Kamulah Jodohku

Kamulah Jodohku
Pecel lele


__ADS_3

Juna menatap makanan yang sudah tersedia di depannya. Satu piring nasi putih panas dan satu piring berisi ayam dengan sambal bawang diatasnya.


"Ayo dimakan, Bang." Kata Irene.


"Ha? Eh, iya." Juna sangat kikuk bagaimana dia harus makan makanan di depannya itu. Dilihatnya Irene melebarkan dan menekan-nekan nasi panas dipiringnya hingga mengeluarkan asap di atas piring. Irene mulai mencuili daging ayam dan mencocolnya dengan sambal, lalu menaruh di atas nasi. Setelah itu Irene menyuapkan ke dalam mulutnya.


Juna mengikuti cara makan Irene. Pelan-pelan dia melebarkan nasi di piringnya, lalu mencuili daging ayam, dicocol sambal, taruh diatas nasi, lalu disuapkan ke mulutnya. Sensasi yang dia rasakan pertama kali adalah panas dan pedas menyatu dalam mulutnya.


"Huuuufff..." Juna meniupkan asap dari mulutnya.


"Kepedesan ya, Bang?"


"He em, pedes... panas..." Jawab Juna sambil mengipas-ngipas mulutnya.


Irene tertawa melihat tingkah Juna.


"Maaf ya, Bang. Tadi Irene pesannya memang sambalnya yang level 5, Irene nggak tahu kalau Bang Juna nggak suka pedas. Apa mau Irene pesanin lagi yang level 2 aja?"


"Nggak, nggak usah. Abang suka pedas kok, cuma campur panas aja jadi gini." Jawab Juna sambil terus ber huh hah ria.


Juna terlihat semangat sekali melahap pecel lele pedas yang dipesan Irene, ini adalah kali pertamanya dan dia sangat menyukainya. Rasanya tidak kalah dengan ayam goreng yang ada di restoran. Juna sangat menikmatinya, hingga bercucuran keringat, mengalir dari kening ke pipinya.


Irene melihat Juna sibuk mengelap keringat dengan kemejanya, hingga akhirnya dia berinisiatif mengambil tisu dan mengelap keringat di wajah Juna. Irene menemplekan tisu di kening Juna, lalu menepuk-nepuk pelan hingga ke pipi Juna. Juna sempat terdiam melihat tindakan yang dilakukan Irene. Dia menatap wajah Irene yang begitu manis memperlakukan dirinya dengan sangat hangat.


"Eh, maaf, Bang. Irene cuma mau ngelap keringat Abang." Kata Irene yang sadar dirinya dari tadi ditatap oleh Juna.


"Makasih ya." Jawab Juna.


Irene pun tersenyum.


Juna dan Irene telah menghabiskan makanannya.


"Mas, pesan 1 lagi dibungkus ya." Kata Irene pada penjualnya.


"Kamu belum kenyang?" Tanya Juna.


"Bukan buat Irene, tapi buat Ibuk." Jawab Irene.


Juna menghampiri penjualnya, dia mengeluarkan dompet dari saku celananya, lalu mengeluarkan 1 lembar uang untuk membayar. Irene dengan cepat menahan tangan Juna.


"Bang, kan Irene bilang Irene yang traktir, biar Irene yang bayar ya." Irene lalu mengeluarkan dompet daei tasnya.

__ADS_1


"Nggak usah, Abang aja." Kata Juna lalu menyerahkan uangnya pada penjualnya.


"Nggak, Irene aja, Bang."


"Simpan uang kamu. Kamu bisa traktir Abang besok kalau kamu sudah gajian." Kata Juna. Lalu memberikan bungksan pecel lele pesanan Irene untuk Ibunya.


Irene pun mengalah lagi. Juna mengambil tangan Irene lalu menggandengnya selama berjalan menuju mobil.


"Masuk." Kata Juna ditambah senyuman manis.


Irene pun menuruti Juna.


Jalanan sudah mulai sepi, Juna melajukan mobinya dengan lenggang. Tak sampai 30 menit mobilnya sudah memasuki halaman rumah Irene.


"Masuk dulu, Bang." Ajak Irene.


"Iya, Abang mau ketemu Ibu kamu juga, tadi pagi kan nggak ketemu."


Mereka pun memasuki rumah dan disambut oleh Ibu Irene yang berjalan memakai kruk.


"Lhoh, kok bisa bareng nak Juna?" Tanya Ibu Irene yang kaget melihat Juna.


"Iya, Bu. Tadi saya sengaja jemput Irene. Dan maaf kalau kemalaman, karena jalanan macet, jadi kami mampir makan dulu." Kata Juna.


"Ya ampun jadi repot Nak Juna. Terimakasih ya." Kata Ibu Irene sambil mengusap lengan Juna.


"Sama-sama, Bu. Saya nggak merasa repot kok. Saya mau langsung pamit ya, Bu." Kata Juna lalu mencium tangan Ibu Irene.


"Iya, Nak. Sekali lagi terimakasih ya, sudah mengantar Irene sampai rumah, dan masih membelikan makan malam untuk Ibu." Kata Ibu Irene.


"Iya, Bu. Ren, Abang pulang dulu ya." Pamit Juna.


Irene lalu mengantar Juna sampai mobil.


"Hati-hati ya, Bang. Terimakasih buat makan malamnya, dan juga sudah antar jemput Irene."


"Sama-sama. Besok Abang jemput lagi ya."


"Nggak usah, Bang..."


"Pokoknya jangan berangkat dulu sebelum Abang datang." Ancam Juna sebelum Irene menyelesaikan perkataannya. Juna mengusap kepala Irene, lalu memasuki mobilnya.

__ADS_1


Lagi-lagi Irene hanya bisa pasrah. Dia tidak bisa apa-apa selain menuruti perkataan laki-laki di hadapan itu.


Sasya berbaring dikasurnya sambil menatap ponsel di tangannya yang ada tepat di atas wajahnya.


1 chat untuk Rafa yang sejak tadi siang dia kirim belum dibalas, bahkan dibaca pun belum.


Sasya menarik nafas panjang. Lalu meletakkan ponselnya kembali ke nakas.


"Benar kata Riki, punya pacar tapi berasa nggak punya. Sabar, Sya. Rafa itu sibuk rekaman album, jangan baper deh. Tar juga kalau dia udah nggak sibuk pasti dibalas." Kata Sasya berusaha menenangkan hatinya sendiri.


Sasya mengambil ponselnya lagi, dia lalu iseng membuka sosial medianya. Membaca 1 per satu postingan di beranda medsosnya. Tiba-tiba ada 1 postingan yang membuatnya seketika membelalakkan matanya. Dia membuka postingan itu. Terdapat foto Rafa bersama 2 orang laki-laki dan 1 perempuan di dalam studio rekaman dengan caption,


"Terimakasih atas bantuan dan dukungan kalian, love u."


3 hour ago.


"What, 3 jam yang lalu. Dia sempat posting di sosmed tapi nggak sempat balas chat gue." Sasya mulai kesal.


Dilihatnya lagi foto Rafa bersama teman-temannya itu. 2 laki-laki di sebelah kanannya sama sekali tidak di kenal, tapi 1 perempuan disamping kirinya yang sedang merangkulnya sangat dia kenal, Mira.


"Oh, jadi gara-gara lagi sama Mira, sampai nggak sempat balas chat gue." Sasya tambah kesal.


"Sabar, Sya. Jangan berpikiran negatif dulu. Siapa tahu memang foto itu diambil di sela-sela kesibukannya, lalu setelah itu mereka kembali rekaman lagi. Ayo, Sya. Nggak usah diambil pusing." Kata Sasya mencoba menenangkan hatinya lagi.


Tok tok.


Sasya menengok arah pintu kamarnya, lalu seseorang muncul di balik pintu.


"Sya, cari makan yuk, gue laper." Kata Hana dari balik pintu.


"Nggak ah, gue nggak laper, lo sama anak-anak yang lain aja." Kata Sasya sambil terus memegangi ponselnya.


"Masih nungguin chat dari Rafa?" Tanya Hana.


Sasya mengangguk.


"Yaudah deh, gue sama anak-anak aja, lo mau nitip nggak? gue bungkusin?" Tanya Hana lagi.


"Nggak usah." Jawab Sasya.


"Oke."

__ADS_1


Hana lalu menutup pintu kamar Sasya kembali.


Sasya lama bergelut dengan hatinya, sambil terus menunggu balasan chat dari Rafa. Sampai akhirnya rasa kantuk mulai mendatanginya, hingga matanya tidak kuat lagi untuk membuka. Sasya pun tertidur sambil memeluk ponselnya.


__ADS_2