Kamulah Jodohku

Kamulah Jodohku
Sasya Sakit 2


__ADS_3

Sasya membuka mata dengan perlahan. Dia melihat langit-langit sebuah ruangan yang dia tidak kenal. Dia mencoba melihat sekeliling, sebuah ruangan yang juga tidak dia kenal.


Sasya mengengok ke samping kanannya, dia melihat ada botol infus dengan selang yang mengulur ke tangannya. Kepalanya kembali berputar. Dia memegangi kepalanya.


"Morning, Princess." Sapa seorang laki-laki dari sebelah kiri Sasya.


"Riki." Kata Sasya pelan.


Riki yang duduk di kursi di samping kasur Sasya tersenyum melihat Sasya yang sudah sadar.


"Kamu udah bangun?"


"Aku di Rumah Sakit?" Tanya Sasya.


Riki mengangguk.


"Gimana bisa aku disini"? Tanya Sasya bingung.


"Kamu lupa? Aku yang gendong kamu." Kata Riki.


Sasya mengerutkan dahinya. Dia benar-benar tidak sadar bagaimana dia bisa sampai disini.


"Udah nggak usah dipikirin. Yang penting kamu istirahat biar cepat sembuh" Kata Riki mengusap pucuk rambut Sasya.


"Kak, jangan bilang Kak Juna ya."


"Iya, aku tahu." Jawab Riki sembari berdiri. "Udah kamu tidur lagi, aku disini kalau kamu perlu apa-apa." Kata Riki lalu merapikan selimut Sasya.


"Kamu kenapa baik banget sih sama aku?" Kata Sasya pelan, tapi Riki masih bisa mendengarnya.


"Kenapa? Biar kamu baper." Jawab Riki dengan senyum manisnya.


"Kalau kamu kayak gini aku bisa beneran baper." Kata Sasya dengan suara semakin pelan sambil memalingkan wajahnya dari Riki.


"Apa?" Tanya Riki. Kali ini Riki tidak mendengar dengan jelas.


Sasya menggeleng. Riki lalu duduk lagi di tempatnya yang tadi.


GUBRAAAKK!


Riki dan Sasya langsung menoleh ke arah pintu.


"Sasya! Lo nggak papa kan?" Teriak Hana sambil berlari ke arah Sasya. Hana langsung memeluk tubuh Sasya sambil nenangis.


"Gue nggak papa, lo nggak usah lebay deh." Kata Sasya mengelus punggung sahabatnya yang sedang menimpanya itu.


Hana lalu melepas pelukannya, dia berdiri di samping Riki.


"Aku langsung ijin pulang waktu Kak Riki bilang bawa kamu ke Rumah Sakit karena kamu pingsan." Hana masih sesenggukkan.


Sasya tersenyum.


"Makasih ya, udah khawatir sama aku." Kata Sasya.


Hana memukul lengan Sasya.

__ADS_1


"Auw!" Pekik Sasya.


"Jelas khawatir lah, dari pagi udah lemas, bilang mual sampai nggak mau makan. Aku di kantor sampai nggak bisa konsen kerja tahu nggak." Kata Hana.


"Maaf, ya. Sekarang kamu lihat kan aku nggak papa."


"Sampai dirawat disini ya berarti kenapa-napa, Quanesya Maharani." Kata Hana lagi dengan memanggil nama lengkap Sasya karena kesal.


"Sasya nggak papa, tadi dokter bilang juga dia sudah boleh pulang, tapi aku yang minta dia dirawat disini, biar dipantau semalam lagi, kalau memang sudah benar sehat, besok baru pulang." Kata Riki menjelaskan.


"Apa?!" Teriak Sasya dan Hana bersamaan.


Riki memasang wajah tidak bersalah.


"Sasya." Panggil seseorang yang sedang berdiri di ambang pintu.


"Rafa? Ngapain kamu kesini?"


Riki dan Hana bersamaan melihat ke arah pintu.


"Raf, lo datang." Kata Hana, lalu menghadap pada Sasya. "Gue yang ngabarin Rafa kalau lo di Rumah Sakit." Kata Hana.


"Sepertinya kalian berdua perlu bicara." Kata Riki.


Riki lalu memberi kode pada Hana untuk ikut dengannya keluar dari kamar Sasya. Hana pun mengikuti Riki di belakangnya.


Tinggalah Sasya dan Rafa berdua. Sasya mencoba bangun untuk duduk. Rafa dengan sigap membantunya, menaikkan kasur Sasya lalu memberikan bantal di punggung Sasya agar Sasya merasa nyaman. Sasya hanya diam saja.


"Kamu mau apa kesini?" Tanya Sasya.


"Udah kan? Aku baik-baik aja, kamu boleh pergi."


"Sya, aku minta maaf. Aku sadar aku salah, aku juga nggak akan jelasin apa-apa karena kamu pasti nggak percaya sama aku." Kata Rafa lalu memegang tangan Sasya.


Sasya masih terdiam.


"Aku tahu kamu lihat aku sama Mira kemarin. Aku juga lihat kamu pergi sama Riki. Tapi itu nggak seperti yang kamu pikirkan."


"Memang apa yang aku pikirkan? Kalau kamu terpaksa menerima ciuman dari Mira karena kamu tidak bisa menolak."


"Sya, aku langsung menolak, aku sendiri kaget waktu dia cium pipi aku, aku coba sabar karena aku mau memberitahunya dengan pelan di dalam mobil bahwa yang dia lakukan salah, tapi dia malah cium aku lagi, saat itu juga aku langsung melepasnya. Dan saat itu pula aku lihat Riki meluk kamu."


"Aku nggak bisa, Raf. Aku nggak bisa terus-terusan kayak gini. Aku nggak bisa terus berpura-pura baik-baik saja saat kamu dekat dengan perempuan lain. Aku nggak kuat, Raf..."


Tangis Sasya pecah. Rafa mencoba memeluk Sasya, tapi Sasya langsung menjauh. Rafa sadar dia telah menyakiti Sasya terlalu dalam. Rafa sangat menyesal.


Sementara di luar, Hana dan Riki duduk di kantin sambil memesan minuman.


"Kamu udah bawakan baju ganti Sasya kan?" Tanya Riki pada Hana.


"Udah, Kak." Jawab Hana.


Lalu pelayan mengantar minuman ke meja mereka.


"Terimakasih." Kata Riki dan Hana bersamaan pada pelayan itu

__ADS_1


"Sebenarnya Sasya kenapa sih? Pasti terjadi sesuatu deh antara dia sama Rafa, apa dia lihat Rafa sama Mira lagi ngapain gitu ya, makanya dia jadi sakit gini." Kata Hana sambil mengaduk-aduk es tehnya.


"Memang Sasya sering gini?" Tanya Riki. Dia sadar kalau Hana belum mengetahui yang sebenarnya terjadi.


"Iya, Sasya kalau kepikiran tuh pasti sampai sakit, maag nya kumat, tiap habis berantem sama Rafa pasti dia sakit." Jawab Hana.


"Berantem gara-gara hal yang sama?" Tanya Riki lagi.


"Rafa itu sebenarnya anak baik, dia baik sama semua orang, cuma kekurangannya 1, dia tidak bisa menolak, termasuk sama perempuan-perempuan yang dekatin dia."


"Jadi Rafa sering selingkuh?"


"Bukan selingkuh, dia cuma nggak bisa nolak perempuan yang dekatin dia. Dia selalu berpikir kalau dia menganggap semuanya sama, hanya teman. Tapi yang dipikirkan Sasya jelas beda."


"Kalau dia menganggap semua sama, berarti Sasya juga sama? Nggak ada bedanya dong pacar sama teman?" Kata Riki.


"Iya, itu yang sering Sasya bilang, kalau dia bukan wanita spesial buat Rafa, karena yang dilakukan Rafa ke dia sama kayak yang dia lakukan ke perempuan lain. Harusnya pacar dapat perlakuan beda dong dari perempuan lain." Kata Hana.


Tanpa sadar Hana telah menghabiskan 1 gelas es teh karena bercerita dengan semangat. Dia lalu mengaduk-aduk es batu yang tersisa di gelasnya.


"Mau tambah lagi minumannya?"


"Hehe, boleh, Kak. Aku haus." Jawab Hana cengengesan.


Riki lalu memesan 1 gelas es teh lagi untuk Hana.


"Kak Riki, aku boleh tanya nggak?" Tanya Hana dengan hati-hati.


"Boleh." Jawab Riki singkat.


"Kak Riki suka sama Sasya?"


"Hm." Jawab Riki, lalu meminum es tehnya.


"Hah?" Hana terkejut.


"Kenapa?" Riki menatap Hana.


"Tunggu, 'Hm' itu maksudnya apa? Kak Riki suka sama Sasya?"


"Iya. Aku suka sama Sasya."


"Hah?" Hana terkejut untuk yang kedua kalinya.


"Kurang jelas?"


"Maksud aku, Kak Riki tetap suka sama Sasya walaupun Kak Riki tahu Sasya punya pacar?"


"Iya. Memang kenapa?"


"Sejak kapan, Kak? Sudah lama? Soalnya setahu aku kan Sasya pacaran sama Rafa sejak mereka masih SMA."


"Entahlah, aku juga nggak tahu mulai kapan aku suka sama Sasya." Kali ini Riki yang menghabiskan es tehnya, lalu memainkan es batu yang tersisa di gelasnya.


"Mau pesan lagi, Kak?" Tanya Hana.

__ADS_1


__ADS_2