Kamulah Jodohku

Kamulah Jodohku
Permintaan Maaf Juna


__ADS_3

Tok tok tok.


"Jen, ini Abang." Juna berdiri di depan pintu kamar Jeni, dia sudah berjanji pada Sasya untuk minta maaf pada Jeni tentang semalam.


Ceklek.


Jeni membuka pintu lalu menampakkan wajahnya dari balik pintu.


Dia nenatap Juna tanpa bertanya.


"Abang mau bicara sebentar, bisa?" Tanya Juna.


Jeni keluar dari kamar lalu menutup pintu kamarnya kembali.


"Irene masih tidur, ngomong di luar aja." Jawab Jeni dengan ekspresi datar.


Juna mengikuti langkah Jeni yang menuju ke teras atas. Jeni duduk di kursi teras, Juna ikut duduk di sebelahnya.


"Abang mau ngomong apa?" Tanya Jeni.


"Abang mau minta maaf soal semalam." Kata Juna.


"Hm." Jawab Jeni datar.


"Abang sadar, Abang sudah kelewatan."


"Hm."


"Abang tahu kamu masih marah sama Abang. Abang minta maaf ya. Abang janji nggak akan ulangi lagi." Kata Juna dengan wajah memelas.


"Hm."


"Jen, bisa nggak jangan cuma jawab 'hm'?"


Jeni menatap Juna. Juna benar-benar menampakkan wajah bersalah. Jeni tidak kuasa menahan tawanya. Dia lalu tertawa, hingga membuat Juna bingung.


"Hahaha..."


"Jen, kok malah ketawa sih?" Tanya Juna.


"Abang lucu. Jen tadinya mau marah, tapi lihat muka Abang Jen malah geli, hahaha..."


Juna semakin bingung. Dia malah takut adiknya sedang kesambet setan.


"Jen, kamu nggak papa kan?" Tanya Juna sambil memegang dahi Jeni.


"Apaan sih, Bang." Jeni menyingkirkan tangan Juna dari dahinya.


"Kamu sehat?" Tanya Juna lagi.


"Jen sehat, Bang. Abang itu yang nggak sehat." Jawab Jeni.


"Kok Abang?"


"Jen tahu, Abang semalem marah karena Abang cemburu sama Aldo kan?"


Juna terkejut. Wajahnya langsung memerah karena malu.


"Si...siapa yang cemburu?" Juna terbata.


"Abang lah. Abang cemburu karena Aldo deketin Irene terus kan? Makanya Abang tarik tangan Aldo pas dia merangkul Irene, terus Abang bawa kita pulang. Iya kan?"

__ADS_1


Juna terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa.


Jeni merangkul Juna, lalu meletakkan kepalanya di bahu Abangnya itu.


"Abang, kalau suka bilang. Jangan dipendam, nanti jadi jerawat." Kata Jeni pelan menggoda Juna.


"Sok tahu kamu." Juna melepas tangan Jeni yang melingkar di lehernya.


"Bang, Jen kasih tahu ya. Irene itu banyak yang suka di sekolah, termasuk Aldo. Sekarang ini Aldo lagi pdkt sama Irene, makanya dia ngajak Irene nonton kemarin. Tapi Irene nggak mau kalau berdua aja, akhirnya kita rame-rame deh nontonnya." Cerita Jeni.


"Kenapa Irene nggak mau nonton berdua sama Aldo? Dia nggak suka sama Aldo?" Tanya Juna.


"Nah kan? Kepo kan? Hahaha..."


"Siapa yang kepo, udah ah, Abang mau mandi." Kata Juna lalu berdiri.


"Abang tanya sendiri aja ke Irene kenapa dia nggak mau nonton berdua sama Aldo." Goda Jeni lagi.


"Nggak, Abang nggak mau tahu kok." Juna berjalan meninggalkan Jeni di teras.


"Yakin? Abang rela kalau Irene jadian sama Aldo?" Jeni berlari mengejar Abangnya yang berjalan cepat karena menahan malu. "Bang? Abang yakin nggak mau tahu?" Jeni menggandeng lengan Abangnya.


"Tahu apa, Jen?" Tanya Sasya yang baru saja keluar dari kamar saat Jeni dan Juna melewati kamarnya.


"Itu, Kak, Bang Juna semalam ternyata..."


Ceklek.


Pintu kamar Jeni terbuka. Juna langsung membungkam mulut Jeni hingga Jeni tidak bisa melanjutkan kata-katanya.


Tak lama Irene keluar dari kamar Jeni yang memang terletak di sebelah kamar Sasya.


Sasya, Juna dan Jeni terdiam. Irene yang baru keluar dari kamar melihat mereka bertiga berdiri terdiam jadi bingung.


"Pagi, Kak. Maaf Irene kesiangan." Jawab Irene tertunduk malu, karena dia bangun lebih siang dibanding tuan rumah.


"Nggak papa, santai aja, Ren." Jawab Sasya.


Juna langsung berjalan cepat melewati Irene, lalu menuruni tangga, tapi sial saat hendak menuruni tangga dia tersandung kakinya sendiri, hingga dia terhuyung ke depan, untungnya dia langsung meraih pegangan tangga hingga tidak sempat terjatuh.


"Hati-hati, Bang." Teriak Jeni diikuti cekikikan.


Juna langsung melesat munuju kamarnya.


"Bang Juna kenapa?" Tanya Sasya.


"Nggak papa, Kak. Buru-buru mungkin mau kerja." Jawab Jeni.


"Jen, kok nggak bangunin Irena sih? Irene kan jadi nggak enak."


"Santai aja, Ren. Yuk kita ke bawah." Jeni merangkul sahabatnya itu.


Sasya sedang memainkan ponselnya di kamar. Pesan masuk dari Rafa membuat Sasya langsung bangkit dari tidurnya. Dengan pelan dia membuka pesan itu.


"Sya, kata Hana kamu di Jakarta. Hari ini ulang tahun Raisa, Bunda mau masak buat syukuran di rumah, aku bilang kamu di Jakarta, Raisa minta aku ajak kamu ke rumah."


Sasya terdiam. Sebenarnya dia rindu pada Bunda dan kedua adik Rafa, Raisa dan Maura, tapi hati kecilnya belum siap untuk bertemu dengan Rafa.


Tring.


Pesan masuk lagi.

__ADS_1


"Mungkin Raisa akan telepon kamu sendiri. Kamu nggak mau balas pesan aku nggak papa, tapi tolong jawab telepon Raisa ya. Love you.


Sasya meletakkan ponselnya di kasur. Dia berjalan hendak ke toilet. Tapi sebelum langkahnya sampai di toilet, ponselnya berbunyi, dia lalu mengambil ponselnya lagi, melihat nama Raisa di layar ponselnya. Dia berpikir sejenak. Lalu akhirnya dia memutuskan untuk mengangkat telepon dari Raisa.


Via telepon.


"Ya, Raisa."


"Kak Sasya, kata Kak Rafa kakak di Jakarta?"


"Iya."


"Kalau gitu Kak Sya nanti sore ke rumah ya, biar dijemput Kak Rafa, bunda masak buat syukuran Raisa, Raisa ultah lho."


"O iya, selamat ulang tahun ya, sayang."


"Makasih, Kak. Kak Sya datang kan?"


"Iya, Kak Sya usahakan ya."


"Janji ya, Kak. Raisa bakalan sedih kalau Kak Sya nggak datang."


"Iya, Raisa."


"Oke, Kak. Sampai ketemu nanti sore ya, bye Kak Sya."


"Bye Raisa."


Sasya menutup teleponnya. Dia memijat keningnya. Sejenak kemudian dia mengetik pesan untuk Rafa.


"Aku akan datang ke rumah kamu pukul 4 sore, tidak usah dijemput."


Tring.


"Iya, hati-hati di jalan ya, aku tunggu di rumah. Love you."


Sasya meletakkan kembali ponselnya. "Love you." Sasya juga biasanya menyematkan kalimat itu di setiap akhir pesan. Tapi entah kenapa saat ini dia sangat sulit mengetik kalimat itu untuk Rafa.


Tok tok tok.


"Kak Sya." Panggil Jeni dari balik pintu.


"Ya, Jen. Masuk."


Jeni membuka pintu kamar Sasya.


"Kak, kita jalan ke Mall yuk." Ajak Jeni.


"Sekarang?"


"Iya, kan nanti sore Kak Sya udah balik ke Bandung." Kata Jeni.


Sasya teringat, kalau besok dia sudah harus kembali bekerja. Hari libur cepat sekali berlalu, batinnya.


"Oke, Kak Sya siap-siap dulu." Jawab Sasya.


"Oke, Kak." Jeni menutup pintu kamar Sasya. Sasya beranjak dari kasur, lalu menuju lemari untuk mengganti pakaiannya.


"Oya, sekalian aja aku cari kado buat Raisa." Kata Sasya.


Lalu dia mengambil 1 pakaian yang akan dia pakai untuk pergi ke Mall bersama adiknya. Celana panjang jins, kaos warna kuning, dan cardigan warna hijau muda.

__ADS_1


Setelah selesai berganti pakaian, dia menuju ke meja rias, memulas tipis wajahnya dengan bedak dan memakai lipstik warna pink tua di bibirnya. Dia pun tidak lupa menyisir rambutnya. Setelah dirasa cukup, Sasya mangambil tas nya lalu keluar dari kamar.


__ADS_2