
"Manora, kau masih punya kesempatan untuk pergi, jika kau mau, kita bisa kembali dan mengabdi pada Tuan Zhagler!" ucap Vincent pada sahabat wanitanya.
Pada awalnya, Vincent memang tidak terlalu peduli pada ketamakan Jayden, pria itu selalu mendukung Jayden kemana saja Jayden akan melangkah.
Namun kini pria itu sudah sangat keterlaluan. Bagi Vincent, tidak ada yang lebih baik selain mengutamakan persahabatan, namun nyatanya, Jayden seolah tidak pernah menganggap mereka berdua di sisinya.
Jayden seolah hanya melihat mereka berdua sebagai budak yang bisa di gunakan dan di manfaatkan sesuka hatinya. Dan itu sungguh membuat dirinya kesal.
"Kau tahu, Vincent, bagiku setia pada Jayden adalah segalanya bagiku, setia pada anak dari Tuan Zhagler bagiku setia pada Tuan Zhagler juga, tapi yang membuat aku kesal adalah, dia bahkan tidak pernah melihatku, bahkan sebelum dan sesudah kehadiran gadis itu, dia tidak pernah melihat aku sama sekali!"
"Siapa yang kalian maksud!? Andrea kah!?" tanya seseorang dari arah luar gua, mendekati mereka.
Manora dan Vincent sontak saja terkejut, reflect mereka mengambil senjata dari tempatnya, dan memasang kuda-kuda untuk antisipasi musuh.
"Kau!" ucap Manora sesaat setelah menyadari bahwa Lucifer lah yang datang.
"Kalian terkejut? tidak menyangka kami bisa menyusul kalian!?" Lucifer terlihat berdiri dengan gagah di pintu gua.
"Kalian! kalian bisa menyusul kami! tapi kenapa kami sama sekali tidak terkejut!?" tanya Vincent pada Lucifer.
"Di mana Andrea!? di mana juga Jayden!?" tanya William pada mereka berdua.
"Mereka terus melanjutkan perjalanan, mereka akan segera mencapai semua yang diinginkan Jayden!" ucap Manora pada Lucifer.
"Benarkah!? dan kalian berdua memilih bertahan di sini? apa kalian mendapat masalah? mungkin, seperti baru sadar kalau kalian hanya menjadi budak di matanya!?" tanya Rosella penuh ledekan.
"Tenang saja, kami tidak seperti kalian, yang suka perlawanan dan permusuhan, turunkan saja senjata kalian, kalau pun bertarung, sudah pasti kalian yang akan kalah!" ucap Wilson.
Manora dan Vincent menurunkan pedang mereka, dan mulai mencoba lebih menerima kehadiran mereka.
Lucifer melempar potongan daging yang menjadi perbekalan mereka pada Vincent dan Manora.
Hap!
Manora dan Vincent terlihat menyantapnya.
__ADS_1
"Itu untukmu!" ucap Lucifer.
"Mari kita duduk! lagi pula dulunya kita bukan musuh, jadi alangkah baiknya kita duduk bersama, sejenak melupakan permusuhan nenek moyang kita!" ucap Wilson pada mereka, sambil mencoba menyalakan api.
Semua yang ada di sana terlihat duduk memutari api yang baru saja menyala.
"Bakar dagingnya! kita makan sama-sama!" ucap Lucifer pada Wilson.
"Baiklah, aku tahu kita memang harus berbagi.." Jawab anak muda itu.
Sementara itu, Vincent dan Manora terlihat sangat canggung. Mereka berada dalam kekangan musuh bebuyutan, tapi kenapa rasanya malah nyaman, bahkan jauh lebih nyaman di banding saat mereka harus berada dalam kawasan serigala.
"Kalian canggung?!" tanya Lucifer, "aku pun sama, padahal seharusnya kita tidak merasakan seperti ini.."
Dua orang serigala itu masih saja diam seribu bahasa.
"Apa kalian tidak berniat menyusul Jayden!?" tanya Rosella pada Manora dan Vincent.
"Bukanlah kalian sudah mendengar semuanya!? kenapa masih saja bertanya? apa kau terlalu bodoh!?" tapi Manora malah terlihat kesal dengan pertanyaan itu.
Setelah di rasa Manora cukup tenang dan diam, Vincent mulai menjawab semua yang di tanyakan oleh Rosella barusan.
"Dia tak pernah melihat kami, hanya ketika membutuhkan kami saja, itu yang jadi masalah kami!" ucap Vincent.
"Vincent, kau sungguh bodoh! masih saja kau membocorkan kekesalan kita di depan orang-orang ini!!" Manora terlihat murka.
"Manora, ada saatnya bagimu untuk mempercayai sahabat lama, aku pun merasa begitu.." Ucap Vincent kali ini terlihat sangat normal.
"Apa maksud kamu? dia memperbudak kalian berdua!?" tanya William.
"Ya, mungkin kami yang terlalu bodoh, sampai menganggap dia sebagai sahabat kami, tapi kami hanya sebagai budak di matanya!" ucap Vincent terlihat mencurahkan kekesalan di hatinya di depan semua orang.
"Aku sudah menduganya sejak awal," gumam William.
"Kau bahkan terus mempercayai dia, itu yang aku katakan bodoh!" ucap Rosella.
__ADS_1
"Punya hak apa kau mengatakan kami bodoh?" tanya Manora.
Dua wanita itu nampaknya terlihat saling berseteru, bahkan membuat suasana semakin terasa panas.
"Diam kalian!" Vincent terlihat menyeka mereka berdua, "Manora, aku sudah lelah menuruti semua perkataan Jayden, kau tahu betapa keras hatinya, dan betapa rakusnya dia yang sama persis dengan Tuan Zhagler," ucap Vincent pada Manora.
"Tapi kau sudah berkhianat dengan menceritakan semua yang terjadi di antara kita, Vincent!"
"Bagiku tidak, kita masih punya kebebasan, aku dan William dulunya adalah sahabat baik, sebelum kelompok kamu berpisah, dan tidak jelas apa masalahnya, yang membuat kami jadi jauh, saling menuduh berkhianat, dan saling menganggap musuh, kau pun pasti berpikir hal yang sama, kan, Will!?" tanya Vincent sambil mengarahkan pandangannya ke arah William.
Pria yang di tatap Vincent hanya bisa terlihat memalingkan muka, memang terdapat rasa rindu uang dalam pada Vincent, sahabat yang menjadi tempat dirinya berkeluh kesah dahulu, tapi, setelah pertempuran itu, setelah mereka kehilangan orang tua mereka, seolah mendapat bisikan ghaib yang mendadak membuat hati mereka semakin menjauh.
"Kalian semua pun tahu, permusuhan antar ras ini sejujurnya tidak memiliki alasan yang cukup kuat, kelompok kami yang terus menuduh kalian berkhianat, meskipun tidak jelas kalian berkhianat di sisi yang mana, lalu kelompok kalian yang tidak tahu kenapa ikut pula memusuhi kami, aku tahu itu," ucap Vincent menatap mereka semua.
"Kau benar, kita memang tidak ada yang tahu pasti, kenapa dua ras ini saling bertarung, saling membenci, bahkan saling membunuh, kecuali bisikan-bisikan yang terdengar di telinga kita semua, mungkin itu yang sudah membuat kita terpengaruh!" ucap William pada mereka semua.
Semua orang di dalam gua itu terdiam membisu, meresapi setiap kata demi kata yang di lontarkan oleh Vincent dan William.
Karena mirisnya lagi, mereka sebabnya hanyalah korban, manusia siluman yang tidak tahu mengapa kelompok mereka saling berebut kekuasaan, saling memfitnah, dan saling menjauh.
"Atau mungkin saja, memang ada yang sengaja mengadu domba kita semua!" ucap Lucifer penuh penekanan.
"Maksud kamu!?" tanya Rosella pada Lucifer.
"Tidak ada yang tahu pasti, siapa yang membuat kita saling membenci, kecuali ada satu mulut yang berhasil mengadu domba kita," ucap Lucifer lagi.
"Tidak ada yang bisa melakukannya, hingga larut sampai bertahun-tahun, kecuali satu orang yang, punya kekuatan besar, kau tahu maksud aku, kak!?" tanya Wilson pada kakaknya.
"Siapa lagi kalau bukan Lucas!?"
"Lucas!?"
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
__ADS_1