
Sasya masuk ke kamar Juna sambil membawa 2 gelas minuman dan 1 buah kantong plastik. Dia menutup pintu dengan pelan dan berjalan tanpa suara menghampiri Riki yang duduk di samping Juna yang sudah tertidur.
"Abang udah tidur?" Tanya Sasya pada Riki dengan suara pelan.
Riki mengangguk.
"Kak Brian mana?" Tanya Sasya lagi.
"Brian nyusul Gery ke kantor polisi." Jawab Riki.
Sasya lalu menarik tangan Riki dan membawanya ke sofa. Sasya lalu menyuruh Riki duduk di sofa.
"Kenapa sih?" Tanya Riki bingung.
Sasya duduk di sebelah Riki. Dia menaruh minuman yang dibawanya di meja. Lalu mengambil sesuatu dari kantong plastik yang dia bawa.
Sasya mengambil sebuah salep yang baru saja dia beli dari apotek. Lalu membukanya dan mengeluarkan isi salep ke jarinya. Dia hendak memberikan salep itu ke ujung bibir Riki yang terluka.
Riki terkejut, dia sontak memundurkan wajahnya.
Mau ngapain?" Tanya Riki.
"Ini aku mau obatin luka kamu." Kata Sasya.
Riki melihat salep di tangan Sasya. Dia lalu diam.
Sasya perlahan mengoleskan salep di ujung bibir Riki. Lalu dibagian pelipis Riki yang membiru akibat pukulan kedua dari orang mabuk tadi di Cafe.
"Kamu ikut berantem?" Tanya Sasya sambil terus mengoles salep.
"Nggak, aku diserang." Jawab Riki.
Sasya meniup pelan ke arah pelipis Riki. Riki lalu menatap Sasya.
Sasya tersadar kalau wajahnya terlalu dekat dengan Riki. Dia lalu memundurkan wajahnya.
"Sudah." Kata Sasya.
"Makasih."
"Sama-sama." Jawab Sasya.
Sasya memasukkan kembali salep tadi ke kantong plastik. Lalu mengambil 1 gelas minuman dan memberikan pada Riki. Dan gelas satunya lagi untuknya.
"Aku nggak bisa bayangin kalau terjadi apa-apa sama Bang Juna." Kata Sasya pelan.
"Juna orang yang kuat. Dia nggak akan bisa tumbang begitu saja." Jawab Riki.
"Tetap saja aku takut. Dia orang paling berharga di hidup aku, setelah Papa dan Mama." Kata Sasya lagi.
"Juna juga sangat menyayangi kamu, bahkan melebihi sayangnya pada Jeni. Aku bisa lihat itu."
Sasya mengangguk.
"Tapi aku malah mengecewakannya, karena tidak bisa menuruti perintahnya untuk menjauhi Rafa." Kata Sasya lagi.
"Juna hanya ingin yang terbaik buat kamu."
__ADS_1
"Aku tahu. Tapi aku nggak bisa..."
"Karena cinta?" Tanya Riki.
Sasya terdiam.
Mereka pun larut dalam keheningan malam.
Sasya tertidur di sofa. Riki menyelimuti tubuh Sasya dengan selimut yang disediakan rumah sakit untuk penunggu pasien. Setelah itu Riki berdiri hendak melangkah keluar. Tapi tangannya ditarik oleh Sasya.
"Jangan tinggalin aku." Kata Sasya dengan mata masih terpejam.
Riki menatap Sasya. Lalu dia memutuskan untuk duduk kembali dan berada di samping Sasya. Riki merangkul Sasya dan menyandarkan kepala Sasya ke pundaknya. Sasya pun dengan nyaman tidur di pundak Riki dan melingkarkan tangannya di perut Riki. Riki tersenyum. Lalu dia ikut memejamkan matanya.
Tanpa mereka sadari Juna memperhatikan mereka dari atas kasurnya.
Pagi hari tiba. Seseorang masuk ke kamar Juna dengan tergesa. Lalu menangis saat melihat keadaan Juna.
"Bang Juna."
Irene berdiri di samping Juna sambil menangis.
Tak lama menyusul Jeni di belakangnya.
"Abang." Panggil Jeni.
Riki dan Sasya yang masih tertidur terkejut melihat kedatangan Irene dan Jeni.
"Jeni." Panggil Sasya.
"Kak Sya, Kak Riki, kalian tidur disini?" Tanya Jeni.
Sasya lalu tersadar lalu membuka selimut yang dipakainya bersama Riki. Lalu dia berdiri dan menghampiri Jeni.
"Kamu udah sampai sini?" Tanya Sasya tanpa menjawab pertanyaan Jeni.
"Bang Juna gimana, Kak?" Tanya Irene.
"Abang nggak papa, Ren. Kamu nggak usah khawatir." Jawab Sasya.
Juna pun terbangun.
"Irene. Kamu kok disini?" Tanya juna terkejut. Karena dia tidak memberi tahu Irene kalau dia di rumah sakit.
"Jen yang jemput Irene." Jawab Jeni.
"Kamu kok bisa tahu?" Tanya Juna lagi.
"Sya yang bilang sama Jeni." Jawab Sasya.
"Kamu nih, kenapa bikin panik semua orang?" Kata Juna. "Papa Mama belum tahu kan?"
Jeni menggeleng.
"Abang kenapa bisa kayak gini? Semalam katanya mau nongkrong sama teman-teman Abang, kenapa bisa berakhir disini?" Tanya Irene masih menangis.
"Abang nggak papa, kamu jangan nangis dong." Kata Juna lalu mengambil tangan Irene.
__ADS_1
Irene pun mengusap air mata dengan tangan satunya.
"Kamu ngapain kesini? bukannya harusnya kamu bantuin Ibu masak? Hm?" Tanya Juna lagi
"Gimana Irene bisa bantuin Ibuk masak kalau tahu Abang ditusuk orang." Tangis Irene pecah lagi.
"Sssst, iya iya. jangan nangis ya. Abang nggak papa kok." Kata Juna menenangkan Irene.
Juna terkekeh melihat Irene menangis seperti anak kecil.
Irene menghapus air matanya lagi.
Riki, Sasya dan Jeni hanya terdiam melihat pasangan yang sedang kasmaran itu.
"Kamu pulang aja bantu Ibu, Abang nggak papa, biar Sasya dan Jeni yang nemenin Abang." Kata Juna dengan lembut.
"Jadi Abang nggak mau Irene temenin?" Tanya Irene.
"Bukan gitu... Ya sudah kamu yang disini. Jen, Sya, kalian bisa pulang istirahat diantar Riki ya." Kata Juna tidak mau Irene merajuk.
"Ya, Bang." Jawab Sasya dan Jeni.
Mereka lalu berpamitan pada Juna dan keluar dari kamar Juna meninggalkan Irene dan Juna berdua.
Sasya, Jeni dan Riki berjalan bersama ke parkiran mobil.
"Oh iya, Kak Sya lupa. Kak Sya mau beli titipan Hana dulu ya buat dibawa ke Bandung besok, kamu pulang duluan aja sama Kak Riki ya." Kata Sasya pada Jeni. "Kak Riki titip Jeni ya, dadaaah..." Pamit Sasya yang langsung berlari keluar parkiran tanpa menunggu jawaban dari Riki dan Jeni.
"Tapi, Sya..."
"Kak sya mau kemana?" Teriak Jeni, tapi Sasya hanya melambaikan tangannya pada Jeni.
Jeni menghembuskan nafasnya.
"Dasar Kak Sya nih, ditanyain malah dadah." Gumam Jeni.
"Yaudah yuk, aku antar pulang. Aku juga udah gerah pengen mandi." Kata Riki. Dia lalu membuka pintu dan masuk ke mobil, begitupun Jeni yang masuk dan duduk di sebelah Riki.
"Abang udah ada pacarnya, adiknya sendiri di usir. Padal kan Jen juga khawatir sama Abang." Jeni menumpahkan kekesalannya pada Riki.
"Kamu kan bisa lihat sendiri tadi kalau Juna nggak papa."Kata Riki.
"Ya tetap aja, Jen kan juga pengen jagain Abang." Jeni mamajukan bibirnya.
"Hahaha, nggak usah manyun gitu sih. Dimana-mana, adik akan selalu kalah sama pacar kakaknya." Kata Riki membuat Jeni tambah kesal.
"Untung aja pacar Abang sahabat Jen sendiri." Gumam Jeni lagi tapi masih bisa di dengar Riki.
Riki lalu mengacak rambut Jeni.
"Iih, Kak Riki apaan sih. Rambut Jen kan jadi berantakan." Kata Jeni sambil merapikan rambutnya.
"Habisnya kamu nggemesin, cemburu sama sahabat sendiri." Kata Riki sambil tertawa.
"Sampai kapan Kak Riki mau anggap aku anak kecil terus?" Tanya Jeni.
Riki sontak terdiam. Dia pun mengerti apa yang dimaksud Jeni.
__ADS_1