


"Sya, ini Bunda masak telur balado kesukaan kamu." Kata Bunda memasukkan 1 butir telur ke piring Sasya.


"Wah, makasih, Bunda." Kata Sasya sambil tersenyum senang.


"Yang ulang tahun Raisa yang dikasih Kak Sasya." Kata Raisa sambil memanyunkan mulutnya.


"Ini buat Raisa." Bunda lalu memasukkan 1 butir telur ke dalam piring Raisa.


"Hehe, makasih, Bunda."


Mereka lalu makan bersama sambil mengobrol. Rafa sesekali melirik Sasya yang tersenyum lebar malam ini. Entah kenapa sepertinya sudah lama sekali dia tidak melihat senyum di wajah cantik Sasya. Tanpa sadar Rafa pun ikut tersenyum melihat Sasya.

__ADS_1


__ADS_2