Kamulah Jodohku

Kamulah Jodohku
Jodoh yang Tertunda


__ADS_3

Rafa membawa Sasya ke sebuah Cafe yang berada di tengah kota. Cafe romantis yang juga diramaikan oleh alunan lagu dari band Cafe.


Rafa dan Sasya duduk di sebuah meja kosong di sudut Cafe. Seorang pelayan mendatangi mereka lalu mencatat pesanan mereka.


"Rekaman kamu udah selesai?" Tanya Sasya. Mereka mengobrol sambil menunggu pesanan mereka datang.


"Udah. Besok aku mulai rilis single pertama, minggu depan mulai interview di beberapa radio." Jawab Rafa.


"Waaah, bentar lagi aku punya pacar artis." Goda Sasya.


"Iya, kamu harus siap ya kalau nanti aku punya banyak penggemar." Balas Rafa sambil mencubit pipi Sasya.


"Asal kamu juga bisa jaga hati kamu aja." Jawab Sasya.


"Hati aku cuma buat kamu seorang."


"Ish, gombal."


Makanan mereka pun datang. Mereka menikmati makan malam sambil melepas kerinduan.


Irene berjalan keluar saat jam makan siang, dia akan menemui Ibunya yang akan datang ke Hotel mengantar pesanan catering dari Airin untuk acara 7 bulanan. Biasanya Ibu Irene memakai jasa ojek online untuk mengantar makanan, tapi kali ini dia mengantar sendiri pesanan dari teman anaknya karena jumlahnya yang cukup banyak. Selain itu dia juga ingin melihat tempat kerja anaknya. Irene tidak bisa menolak keinginan Ibunya, dan sekarang Irene sedang berdiri di depan pintu karyawan sambil celingukan mencari Ibunya.


"Iya, Buk. Irene sudah di luar, Ibuk langsung ke belakang aja ya." Irene lalu menutup panggilan teleponnya.


Di saat yang sama, Riki dan Papanya juga keluar dari Hotel melalui pintu karyawan, karena mereka akan mengadakan rapat di luar Hotel. Saat sampai di luar, Riki bertemu dengan Irene yang sedang berdiri sambil menerima telepon.


"Irene." Panggil Riki.


"Kak Riki, eh, Pak Riki." Jawab Irene. "Siang, Pak Surya." Irene juga menyapa Papa Riki.


"Siang." Jawab Papa Riki.


"Kamu ngapain disini? Ini kan jam makan siang, kamu nggak ke kantin?" Tanya Riki sambil menunggu supir yang akan membawa mereka.


"Hm, ini, Pak. Saya lagi nunggu Ibu saya."


"Ibu kamu mau kesini?" Tanya Riki.


"Iya, mau nganter pesanan. Kebetulan hari ini ada acara 7 bulanan Mbak Airin, dan Mbak Airin pesan nasi kotak sama Ibuk Irene."


"Oh gitu. Ibu kamu sudah sembuh? kemarin waktu liburan di Bandung kamu pulang duluan karena Ibu kamu kecelakaan kan?"


"Sudah, Pak. Ibuk sudah bisa aktifitas seperti biasa, walaupun jalannya masih pakai kruk."

__ADS_1


"Oh, syukurlah kalau begitu."


"Rik, mobil udah datang." Kata Papa Riki.


"Iya, Pa." Jawab Riki. "Ren, saya duluan ya." Pamit Riki pada Irene.


"Iya silahkan, Pak. Itu Ibu saya juga sudah datang." Kata Irene sambil menunjuk seorang perempuan yang berjalan menggunakan kruk. Riki sempat melihat ke arah Ibu Irene dan menundukkan kepalanya menyapa Ibu Irene. Ibu Irene yang melihat Riki dengan sopan menyapa, lalu membalas dengan menundukkan kepala juga dan tersenyum. Lalu Riki masuk ke dalam mobil menyusul Papanya.


"Ibuk, mana pesenan temen Irene?" Tanya Irene pada Ibunya.


"Itu, masih di dalam mobil, ayo bantu Ibu ambil." Jawab Ibu Irene sambil menunjuk sebuah mobil, taksi online yang ditumpangi Ibu Irene.


Irene dan Ibunya lalu menuju taksi online tersebut dan menurunkan beberapa nasi kotak dari bagasi. Setelah itu Irena dan ibunya membawa masuk ke depan pintu masuk.


"Ini tempat kerja Irene, Buk. Sekarang Ibuk udah tahu kan?"


"Iya, Ibu bangga sama kamu, sayang."


"Ya sudah sekarang Irene mau masuk dulu ya, mau kasih ini ke mbak Airin biar langsung dibagi ke anak-anak." Kata Irene.


"Iya, Ren. Kalau gitu Ibu langsung pulang ya, ga enak juga taksinya nunggu lama." Pamit Ibu Irene.


"Iya, Ibu hati-hati ya." Irene melambaikan tangannya pada Ibunya.


Ibu Irene berbalik untuk kembali ke taksi online yang sedang menunggunya. Tiba-tiba seseorang memanggilnya.


Ibu Irene yang merasa namanya dipanggil, langsung menoleh ke arah panggilan. Begitu juga Irene yang mendengar nama Ibunya dipanggil, dia menghentikan langkahnya karena penasaran siapa yang memanggil Ibunya.


"Mas Surya." Batin Ibu Irene.


Terlihat Pak Surya, Papa Riki yang sudah berdiri dihadapannya.


"Elena, ini beneran kamu kan?" Pak Surya mendekati Ibu Irene, Bu Elena.


"Mas Surya? Mas kok bisa disini?" Tanya Bu Elena.


"Syukurlah, akhirnya aku bisa bertemu kamu lagi." Kata Pak Surya dengan mata berkaca-kaca.


Riki yang sedari tadi melihat Papanya bicara dengan Ibu Irene terlihat penasaran apa yang sedang terjadi. Karena saat mobil sudah melaju, tiba-tiba Papanya menyuruh supir menghentikan mobilnya, lalu turun dan berlari ke arah Ibu Irene. Riki pun ikut turun dan mengikuti Papanya.


Saat ini Irene dan Riki saling pandang seolah saling bertanya apa yang sedang orangtua mereka lakukan.


"Pa..." Panggil Riki.

__ADS_1


"Riki, sepertinya kamu harus berangkat sendiri, Papa ada urusan yang lebih penting." Kata Papa Riki.


Rikipun menuruti perintah Papanya walaupun sebenarnya dia ingin menanyakan ada hubungan apa Papanya dengan Ibu Irene. Dengan terpaksa Riki kembali menaiki mobil. Begitu juga Irene. Dia ingin sekali menghampiri Ibunya, tapi dia harus segera menyerahkan nasi kotak yang dia bawa ke Airin, karena jam makan siang akan segera berakhir. Dia lalu mengurungkan niatnya dan segera masuk kembali ke dalam hotel meninggalkan Ibunya dan Pak Surya.


Pak Surya mengajak Bu Elena masuk ke dalam, dan Bu Elena pun menerima ajakan Pak Surya. Pak Surya membawa Bu Elena ke restoran hotel. Disana Pak Surya membantu Bu Elena menarikkan kursi dan membantu menyimpan kruk Bu Elena.


Pak Surya lalu duduk di hadapan Bu Elena.


"Sudah lama sekali kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu?" Tanya Pak Surya.


"Aku baik, Mas." Jawab Bu Elena.


"Kenapa kamu bisa ada disini? Ada perlu apa kamu di hotel ini?"


"Aku mau bertemu anakku, dia bekerja disini." Jawab Bu Elena lagi.


"Anak kamu? Perempuan kecil tadi yang ngobrol sama kamu itu anak kamu?" Tamya Pak Surya. Dia memang tidak salah mengatakan Irene perempuan kecil, karena memang Irene memiliki tubuh yang mungil.


"Haha, hanya tubuhnya yang kecil, Sebenarnya umurnya sudah 18 tahun." Jawab Ibu Elena.


"Sama seperti kamu dulu berarti, mungil, menggemaskan, dan cantik." Puji Pak Surya. Hingga membuat pipi Bu Elena merona.


"Mas Surya sendiri kenapa bisa ada disini?" Tanya Bu Elena mengalihkan topik pembicaraan.


"Saya kerja disini." Jawab Pak Surya.


"Jadi Mas Surya kerja disini juga?" Tanya Bu Elana lagi.


"Iya, saya kerja di Hotel saya sendiri." Jawab Pak Surya.


"Apa? Maksud Mas Surya, Hotel ini milik Mas Surya?" Bu Elana nampak terkejut.


Pak Surya mengangguk.


Mereka lama terdiam. Pak Surya tak bisa melepaskan pandangannya pada Bu Elena.


"Gimana kabar suami kamu?" Tanya Pak Surya memecah keheningan.


"Suamiku sudah meninggal 10 tahun yang lalu." Jawab Bu Elena sambil menundukkan wajahnya.


"Maaf." Kata Pak Surya lirih. "Terus sekarang kamu tinggal dimana? Berarti sekarang kamu cuma tinggal bersama anak-anak kamu?" Tanya Pak Surya lagi.


"Iya, aku cuma tinggal berdua dengan anakku. Anakku satu-satunya." Jawab Bu Elena.

__ADS_1


Wajah Pak Surya mendadak berubah, Entah mengapa mendengar Elena sudah sendiri dan hanya tinggal berdua dengan anaknya, dia menjadi sangat bersemangat.


"Mungkin ini saatnya, sepertinya Tuhan mempertemukan kita kembali untuk melanjutkan jodoh yang tertunda 28 tahun yang lalu." Batin Pak Surya.


__ADS_2