Kamulah Jodohku

Kamulah Jodohku
Mendapat Restu


__ADS_3

"Apa?!" Jeni dan Sasya terkejut mendengar pengakuan Juna.


"Kenapa kalian kaget? Kan kalian yang terus mendesak Abang buat mengakui perasaan Abang ke Irene." Kata Juna.


"Beneran, Ren?" Tanya Jeni tidak percaya.


Irene mengangguk dengan terpaksa.


"Irene! Kenapa nggak bilang sama aku." Teriak Jeni lalu menarik tangan Irene.


"Eh, eh. Kamu mau ngapain, Jen." Cegah Juna yang tidak terima Jeni menarik tangan Irene dengan paksa.


Jeni lalu melepaskan tangannya dari tangan Irene.


"Ish, yang udah jadi pacar posesif banget, megang tangannya aja nggak boleh." Kata Jeni kesal.


"Ya pelan-pelan dong, sakit kan tangannya Irene kamu tarik gitu." Kata Juna.


"Eh, Bang. Sebelum jadi pacar Abang, Irene tuh sabahat Jen, jadi terserah Jen mau ngapain Irene. Ayo, Ren, ke kamar aku. Aku mau kamu bilang sama aku gimana ceritanya kamu bisa pacaran sama Abang aku yang posesif ini." Kata Jeni sambil menarik tangan Irene lalu membawa ke kamarnya.


"Jeni." Teriak Juna.


"Sudah, Bang, biarin. Jeni nggak mungkin ngapa-ngapain Irene." Kata Sasya menengahi.


Sasya membawa Juna duduk di meja makan.


"Abang mau makan? Sya ambilin ya." Kata Sasya lalu meletakkan piring kosong di depan Juna.


Juna masih menatap kepergian Irene.


"Nggak usah dilihatin terus, nggak akan ilang Irenenya, Bang. Kata Sasya lagi. "Sekarang mending Abang cerita sama Sya, kapan dan gimana ceritanya Abang sama Irene akhirnya bisa pacaran,Sya penasaran juga." Bujuk Sasya sambil menunjukkan senyum manisnya agar Juna mau menceritakan semuanya.


Sedangkan di kamar Jeni. Jeni mendudukkan Irene di kasur, lalu dia menarik kursi dari meja belajarnya untuk dia duduki tepat dihadapan Irene. Saat ini Jeni sedang mengintrogasi Irene.


"Bilang ke aku, dari awal gimana ceritanya kalian bisa pacaran, dan jangan ada yang ditutupi." Kata Jeni dengan tegas, membuat Irene ketakutan.


"Maafin Irene, Jen. Irene nggak bermaksud bohongin kamu. Irene cuma lagi cari waktu yang tepat buat cerita ke kamu,tapi Bang Juna malah udah ngaku duluan." Jawab Irene sambil menundukkan wajahnya.


"Sekarang cerita? Kapan kalian mulai pacaran?" Tanya Jeni.


"Hmm... 2 hari yang lalu, sebelum Bang Juna berangkat ke Surabaya." Jawab Irene.


"Siapa yang ngakuin perasaan duluan? Bang Juna atau kamu?"


"Bang Juna." Jawab Irene lirih.


"Gimana bilangnya?"


"Hmm, Irene lupa... pokoknya waktu itu Bang Juna ke rumah Irene pulang kerja terus lihat Irene diantar pulang sama teman cowok Irene, teman kantor. Terus Bang Juna marah-marah, nuduh Irene nggak mau dia jemput karena Irene mau pulang bareng cowok lain." Cerita Irene.


"Terus?" Jeni semakin penasaran.

__ADS_1


"Terus Irene bilang. Emangnya salah Irene pulang sama cowok lain, toh Bang Juna juga bukan siapa-siapa Irene."


"Terus, terus...?"


"Ya terus akhirnya Bang Juna bilang kalau dia suka sama Irene."


"Terus?"


"Ya udah, gitu ceritanya."


"Terus kamu jawab apa waktu Bang Juna bilang dia suka sama kamu?" Tanya Jeni gemas.


"Ya... Irene bilang... kalau Irene juga sama Bang Juna." Jawab Irene.


"Apa? Hahaha... Irene, Irene... akhirnya..."


"Jen, kamu nggak marah?"


"Siapa juga yang marah? Aku seneng banget tauk kalian pacaran. Sama-sama suka aja saling gengsi, bikin geregetan tahu nggak kalian tuh."


"Jadi kamu nggak marah? Irene pikir kamu marah sama Irene."


"Nggak lah, aku nggak akan marah. Aku malah seneng banget, sekarang kamu sudah naik pangkat, sari sahabat aku jadi kakak ipar aku." Kata Jeni lalu memeluk Irene.


"Kakak ipar apa? Kita kan baru pacaran." Kata Irene.


"Ya nantinya kan bakal jadi kakak ipar, karena aku nggak akan mau terima perempuan lain selain kamu untuk jadi kakak ipar aku."


Jeni dan Irene turun dari tangga menuju ruang keluarga dimana semuanya sedang berkumpul.


Saat melihat Irene, Juna langsung menghampiri Irene.


"Ren, kamu nggak papa kan?" Tanya Juna lalu menarik Irene yang sedang digandeng Jeni agar mendekat padanya.


"Ish, emang Jeni apain Irene? Sembarangan aja Abang nih."


Irene yang diperlakukan Juna seperti itu langsung malu karena dihadapannya ada keluarga Juna, termasuk Papa Mama Juna.


"Lihat tuh, Mah. Ada yang pamer tuh sama kita punya pacar baru." Kata Jeni menunjuk Juna dan Irene.


"Jeni." Irene memegang tangan Jeni. Dia sangat malu pada orang tua Jeni.


"Abang, jangan pamer di depan adiknya dong, mereka kan masih jomblo." Goda Mama Jeni.


"Mulai kapan kalian pacaran?" Tanya Papa Jeni. Seketika Irene langsung menundukkan wajahnya karena takut.


"Baru 2 hari, Pah." Jawab Juna.


"Irene." Panggil Papa Jeni. Irene perlahan mengangkat wajahnya.


"Iya, Om?" Jawab Irene.

__ADS_1


"Kalau Juna macam-macam sama kamu, bilang sama Om. Om akan hajar dia." Kata Papa Jeni.


Irene terkejut, dia pikir Papa Jeni akan memarahinya karena berani memacari anaknya. Tapi ternyata di luar prediksi Irene Papa Jeni malah mendukung hubungan mereka.


"Nggak akan, Pa. Abang serius sama Irene. Jadi nggak mungkin macam-macam."


"Papa pegang janji kamu, ingat, kalau laki-laki sudah berjanji, pantang untuk dilanggar. Apalagi umur kamu sudah bukan waktunya lagi untuk main-main." Papa Jeni mengingatkan.


"Siap, Pa." Jawab Juna.


"Jadi Irene sudah resmi jadi kakak ipar Jen dong ya, kan Mama sama Papa sudah merestui." Kata Jeni.


"Tergantung teman kamu siap apa nggak." Kata Juna melirik ke arah Irene. Irene langsung melotot ke arah Juna.


"Hahaha, kalian nikmati aja dulu, sambil saling mengenal satu sama lain, kalau sudah mantap, Mama sama Papa pasti akan melamar Irene untuk Abang."


Juna tersenyum penuh kemenangan.


"Cieee... yang lagi kasmaran, dulu aja gengsi nggak mau ngaku kalau suka, sekarang bucin." Goda Sasya.


Mereka pun tertawa bersama, kecuali Irene yang masih menahan malu.


Tak lama Irene pun berpamitan pada keluarga Juna untuk pulang, sebenarnya Mama Jeni sudah memintanya untuk menginap begitu juga Jeni, tapi Irene menolak dengan alasan bahwa dia harus membantu Ibunya besok pagi memasak untuk pesanan catering Ibunya. Akhirnya Jeni pun merelakan sahabatnya untuk pulang.


Irene diantar pulang oleh Juna. Saat di dalam mobil Irene langsung memukul lengan Juna.


"Aduh, kenapa sih kok Abang dipukul?" Tanya Juna sambil mengusap lengannya.


"Abang bikin Irene malu tahu nggak?" Jawab Irene.


"Malu kenapa?" Tanya Juna lagi.


"Kenapa Abang bilang di depan keluarga Abang, Irene kan belum siap."


"Hahaha, kenapa mesti malu. Toh akhirnya Papa sama Papa merestui. Ibu kamu juga udah tahu, dan merestui juga. Jadi jalan kita kedepannya lebih mudah." Kata Juna.


"Maksud Abang?" Tanya Irene bingung.


"Ya jalan kedepannya, memang kamu mau hubungan kita kayak gini terus? Abang sih maunya serius sama kamu, sampai ke pernikahan, karena seperti yang Papa bilang tadi, umur Abang sudah bukan waktunya lagi buat main-main."


Irene terdiam. Juna menatap Irene.


"Kamu kenapa? Nggak percaya sama Abang kalau Abang serius?"


"Bukan gitu, Irene percaya kok, tapi ini masih terlalu cepat."


"Iya, Abang ngerti kok, Abang nggak akan maksa kamu, Abang akan tunggu sampai kamu siap." Kata Juna.


Irene lalu menatap Juna sambil tersenyum.


"Makasih ya, Bang."

__ADS_1


Juna merangkum wajah Irene, lalu mencium kening Irene dengan mesra.


__ADS_2