Kamulah Jodohku

Kamulah Jodohku
Alasan Sasya dan Riki


__ADS_3

Jeni dan Sasya asik berseluncur dan menari di atas arena skate. Mereka terbilang sangat ahli bermain skate karena papa mama mereka sering mengajak mereka bermain permainan ini sejak dulu.


Sedangkan Irene terus berseluncur bersama Juna karena dia belum bisa dilepas sendiri. Juna dengan sabar mengajari Irene. Tidak sedetikpun dia melepas tangannya dari Irene. Irene yang tadinya canggung, lama kelamaan dia merasa nyaman belajar dengan Juna. Sasya dan Jeni sesekali melirik mereka, dan berseluncur di dekat mereka sambil menggoda mereka.


"Irene, muka kamu kok merah sih? Kedinginan ya?" Tanya Jeni menggoda Irene.


"Eh, nggak kok?" Jawab Irene lalu memegang pipinya dengan tangan satunya yang sedang tidak dipegang Juna.


"Kamu kedinginan? Mau istirahat dulu?" Tanya Juna yang terlihat agak panik.


"Hm, nggak kok, Bang." Jawab Irene.


Jeni tertawa puas setelah menggoda sahabatnya itu, lalu dia menghampiri Sasya lagi setelah mendapat pelototan mata dari Irene.


Sasya menatap Riki yang hanya terdiam di pinggir arena skate.


"Kenapa, Kak?" Tanya Jeni.


"Itu, Kak Riki dari tadi kenapa diam aja disitu?" Kata Sasya sambil menunjuk Riki.


"Kita samperin yuk." Kata Jeni sambil melesat menuju ke tempat Riki berdiri.


"Eh, Jen. Tunggu." Sasya akhirnya menyusul Jeni.


Jeni sampai di depan Riki, tanpa aba-aba dia langsung menarik tangan Riki dan mengajaknya berseluncur bersama.


"Jen, tunggu, mau kemana?" Tanya Riki sambil mencoba mengikuti langkah Jeni.


"Seluncur lah." Jawab Jeni yang terus menarik tangan Riki.


"Jeni, stop. Tunggu, aku..."


Jeni berhenti dengan tiba-tiba lalu melepas tangan Riki. Riki terkejut, dia terus berjalan melewati Jeni. Dia mencoba menyeimbangkan tubuhnya, karena dia tidak bisa menghentikan kakinya yang terus saja berseluncur ke depan


"Jeni... tolooong..." Riki berteriak sambil terus berseluncur tak tentu arah.


Jeni yang tersadar ada yang aneh pada Riki lalu mengejar Riki.


"Aaaaaaaa, tolooooongg...!" Teriak Riki.


Sesaat kemudian Riki sampai di depan Sasya yang juga sedang mencoba menghentikan Riki, tapi karena Riki yang berseluncur terlalu kencang dan tubuh Sasya yang kecil tidak bisa menahan tubuh Riki yang lebih berat, alhasil, Riki menabrak Sasya hingga mereka berdua terjatuh dengan posisi tubuh Riki diatas tubuh Sasya.


Sasya dan Riki membuka mata mereka perlahan bersamaan.


"Kak... kamu... be... rat..." Kata Sasya terbata sambil mencoba menyingkirkan tubuh Riki dari atas tubuhnya.

__ADS_1


Riki mencoba untuk berdiri, tapi tidak bisa.


"A.. aku nggak bisa berdiri..." Kata Riki.


Lalu datanglah Jeni, Juna dan juga yang Irene. Juna dan Jeni mengangkat tubuh Riki dari atas tubuh Sasya. Riki berhasil berdiri dengan dipegangi oleh Juna. Sedangkan Jeni lalu membantu Sasya berdiri.


"Kamu nggak bisa main skate?"


"Lo nggak bisa main skate?"


"Kak Riki nggak bisa main skate?"


Juna, Jeni dan Sasya meneriaki Riki bersamaan.


Riki menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menahan malu.


Juna, Jeni dan Sasya terkejut, begitu juga Irene yang sudah bisa berdiri sendiri.


Acara bermain skate selesai, lalu mereka menuju acara selanjutnya yaitu makan malam. Mereka makan di salah satu Cafe yang berada diantara Hotel Riki dan arena bermain skate, karena waktu juga sudah menunjukkan pukul 9 malam, dan mereka juga sangat kelaparan, akhirnya mereka memilih tempat makan yang terdekat.


Mereka berlima telah memilih menu masing-masing, lalu tak sampai 20 menit pesanan mereka datang satu per satu.


"Selamat makan semua." Kata Jeni.


Mereka pun mulai menyantap makanan mereka masing-masing.


"Spageti nya masih enak yang di Hotel Kak Riki." Kata Sasya yang duduk di sebelah Riki.


"Masak? Cobain?" Riki lalu mencoba spageti Sasya dengan garpu milik Sasya pula.


"Iya, Steaknya juga masih enak yang di Cafe waktu itu, yang diatas bukit."


"Oya? Coba juga dong." Kata Sasya. Lalu Riki menyuapi Sasya sepotong steak dengan garpu milik Riki.


Tanpa mereka sadar, ada 3 pasang mata yang sedang menatap curiga pada mereka.


"Kalian sering makan bareng ya?" Tanya Juna.


"Uhuk-uhuk!" Sasya dan Riki sama-sama terkejut dan tersedak mendengar pertanyaan Juna.


"Ehm, nggak kok. Kata siapa?" Sasya melakukan pembelaan.


"Terus sejak kapan kalian dekat sampai saling suap-suapan segala?" Tanya Juna lagi.


"Masak sih? Ya dia bilang mau coba ya aku spontan nyuapin dia." Riki juga melakukan pembelaan.

__ADS_1


"Kalau Jen juga mau coba, Kak Riki suapin Jen juga nggak?" Tanya Jeni.


"Kamu mau cobain juga?" Tanya Riki. Dia lalu memotong steaknya dan memberikan pada Jeni. "Nih." Riki pun menyuapi Jeni yang duduk di depannya. Jeni dengan senang hati menerima suapan dari tangan Riki.


"Ngomong-ngomong, Cafe atas bukit dimana, Kak? Ada ya disini?" Tanya Irene dengan polosnya.


Sasya dan Riki sontak langsung saling menatap. Juna pun menatap Riki dan Sasya dengan penuh curiga.


"Cafe atas bukit itu Cafe yang direkomendasikan Sasya ke aku waktu itu." Jawab Riki sekenanya.


"Iya, jadi Kak Riki pernah tanya sama aku Cafe yang enak untuk dinner romantis dimana, aku kasih tahu Cafe itu." Jawab Sasya juga sekenanya.


"Iya, itu." Tambah Riki.


"Ooh, Kak Sasya jadi pernah dinner romantis juga disitu sama pacarnya?" Tanya Irene lagi. Pertanyaan Irene memang selalu menjebak, padahal dia sendiri tidak menyadarinya.


"Hehe, ya gitu deh." Jawab Sasya sambil menggaruk tengkuknya.


"Kamu masih berhubungan sama dia?" Tanya Juna yang mengejutkan semua yang ada di meja itu.


"Eh, nggak, maksud Sasya, Hana. Hana yang pernah dinner sama pacarnya, Sasya dikasih tahu Hana." Jawab Sasya panik.


Riki menahan tawanya, tapi masih bisa terdengar oleh Sasya suara cekikikannya. Sasya lalu menendang kaki Riki.


"Aduh!" Teriak Riki.


"Kenapa, Kak?" Tanya Jeni.


"Nggak papa, kayaknya ada semut gigit kaki aku." Jawab Riki sambil mengusap kakinya yang ditendang oleh Sasya.


Makan malam selesai, mereka lalu kembali ke hotel. Mereka naik lift bersama, Kebetulan kamar mereka satu lantai dengan kamar Riki. setelah pintu lift terbuka di lantai tujuan mereka Riki keluar terlebih dahulu lalu berbelok ke kanan menuju kamarnya. Dibelakang Riki ada Sasya yang berjalan mengikuti langkah Riki.


"Kak Sya, mau kemana?" Tanya Jeni. Sasya dan Riki menghentikan langkah mereka bersamaan.


"Kamar kamu kan disana?" Kata Juna sambil menunjuk arah yang berlawanan.


Sasya tersadar lalu tiba-tiba saja dia merasa panik.


"Eh, iya..."


"Kak Sasya ngantuk ya? Ayo kita ke kamar." Kata Irene lalu menggandeng Sasya menuju kamar mereka.


Diikuti Jeni dan Juna yang berjalan di belakang mereka. Juna semakin merasa curiga pada Riki dan adiknya. Juna menatap Riki dengan tajam sebelum berjalan menuju kamarnya yang berada di samping kamar adik-adiknya.


Riki tersenyum pada Juna. Juna lalu berjalan meninggalkan Riki. Setelah Juna pergi, Riki dengan cepat melangkah memasuki kamarnya, lalu menutup pintu.

__ADS_1


Dia berdiri di belakang pintu sambil mengusap dadanya.


"Astaga, Juna begitu menakutkan, rasanya kayak dia bakal makan gue hidup-hidup."


__ADS_2