
2 jam sebelum kecelakaan Juna.
Juna berpamitan pada Irene karena Irene harus membantunya Ibunya menyiapkan bahan masakan untuk besok pagi.
"Kalau gitu Abang pulang ya."
"Iya, Maaf ya, Bang. Irene nggak bisa nemenin Abang lebih lama lagi, Irene harus bantuin Ibuk."
"Nggak papa, ini Abang juga nggak langsung pulang kok, mau nongkrong dulu sama anak-anak." Jawab Juna.
"Nongkrong? Dimana? Sama siapa?" Tanya Irene.
"Hmm, pacar Abang mulai posesif nih..." Goda Juna.
"Ih, posesif apa sih? Irene kan cuma pengen tahu. Yaudah kalau nggak mau bilang juga nggak papa kok." Kata Irene lalu memalingkan wajahnya.
"Iiih, gitu aja ngambek." Juna lalu menarik tangan Irene agar menghadap padanya lagi. "Abang mau nongkrong di Cafe sama Riki, Gery dan Brian." Jawab Juna.
"Cafe mana?" Tanya Irene lagi.
Juna terkekeh.
"Kok malah ketawa sih, yaudah sana kalau mau pergi." Kata Irene kesal.
"Iiih, ngambekan ih. Abang cuma baru tahu aja rasanya diposesifin tuh kayak gini ya."
"Irene nggak posesif ya, Irene cuma..."
"Cuma pengen tahu." Potong Juna. "Iya deh, Abang nongkrong di Cafe biasa, Cafe temennya Gery, yang dulu kamu sama Jeni dan Sasya pernah Abang ajak kesana." Jawab Juna.
"Ooh..." Jawab Irene santai.
"Ooh? Gitu aja?" Tanya Juna yang membuat Irene bingung.
"Kenapa emang? Kan irene tadi bilang cuma pengen tahu, sekarang Irene udah tahu, ya udah dong." Jawab Irene.
"Yaudah kalau udah puas. Abang pulang ya?" Pamit Juna lagi.
"Katanya mau nongkrong dulu?"
"Iya deh, Abang nggak pulang, tapi nongkrong dulu. Udah puas?"
Irene tersenyum.
"Hati-hati ya, kabarin Irene kalau udah sampai."
"Iya, sayang." Jawab Juna. Irene terdiam mendengar Juna memanggilnya dengan kata 'sayang'.
Cup.
Satu kecupan mendarat di kening Irene.
Irene mendongakkan kepalanya dan manatap Juna yang sedang tersenyum padanya.
Cup.
Satu kecupan lagi mendarat di bibir mungilnya.
"Abang!" Teriak Irene langsung memegang bibirnya.
"Hehe... Yaudah ah Abang pulang, lama-lama disini bisa bahaya." Kata Juna lalu pergi meninggalkan rumah Irene dan langsung masuk ke mobilnya. Irene lalu lari masuk ke dalam rumah. Juna terkekeh melihat tingkah Irene.
__ADS_1
Juna pun lalu melajukan mobilnya ke Cafe dimana dia dan teman-temannya janji bertemu.
Sampai di Cafe, Juna melihat Riki, Gery dan Brian yang sudah duduk di tempat biasa mereka kumpul.
"Yang lagi sibuk pedekate, telat banget datengnya." Goda Riki.
"Siapa yang pedekate? Juna? Sama siapa?" Tanya Gery kepo.
"Iya, tuh orangnya." Riki menunjuk Juna yang sedang berjalan ke arah mereka dengan dagunya.
"Arjuna mencari cinta dong." Kata Brian.
Juna lalu mendorong kepala Brian dengan tangannya.
"Aduh!" Pekik Brian.
"Siapa yang mencari cinta? Siapa yang pedekate?" Tanya Juna.
"Noh, Riki yang ngomong, gue yang dijenggung." Kata Brian kesal.
"Lha iya kan? Bukannya lo lagi pedekate?" Tanya Riki.
"Sama siapa sih?" Gery udah sangat kepo.
"Itu temennya Jeni." Jawab Riki.
"Irene?" Tanya Gery memastikan.
Riki mengangguk.
"Irene yang manis, kecil, imut itu?" Tanya Gery lagi.
Kali ini Juna mendorong kepala Gery.
"Siapa suruh lo muji-muji pacar gue?" Kata Juna.
"Pacar?!" Ketiganya terkejut.
"Iya, udah selesai pedekatenya, sekarang uda jadi pacar gue, kenapa? Awas aja lo berani deketin dia." Juna memperingatkan.
"Set dah, baru juga jadian udah posesif banget lo." Protes Brian.
"Tenang aja, gue nggak bakalan deketin pacar lo. Tapi ngomong-ngomong, Kalau Irene udah jadi pacar lo, berarti gue deketin Jeni aja ya, boleh kan?" Tanya Gery.
"Nih, kalau berani." Kata Juna sambil menunjukkan kepalan tangannya di depan wajah Gery. "Lo bertiga, cari cewek lain aja, jangan deketin adek-adek gue, nggak sudi gue punya adik ipar kayak kalian." Kata Juna lagi.
"Eh, atas dasar apa lo langsung nggak setujuin? Kita cowok baik-baik kalik." Kata Gery sewot.
"Baik-baik apaan? Emang gue nggak tahu track record kalian? Pacar dimana-mana." Jawab juna.
"Sembarangan lo, jangan jatuhin pamor kita dong, gini-gini kita orangnya setia." Kata Gery.
"Iya, cuma belum ada yang mau aja sama kita, hahaha..." Tambah Brian.
Mereka pun tertawa bersama.
"Jangan samain kita sama Riki, dia mah kemana-mana nggak ada yang nolak, malah dikejar-kejar iya." Kata Brian lagi.
"Iya, kita uda kemana-mana nggak ada yang mau, mau ngejar 1 aja terhalang restu calon kakak ipar, hahaha..." Sindir Gery pada Juna.
Mereka pun tertawa lagi. Tapi kali ini Riki hanya menyunggingkan senyumnya, karena dia juga merasa tersindir. Dia ingin mendekati Sasya tapi Juna sudah lebih dulu memberinya ultimatum untuk tidak bermain-main dengan adiknya. Padahal sebenarnya perasaan dia pada Sasya tidak main-main.
__ADS_1
Lalu tiba-tiba seseorang menabrak kursi Riki dari belakang. Riki yang hampir saja terjatuh dari kursinya langsung berdiri melihat siapa yang sudah berani mendorongnya.
"Maaf, Bang." Kata seorang laki-laki yang berdiri sempoyongan.
"Lo mabuk?" Tanya Riki.
"Siapa yang mabuk? jangan sembarang nuduh ya." Kata Laki-laki itu dengan mata sayu.
Gery yang melihat Cesil, pelayan Cafe itu yang berdiri tak jauh darinya, lalu menghampiri Cesil.
"Sil, emang Arya jual minuman keras di Cafe ini?"
Cesil menggeleng.
"Dia baru aja masuk kesini, Bang, gue lihat tadi. Jadi dia pasti mabuknya dari luar." Kata pelayan Cafe lainnya pada Gery.
"Apa ini? Kok ribut-ribut?" Tanya Arya si pemilik Cafe yang baru saja keluar dari ruang pegawai.
"Itu, ada orang mabuk dari luar, masuk ke Cafe kita, Bang." Jawab pelayan itu.
"Ganggu elo, Ger?" Tanya Arya pada Gery.
"Bukan gue, tapi temen gue." Jawan Gery.
Arya lalu menghampiri laki-laki mabuk tadi.
"Maaf, Bang. Tanpa mengurangi rasa hormat, Abang tolong keluar dari sini ya, tamu-tamu saya merasa nggak nyaman." Kata Arya sambil memegang lengan laki-laki mabuk itu
"Gue cuma mau numpang mumpet, di luar banyak yang ngejar gue." Kata Laki-laki mabuk itu lagi.
"Kalau mau mumpet jangan disini, Bang. Mending Abang cari tempat lain aja." Kata Arya lagi, kali ini dia mendorong paksa laki-laki mabuk itu.
"Aaargh! Diem lo, kalau gue ketangkep lo mau tanggung jawab!" Kata laki-laki mabuk itu lalu mendorong tubuh Arya dengan keras hingga menabrak Riki.
Riki ikut tersulut emosi.
"Heh, lo dibilangin baik-baik malah nyolot ya, keluar sana, jangan bikn keributan disini." Kata Riki sambil menendang kaki laki-laki mabuk itu.
"Kurang ajar, lo!"
Buk!
Laki-laki mabuk itu memukul wajah Riki, hingga keluar darah dari ujung bibirnya
Riki semakin emosi, dia hendak membalas memukul laki-laki mabuk itu, tapi ditahan oleh Juna dan Brian.
"Sabar, Rik. Dia mabuk, nggak usah diladenin." Kata Brian sambil menahan bahu Riki.
Juna mencoba mendekati laki-laki mabuk itu untuk bicara baik-baik.
"Bang, tolong jangan bikin keributan disini, tamu-tamu disini jadi pada ketakutan."
"Emang gue pikirin?" Jawab laki-laki mabuk itu.
Juna merangkul laki-laki mabuk itu dan membawanya keluar, tapi saat sudah berada diluar, segerombolan orang berlari mengahampiri laki-laki mabuk itu. Lalu laki-laki mabuk itu mendorong Juna, tapi Juna menarik tangan laki-laki mabuk itu hingga dia tidak bisa lari. Lalu laki-laki mabuk itu mengambil sesuatu dari balik jaketnya.
Jeb!
Darah mengalir dari perut Juna, laki-laki mabuk itu berlari ke arah belakang Cafe. Riki berhasil menangkapnya, tapi dengan cepat laki-laki mabuk itu memukul lagi wajah Riki, dan langsung berlari lagi. Tapi Arya dan Gery serta para pelayan lainnya berhasil menahannya, hingga laki-laki mabuk itu tak bisa berkutik.
Riki dan Brian berlari ke arah Juna yang sudah terduduk lemas.
__ADS_1
"Juna!" Teriak Riki.