Kamulah Jodohku

Kamulah Jodohku
Kecupan dan Ciuman tiba-tiba


__ADS_3

Juna berjalan di lorong Rumah Sakit membawa 2 gelas minuman untuk Jeni dan Irene. Ibu Irene mengalami patah tulang kaki saat terjatuh dari tangga di dekat rumahnya, hingga akhirnya harus menjalani operasi. Saat sampai di Rumah Sakit, dokter menjelaskan keadaan Ibu Irene di depan Juna dan juga Jeni. Saat dokter menyarankan untuk operasi, Irene langsung terdiam, bahkan saat dokter menanyakan persetujuan Irene sebagai wali dari Ibunya, Irene tidak bisa menjawab. Hingga akhirnya Juna yang menjawab dan menyetujui operasi tersebut.


Dan disinilah mereka sekarang. Diruang tunggu ruang operasi. Operasi Ibu Irene belum selesai. Irene dan Jeni sampai tertidur berdampingan di ruang tunggu.


Juna melepas jaketnya lalu menutupi tubuh kedua adiknya dengan jaketnya itu. Jeni terbangun. Dia lalu menyelimutkan jaket Juna untuk Irene yang masih tertidur.


"Ini minum dulu, Abang bawain coklat panas." Kata Juna sambil menyerahkan 1 gelas coklat panas pada Jeni.


"Makasih, Bang." Jawab Jeni sambil menerima gelas dari Juna.


Juna melirik jam di tangannya, lalu menatap Irene yang masih tertidur. Juna lalu mengusap kepala Irene. Juna sudah tidak malu lagi menunjukkan rasa sayangnya pada Irene di depan Jeni.


"Kasihan Irene, dia pasti khawatir banget. Abang sudah melunasi biaya operasinya kan?" Tanya Jeni.


"Sudah, kamu tenang aja. Urusan Rumah Sakit biar Abang yang tangani, kamu kasih semangat terus buat Irene."


"Iya, Bang. Makasih ya, Bang." Jawab Jeni.


"Kamu nggak perlu terimakasih. Buat Abang, Irene sudah tanggung jawab Abang, sama seperti kamu dan Sasya." Jawab Juna.


Jeni tersenyum. Dia merasa bangga pada Abangnya.


Tak lama dokter keluar dari ruang operasi. Juna langsung menghampiri dokter. Sedangkan Jeni membangunkan Irene terlebih dahulu.


Jeni dan Irene berlari menyusul Juna.


"Gimana keadaan Ibu saya, Dok?" Tanya Juna.


Irene terkejut mendengar perkataan Juna, dia langsung menatap Juna.


"Operasi berjalan lancar. Sekarang keadaan pasien sedang dalam pemulihan pasca operasi. Sekitar 1 jam lagi baru bisa dipindahkan ke kamar rawat inap."


Juna merasa lega mendengar jawaban dari dokter, begitu juga Irene dan Jeni.


"Terimakasih, Dok." Jawab Juna.


"Sama-sama. Pasien boleh dijenguk setelah dipindah di kamar rawat inap ya." Kata Dokter itu lagi.


"Iya, Dok."

__ADS_1


Jeni langsung memeluk Irene.


"Kamu bisa tenang sekarang, Ren. Ibu sudah baik-baik aja." Kata Jeni menenangkan Irene.


"Iya, Jen."


Jeni melepas pelukannya.


"Aku ke toilet dulu ya." Pamit Jeni yang sudah menahan kebelet pipis dari tadi. Dia langsung lari menuju toilet. Irene tersenyum melihat tingkah Jeni.


Irene lalu manatap Juna.


"Bang Juna, Irene mau bilang terimakasih banyak ya, berkat Abang, Ibu bisa menjalani operasi. Irene janji, Irene akan ganti uang Abang untuk biaya..."


Juna meletakkan jari telunjuknya di bibir Irene. Irene langsung terdiam tanpa bisa menyelesaikan kalimatnya.


"Siapa suruh kamu ganti. Abang nggak mau terima uang kamu. Abang melakukan ini untuk Ibu kamu." Kata Juna. Dia lalu menariknya jarinya dari bibir Irene.


"Tapi tetap aja, Irene nggak bisa..."


Cup.


Kali ini bibir Juna yang menempel di bibir Irene, dan membuat Irene terdiam seribu bahasa.


Irene memegang bibirnya yang baru saja dikecup Juna. Wajahnya langsung berubah menjadi merah, dan jantungnya seperti jatuh entah kemana. Irene lalu lari meninggalkan Juna sambil masih memegangi bibirnya.


Juna tertawa melihat tingkah Irene. Jantungnya sendiri sebenarnya juga sedang berdegup kencang, dan dia tidak bisa mengendalikannya.


Sementara di hotel Bandung.


Seseorang berjas mengantar Pizza pesanan Sasya.


"Terimakasih, kamu boleh pergi." Kata Riki.


"Siap, Pak." Lalu orang itu pergi. Dan Riki menutup pintu kamarnya lagi.


"Kok beda sama pelayan yang tadi, ini kenapa pake jas kayak orang kantoran gitu?" Tanya Sasya.


"Dia memang bukan pelayan, dia asisten aku di kantor." Jawab Riki.

__ADS_1


"Kenapa harus nyuruh asisten kamu? kamu kan bisa pesan dari restoran." Tanya Sasya lagi.


Kamu pikir restoran aku ada menu Pizza? Nggak ada. Makanya aku nyuruh asisten aku beli di luar." Jawab Riki. Lalu meletakkan pizza di meja.


"Kenapa nggak bilang? Aku kan bisa pesan yang lain, biar kamu nggak ngerepotin orang." Kata Sasya, sambil membuka kotak Pizza, mengambil 1 potong dan langsung melahapnya.


"Bukannya kamu memang hobi merepotkan orang?" Kata Riki pelan, dan Sasya pun tidak mendengar perkataan Riki.


Riki takjub melihat Sasya dengan lahap memakan pizza, dalam hitungan menit, dia sudah menghabiskan 3 potong pizza.


"Kamu laper banget ya?" Tanya Riki.


"Hmm." Jawab Sasya sambil terus mengunyah pizza di mulutnya.


Riki lalu merebahkan dirinya di sofa dan meletakkan kepalanya di pangkuan Sasya lagi setelah Sasya mengambil potongan pizza ke empatnya.


Sasya bahkan tidak lagi mempedulikan kepala Riki yang sudah berada di atas pahanya, karena sibuk dengan pizzanya.


Lalu tiba-tiba saos dari pizza yang dimakannya menetes jatuh di daun telinga Riki. Sasya mencoba membersihkan saos yang menempel di daun telinga Riki dengan jarinya. Riki merasa terganggu dengan gerakan tangan Sasya yang terus mengusap daun telinganya. Riki memegang tangan Sasya hingga Sasya terkejut dan menghentikan gerakan tangannya. Lalu Riki bangun dan menghadap Sasya.


"Kamu sengaja ya?" Tanya Riki.


"Sumpah aku nggak sengaja, saosnya netes di kuping kamu, aku coba bersihin." Kata Sasya panik melihat mata Riki yang memerah.


Sasya mengira Riki marah karena telah menumpahkan saos di telinganya, padahal Riki sedang berusaha menahan nafsu yang tiba-tiba saja merasukinya saat Sasya terus mengusap daun telinganya. Jantungnya berdebar dengan kencang. Dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari bibir Sasya.


"Kamu yang bangunin aku ya, aku udah coba menahan selama ini." Kata Riki dengan suara parau. Dia tidak bisa lagi mengendalikan dirinya.


Riki perlahan mendekatkan bibirnya ke bibir Sasya. Sasya terkejut, dia tidak bisa mengira apa yang akan dilakukan Riki. Wajahnya terus mundur ke belakang, berusaha menghindari bibir Riki yang terus mendekat.


Riki memegang tengkuk Sasya, Sasya tidak bisa mundur lagi. Dia lalu memejamkan matanya. Dan dalam hitungan detik, bibirnya terasa hangat karena ciuman dari Riki. Sasya terdiam beberapa detik. Pizza di tangannya pun lepas dari genggamannya, dan terjatuh di lantai. Lalu tanpa sadar dia membalas ciuman Riki. Riki yang merasa disambut oleh Sasya terus melancarkan aksinya. Mereka berciuman sangat lama.


Riki mulai mendengar bisikan setan yang terus bergeming di telinganya, dia sudah tidak bisa lagi mengendalikan dirinya. Dengan cepat Riki mengangkat tubuh Sasya lalu menggendongnya dan membawanya ke kasur. Dia pun melanjutkan aksinya di atas kasur. Tapi beberapa detik kemudian dia melepas ciumannya, dengan nafas yang tidak beraturan, mencoba menahan gairahnya, Riki menarik selimut menutupi tubuh Sasya sampai ke dada.


"Selamat malam." Kata Riki sambil membelai lembut rambut Sasya. Lalu mematikan lampu di samping kasur.


Riki pun lalu beranjak dari kasur, dan berjalan menjauhi Sasya, sebelum setan-setan yang lain berbisik menyuruhnya melakukan tindakan yang lebih jauh lagi.


Di kasur. Sasya berusaha menormalkan pernafasannya yang sempat terhenti sejenak karena ciuman tiba-tiba dari Riki. Saat tersadar, dia lalu menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.

__ADS_1


"Sial, kenapa aku menerima ciuman dari Riki gitu aja. Dasar bibir, bukannya mundur malah bales cium dia."


Sasya merutuki dirinya sendiri.


__ADS_2