
Sasya bangun jam 5 pagi. Dia terkejut melihat jam karena dari saat dia sampai di rumah dia langsung masuk kamar dan melanjutkan tidur. Padahal dia belum sempat bertemu dengan Mamanya.
Sasya lalu turun untuk mengambil minum di dapur. Dia membuka lemari es untuk mencari makanan, karena dia baru ingat bahwa semalam dia belum makan malam. Pantas saja perutnya terasa begitu lapar.
Dia hanya menemukan telur di kulkas. Lalu dia pun menyalakan kompor untuk menggoreng telur. Baru saja dia menuang telur yang sudah di pecah ke atas penggorengan, setetes minyak panas menyiprat ke tangannya.
"Aduh!" Pekik Sasya.
Lalu seseorang mengambil alih spatula dari tangan Sasya.
"Mamah."
"Kamu ngapain jam segini udah bikin ribut di dapur? Mama kira tadi tikus."
"Ih Mama, aku disamain tikus."
"Habis krusak krusuk di dapur."
"Aku laper, Mah."
"Iyalah lapar, orang semalem langsung tidur, bukannya nyapa Mama dulu." Kata Mama Sasya sambil mengangkat telur yang sudah matang, dan menaruh diatas piring. Lalu memberikan pada Sasya.
"Maaf, Mah. Ngantuk banget" Jawab Sasya, lalu dia mengisi piringnya dengan nasi, dan duduk di meja makan. Dia makan ditemani Mamanya yang juga duduk di sampingnya.
Pagi menjelang, karena sudah terbangun, Sasya tidak bisa tidur lagi. Saat matahari sudah menampakkan sinarnya, dia pun mengambil selang di taman, lalu menyirami bunga-bunga Mamanya yang memenuhi taman. Sambil bersenandung ria, Sasya dengan telaten memulai dengan menyirami satu per satu pot-pot kecil yang tertata di teras rumah. Lalu menyirami pohon-pohon kecil yang ada di taman. Sedang asik menyirami, Sasya melihat sebuah mobil memasuki halaman rumahnya. Mobil yang sama yang mengantarnya pulang semalam. Lalu terbesit di otaknya untuk mengerjai teman Abangnya itu.
"Sroooooooooootttttt....."
"Astaga, apa ini? Air apa ini? hujan ya..?" Teriak Riki panik lalu dia melihat ke atas, padahal tidak hujan.
"Wuahahahaha...." Dari balik pohon Sasya keluar sambil memegang selang dan tertawa sangat puas.
"Sasya! Apa-apan sih kamu, basah semua nih!"
"Sengaja, week." Kata Sasya lalu menjulurkan lidahnya.
Riki tidak terima dijahili oleh Sasya. Dia pun lalu berlari ke arah Sasya. Sasya yang merasa sedang dalam bahaya lalu berlari menjauhi Riki. Tapi karena langkah Riki lebih besar, Sasya pun akhirnya tertangkap oleh Riki. Riki merebut selang dari tangan Sasya, lalu meyiramkan air ke wajah Sasya.
"Nih, rasain disiram air pagi-pagi."
"Riki, aku basah semua nih!"
"Kamu pikir aku nggak? Hm? Nih rasain!" Pembalasan lebih kejam, itu yang dipikirkan Riki. Dalam sekejap tubuh Sasya basah kuyup karena siraman air dari Riki.
"Udah, ampun! Aku udah basah semua, ampun." Pinta Sasya.
Riki pun menghentikan siramannya. Dia meletakkan selangnya ke tanah.
"Makanya, nggak usah iseng jadi orang, jadi kan aku mandi lagi." Kata Riki sambil mengibas-ngibaskan kaosnya yang basah.
Saat Riki sedang sibuk, Saaya berlari mengambil kembali selang yang sudah di tanah,lalu menyiramkan kembali ke Riki.
__ADS_1
"Sasyaaa...!
"Sukurin, biar sama basah kuyup."
"Berhenti nggak!" Riki berlari ke balik pohon dan bersembunyi dari serangan Sasya.
"Nggak mau." Jawab Sasya sambil terus memburu Riki dengan serangan air dari selang.
"Astaga... kalian ngapain sih malah maianan air pagi-pagi." Teriak Juna yang sudah berdiri di teras rumah melihat kelakuan adik dan sahabatnya itu.
"Adek lo nih, Jun yang mulai."
"Kak Riki yang nyiram Sasya sampai basah kuyup." Sasya tidak mau kalah.
"Kalian ini pagi-pagi udah main air sampai ngumpet segala di balik pohon, uda kayak film india aja." Kata Mama Sasya yang sudah berdiri di samping Juna. "Udahan mainnya, bunga-bunga Mama bisa rusak nanti kebanyakan air."
Sasya lalu meletakkan selang ke tanah, dan mematikan keran. Lalu dia berjalan memasuki teras, bersama Riki yang juga sudah basah kuyup.
"Kayak anak kecil aja kalian main siram-siraman air." Kata Juna.
"Sumpah, adek lo duluan. Gue baru turun dari mobil tiba-tiba disemprot." Riki mencoba membela diri.
"Kak Riki juga balesnya nggak kira-kira, sampai Sasya basah semua dari rambut sampai kaki."
"Dimana-mana pembalasan lebih kejam."
"Udah-udah! Berantem terus kalian. Udah Sasya masuk, mandi sana biar nggak masuk angin." Kata Mama Sasya melerai Sasya dan Riki. "Nak Riki, bisa mandi di kamar Juna, terus pinjam baju Juna buat ganti."
Sasya langsung lari ke atas menuju kamarnya sambil menggigil kedinginan.
"Ayo, ke kemar gue." Ajak Juna. Riki pun membuntuti Juna.
Saat ini Juna, Riki dan Sasya sudah duduk di meja makan, meminum coklat panas buatan Mama Sasya.
"Minum dulu biar badannya anget." Kata Mama Sasya.
"Makasih, tante." Kata Riki.
"Sama-sama. Sasya, juga nih minum lagi."
"Makasih, Mah."
"Kalian ini benar-benar ya nggak ingat umur, masih juga main siram-siraman air." Kata Mama Sasya lagi.
"Kak Riki, Mah yang buat Sasya basah kuyup." Sasya membela diri.
"Lhah, kan kamu dulu yang nyemprot aku."
Mama Sasya menggelengkan kepalanya lalu berjalan meninggalkan meja makan.
"Lagian, pagi-pagi udah main ke rumah orang, kurang kerjaan." Sasya tidak mau kalah.
__ADS_1
"Udah-udah. Sya, Riki kesini Abang yang nyuruh." Kata Juna.
"Tuh, denger sendiri kan?" Tambah Riki.
"Ngapain Abang nyuruh Kak Riki kesini?" Sasya mulai penasaran.
"Kepo!" Jawab Riki.
"Ish, orang tanya sama Abang." Kata Sasya lagi.
"Abang kemarin diajakain klien Abang main golf, Abang kan nggak terlalu bisa, makanya Abang ngajak Riki buat nemenin Abang." Jawab Juna.
"Emang Kak Riki bisa main golf?" Tanya Sasya mengejek.
"Ish, belum tahu dia, Jun." Jawab Riki menyombongkan diri.
"Diantara kita, Riki yang paling jago main golf." Jawab Juna sambil menggigit rotinya.
"Halah, cuma mukul-mukul bola kecil doang aja Sasya juga bisa." Cibir Sasya.
"Ish, kalau nggak tahu nggak usah sok tahu ya, ayo ikut kalau memang bisa ngalahin aku." Tantang Riki.
"Udah sih, kalian nih ribut terus. Ayo cepetan, Rik. Telat kita nih." Kata Juna sambil berjalan ke wastafel menaruh gelas dan piring kotornya.
"Iya, sabar. Gue ngabisin roti dulu, takut masuk angin pagi-pagi udah mandi 2 kali." Jawab Riki sambil melirik Sasya.
"Ish." Sasya lalu berdiri manaruh gelas kosong di wastafel. Lalu Riki menyusul berjalan di belakang Sasya.
"Titip piring kotor ya, cuciin yang bersih." Kata Riki sambil meletakkan piring dan gelas kotornya.
"Enak aja. Nggak mau!" Jawab Sasya.
"Lihat aja ya, aku bales tar di Bandung." Ancam Riki.
"Nggak takut, week." Jawab Sasya lagi.
"Beneran ya, kali ini aku nggak akan lepasin kalau kamu udah masuk ke kamar aku."
"Siapa juga yang mau masuk ke kamar kamu."
"Lihat aja nanti." Bisik Riki di telinga Sasya. Lalu dia mendekatkan bibirnya ke bibir Sasya.
"Jangan macem-macem ya, mau aku siram lagi."
Riki tidak bergeming, dia terus memajukan wajahnya.
"Kalian lagi ngapain?"
Sasya dan Riki terkejut, mereka melihat ke belakang bersamaan.
"Jeni."
__ADS_1