Kamulah Jodohku

Kamulah Jodohku
Irene dan Maura


__ADS_3

Juna dan Irene sampai di hotel. Irene melepas sabuk pengamannya, lalu membuka pintu.


"Abang nggak turun?" Tanya Irene sebelum turun.


"Hm, iya. Abang parkir mobil dulu, kamu dulauan aja." Kata Juna, padahal dia memang berniat langsung meluncur ke kantor setelah menurunkan Irene.


"Yaudah, Irene duluan ya, Bang. Makasih udah dianterin sampai hotel." Kata Irene.


"Iya, sama-sama. Ingat, jadi diri kamu sendiri aja ya." Kata Juna.


"Iya, Bang."


Juna lalu langsung melajukan mobilnya setelah memastikan Irene masuk ke dalam hotel.


Irene diantar staf kantor menuju ruangannya bersama dengan 3 anak baru lainnya yang juga diterima kerja di hotel Riki.


"Ini ruangan kalian. Kalian bisa memilih meja yang kosong disana, nanti kalian akan dijelaskan oleh senior kalian apa saja yang harus kalian kerjakan." Kata wanita yang masih terlihat muda dan cantik itu.


"Terimakasih, Bu." Jawab ke empatnya.


"Mbak aja, panggil Mbak Dita aja." Kata wanita yang bernama Dita itu dengan senyuman di wajahnya. Lalu dia pun keluar dari ruangan itu.


Setelah itu seseorang datang menghampiri mereka.


"Pagi semua. Saya Ratna, Manajer keuangan disini. Mulai hari ini, kalian sudah menjadi bagian dari hotel ini, jadi saya harap kalian bisa bekerja dengan baik sesuai peraturan hotel." Kata wanita yang berumur 35 tahun itu. " Nanti kalian akan dijelaskan oleh Mbak Airin disana." Katanya sambil menunjuk seseorang berkacamata yang duduk di ujung ruangan. "Senior kalian, tentang apa saja yang harus kalian kerjakan."


Wanita bernama Airin itu pun menghampiri mereka.


"Pagi, saya langsung aja ya. Ini ada contoh laporan, kalian bisa pelajari dulu, lalu kalian bisa kerjakan laporan yang lain sesuai contoh ini." Katanya sambil membagikan 4 map untuk masing-masing anak baru. "Silahkan kalian pilih meja yang kosong disana lalu kalian pelajari disana. Oya, sebelumnya coba kalian perkenalkan dulu nama kalian, biar kita bisa saling kenal."


Lalu satu per satu memperkenalkan diri mereka di depan 2 orang senior dan 1 menejer di ruangan itu.


"Nama saya Fira."


"Saya Keyla."


"Saya Maura."


"Saya Iren."


"Baiklah, Fira, Keyla, Maura, dan Irene, silahkan ke meja kalian masing-masing dan mulai pelajari laporannya."


Mereka pun bubar dan menuju meja kerja masing-masing.


Tak terasa istirahat makan siangpun tiba. Maura menghampiri Irene yan duduk di sebelahnya, karena Fira dan Keyla sudah lebih dulu keluar.


"Hai, Irene ya." Sapa Maura.


"Iya, Maura?" Tanya Irene.


"Iya. Ke kantin bareng yuk." Ajak Maura.

__ADS_1


"Ayo." Merekapun berjalan kantin bersama. Selama perjalanan ke kantin mereka banyak bercerita, Tak butuh waktu lama untuk mereka bisa saling mengenal karena pribadi Maura yang periang dan selalu punya bahan pembicaraan, sedangkan Irene tipe pendengar yang baik dan selalu bisa menimpali pembicaraan lawannya.


Saat makanpun mereka tetap asik bercerita. Apalagi saat Keyla dan Fira mengajak Maura dan Irene bergabung di meja mereka. Keempatnya tampak langsung akrab dan memgobrol sambil tertawa.


Setelah selesai makan siang, mereka lalu kembali ke ruangan mereka. Saat di jalan mereka berpapasan dengan Riki yang baru saja hendak memasuki kantin.


"Irene." Sapa Riki.


"Kak, eh, Pak." Jawab Irene gelagapan.


"Iya, panggil Pak kalau di hotel, di luar tetap panggil Kak."


"Iya, Pak."


"Kamu bareng sama Maura juga."


"Siang, Pak." Sapa Maura.


"Siang. Semoga kalian betah disini ya." Kata Riki.


"Iya, Pak Terimakasih." Jawab Maura.


"Ren, tadi pagi saya lihat mobil Juna, kamu diantar dia?" Tanya Riki.


"Iya, katanya Bang Juna ada perlu sama Bapak, jadi sekalian ngantar saya." Jawab Riki.


"Hah?"


"Oh, Iya." Jawab Riki sambil menggaruk tengkuknya. "Ya sudah kalian bisa kembali ke ruangan kalian, dan lanjutan pekerjaannya kalian." Kata Riki lagi.


Riki lalu memasuki kantin untuk makan siang. Pekerjaannya hari ini terlalu banyak sehingga dia harus makan siang terlambat.


"Kamu kenal sama Kak Riki?" Tanya Maura di perjalanan kembali ke ruangan mereka.


"Iya, Kak Riki itu sahabatnya Abangnya sahabat aku." Jawab Irene.


"Hah?" Maura nampak berpikir. "Ooh, ya, ya..." Jawab Maura saat dia mulai paham maksud Irene.


"Kamu sendiri? Kenal sama Kak Riki juga?" Tanya Irene.


"Iya, Kak Riki temannya pacar Kakak aku." Jawab Maura.


Kali ini gantian Irene yang berpikir.


Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Semua karyawan bergantian keluar dari pintu karyawan setelah menekan jari mereka di mesin absen.


Irene dan Maura keluar dari kantor lalu berjalan bersama menuju halte. Mereka saling mengobrol hingga sampai di halte, lalu bergabung dengan orang-orang lainnya yang juga sedang menunggu bus di halte.


Tin tin.


Sebuah mobil berhenti tak jauh dari Irene dan Maura berdiri. Mereka berdua sontak melihat mobil yang membunyikan klakson itu. Pengemudi mobil membuka kaca mobilnya.

__ADS_1


"Bang Juna." Kata Irene.


"Itu Abangnya sahabat kamu? Sahabatnya Kak Riki?" Tanya Maura.


"Iya. Maura, aku duluan nggak papa ya?" Tanya Irene yang merasa tidak enak karena dia sudah berjanji pada Maura untuk pulang naik bus bersama.


"Iya, nggak papa kok, santai aja." Jawab Maura.


Irene lalu berjalan ke arah mobil Juna setelah melambaikan tangannya pada maura.


Irena masuk ke mobil Juna. Irene melambaikan tangannya lagi pada Maura saat mobil mereka melewati Maura, dan Juna juga membunyikan klaksonnya sekali pada Maura. Maura membalas melambaikan tangannya pada Irene dan Juna.


"Bang Juna memang sengaja jemput Irene atau ada keperluan lain yang searah?" Tanya Irene.


"Sengaja memang mau jemput kamu." Jawab Juna. Saat ini Juna tidak mau berbohong lagi.


"Kenapa, Bang? Irene bisa pulang sendiri, nggak perlu diantar jemput kayak gini." Kata Irene.


"Ya kenapa emang? Kamu keberatan?" Tanya Juna sambil menatap Irene.


"Ya bukan gitu, Irene cuma nggak mau merepotkan Bang Juna."


"Siapa yang repot? Abang sendiri kok yang mau."


Irene akhirnya mengalah, dia memilih untuk diam. Perjalanan pulang ke rumah Irene cukup lama karena mereka harus terjebak macet di suatu daerah yang memang rawan macet.


"Kita makan dulu di Cafe depan mau nggak? Macet parah ini, kita ngopi dulu sambil nunggu jalanan agak sepi." Ajak Juna.


"Ya, terserah Abang aja." Jawab Irene.


Saat Juna hendak membelokkan mobilnya masuk ke Cafe, Irene tiba-tiba mencegahnya.


"Eh, Bang. Belok yang sana aja." Kata Irene sambil menunjuk warung tenda yang ada di sebelah Cafe.


"Mana? Warung tenda itu?" Tanya Juna.


"Iya." Jawab Irene dengan mata berbinar.


Juna pun menuruti keinginan Irene.


Juna dan Irene memasuki warung tenda itu. Tanpa sadar Irene menarik tangan Juna menuju meja yang masih kosong. Juna tersenyum melihat tangannya yang ditarik oleh Irene.


"Duduk sini, Bang." Irene lalu duduk di meja belakang yang masih kosong.


Juna menuruti Irene duduk di hadapan Irene.


"Abang mau makan apa?" Tanya Irene. "Irene yang traktir." Tambahnya.


"Kamu udah lapar?" Tanya Juna.


"Belum sih, tapi dari kemarin Irene pengen pecel lele, mumpung kita lewat jadi makan sekalian aja."

__ADS_1


Sebenarnya ini kali pertama Juna makan di warung tenda seperti ini, tapi dia tidak bisa menolak keinginan Irene. Apalagi melihat Irene yang begitu senang saat memasuki warung tenda ini. Matanya tak bisa lepas dari wajah Irene yang terlihat sangat cantik dan menggemaskan malam itu.


__ADS_2