Kamulah Jodohku

Kamulah Jodohku
Di Hotel lagi


__ADS_3

"Aku antar pulang ya." Kata Riki setelah dirasa Sasya sudah mulai tenang.


"Kamu tidur dimana?"Tanya Sasya.


"Di hotel lah, biasa." Jawab Riki sambil menyalakan mesin mobilnya.


"Boleh nggak aku tidur di tempat kamu?"


Seketika Riki terdiam, berusaha mencerna pertanyaan Sasya. Lalu dia menghadap Sasya.


"Kamu mau tidur di hotel sama aku?" Tanya Riki meminta penjelasan.


Sasya mengangguk.


Riki terkejut.


"Kayak waktu itu?" Tanya Riki lagi.


"Hish!" Sasya memukul lengan Riki. "Aku mau tidur di tempat kamu karena aku nggak mau mandi sauna di kosan." Jawab Sasya.


Riki mengerutkan keningnya.


"Maksudnya?"


"Di kosan lagi ada pemadaman listrik sampai besok, jadi kalau aku tidur di kosan nggak bisa nyalain AC." Sasya menjelaskan.


"Oooh. Aku pikir kamu mau tidur sama aku kayak waktu itu."


"Dasar mesum."


Riki lalu melajukan mobilnya menuju hotel miliknya.


Sampai di hotel, Riki langsung membawa Sasya ke kamarnya, kamar dimana tempat Sasya membayar hutangnya pada Riki dulu.


Riki membuka pintu kamar, lalu mempersilahkan Sasya masuk terlebih dahulu, Ríki lalu mengikuti langkah Sasya dari belakang.


Sasya duduk di sofa. Riki mengambil handuk dari lemari, dan air mineral dari kulkas, lalu memberikannya pada Sasya.


"Ini minum dulu, habis itu mandi."


Sasya menerima air mineral, tapi ragu menerima handuk dari Riki.


"Kenapa? Kamu nggak mau mandi?" Tanya Riki.


"Bukan gitu, tapi aku nggak bawa baju ganti. Nggak mungkin kan aku tidur pake baju sama rok kerja."


Riki memandangi pakaian yang dikenakan Sasya. Dia lalu berjalan ke lemari làgi dan mengambil 1 kaos dan 1 celana training, lalu dia berikan pada Sasya.


"Pakai ini." Riki mengulurkan 1 buah kaos berwarna putih dan celana training berwarna hitam.


Sasya masih ragu menerima.

__ADS_1


"Kenapa lagi, aku nggak punya piyama." Kata Riki dengan nada sedikit meninggi.


"Bukan gitu, ada warna lain nggak? Putih pasti nerawang."


Riki mulai kesal. Dia kembali ke lemari, mengambil 1 buah kaos berwarna hitam, lalu dia diberikan pada Sasya.


"Nih."


Sasya langsung menerima. Dia lalu beranjak dan berjalan ke kamar mandi.


"Huh, repot amat mau mandi aja, dasar cewek." Gerutu Riki.


Riki duduk di sofa, lalu memakai kaca mata sebelum membuka laptponya, setelah itu dia mulai memeriksa pekerjaannya karena dia merasa belum bisa tidur.


Setelàh beberapa menit di kamar mandi, Sasya keluar dari kamar mandi dengan memakai baju yang dipinjamkan oleh Riki.


Riki terkekeh melihat penampilan Sasya.


"Kenapa? Kebesaran ya?" Tanya Sasya sambil memegang kaos yang dipakainya.


"Nggak papa, lucu aja." Jawab Riki.


Sasya lalu berjalan ke kasur.


"Kamu tidur disitu kan? Aku disini ya." Kata Sasya lalu naik ke atas kasur, dan menarik selimut menutupi tubuhnya.


"Aku tidur disitu juga lah." Kata Riki.


Sasya langsung bangkit dan duduk dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Iya, kenapa? Bukannya udah pernah?"


"Yaudah, kamu disini, aku di sofa" Kata Sasya.


"Kenapa sih? Itu kasur kan besar, muat buat kita berdua."


"Nggak, pokoknya aku nggak mau."


"Astaga, kamu benar-benar repot ya. Ya sudah, aku di sofa, kamu di kasur. Puas?"


Sasya tersenyum. Lalu dia merebahkan dirinya lagi di kasur.


"Selamat malam." Kata Sasya lalu mematikan lampu tidur.


Riki kembali berkutat dengan pekerjaannya.


Beberapa menit kemudian, Sasya menyalakan kembali lampu tidurnya.


Riki melihat Sasya yang sudah kembali duduk.


"Apa lagi tuan putri?" Tanya Riki.

__ADS_1


"Kak?"


"Perasaan aku nggak enak nih kalau kamu udah mulai panggil aku 'Kak'." Kata Riki.


Sasya meringis.


"Boleh nggak pesenin aku makanan? Aku baru ingat kalau aku belum makan malam." Kata Sasya dengan wajah memelas.


Ríki lalu berdiri setelah mengambil nafas panjang. Dia menelpon restoran memesan makanan untuk Sasya.


"Sama coklat panas ya, Kak." Kata Sasya sambil meringis lagi.


Riki pun memesan coklat panas sebelum memutus sambungàn telepon.


"Udah. Tinggal tunggu aja."


"Makasih, Kak." Sasya menunjukkan wajah imutnya.


Melihat wajah imut Sasya, Riki tidak bisa marah, rasanya saat ini dia ingin sekali mencium bibir Sasya yang sedang merekah. Dia lalu menggelengkan kepalanya berusaha mengusir setan-setan yang terus membisikinya. Riki pun kembali ke sofa menyelesaikan pekerjaannya.


Makanan pesanan Sasya akhirnya datang. Seorang pelayan restoran menyajikannya di meja. Sasya berlari menuju sofa.


"Pesanan sudah lengkap ya, Pak. Ada lagi yang mau ditambahkan?" Tanya pelayan itu pada Riki.


"Tidak, sudah cukup. Terimakasih."


"Sama-sama, Pak. Selamat menikmati. Permisi."


"Makasih, Mas." Kata Sasya. Pelayan itu hanya membalas dengan senyuman.


Sasya langsung melahap 1 piring spageti yang ada dihadapannya. Dalam hitungan menit, spageti itu langsung habis tak bersisa.


"Wah, ternyata kamu beneran lapar ya." Kata Riki.


Sasya lalu mengambil cangkir berisi coklat panas, dan meminumnya.


"Hm, enak. Aku boleh pesan lagi nggak coklat panasnya untuk besok pagi?" Tanya Sasya.


"Terserah kamu aja. Kalau sudah matikan lampunya ya, aku mau tidur." Kata Riki. Dia lalu merebahkan tubuhnya di sofa, dan memejamkan matanya tanpa melepas kaca matanya.


Sasya meminum coklat panasnya sedikit demi sedikit karena dia ingin menikmati kelezatan minuman kesukaannya itu. Setelah habis 1 cangkir, dia lalu beranjak dari sofa. Sebelum mematikan lampu, Sasya melirik ke arah Riki yang sedang tidur. Dia melihat Riki yang tidur masih dengan memakai kaca mata.


Sasya lalu berjalan menghampiri Riki. Dengan pelan dia melepas kaca mata yang bertengger di hidung mancungnya, karena dia tidak ingin Riki sampai terbangun.


Dalam hitungan detik kaca mata Riki berhasil dilepas oleh Sasya, tapi saat itu juga Riki terbangun dan langsung memegang tangan Sasya, hingga tubuh Sasya ikut tertarik, dan membuat wajahnya tepat berada di depan wajah Riki. Riki terbangun dengan terkejut.


"Maaf. Aku cuma mau lepasin kaca mata kamu." Kata Sasya yang juga ikut terkejut.


Riki tidak bereaksi, dia hanya menatap wajah Sasya yang berada tepat dihadapannya.


Sasya mengedipkan matanya beberapa kali, seketika dia merasa tidak bisa bernafas melihat wajah tampan Riki dihadapannya. Beberapa detik kemudian, Sasya menarik tangannya dan berdiri, lalu dia mematikan lampu dan berlari ke kasur. Sasya menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya hingga leher, dia langsung menutup matanya.

__ADS_1


Riki mengusap wajahnya dengan kasar. Lagi-lagi dia berhasil mengalahkan bisikan setan yang terus memintanya untuk mencium bibir Sasya. Entah sudah yang keberapa kalinya dia harus menahan keinginannya itu, karena sampai detik ini dia masih belum bisa melupakan rasa manis dari bibir Sasya waktu itu.


Riki melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk membasuh mukanya. Dia menyempatkan diri melirik ke kasur, dan melihat Sasya yang sudah tertutupi selimut. Riki pun tersenyum melihat pemandangan itu.


__ADS_2