
Mereka telah tiba di pusat perbelanjaan makanan yang menyediakan berbagai macam bahan pangan di sana.
Mereka nampak bahagia dengan hasil belanjaan yang sudah ada di tangan, sesekali Siska membantu Andrea menenteng tas belanjaan berisi camilan dengan jumlah banyak, yang membuat Andrea merasa kelelahan karena hal itu.
"Sini, biar aku bawakan! kau masih sakit, jadi tugas kamu, hanya memilih camilan yang kamu sukai saja.." Ucap Siska pada sang sahabat dengan senyuman manisnya.
"Aah, Siska, kau memang sahabatku yang paling baik..." Puji Andrea pada sang sahabat.
"Umm, Dre, ngomong-ngomong soal Lucifer itu, apa dia sangat tampan? sampai kau sendiri berjanji, akan mengabdikan seluruh cintamu padanya untuk seumur hidup?" tanya Siska sambil membawa Andrea jalan-jalan memilih camilan.
"Dia punya kulit yang agak ketimuran, kau tahu, dia sangat erotis, tubuhnya benar-benar atletis, dan wajahnya sangat tampan, mungkin kalau dia benar ada di muka bumi ini, dia lebih cocok masuk ke dunia militer, karena dia punya kekuatan besar di tubuhnya.." Jelas Andrea pada Siska.
"Bagaimana kau akan menjelaskan tentang perasaan kamu, kalau ternyata Lucifer yang kau maksud itu hanya sebatas khayalan saja?" tanya Siska pada Andrea, membuat gadis itu bingung.
"Hahh! kau tahu, janji tetaplah janji, aku mengatakan janjiku padanya, entah itu dalam mimpi, atau di dunia nyata, kalau aku sudah berjanji, artinya aku tidak boleh mengingkarinya, lagi pula, dia bisa jadi kekasih khayalanku yang tampan.."
Entah mengapa, saat aku terbangun dari tempat itu, hati ini memang seolah telah menemukan pengikatnya, jadi, entah kau nyata atau tidak, aku akan tetap membuktikan janjiku, untuk mengabdikan seluruh hidupku untuk mencintai kamu...
"Hei, kalian!" mendadak sang ibu mengejutkan mereka berdua.
"Ya, Bi? ada apa memangnya?" tanya Siska pada sang Bibi.
"Malam ini, ayah kamu akan mengadakan perjamuan besar, untuk merayakan kepulangan dan keselamatan kamu hari ini, jadi kita harus belanja banyak untuk acara nanti malam!" ucap sang ibunda.
"Waaahh, benarkah? apa aku juga di undang, Bibi?" tanya Siska.
"Tentu saja kau di undang! kalau kau tidak membacakan cerita di samping ranjang Andrea selama lebih dari tiga malam, mana mungkin Andrea akan segera bangun.. Hahaha.."
"Apa aku sungguh sangat berisik, Dre?" tanya Siska pada Andrea.
"Sebenarnya, aku memang mendengar kata-kata darimu yang memekakkan telinga, sampai ingin sekali aku bangun, dan mengatakan kau baca komik atau sedang demo di jalan raya.. Hahaha..." Namun Andrea pun malah berbalik meledek sahabatnya.
"Haha.. jadi begitu, ya, baiklah, kalau begitu, akan aku bacakan lagi naskah demo untuk kamu!! dasar tidak tahu terima kasih!!"
Terlihat dengan jelas wajah Siska yang tertekan akibat ledekan dari sang sahabat. Namun sahabatnya yang konyol itu makin terus menginjak-injak dirinya dengan ledekan, membaut dia tak bisa berkutik..
__ADS_1
"Tuhan.. ibu dan anak ini memang sangat baik untuk menjatuhkan aku, bisakah kau memberinya sebuah peringatan? agar mereka tidak lagi meledek aku yang nista ini...."
"Ah, sudahlah, jangan banyak main-main, ayo kita belanja lagi, masih banyak yang belum kita beli, ibuku akan sangat marah saat sampai di rumah, dan bahan-bahan yang dia beli masih kurang.."
"Baiklah, aku selalu siap mengalah denganmu, Dre!"
Dan akhirnya Andrea dan Siska kembali meninggalkan ibunya sendirian. Mereka berdua kembali berjalan menitah kaki mereka, sambil terus berbincang mengenai hal konyol di otak mereka..
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Hingga pukul tiga belas siang, mereka akhirnya sudah bisa pulang ke rumah, dengan bergegas mereka meletakkan tas belanjaan mereka yang jumlahnya memang lumayan banyak, di atas meja.
Mereka mulai memasak dan menyiapkan jamuan besar untuk malam ini di dapur mereka.
Hingga pada beberapa menit kemudian, sesosok bayangan muncul dari balik jendela, yang kemudian membuat Andrea merasa seolah sedang di awasi.
Dia memasang rasa was-was dan ketakutan, entah takut karena dia pernah mengalami tragedi bersama Gilbert di villa, atau dia takut karena terbayang akan mimpinya berjalan ke masa lalu, dan memerangi iblis.
Ia mencoba untuk berani, menolehkan kepalanya ke arah jendela, dan mencoba melihat siapa yang datang.
Swosh!
Bayangan itu menghilang, menjauh darinya, dan juga lenyap dari hadapan Andrea.
"Ada apa, Dre?" tanya Siska dengan cemasnya.
"Ah?" Andrea yang terkejut hanya bisa gelagapan dengan pertanyaan dari Siska, "ti-tidak ada apa-apa, semua baik-baik saja.."
Ucap Andrea dengan gugupnya, hingga terlihat dengan jelas wajahnya yang pucat akibat kejadian tersebut.
"Kau yakin, kau baik-baik saja?" tanya Siska sambil mengelus punggung Andrea.
"Ya, aku baik-baik saja, sepertinya aku memang kelelahan, Bu, Andrea mau istirahat dulu di kamar, ya, tubuh Andrea rasanya sakit semua.." Ucap Andrea sambil memijit dengan lirih bagian pundaknya.
"Baiklah, sayang, gunakan waktumu sebaik mungkin, jangan sampai kamu merasa cemas, ya.." Ucap ibunya.
__ADS_1
"Baik, Bu.. Siska, aku ke kamar dulu, ya.."
"Kau tidak mau aku temani?" tawar Siska pada Andrea.
"Tidak perlu, kau bantu saja ibuku di dapur, dia lebih membutuhkan kamu," ucap Andrea dengan lembut.
"Baiklah, tidurlah yang nyenyak."
Andrea tersenyum dan menganggukkan kepalanya, lalu setelah itu, dia terlihat masuk ke dalam kamarnya yang terletak di lantai dua.
Kreb!
Ia melihat kondisi kamarnya yang dingin, berjamur, dan berbau debu. Bak kamar yang sudah tidak di tempati selama satu tahun. Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar, berpikir dia tak akan bisa tidur kalau berada di dalam kamar semacam ini.
Dengan langkah cepat, Andrea berusaha untuk membereskan kamarnya, dan kemudian membersihkannya, sampai terlihat mengkilat, lalu setelah itu, terduduk lah dia di atas ranjang, dengan lelah yang luar biasa.
Ia pandangi satu koper berisi barang-barang dia dari rumah sakit, lalu tak sengaja ia melihat sebuah buku yang tergeletak di atas kopernya.
Buku itu memang sedang ia sukai akhir-akhir ini, hanya saja, dia belum juga selesai membaca cerita di dalamnya.
Buku yang di ciptakan oleh seorang penulis dengan julukan Mister L itu, bercerita tentang seorang pria yang menunggu kehadiran kekasihnya selama lebih dari empat ratus tahun..
Andrea melanjutkan halaman yang belum ia baca, lalu dia fokuskan untuk menangkap semua isi yang tertera di dalamnya.
"A?"
Namun dia begitu terkejut, saat dia baru menyadari, sesuatu yang tidak beres terjadi..
Buku itu seolah dengan gamblang mengisahkan tentang semua perjalanan yang ia alami, yang ia lakukan meski baginya hanya sebuah mimpi.
Dia semakin penasaran untuk setiap halamannya, hingga di akhir cerita, penulis mengatakan, masih harus menunggu empat ratus tahun lagi untuk bisa berjumpa dengan gadis yang ia cintai..
Mungkinkah semua ini.....
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
__ADS_1