Kamulah Jodohku

Kamulah Jodohku
Juna Membaik


__ADS_3

"Juna!" Teriak Riki.


Riki memegang tangan Juna yang sedang memegang pisau yang sudah tertancap di perutnya.


Juna melirik Brian.


"Kita harus cepat bawa Juna ke rumah sakit." Kata Brian.


Riki dan Brian memapah Juna membawa Juna masuk ke mobil Riki.


"Lo yang nyetir, Bri!" Riki memberikan kunci mobilnya pada Brian. Brian langsung masuk ke pintu kemudi.


Gery menyusul dari belakang.


"Ger, lo tetep disini, awasi orang itu, jangan sampai lolos." Titah Ríki.


"Arya juga udah lapor ke polisi." Jawan Gery.


"Pastikan dia sampai ke kantor polisi, dia harus membayar semua perbuatannya pada Juna." Kata Riki lagi.


"Oke!" Jawab Gery.


Riki lalu duduk di belakang memegangi Juna, sedangkan Brian sudah duduk di belakang kemudi mobil Riki dan langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit.


Beruntung jarak dari Cafe ke rumah sakit tidak jauh. Brian dan Riki langsung memapah Juna ke ruang IGD, dan menyerahkan Juna kepada suster dan dokter disana.


"Tolong teman kami, Dok, perutnya ditusuk." Kata Brian pada laki-laki yang memakai jas putih.


"Baik, silahkan tunggu disana." Kata Laki-laki berjas putih itu dan langsung membawa Juna ke ruang tindakan.


Riki dan Brian duduk di kursi tunggu dengan gusar.


"Kita harus hubungi keluarga Juna." Kata Brian.


Riki lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seeorang.


"Lo telepon siapa?" Tanya Brian.


"Sasya." Jawab Riki.


30 menit kemudian Sasya sampai di rumah sakit, dia langsung menuju ruang IGD sesuai arahan Riki.


Riki melihat kedatangan Sasya, lalu menghampiri Sasya.


"Sya." Panggil Riki.


"Bang juna dimana? Gimana keadaannya?" Tanya Sasya panik.


"Juna sedang ditangani dokter." Jawab Riki.


"Gimana ceritanya? kecelakaan dimana?" Tanya Sasya lagi.


"Juna sebenarnya ditusuk sama orang."


"Apa?!" Sasya tiba-tiba merasa lemas. Riki berusaha menahan Sasya agar tidak jatuh.


"Kenapa Abang bisa ditusuk?" Tanya Sasya dengan air mata sudah mengalir deras di pipinya.


Brian datang menghampiri mereka, lalu membantu Riki menuntun Sasya duduk di kursi tunggu.


"Maaf, Sya. Ini salahku." Kata Riki.

__ADS_1


Sasya menangis kencang.


"Abaaang..."


Riki membawa Sasya ke dalam pelukannya.


Brian hanya bisa menepuk-nepuk pundak Sasya untuk menenangkannya.


Beberapa jam kemudian dokter keluar dari ruang tindakan. Sasya, Riki dan Brian langsung berlarian menghampiri Dokter itu.


"Dokter, gimana keadaan teman saya?" Tanya Riki.


"Pisau di perutnya sudah dicabut, beruntung luka tusukan tidak terlalu dalam dan tidak terlalu banyak mengeluarkan darah, sekarang keadaanya sudah stabil, tapi masih harus tetap dipantau, jadi saran saya pasien dirawat inap selama 2-3 hari." Jawab Dokter itu.


"Syukurlah, terimakasih, Dok." Jawab Riki.


Sasya terlihat sangat lega mendengar penjelasan dari Dokter, dia lalu terduduk lemas di kursi.


"Rik, biar gue yang urus untuk rawat inap Juna, lo jagain Sasya, dia kelihatannya masih syok." Kata Brian.


"Ya, thanks, Bri." Jawab Riki.


Dia lalu duduk di samping Sasya dan merangkulnya.


"Juna baik-baik saja. Kamu bisa tenang sekarang." Kata Riki sambil mengusap lengan Sasya.


Tanpa sadar Sasya meletakkan kepalanya di pundak Riki dan memejamkan matanya. Riki mencium pucuk kepala Sasya.


Tak disangka, ternyata Rafa melihat Sasya dan Riki dari kejauhan. Dia sengaja memutuskan untuk menyusul Sasya setelah menyanyikan lagu keduanya karena dia melihat Sasya sangat panik tadi setelah mendengar kabar soal Abangnya. Rafa berpamitan pada manajernya yang tak lain adalah Mira. Mira pun mengijinkan tapi dengan syarat dia yang mengantarnya. Lalu disinilah Rafa dan dia harus melihat kedekatan antara Sasya dan Riki.


Rafa menghampiri Sasya dan Riki.


"Sya." Panggil Rafa.


"Rafa..."


"Aku khawatir sama kamu, tadi kamu langsung pulang gitu aja." Kata Rafa.


"Hm, aku nyusul Brian dulu." Pamit Riki yang mencoba memberikan ruang untuk Sasya dan Rafa.


Rafa menjawab Riki dengan senyuman.


Setelah kepergian Riki, Rafa lalu mengambil tangan Sasya dan menggenggamnya.


"Kamu nggak papa? Gimana keadaan Abang kamu?" Tanya Rafa.


"Abang sudah dioperasi, ternyata Abang ditusuk sama orang." Jawab Sasya.


"Apa? Kok bisa? terus gimana? Orangnya sudah ketangkap kan?"


"Aku nggak tahu, yang jelas orang yang nusuk Abang sudah diamankan polisi dan teman-teman Abang yang mengurusnya. Aku cuma mau fokus sama Abang, aku takut dia kenapa-napa." Kata Sasya sambil menangis.


Rafa mengusap air mata di pipi Sasya.


"Kamu yang sabar ya, sekarang kondisi Abang kamu gimana?"


"Abang baru selesai di operasi, katanya sekarang sudah stabil, bisa dipindah ke ruang rawat inap." Jawab Sasya.


"Syukurlah kalau Abang kamu nggak papa. Aku khawatir sama kamu." Kata Rafa lalu memeluk Sasya.


"Rafa." Panggil seseorang dari belakang Rafa.

__ADS_1


Rafa mengurai pelukannya, lalu menengok ke belakang. Ternyata Mira sedari tadi sudah berdiri di belakang mereka. Mira menunjuk jam tangannya pada Rafa sebagai isyarat bahwa mereka harus segera pergi.


"Sya, maaf ya aku nggak bisa nemenin kamu disini. Aku harus pergi. Karena sebentar lagi aku ada jadwal interview di radio." Kata Rafa berpamitan pada Sasya. Tangannya masih menggenggam tangan Sasya. Sasya menengok ke arah belakang Rafa. Dia melihat Mira sedang tersenyum padanya.


Sasya lalu menatap Rafa lagi.


"Aku ngerti kok. Ya sudah kamu pergi sana, nanti telat." Jawab Sasya.


Rafa lalu mencium kening Sasya.


"I love you" Kata Rafa pelan.


"I love you too." Jawab Sasya sambil tersenyum.


Rafa lalu meninggalkan Sasya dan menghampiri Mira. Dari kejauhan Mira melambaikan tangannya pada Sasya. Sasya pun membalas melambaikan tangannya pada Mira.


Juna saat ini sudah berada di ruang perawatan. Sasya duduk di samping Juna sambil menatap Juna dan memegangi tangannya. Brian dan Riki berdiri di sisi satunya.


Tak lama Juna membuka matanya. Sasya langsung berdiri dan mendekatkan wajahnya pada Juna.


"Bang, Abang nggak papa?" Tanya Sasya.


Juna tersenyum.


"Kamu kenapa nangis? Abang nggak papa." Jawab Juna.


Sasya lalu memukul lengan Juna.


"Aduh, sakit, Sya." Kata Juna memegangi perutnya yang baru saja dijahit sambil meringis kesakitan.


"Sya kan pukul tangan Abang, kenapa perutnya yang sakit?" Tanya Sasya.


"Kamu kan tahu Abang habis dijahit, sakit semua badan Abang." Jawab Juna.


"Makanya nggak usah sok jagoan pakai lawan orang mabuk segala." Kata Sasya kesal.


"Siapa yang tahu kalau dia bawa pisau." Jawan Juna lagi.


Brian dan Riki hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua kakak beradik itu.


"Oh ya, gimana orang mabuk itu? Sudah diserahkan ke polisi kan?" Tanya Juna pada Riki dan Brian.


"Sudah. Coba gue tanya perkembangannya lagi ke Gery." Kata Brian lalu dia mengambil ponselnya dan menghubungi Gery.


"Halo, Ger..." Brian berjalan keluar kamar.


"Sya, kamu belum bilang sama Papa Mama kan Abang disini?" Tanya Juna pada Sasya lagi.


"Oh iya, belum." Sasya lalu berbalik hendak mengambil ponselnya.


"Eh, tunggu." Juna menarik tangan Sasya. "Nggak usah bilang mereka."


"Kenapa, Bang?"


"Nggak usah, nanti mereka khawatir. Nanti Abang telepon Mama kalau Abang menginap di rumah Riki. Kamu pulang ya sama Brian." Titah Juna.


"Nggak mau, Sasya mau disini nemenin Abang." Sasya merajuk.


"Sya, ada aku. Biar aku yang nemenin Juna. Kamu pulang aja." Kata Riki.


"Nggak mau. Sya juga mau telepon Mama kalau Sya nginap di rumah teman Sya."

__ADS_1


"Ya sudah terserah kamu." Jawab Juna.


Sasya lalu mengambil ponselnya dan keluar dari kamar untuk menghubungi Mamanya.


__ADS_2