
Pagi hari sebelum berangkat kerja, Irene membantu Ibunya menyiapkan bahan masakan yang akan dimasak Ibunya. Sejak Ibu Irene sakit, dia tidak bekerja lagi di Catering Ibunya Digo. Sekarang Ibu Irene membuka catering sendiri di rumahnya. Memang baru hampir 2 minggu ini Ibu Irene memulai menerima pesanan, jadi belum banyak yang tahu. Awalnya memang baru sedikit, sehari 5 sampai 10 kotak makan siang, tapi lama kelamaan setelah banyak yang tahu bisa lebih dari 10 kotak dalam sehari.
Seperti hari ini, Ibu Irene sudah menerima pesanan 25 kotak untuk makan siang, termasuk untuk teman-teman Irene di kantor. Awalnya hanya teman-teman magangnya yang pesan saat tahu kalau Ibu Irene membuka catering, mereka memesan catering Ibu Irene karena malas untuk berjalan ke kantin yang jaraknya lumayan jauh dari kantor. Tapi mulai hari ini senior Irene, Airin juga ikut memesan karena dirinya sedang hamil dan tidak kuat lagi berjalan ke kantin.
Jadi pagi-pagi sekali Irene sudah bangun untuk membantu Ibunya menyiapkan bahan-bahan.
"Ren, sudah kamu mandi sana, nanti telat lho." Kata Ibu Irene.
"Iya, buk. Sebentar lagi selesai." Jawan Irene.
Setelah selesai mencuci dan memotong sayuran yang akan dimasak Ibunya, Irene lalu mengambil handuk dan segera mandi.
Setelah selesai bersiap, tak lama mobil Juna sudah masuk ke halaman rumah Irene.
"Ibuk, Irene berangkat ya, Bang Juna sudah datang." Teriak Irene dari luar kamar mandi, karena Ibu Irene sedang berada di dalam kamar mandi.
"Iya, sayang, hati-hati ya." Balas Ibu Irene yang juga berteriak dari dalam kamar mandi.
"Jangan lupa pesanan pesanan makan siang teman-teman Irene, 5 kotak ya, Buk. Kirim pakai ojek online aja." Teriak Irene lagi.
"Iya, Ibu ingat kok." Jawab Ibu Irene.
Irene langsung berlari keluar setelah mengambil tas dari kamarnya. Setelah sampai di luar dia langsung memasuki mobil Juna.
"Lho, kok langsung masuk? Abang belum pamit sama Ibu." Kata Juna saat melihat Irene masuk dan langsung memakai sabuk pengamannya.
"Ibuk lagi mandi, Bang, tadi udah Irene pamitin kok."
"Oh, ya sudah. Berarti kita langsung berangkat ya."
Juna lalu melajukan mobilnya menuju hotel tempat Irene bekerja.
Sampai di hotel, seperti biasa Juna hanya menurunkan Irene di depan pintu masuk karyawan.
"Makasih ya, Bang. Ini buat Abang." Kata Irene sambil menyerahkan 1 kotak makanan.
"Ini apa?" Tanya Juna.
"Salad buah, buatan Irene sendiri." Jawab Irene disertai senyum manisnya.
"Kamu tiap hari ngasih Abang makanan gratis, apa nggak rugi? Ibu kamu kan jualan, kamu malah ngasih gratisan." Tanya Juna.
"Rugi gimana? Abang tiap hari juga antar jemput Irene, Abang rugi nggak?"
"Ya nggak lah. Kan Abang sendiri yang mau." Jawan Juna.
__ADS_1
"Ya sama, Bang. Ini juga Irene sendiri yang mau. Jadi Irene nggak rugi sama sekali." Jawab Irene diakhiri dengan senyum manisnya lagi.
Melihat senyum Irene jantung Juna mulai berdegup tak karuan. Pagi-pagi sudah disuguhi senyuman manis dari Irene membuatnya merasa senang sekali.
"Irene masuk ya, Bang. "
"Hah? oh, iya." Jawab Juna yang masih mencoba menormalkan detak jantungnya.
Sampai di kantor, Irene langsung menuju meja kerjanya. Maura yang melihat Irene sudah datang langsung menghampiri Irene.
"Irene, gimana? Nanti sore jadi kan kamu anterin aku ke Mall?" Tanya Maura.
"Oh iya, aku lupa. Iya jadi, Ra. Aku juga ada sesuatu yang mau dibeli." Jawab Irene.
"Oke deh, jangan lupa bilang pacar kamu dulu, nggak usah jemput, karena kan kita mau pergi."
"Pacar mana coba? Aku nggak punya pacar." Jawab Irene dengan pipi yang bersemu.
"Cowok yang tiap hari jemput kamu?" Tanya Maura.
"Kan aku udah bilang, itu Abangnya sahabat aku, kita nggak ada hubungan apa-apa."
"Irene, mana ada cowok yang rela antar jemput cewek tiap hari kalau nggak ada hubungan apa-apa."
"Ya memang kita nggak ada hubungan apa-apa." Jawab Irene.
Maura lalu kembali ke mejanya, meninggalkan Irene yang masih bertanya-tanya sendiri pada hatinya.
"Irene." Panggil Airin. Lamunan membuat dia tidak sadar kalau Airin sudah berdiri di depan mejanya.
"Eh, iya, Mbak Airin."
"Pagi-pagi udah ngelamun." Goda Airin.
"Hehe... "Ada apa mba?" Tanya Irene.
"Gini, saya mau pesan 25 kotak makan siang untuk besok bisa? Saya mau bagi ke anak-anak kantor acara syukuran 7 bulanan saya."
"Mbak Airin sudah 7 bulan hamilnya? Wah sebentar lagi berarti ya, Mbak?" Tanya Irene.
"Iya, Ren. Makanya sudah berat banget ini buat jalan." Kata Airin sambil mengusap perut buncitnya.
"Hehe... Bisa-bisa, Mbak. 25 kotak ya?"
"Iya. Bisa ya, Ren? Besok langsung diantar ke kantor kan? Nggak perlu diambil?"
__ADS_1
"Iya, Mbak. Besok langsung diantar ke kantor aja pas makan siang." Jawab Irene.
"Oke deh, saya serahin ke kamu ya. Nanti totalnya berapa kamu kabarin saya." Kata Airin.
"Siap, Mbak."
Airin lalu kembali ke majanya.
"Syukurlah, ada tambahan pemasukan untuk Ibuk." Batin Irene sambil senyum sendiri.
Sorenya, sesuai janjinya dengan Maura, Irene pulang bersama Maura mampir ke Mall untuk membeli sesuatu. Sebelumnya tidak lupa dia mengirim pesan pada Juna untuk tidak perlu menjemputnya sore ini, karena dia punya rencana bersama Maura.
"Iya, hati-hati ya. Jangan lupa kabarin Abang kalau sudah sampai di Mall, pulangnya jangan kemalaman." Pesan Juna dalam chat.
"Iya, Bang." Jawab Irene setelah membaca pesan dari Juna.
"Sudah pamit sama pacar kamu?" Goda Maura saat menunggu taksi online di depan hotel.
"Udah dibilangin Bang Juna bukan pacar aku, Ra."
"Hahaha, gitu aja langsung merah pipi kamu, Ren. Memang bukan pacar, tapi kamu suka kan?" Goda Maura lagi.
"Ih, apaan sih, Maura." Pipi Irene semakin bersemu.
"Hahaha, kamu lucu banget sih, Ren." Maura tak bisa menahan tawanya melihat Irene menahan malu.
Juna melirik jam di tangannya. Sudah pukul 7 malam, dan dia baru saja selesai mengerjakan pekerjaannya. Hari ini dia harus lembur mengejar laporan untuk rapat besok pagi bersama dewan direksi mengenai pembukaan cabang baru di kota Surabaya.
Juna teringat kalau Irene juga sedang pergi bersama Maura ke Mall. Juna langsung mengirim pesan pada Irene.
"Dimana? Masih di Mall?" Tanya Juna.
Juna membereskan mejanya sambil menunggu balasan chat dari Irene.
Tak lama chat masuk dari Irene di ponsel Juna.
"Masih, Bang. Tapi ini sudah mau pulang." Jawab Irene.
Juna langsung membalas chat Irene.
"Tunggu disana, Abang jemput."
Tanpa menunggu balasan dari Irene, Juna langsung menyambar tasnya dan langsung keluar dari ruangannya.
"Nggak usah, Bang. Irene bareng teman Irene."
__ADS_1
Jawaban chat Irene yang tidak sempat terbaca oleh Juna karena Juna buru-buru menuju Mall untuk menjemput Irene