
"Aku akan antar kau pulang..." ucap Aron yang sedang menyetir mobilnya.
"Tidak usah, berhenti di sini saja. Aku bisa pulang sendiri!" ucap Hana yang masih kesal.
Mobil pun berhenti.
"Ya, sudah turunlah." sahut Aron.
"Maksud ku berhenti di depan halte bis, di sini mana mungkin..."
"Kata kau berhenti di sini, ya aku berhenti lah."
Emosi Hana sudah meletup-letup, mungkin ibarat gunung berapi kini kepala nya sedang mengeluarkan magma. Akhirnya dia turun juga dari mobil Aron, mengerucutkan bibirnya memasang wajah tanda kesal.
Aron juga ikut keluar, ditarik nya tangan Hana untuk kembali masuk ke dalam mobilnya.
"Kenapa kau menarik tangan ku, sakit tahu," suara Hana meringis kesakitan saat tangan nya di tarik Aron.
"Jangan banyak tanya."
"Sudahlah, cepat turunkan aku kembali!" gertak Hana pada Aron.
Aron masih saja tidak bergeming dan malah melajukan mobilnya kembali, sepanjang jalan Hana banyak bicara.
__ADS_1
"Hana jika kau terus banyak bicara, aku tidak akan segan-segan membungkam bibir mu dengan ini," tunjuk Aron ke bibirnya sendiri.
Raut wajah Hana langsung berubah, pipinya memerah mendengar ucapan Aron barusan. Dia langsung menutup mulut dengan tangan nya.
Aron hanya memasang senyum evil nya kembali, kali ini dia membuat Hana benar-benar diam.
"Nah, kalau begini kan lebih baik. Tapi jika kau terus bicara, juga tidak apa-apa. Aku siap membungkam nya." sebuah senyum Aron yang tampak menggoda Hana.
"Tidak, aku akan diam." ucap Hana yang sekarang menutupi seluruh wajahnya.
******
"Om, Tante, sedari tadi aku menghubungi Aron tapi ponselnya tidak aktif," Sena terlihat menggigit bibir nya.
"Katanya dia memang tidak pulang hari ini, nanti juga aktif kok ponsel nya, tunggu saja Sena." kedua suami-istri itu memberi pengertian pada Sena, yang sedari tadi menghubungi Aron.
Orang tua Aron saling menatap satu sama lain, mereka tidak tahu apa yang harus mereka katakan pada Sena.
"Begini nak Sena, jujur kami sampai saat ini juga tidak tahu apartemen yang Aron tinggali. Karena dia tidak pernah membicarakan nya, dia sangat merahasiakan tempat persembunyian nya," penjelasan ibu Aron pada Sena. "Katanya jika dia sudah ke apartemen, itu artinya dia tidak ingin di ganggu."
Penjelasan kedua orang tua Aron sungguh tidak masuk akal bagi Sena, bagaimana bisa Aron menyembunyikan tempat tinggal apartemen nya kepada kedua orang tua nya.
"Lebih baik kau hubungi Kevin, sekretaris Aron. Aku rasa dia tahu," usul Tuan Atalla.
__ADS_1
Langsung lah Sena menghubungi Kevin, dia sudah mengetahui nomor Kevin semenjak dia mau di jodohkan Aron.
Dalam percakapan lewat telepon, Sena masih belum bisa mendapatkan alamat apartemen Aron. Karena Kevin bilang 'Maaf nona aku tidak bisa sembarang memberi tahu, alamat Tuan Muda.'
Sena bertambah kesal apa maksud semua ini, sebegitu kah Aron memperlakukan nya. Sampai-sampai alamat tempat tinggal nya saja tidak mau dia beritahu.
******
Aron kemudian mengecek ponselnya, sedari tadi dia mengabaikan ponselnya tersebut. Dilihat lah sudah banyak panggilan maupun pesan yang masuk ke ponselnya. Alis nya sedikit naik ketika semua panggilan dan pesan tersebut ternyata dari Sena, bola matanya sedikit berputar, ponsel nya langsung dihempaskan ke sofa. Kini dia kembali sendiri pulang dengan banyak membawa barang ke apartemen nya, sedangkan Hana telah dia antar pulang. Meski selama perjalanan tadi dia terus menahan tawa dengan tingkah laku Hana.
Ponsel nya kembali berdering, pasti pikir nya yang menelepon adalah Sena.
"Kevin, aku kira Sena."
Dijawab nya lah panggilan tersebut.
"Tuan, gawat sedari tadi nona Sena menelepon ku. Meminta alamat apartemen Tuan Muda," suara Kevin terlihat cemas.
"Bilang padanya, tidak usah capek-capek mencari alamat ku. Aku tidak mau di ganggu, lagian nanti aku akan kembali kerumah." perintah Aron pada Kevin.
Panggilan itupun di akhiri. Kali ini ponsel Aron benar-benar dia matikan, dia tidak mau ada panggilan apalagi itu dari Sena yang terus mengganggu nya.
"Belum juga merasa senang sebentar, wanita ini malah mengganggu ku," gumam Aron menggerutu.
__ADS_1
******
Bersambung...