
"Hatciiii! Uhuk-uhuk..."
Sasya tak berhenti bersin dan batuk di kantor, hingga dia tidak bisa konsen dalam mengerjakan laporan hariannya.
"Sya, lo nggak papa? Mending lo ijin pulang aja deh kalau sakit." Kata Hana saat melihat kondisi Sasya yang sedang memprihatinkan.
"Gue juga maunya gitu, Han. Tapi ini kerjaan belum kelar." Jawab Sasya.
"Emang lo bisa kerja dengan kondisi kayak gitu?" Tanya Hana lagi.
"Ya mau gimana lagi." Jawab Sasya dengan pasrah.
Sasya teringat ciumannya dengan Riki semalam, pasti ini yang membuat dia bersin-bersin seharian, virus dari Riki sampai ke dia karena ciumannya dengan Riki.
Pukul 4 sore, akhirnya semua kerjaan Sasya selesai. Dia langsung merapikan mejanya dan bersiap untuk pulang.
"Ayo, Han, buruan. Gue udah nggak kuat nih, pengen tidur." Ajak Sasya.
"Sya, lo duluan deh, kerjaan gue belum selesai." Kata Hana sambil memperlihatkan beberapa dokumen yang masih menumpuk di mejanya.
"Yakin? Kalau bentar doang gue tungguin aja." Kata Sasya
"Nggak usah, lo udah kayak gitu, mendingan lo buruan pulang, naik taksi kalau perlu. Sampai kosan minum obat langsung tidur."
"Siap boss! Yaudah gue duluan ya, lo jangan kemaleman ya." Pamit Sasya.
"Hm. hati-hati ya, jangan lupa minum obat."
"Iya, bawel."
Sasya lalu keluar dari kantornya. Dia melihat sekeliling mencari taksi yang lewat, karena dari tadi dia mencoba memesan taksi online tapi tidak dapat, mungkin karena ini jam sibuk pulang kerja.
"Sasya."
Tiba-tiba Sasya mendengar suara yang sangat dia kenal memanggil namanya.
Sasya menoleh ke samping, benar saja, dia melihat orang yang sangat dia kenal.
"Rafa."
Rafa berdiri di samping Sasya sambil tersenyum.
"Udah pulang? Ayo ikut aku." Kata Rafa lalu menarik tangan Sasya.
Rafa membawa Sasya masuk ke dalam mobil yang belum pernah Sasya lihat sebelumnya.
"Ayo masuk." Kata Rafa setelah membukakan pintu mobil untuk Sasya.
Sasya pun menuruti Rafa, masuk ke dalam mobil. Rafa menutup pintu mobil, lalu berjalan ke arah pintu supir.
Di dalam mobil, Sasya mengetik sesuatu di ponselnya.
"Kamu chat siapa?" Tanya Rafa sambil mengemudikan mobil.
"Hana. Takutnya dia nyariin." Jawab Sasya.
"Nggak perlu, Hana udah tahu kamu pergi sama aku." Kata Rafa.
Sasya menatap Rafa yang sedang tersenyum padanya.
"Pantas saja tadi Hana ngotot nyuruh gue pulang duluan." Batin Sasya.
"Kita mau kemana?" Tanya Sasya.
__ADS_1
"Aku mau ajak kamu ke suatu tempat. Kamu ikut aja ya." Kata Rafa.
Sasya mengangguk sambil tersenyum.
Setelah 30 menit perjalanan, Rafa membelokkan mobilnya masuk ke sebuah hotel.
"Kita mau ngapain kesini?" Tanya Sasya.
"Cek in." Jawab Rafa santai.
"Hah?" Sasya membelalakkan matanya.
"Hahaha." Rafa tertawa melihat Sasya terkejut.
Rafa membawa Sasya masuk ke hotel. Mereka menuju restoran yang sudah di pesan oleh Rafa Sebelumnya.
"Atas nama Rafa." Kata Rafa pada seorang pelayan yang menghampiri mereka.
"Mari saya antar." Kata pelayan itu.
Rafa dan Sasya mengikuti pelayan tersebut sampai ke sebuah meja di sudut restoran.
"Silahkan." Kata pelayan itu sambil menunjuk sebuah meja di depannya.
"Terimakasih." Jawab Rafa.
Rafa menarik kursi untuk Sasya.
Sasya duduk di kursi yang sudah disiapkan Rafa. Rafa lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Sasya.
"Ini apa Rafa? Kamu ngajak aku dinner di restoran hotel?" Tanya Sasya setengah berbisik.
Rafa hanya tersenyum.
Tak lama seorang pelayan datang membawa sebuah kue tart, lalu meletakkannya di meja Rafa dan Sasya.
"Happy anniversary, sayang." Kata Rafa sambil memegang tangan Sasya.
Sasya terkejut, dia benar-benar lupa bahwa hari ini adalah hari jadi mereka, tahun ini adalah tahun ke enam mereka berpacaran.
Rafa mencium tangan Sasya. Sasya sangat terharu. Bisa-bisanya dia lupa hari istimewanya bersama Rafa, sedangkan Rafa mengingatnya, dan membuat sebuah kejutan untuknya.
Di Jakarta.
Juna dan Jeni serta Mamanya datang ke Rumah Sakit untuk menengok Ibu Irene.
Jeni mengetuk pintu kamar Ibu Irene.
"Masuk." Kata Irene dari dalam kamar.
Jeni lalu masuk ke dalam diikuti oleh Juna dan Mamanya.
Irene yang melihat Mama Jeni langsung berdiri dan menghampiri Mama Jeni.
"Tante." Sapa Irene lalu mencium tangan Mama Jeni.
"Irene, kamu yang sabar ya, sayang." Kata Mama Jeni lalu memeluk Irene.
"Makasih tante. Tante pakai repot-repot kesini." Kata Irene.
"Siapa yang repot, tante kan juga pengen tahu keadaan Ibu kamu." Kata Mama Jeni.
Mama Jeni menghampiri Ibu Irene yang masih terbaring di kasur. Diikuti Jeni dan Juna. Jeni meletakkan 1 parcel buah di sebelah kasur.
__ADS_1
"Gimana keadaannya, Bu?" Tanya Mama Jeni sambil memegang tangan Ibu Irene.
"Sudah membaik, Bu. Tinggal pemulihan aja."
"Syukurlah. Saya khawatir waktu dengar Ibu jatuh, tapi setelah lihat kondisi Ibu sekarang, saya yakin Ibu pasti akan segera sembuh."
"Aaminn. Terimakasih, Bu."
Sementara para Ibu sedang asik berbincang, Juna mendekati Irene, lalu memberikan 1 bungkus coklat pada Irene.
"Apa ini, Bang?" Tanya Irene.
"Coklat." Jawab Juna dengan santai.
"Iya Irene tahu ini coklat, tapi..."
"Udah terima aja, Ren. Mumpung Bang Juna lagi baik." Kata Jeni sambil memperlihatkan 1 bungkus coklat yang sama di tangannya.
Ternyata Juna juga memberikan coklat yang sama pada Jeni. Irene lalu tersenyum malu.
"Eh, Bang. Irene mau ngomong sesuatu sama Abang." Kata Irene lalu menarik tangan Juna keluar dari kamar.
Juna menatap Jeni. Jeni tersenyum, lalu menyuruh Juna mengikuti Irene dengan isyarat tangannya.
Irene mengajak Juna duduk di kursi depan kamar Ibunya.
"Bang, Irene mau minta nomor telepon Kak Riki boleh?" Tanya Irene pada Juna.
"Untuk apa?" Tanya Juna.
"Irene mau tanya soal kerjaan yang Kak Riki bilang waktu itu. Irene harus cepat cari kerja sekarang, karena kondisi Ibu yang tidak memungkinkan untuk bisa kerja lagi." Jawab Irene.
"Kamu yakin mau kerja di Hotel Riki?" Tanya Juna lagi.
"Iya, memang kenapa? Kak Riki sendiri kan yang bilang kalau hotelnya lagi butuh pegawai."
"Aku bisa masukin kamu ke perusahaan aku, kamu bisa kerja di kantor aku kapanpun kamu siap." Kata Juna.
"Nggak usah, Bang. Irene nggak mau terus ngerepotin Abang. Abang sudah banyak banget bantu Irene. Biaya rumah sakit Ibu aja..."
"Ssstt..." Juna memotong perkataan Irene.
Irene tersadar, dia tidak boleh lagi membahas soal biaya rumah sakit Ibunya di depan Juna. Tanpa sadar Irene menutup bibirnya dengan satu tangannya.
Juna terkekeh melihat tingkah Irene.
"Maksud Irene, Kali ini Irene mau usaha sendiri." Jawab Irene.
Juna terdiam, dia berpikir sejenak.
"Ya sudah. Kamu bikin surat lamarannya, biar aku yang kasih langsung ke Riki."
"Kalau gitu Irene masih ngerepotin Bang Juna dong."
"Ya sudah kalau nggak mau. Aku masukin kamu ke kantor aku, kalau perlu aku jadikan kamu sekertaris aku." Kata Juna.
"Eh, iya, Bang. Ya sudah besok aku kasih surat lamarannya ke Abang." Jawab Irene.
Juna lalu mengusap kepala Irene. Irene tertunduk malu, dia sudah terbiasa dengan sikap Juna yang selalu mengusap kepalanya dengan lembut.
"Kamu udah makan?" Tanya Juna.
Irene menggeleng.
__ADS_1
"kenapa belum makan? Ayo kita cari makan." Ajak Juna yang langsung menggandeng tangan Irene.
Irene diam saja tangannya digandeng oleh Juna, entah kenapa dia tidak bisa menolak apa yang Juna lakukan padanya. Irene pun mengikuti langkah Juna sambil tersenyum.