Kekasihku Manusia Harimau

Kekasihku Manusia Harimau
#Kawanan Burung Unta


__ADS_3

"Kenapa masih diam? kau mau tidur di sini atau tidak!?" tanya Jayden menawarkannya sekali lagi.


Ini serigala kayanya memang lagi cari kesempatan dalam kesempitan deh.


"Um, Jay, aku, aku, sudahlah, kau tidur saja dulu, aku, aku masih mau duduk!" ucap Andrea menolak secara halus.


Gagal! padahal ini kesempatan bagus untukku, kan?!


Wajah Jayden sedikit kecewa, pun agak sedikit kesal.


"Baiklah, duduk saja di sana! kalau takut, segera kemari, aku tidak akan menyentuhmu!" ucap pria itu sedikit memberi ketenangan pada Andrea.


Namun sejujurnya, Andrea terlihat resah saja. Dia merasa seolah ada sesuatu yang hilang dari dirinya, dan sebuah tujuan yang mendadak lenyap, tak mampu dia gapai.


Meski begitu, Andrea hanya bisa diam, dan mencoba mengikuti alur di mana Jayden bergerak nanti.


Dia tersenyum dan mengangguk saja pada Jayden, lalu membiarkan pria itu tertidur kembali. Walaupun sejujurnya rasa takut ini amat dalam, tapi setidaknya dia masih bisa menjaga dirinya sendiri.


Jayden terlihat kembali meringkuk dan tertidur bersandar kudanya yang lelap. Kuda bringas itu entah kenapa jadi sangat manis saat di buat berlendot oleh Jayden.


Arkh!


Kembali lagi saja pada Andrea.


Gadis itu akhirnya meringkuk, memeluk dua lututnya, dan kemudian berusaha untuk memejamkan matanya.


Bintang-bintang yang bertebaran di langit pada malam itu seolah mengingatkan dirinya akan sebuah kenangan yang sama sekali tidak dia pahami.


Meraih tangan seorang pria lalu menciumnya, apa ini semua hanya khayalan semata, atau memang dia pernah melakukannya.


"Andrea!"


Dan lagi-lagi, suara aneh yang entah siapa itu kembali terdengar di kedua telinganya. Suara yang sangat mengganggunya, dan mengganggu otaknya.


Andrea menutup kedua telinganya, dan terlihat meringkuk ketakutan. Bukankah seharusnya di saat-saat seperti ini, dia merasakan pelukan hangat dan menenangkan dari seseorang?


Tapi kenapa Jayden, yang dalam pikirannya adalah sang kekasih, kini malah tidak peduli? dia bahkan tidur dengan lelapnya, tanpa mengerti betapa takutnya Andrea saat harus terus menerus mendengar bisikan menakutkan itu.


Siapa kau!? kenapa kau terus berbicara padaku!?


Gadis itu mencoba berbicara dengan hatinya, bertanya pada bisikan itu, siapa dia, lalu kenapa bisikan itu selalu ada di telinganya.


Sadarlah! Andrea! sadarlah! bangunlah! Lucifer! Lucifer!


Suara itu seolah menusuk kepalanya, hingga tiba di memorinya.


Seoshhh!!


Dan seketika, sebuah ingatan merasuk ke dalam otaknya, mengingatkan dia pada seorang pria bertubuh kekar dan besar berotot, yang tengah mencium dan mengecup bibirnya di sebuah sungai.


Ssssssshhhhhhh

__ADS_1


Suara air yang mengalir dengan gemericik, udara halus menerpa seluruh tubuhnya.


"Hahhh!?"


Nafas gadis itu makin memburu, apa lagi saat dia mendapati keringat yang keluar dan menetes di dahinya makin banyak, dan makin membuat tubuhnya panas.


Lucifer! ingat pemuda itu! Lucifer!


Bisikan itu selalu menghantui dirinya, bergumul dalam otak dan telinganya, hingga kemudian, pada beberapa saat kemudian..


Seoshhhh!


Angin menerpa, dan kemudian suasana berubah hening. Mendadak angin sepoi-sepoi yang berhembus secara perlahan, makin lama makin kencang, hingga dedaunan di sana terlihat berguguran akibat terkena angin tersebut.


Kini Andrea hanya terlihat meringkuk lagi, hawa takut yang luar biasa membuat dirinya seolah sedang di awasi dari kejauhan oleh suatu makhluk yang tak tampak kedua matanya.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Sementara itu, Lucifer pun nampaknya masih belum bisa memejamkan kedua matanya. Dia masih mencoba mencari posisi nyaman untuk tidur di tengah Padang pasir yang luas dan hening ini.


Angin yang berhembus di sekelilingnya pun mendadak terasa lebih kencang dari sebelumnya.


Dia yang mulanya memang sudah risau, kini kembali harus merasakan risau lagi, apa lagi saat dia merasakan, segerombolan langkah kaki yang amat keras, dan mulai mendekati mereka.


Matanya memicing, dan pendengarannya di pasang secara awas, mungkin saja akan ada bahaya mendatang, siapa yang tahu?


Lucifer membangkitkan tubuhnya, juga berdiri untuk melihat keadaan sekitar. Suara gemuruh hebat itu semakin terdengar begitu dekat.


"Oh, ayolah!" ucapnya usai mendapati sesuatu yang aneh di sana.


Seketika saja, semua yang ada di sana terkejut dan memilih bangun dari tidurnya.


"Ada apa Lucifer!?" tanya William pada pria itu.


"Kita tidak punya waktu banyak, kalau tidak segera lari, mungkin kita akan habis!"


William mencoba mendengar gemuruh yang hebat menerpa telinganya itu, "oh, tidak! badai pasir!!" ucap William, "merunduk!


"Tunggu! badai pasir!?" tanya Lucifer heran.


"Menurut kamu itu apa!?" tanya William.


"Aku pikir sekelompok binatang!" jawab Lucifer dengan polos, atau mungkin bodohnya.


"Sekelompok binatang!?" tanya Wilson agak bingung, "mana yang harus kita lakukan!?" bingung sendiri, "merunduk atau lari!?"


"Aku tidak tahu!" jawab Lucifer singkat.


"Ayolah, apa itu yang bergerak? suaranya sudah mendekat! apa kau tidak bisa menggunakan indera penciuman kamu Lucifer!?" tanya Rosella dengan wajah cemas.


"Aku lupa aku punya kelebihan itu.." πŸ™„

__ADS_1


"Itu bukan kakakku, aku tidak pernah mengenalinya.." Ucap Wilson dengan lugu.


Lucifer terlihat mencoba mengendus, dari jarak yang tidak lumayan dekat itu, dia masih bisa mencoba mengendus binatang lain, iya, jika itu memang binatang, tidak tahu kalau badai pasir.


"Oh tidak," ucap Lucifer agak membingungkan.


"Apa yang kau dapat?" tanya Rosella.


"Sekawanan burung unta!!" jawabnya.


"Apa? artinya kita harus segera lari?" tanya Rosella lagi.


"Sudah sekitar lima puluh meter," ucap Lucifer lagi, membuat semua yang ada di sana ketar-ketir.


"Semuanya......"


"Lari!!!!!!??"


krakatak! krakatak! krakatak!


Mereka meninggalkan kuda mereka, dan berlari sejauh yang mereka bisa. Sementara itu, segerombolan burung unta dengan paruh tajam yang bisa memangsa otak sekali saja mereka mematuk, terlihat mulai mendekati area peristirahatan mereka semua tadi.


Kuda-kuda mereka yang tertinggal, dan terkejut mendengar serangan mendadak dari kawanan burung unta itu berlarian tak tentu arah, ada pula yang berhasil mengejar Lucifer dan kawan-kawannya, namun dua ekor lagi entah lari kemana, atau mungkin sudah tewas di injak-injak kawanan burung unta tersebut.


"Hai teman, syukurlah kau datang!!" ucap Lucifer sambil menaiki kudanya, sambil terus berlari.


Hiyaa!!


"Hai, kak! kau tidak ingat apa yang aku katakan sore tadi, kan?" tanya Wilson sambil terus memacu kakinya.


"Sayangnya aku memaafkanmu!" mengulurkan tangannya, mencoba menggapai adik kecilnya, "kemarilah, Nak! kau yang terpandai di antara kami!"


Wilson tersenyum dengan nafas terpenggal-penggal, sambil mencoba meraih uluran tangan sang kakak yang telah berhasil menaiki kuda gaharnya.


"Aku dapat!"


Hap!


Di tariklah Wilson oleh Lucifer, hingga akhirnya anak itu berhasil naik, dan duduk di belakang kakak kandungnya, "untung saja aku memaafkan kamu, bagaimana kalau tidak!?"


"Aku tahu ajalku masih jauh! cepatlah lari!"


"Tenanglah pria hebat, aku lebih dewasa darimu!!"


Hahahaha...


"Di mana sepasang kekasih itu!?"


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Hai semua πŸ€—

__ADS_1


Salam sehat dan salam cinta dari author 😘


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


__ADS_2