Kekasihku Manusia Harimau

Kekasihku Manusia Harimau
#Api Unggun


__ADS_3

"Kau memang sedikit, ada sedikit perubahan dalam dirimu," ucap Lucifer.


"Bagaimana menurut kamu?"


"Kau mungkin hanya perlu sedikit latihan untuk menyeimbangkan diri antara kekuatan itu.." ucap Lucifer semakin membuat Andrea tidak memahami apapun.


"Kata-kata kamu sungguh tidak ada yang aku mengerti sama sekali.." Wajah polos.


"Hahh! kau mungkin tidak pernah berlatih, ada baiknya, kau berlatih dulu mulai besok, aku akan mencoba membuat kau bisa menerima kekuatan itu.."


Aku sudah tahu ada kekuatan api dalam dirimu!


"Lalu untuk soal pencarian mutiara itu? apa kita tidak akan segera melakukannya?"


"Ada waktunya kapan kita harus bergerak," jawab Lucifer.


"Tapi tidak harus menunggu lama lagi, kan?"


"Mungkin perjalanan itu memakan waktu yang cukup lama, tidak ada yang tahu pasti di mana letak mutiara itu berada, karena itulah aku belum bisa bergerak sedikitpun sampai sekarang."


"Apa kau sedang bercanda? jadi karena itulah kau tidak mencoba bergerak untuk mencarinya? kenapa kau tidak menanyakannya padaku?"


"Aku tidak mengerti apa maksud kamu.." Wajah datar.


"Malam di saat Lucas menyerang dan hendak menculik aku, Martha kembali mendatangi aku lewat mimpi!"


Lucifer mulai mendengar secara serius..


"Dia mengatakan padaku, soal tempat yang dia jadikan sebagai tempat dia menyembunyikan Mutiara itu, kau seharusnya bertanya padaku," ucap Andrea agak kesal, "kita tidak bisa terus diam seperti ini, lagi pula, perjalanan yang panjang harus di mulai lebih awal, bukan," entahlah, dia terlihat amat memaksa.


"Akan aku pertimbangkan lagi.." Ucap Lucifer saat mendapati mereka yang telah tiba di pedesaan.


Tan Ash dan beberapa pria yang lainnya terlihat berkumpul, dan memutari api unggun yang besar.


Mereka bernyanyi dan bersenandung bersama penuh kehangatan. Musik sederhana yang tercipta dari batu, kayu, bambu, dan alat-alat lainnya seperti tulang binatang, mengiringi nyanyian mereka yang amat menggembirakan.


Na.. na.. na.. na... na....


"Ada apa ini? kenapa mendadak mereka semua bermain musik? ayah kamu juga?" tanya Andrea pada Lucifer.


Mereka berdua masih terlihat duduk mematung dan memperhatikan nyanyian dari warga yang semakin terdengar mengasikkan.


Malam yang dingin dan di penuhi kekelaman perlahan mulai tenggelam dengan suara musik dan nyanyian mereka semua, membuat siapa saja yang mendengar ikut menari dan bersenandung riang.


"Hai, kak?!" mendadak Wilson datang.


Dua manusia yang tadi mematung hanya menoleh dan menatap si Wilson saja dari tempatnya.

__ADS_1


"Kenapa diam di sana? kalian harus bergabung dengan kami!" ucap Wilson menarik tangan Andrea menuju kerumunan manusia yang tengah terduduk mengelilingi api unggun.


"Duduklah," ucap Wilson pada Andrea.


Dan gadis itu hanya bisa menurut saja, duduklah dia di atas rumput hijau, tepatnya di samping Rosella dan William.


Mereka terlihat menyanyi dengan sangat gembira, memetik jari, dan ada pula yang terlihat bertepuk tangan.


Na.. na.. na.. na....


Tanpa sadar terbersitlah senyuman di bibir Andrea. Dia yang mulanya di buat gundah, dan di buat sedih atas terdamparnya dia dalam dunia semacam ini, kini lambat laun ia mulai bisa menerima dan merasa nyaman dalam perjalanan bak petualang hebat ini.


Dia kemudian bergabung, ikut menyanyi dan bertepuk tangan, meramaikan suasana malam yang dingin, dan akhirnya terbuai dalam kebahagiaan.


Di sisi lain, Lucifer nampak tengah berusaha menatap matanya. Entahlah, entah bagaimana dia harus menggambarkan situasi hatinya yang mendadak senang dan gembira setelah adegan ciuman panas di sungai tadi sore.


Dia yang mulanya merasa kesal pada gadis asing itu, kini perlahan mulai menyimpan kekagumannya pada Andrea.


Entah itu hanya rasa kagum atau mungkin lebih dari itu, tiada yang tahu, bahkan Lucifer sendiri tidak bisa memastikan hal demikian.


Namun wajahnya nampak mulai berubah ekspresi, saat dia mendapati sebuah sinar di dada Andrea.


Sinar yang menyorot dengan tajam ke arahnya, lalu membentuk sebuah sayap megah yang berdiri dengan gahar di belakang Andrea.


"Ah?!"


"Phoenix!!"


Burung bersayapkan api, dan bermata biru, bak menyihir Lucifer dengan keindahan yang di milikinya.


Burung itu berdiri dengan gagah, seolah tidak lagi ingin melepas Andrea dari cengkeraman kukunya, dia terus saja berdiri di sana, ingin menjadikan Andrea sebagai tuannya..


"Kau datang tanpa izin? kenapa kau bisa masuk ke dalam tubuhnya!?" tanyanya bergumam.


"Dia pantas mendapat bantuan dariku, darah segar yang hanya di miliki oleh ras di masa depan, dia bukan di antara dua golongan, aku ingin bersemayam dalam tubuhnya yang suci.."


Kekuatan Phoenix itu bahkan menjawab pertanyaan dari Lucifer, tapi kenapa tidak ada satu orang pun yang bisa melihatnya?


"Kau api, kau juga terbang dengan dua sayapmu yang terbakar, tidak bisakah kau menunjukkan dulu pada tuanmu, seperti apa wujud aslimu?"


"Dia hanya perlu tahu, seberapa hebat kekuatan yang bisa aku lakukan untuk membantunya, aku tahu dia sedang dalam masa yang sulit, tanpa adanya perbekalan apapun, lalu di paksa menghadapi takdir sekeras ini, Andai saja kau tahu, betapa bodohnya kamu yang memilih untuk mempertahankan dia, tanpa kamu berpikir, ras mu dan dan ras lainnya, mungkin saja akan musnah di masa depan, hanya ada satu yang bertahan hingga akhir, dan itu akan datang bersama kepergian gadis itu dari dunia ini.."


"Aku tidak mengerti ucapan kamu sama sekali, tapi bisakah kau mengungkapkan semua tentang dirimu pada gadis ini? dia juga butuh kejelasan.."


"Hem, kau yang mampu membantuku! bantu dia untuk tahu cara mengendalikan aku, aku akan menunjukkan diriku padanya."


"Baiklah, kita sepakat!"

__ADS_1


Puk!


"Ah?" terkejut.


Mendadak bayangan semu burung Phoenix itu hilang dari hadapannya, menyisakan senyuman manis Andrea yang masih bersenandung dengan riang.


"Kenapa kau!?" rupanya tadi yang menepuk pundak Lucifer adalah William.


Pria itu terlihat duduk di samping Lucifer, lalu membersihkan pedangnya.


"Kau habis berburu?" tanya Lucifer usai dia mendapati darah di ujung pedang William.


"Hanya mendapat burung kecil, aku makan saja sendirian!"


"Dasar tamak!"


"Hei, Lucifer! kau sungguh tidak berniat untuk membawa gadis itu mencari mutiara yang di maksud bukan?" tanya William dengan wajah yang lumayan serius.


"Memangnya kenapa?"


"Dia itu lemah, bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya? aku tidak mau menanggung resiko kelelahan karena menggendongnya selama perjalanan."


"Kalau begitu, aku saja yang gendong! lagi pula, dia perlu latihan untuk dirinya sendiri, aku akan melatihnya sambil melakukan perjalanan.." ucap Lucifer pada William.


William menyimpan kembali pedang yang baru saja dia bersihkan ke dalam tempatnya.


"Kau bahkan tidak pernah tertarik pada satu orang wanita pun di dunia ini, aku tidak percaya kau berani menggendongnya, cih!!"


"Cih! kau ini! kau bahkan tidak tahu bagaimana lembutnya bibir Andrea saat kami berciuman..." Ucapan yang terkesan bangga pada diri sendiri.


"Apa katamu!?? kalian berciuman???"


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Ye, gak usah lebay kalee πŸ˜—


kan kamu juga pernah ciuman sama si Rosella, Bahkan gitu-gituan 😢😢😢


Dasar lebay πŸ™„


Halo semua πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Apa kabar? semoga selalu sehat, ya, dan makin di bukakan pintu rezekinya 🀲🀲


Salam cinta dari Author receh 😘😘


Terima kasih πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2