Kamulah Jodohku

Kamulah Jodohku
Ice skating


__ADS_3

Jeni dan Irene baru saja keluar dari sekolahannya. Hari ini adalah hari terakhir ujian sekolah mereka.


"Akhirnya, selesai juga. Kita main yuk, Ren, buat merayakan selesainya ujian sekolah kita." Kata Jeni pada Irene.


"Main kemana? Irene belum bilang Ibuk." Jawab Irene.


"Kita ke rumah aku dulu, ganti baju, nanti kamu bisa telepon Ibuk dari rumahku, sekalian ijin nginep." Kata Jeni memggebu-gebu.


"Nginep? nggak ah, Irene nggak mau."


"Lhoh? kenapa?"


"Irene belum siap ketemu Bang Juna, Irene masih malu." Kata Irene.


"Hahaha..." Jeni tertawa.


"Kok malah ketawa sih, kejadian waktu itu masih bikin Irene malu tau nggak, Irene takut Bang Juna nanti mikir macem-macem sama Irene."


"Kamu nih kenapa sih, kan cuma gelas. Kenapa mikir jauh banget sih."


"Bukan cuma gelas, Jen. Itu ada kata-katanya."


"Udah deh, tenang aja, Bang Juna nggak akan mikir macem-macem, percaya sama aku."


Tin Tin.


Suara klakson mobil membuat perdebatan mereka berhenti.


"Bang Juna." Kata Jeni saat melihat mobil yang berada di belakang mereka.


Seketika Irene juga melihat mobil dibelakangnya, benar sekali, mobil Bang Juna.


Jeni menarik tangan Irene menuju mobil Juna. Juna membuka kaca mobilnya.


"Abang ngapain disini?" Tanya Jeni saat sampai di samping pintu mobil Juna.


"Abang mau pulang, kebetulan lewat sini lihat kalian berdiri di depan sekolah. Mau pulang nggak? Ayo sekalian." Ajak Juna.


"Ayo." Kata Jeni.


Langkah Jeni terhenti saat Irene menarik tangan Jeni.


"Apa sih, Ren. Udah tenang aja, ayo naik."


Dengan terpaksa akhirnya Irene mengikuti Jeni masuk ke mobil Juna.


Irene duduk di kursi belakang, sedangkan Jeni di samping Juna.


"Abang jam segini kok udah pulang?" Tanya Jeni.


"Abang mau ke Bandung, tapi pulang dulu ke rumah, mau ambil baju ganti " Jawab Juna sambil menyetir mobil.


"Bandung? Kita boleh ikut, Bang?" Tanya Jeni dengan semangat.

__ADS_1


"Abang kerja, Jen." Jawab Juna.


"Abang kerja ya kerja aja, kita kan bisa di tempat Kak Sasya. Ya, Bang? kita butuh mengistirahatkan otak kita, habis dipakai buat ujian seminggu, lelah, Bang." Jeni mencoba merayu Juna.


"Memang ujian kalian sudah selesai?" Tanya Juna.


"Udah, Bang. Hari ini hari terakhir."


Juna nampak berpikir. Jeni menengok ke belakang, lalu mengedipkan sebelah matanya pada Irene.


Irene hanya menggelengkan kepalanya.


"Gimana, Bang? Boleh ya?" Tanya Jeni lagi.


"Ya sudah. Nanti kabarin Kak Sasya dulu."


"Asiiiikk. kita ke Bandung, Ren." Kata Jeni.


"Tapi Irene belum bilang Ibuk, Irene juga belum persiapan." Kata Irene.


"Nanti sebelum berangkat ke Bandung kita ke rumah kamu dulu, ambil baju sekalian pamit sama Ibu kamu." Kata Juna sambil menatap Irene dengan tersenyum melalui kaca spion.


Irene yang ditatap Juna seperti itu jantungnya langsung berdebar tak karuan, apalagi ditambah senyum Juna yang sangat manis menurut dia.


Sasya sampai di hotel Riki, pulang kerja dia sudah diberi kabar oleh Juna bahwa Jeni dan Irene akan berlibur di Bandung, dan kebetulan juga besok adalah akhir pekan, Juna meminta Sasya untuk menemani Jeni dan Irene menginap di hotel dan jalan-jalan di Bandung. Dan karena Juna mengadakan pertemuan dengan rekan kerjanya di Hotel Riki, maka sekalian lah dia dan adik-adiknya menginap di hotel Riki.


Sasya langsung menuju kamar Jeni dan Irene yang sudah sampai di hotel lebih dulu. Jeni membukakan pintu untuk Sasya.


"Hai, Jen. Irene mana?" Tanya Sasya.


"Hai, Kak Sya." Sapa Irene yang sedang menonton tivi di atas kasur.


Mereka lalu duduk bersama di sofa sambil merencanakan tujuan liburan mereka selama di Bandung. Tentu saja Sasya yang menjadi pemandu wisata mereka.


Hari sudah mulai gelap. Jeni, Irene dan Sasya sudah bersiap untuk mulai menjelajahi kota Bandung. Malam ini mereka memilih untuk bermain ice skating sebagai pemanasan. Mereka pun juga mengajak Juna, atau lebih tepatnya memaksa Juna, karena Juna sebenarnya ingin beristirahat di hotel.


Sampai di lobi, Juna mengirim pesan pada seseorang.


"Bang, nungguin siapa?" Tanya Sasya yang melihat Juna celingukan seperti sedang mencari seseorang.


Tak lama dia melihat seseorang yang dia tunggu.


"Itu." Jawab Juna sambil menunjuk seseorang di hadapannya.


"Riki?"


Sasya terkejut melihat Riki yang sedang berjalan ke arah mereka.


"Kak Riki? Kak Riki juga ikut?" Jeni melonjak kegirangan melihat Riki yang akan ikut bersama mereka.


Saat ini mereka sudah sampai di tempat tujuan mereka. Sasya Jeni dan Irene sudah siap dengan sepatu skate mereka, dan mulai memasuki arena skate. Irene tampak ragu untuk berjalan.


"Ayo, Ren. Aku pegangi kamu." Kata Jeni.

__ADS_1


"Irene takut, Jen. Irene nggak bisa." Kata Irene dengan wajah pucat.


"Tenang aja, Ren. Kita bakal jagain kamu. Ayo coba jalan pelan-pelan." Kata Sasya.


Mereka bertiga berseluncur bersama, tanpa melepas tangan mereka pada Irene. Irene perlahan sudah mulai menikmati permainan mereka. Wajah pucatnya sudah tergantikan dengan tawa riang.


Sementara dari jauh nampak dua orang laki-laki yang sedang memandangi ketiga gadis yang sedang bermain dengan ceria di arena skate.


"Mau kemana lo?" Tanya Riki pada Juna yang sudah berdiri dari kursi.


"Mau ikut senang-senang sama mereka." Jawab Juna.


Riki kembali mengalihkan pandangannya pada arena skate.


"Ayo ah." Kata Juna sambil menarik tangan Riki.


"Eh, Jun. Gue nggak mau ikut." Kata Riki menahan tangannya yang ditarik Juna.


Tapi Juna tidak mendengarkan, dia terus memaksa Riki untuk mengikutinya.


Juna dan Riki sudah memakai sepatu skate mereka, Juna mulai memasuki arena skate, sedangkan Riki masih terdiam di pintu masuk.


"Ayo." Ajak Juna.


"Lo duluan aja." Jawab Riki.


Juna lalu meninggalkan Riki dan berseluncur mendekati ketiga adiknya.


Sasya dan Jeni berseluncur mundur, Sasya memegang tangan kanan Irene sedangkan Jeni memegang tangan kiri Irene. Mereka sedang mengajari Irene agar Irene bisa berseluncur sendiri.


Jeni melihat Abangnya yang sedang berseluncur ke arah mereka. Terbesit sebuah ide di kepalanya, dia melirik pada Sasya yang juga sedang melirik padanya. Dengan senyum jahil Jeni, Sasya pun mengerti maksud Jeni.


"Satu... dua..." Sasya dan Jeni menghitung bersamaan. Irene melihat Jeni dan Sasya dengan wajah bingung.


Juna datang dari arah belakang Irene.


"Tiga!" Teriak Sasya dan Jeni bersamaan. Lalu mereka melepas tangan Irene. Dan Jeni mendorong pelan tubuh Irene ke belakang.


"Aaaahh." Irene berteriak karena kehilangan keseimbangannya.


Buk!


Dalam hitungan detik tubuh Irene sudah ditangkap oleh Juna dari belakang.


Irene terkejut, wajahnya kembali pucat. Dia melihat ke belakang, dan tampaklah wajah Juna, jantungnya mulai berdegup kencang lagi.


"Kamu nggak papa?" Tanya Juna.


Irene menggeleng pelan.


Juna melihat kedua adiknya yang sedang cekikian lalu berseluncur jauh meninggalkan Juna dan Irene berdua.


Juna membantu Irene berseluncur dengan memegang tangan Irene, sedangkan Irene sedang menata degupan jantungnya agar kembali normal seperti sedia kala. Tapi sepertinya tidak bisa, jangankan kembali normal, jantungnya malah berdegup semakin kencang karena tangannya sedang digenggam oleh Juna.

__ADS_1


__ADS_2