
"Mungkin dia butuh seorang penjaga, kau tidak bisa menjaga dia di setiap waktu, benar, bukan?" tanya Sam pada sang sahabat usai mereka terduduk di kursi kafe.
"Lalu apa yang sedang kau bicarakan?"
"Aku ingin menjodohkan putrimu dengan orang yang aku kenal.."
"Orang yang kau kenal katamu?"
"Ya, dia orang yang sangat baik, dan jauh lebih baik lagi, kalau dia menjadi suami dari putrimu.."
Mendengar tawaran dari sang sahabat baik, Jack menjadi sangat bingung. Dalam hatinya dia menolak, karena dia merasa masa depan putrinya masih terlalu jauh, apa lagi baru akan bulan depan Andrea memasuki usia dua puluh tahun..
Tapi dia bingung bagaimana cara menolak tawaran dari sahabat lamanya, dia tidak terlalu berperasaan jika harus menolak tawaran baik dari Sam.
Ya, meski begitu, dia tetap harus bicara pelan-pelan, menjelaskan pada sang sahabat kalau dia tidak bisa menerima tawaran tersebut. Lagi pula ke depannya, bukankah dia memiliki banyak waktu untuk anak dan istrinya? ya, jadi tidak perlu membutuhkan pria lain yang bisa menjaga putrinya dari bahaya.
"Maaf, Sam! aku tidak mau menjodohkan putriku seperti yang kau katakan barusan, kebahagiaan dia, biarlah dia sendiri yang mengejarnya, aku tidak mau memaksa kehendak putriku.. seharusnya kau tahu apa yang aku maksud di sini!"
Sam mengangguk saja, merasa sedikit kecewa dengan jawaban dari sahabat baiknya. Ya, sudah lama dia mencari wanita yang tepat untuk pria itu, entahlah, kali ini dia berpikir kalau Andrea dengan laki-laki itu adalah jodoh, tidak di sangka, rupanya tawaran dia di tolak lebih cepat dari yang dia kira.
"Aku mengerti, amat sulit bagimu untuk menerima seorang laki-laki yang tidak kau kenal, aku akan mengenalkannya padamu dulu kapan-kapan.." Laki-laki itu tetap berpikir ingin menjodohkan seorang pria dengan Andrea, meski sudah di tolak mentah-mentah oleh ayah gadis tersebut.
Sam beranjak dari kursinya, dan bergerak menuju ke arah luar..
"Sam! apa kau marah padaku?" tanya Jack pada sahabatnya..
Sam berhenti, lalu menoleh ke arah sang sahabat, "tidak! aku tidak marah, kau hanya harus mencari pekerjaan untuk dirimu sendiri, kau tahu, keluar dari perusahaan itu dengan cara yang tidak terhormat, sama saja kau membunuh uangmu sendiri! jadi pikirkan bagaimana nasib putrimu untuk ke depannya.."
Jawab Sam dengan datar, yang lalu pada beberapa saat setelah itu, dia pun akhirnya berlalu meninggalkan Jack di kursi kafe.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Tak tak tak tak tak tak tak!
Suara derap langkah kaki yang terdengar dari arah luar, menuju ke dalam ruangan tempat dia terdiam, membuat dia menutup buku yang tengah dia coret dengan tinta, dan menyeruput kopinya.
__ADS_1
Slurp!
Cklek!
Seorang pria terlihat datang menghampiri dirinya, dan membawa sebungkus buah-buahan di dalam kantong plastik.
"Kau masih melanjutkan bukumu, Pak tua?" tanya Sam pada laki-laki yang berpangkat komandan itu.
"Ya!"
Sam terduduk di samping laki-laki itu, dan memberinya sebuah apel. Apel yang berwarna sangat merah, dan juga agaknya terasa sangat manis.
Pria itu menangkap apel pemberian dari sahabatnya, dan kemudian mengigit satu kali, lalu mengunyahnya.
"Aku menawarkan kamu pada anak dari sahabatku.." Ucap Sam pada laki-laki itu.
Laki-laki itu menghentikan makannya, lalu terkekeh mendengar ucapan dari sang sahabat.
"Cih! menawarkan aku?" dia lalu menggelengkan kepalanya.
"Kalau kau bosan pergi saja! aku tidak butuh seseorang untuk menemaniku, aku melihat semua ora mati, dan tidak bisa hidup bersama denganku selamanya, aku tidak mau kehilangan seseorang lagi, dalam hidupku!"
"Bukan begitu maksud aku, kita hanya harus menikah, dan kau akan punya teman hidup yang bisa mengurus dirimu, lihatlah kau! kau bahkan masih cukup rupawan untuk mengambil hati gadis lima belas tahunan!"
"Hehh! kau pikir aku ini ped*fil?" dia meletakkan pulpennya lagi di dalam sebuah wadah di atas mejanya.
"Apa kau masih menantikan dia?"
Mendengar pertanyaan dari sang sahabat, membuat dia terdiam cukup lama. Entah apa yang ada di dalam hatinya, namun dari segi raut mukanya, dia terlihat begitu muram karena suatu hal.
"Dia tidak bisa tergantikan!"
Kriet!
Dia beranjak dari kursinya, dan bergegas mengenakan topi seragamnya, lalu segera pergi dari sana.
__ADS_1
"Oh iya, lain kali, jangan tawarkan aku lagi pada orang lain! mereka mungkin tidak akan menyukai kakek-kakek berusia lebih dari empat ratus tahun!"
Kreb!
Dia terlihat menutup pintu kamarnya, dan berjalan menuju ke arah luar, lalu menunggangi mobilnya dengan kecepatan sedang.
Vroooooommmmmm
Ya!
Benar sekali tebakan kalian!
Dia adalah Lucifer. Seorang pria berusia empat ratus dua puluh tujuh tahun, yang masih bisa hidup karena kekuatan mutiara dalam dirinya.
Konon katanya, mutiara itu akan membuat dia hidup abadi dengan kekuatan yang luar biasa. Dia bekerja di beberapa tempat, seiring berjalannya waktu.
Beralih-alih tempat, dan terus berpindah seiring waktu, membuat dia tidak begitu terkenal, apa lagi dengan nama yang terus berbeda-beda di setiap daerah. Tentu saja dia baru menggunakan nama Lucifer di daerah ini.
Dia mengenal dan membuka semua rahasianya pada seorang pria bernama Sam, usai tidak sengaja dia menyelamatkan Sam dari sebuah kecelakaan, menarik mobil Sam yang hendak masuk ke dalam jurang, hanya dengan satu tangannya.
Sejak saat itu, hanya Sam yang tahu semua tentang dirinya, tentang kekuatannya, cerita hidupnya, dan penantiannya pada seorang gadis.
Gadis yang dahulu pernah dia cintai, dia abdikan seluruh hidupnya pada gadis itu. Dan dia menemukannya.
Dia menemukannya, tepat sekali dengan keadaan saat pertama kali Andrea melalui lorong waktu, dan tibalah dia di sebuah pemukiman yang pada saat itu menjadi tempat dia tinggal bersama ras harimau.
"Aku tidak percaya aku telah menemukannya! benar katamu, ibu, dia empat ratus tahun jauh lebih muda di banding aku..."
Ucap Lucifer di dalam mobilnya, sambil terus berlalu menuju tempat dia bekerja.
Dia sangat senang, pun begitu terkejut, saat pertama kali menyadari gadis yang terancam di lecehkan di dalam Villa oleh seorang ped*fil itu adalah Andrea.
Senang, namun juga bingung apakah dia harus muncul di depan gadis itu, atau mungkin lebih baik baginya untuk diam, dan tidak berbicara apapun, atau lebih baik, tidak bertemu dengannya lagi.
Karena dalam hatinya, ia ragu, mungkinkah Andrea masih ingat dengannya, atau mungkin, gadis itu hanya berpikir ia telah melalui semuanya seperti mimpi?
__ADS_1
πππππππππ