Kekasihku Manusia Harimau

Kekasihku Manusia Harimau
#Sebuah Buku


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu, namun Andrea masih belum juga bangun dari komanya. Luka yang hampir merenggut nyawanya memang membuat dia harus terbaring dengan lemah di ranjang rumah sakit.


Angin berlalu cukup cepat, di luar hujan badai bercampur petir menghiasi kota dengan kabut tebal yang sangat pekat.


Rasanya takut sekali, takut akan semua hal yang gelap, takut akan sesuatu yang pernah hilang dari hidupnya..


Laki-laki itu membuka sebuah buku, di lihat lagi bagaimana cerita yang belum usai, lalu dengan keahlian menulisnya yang cukup mahir, dia menulis lagi di sana, melanjutkan cerita yang lama tidak dia lanjutkan.


Cerita memilukan, saat dia harus kehilangan beberapa kawan dalam sebuah pertempuran, cerita memilukan yang membawa dia dalam kehidupan penuh luka, penantian, dan panjang, seolah tiada habis, dan tiada pula ujungnya..


400 tahun....


Dalam penantian, yang sungguh sulit, pada hari itu, dia akhirnya mendapati bidadari yang sungguh tak pernah dia duga. Bertepatan dengan situasi di mana saat dia berjumpa, dan akhirnya melalui dua bulan lebih bersama gadis itu..


Entahlah..


Gadis yang terlalu manis untuk di bicarakan..


Kini semua ceritanya akan menjadi satu, namun mungkinkah semua yang ia harapkan akan menjadi kenyataan?


🌺🌺🌺🌺🌺


Bip.. bip.. bip...


Bunyi alat pendeteksi jantung di sebelah ranjang Andrea memang terasa memekakkan telinga. Entah mengapa alat itu terus saja berbunyi, membuat suara khas di dalam ruangan yang hanya di tempati oleh Andrea tersebut.


Di samping ranjangnya, terduduk pula ibunya yang tengah membacakan sebuah buku untuk Andrea. Buku yang di ciptakan oleh penulis tanpa nama, yang telah berusaha menggoreskan tinta di dalam perjuangan tugasnya.


Akhir-akhir ini buku itu memang menjadi teman terbaik bagi Andrea. Gadis itu memang suka membaca cerita yang seolah dia sendiri pernah mengalaminya..

__ADS_1


"Namun apalah daya, hidup dan takdir yang tidak adil, memang harus memisahkan mereka, dalam sebuah ruang waktu, yang membuat mereka lama tak berjumpa.. mungkin kah di masa ini, mereka akan di pertemukan kembali? ya, dia terus berharap hal itu di setiap waktu, mencoba terus meraungi kehidupan, untuk bisa bertemu kembali dengan gadis yang pernah dia cintai..."


Kreb!


Ibunda Andrea yang masih mengenakan kacamata bacanya, terlihat tersenyum ke arah Andrea, dan menatap putrinya di atas ranjang.


"Dre, volume satu sudah selesai, penulisnya masih belum menerbitkan untuk volume dua, kau tahu apa yang aku pikirkan? mungkin dia masih menanti perjalanan 400 tahun itu untuk berjumpa dengan gadis yang ia cintai.." Dia menggeleng, merasakan sebuah perasaan yang tidak mampu dia jelaskan, "aku senang saat kau keluar dari kamar, dan membawa buku ini, aku sangat senang, dan aku merasa lebih senang lagi, saat aku membacanya, rupanya kau membaca sebuah cerita panjang yang akhirnya harus terpisah antara ruang dan waktu.. aku suka ini," sang ibunda menangis, dan mengecup tangan putri cantiknya.


Ia mencoba untuk berinteraksi dengan Andrea, meski amat sulit baginya untuk berbicara dengan seorang wanita yang sedang koma.


Koma yang amat lama, serasa amat panjang dari biasanya, ya, baginya..


Cklek!


Namun tangisnya buru-buru di seka, usia dia mendapati sang suami yang mendadak datang di waktu seperti ini.


"Sayang, kau sudah pulang?" tanya dia pada suaminya, sambil meraih tas kerja dalam genggaman tangan sang suami.


"Ya, pihak kantor mengizinkan aku cuti lebih lama, karena memang, ya, kau tahu sendiri, kemarin kita tidak jadi pergi ke luar kota untuk menyelesaikan pekerjaan di sana.." Ucap sang suami dengan terus menyembunyikan kesedihannya.


Melihat ekspresi yang terlukis di wajah sang suami, istrinya pun telah tahu dan paham secara pasti apa yang terjadi pada suaminya itu.


"Tidak apa-apa.." Namun dia hanya bisa mengangguk saja, mengerti dan tidak bisa berbuat apapun selain menerima apa yang telah terjadi, "kau memang harus berhenti dari perusahaan itu, kau tahu? kau tidak akan punya waktu dengan anak dan istrimu, kalau kau terus saja pergi untuk bekerja di luar kota!"


"Terima kasih, sayang.. hanya kau wanita yang percaya padaku, tidak seharusnya aku menghabiskan pengabdian ini untuk perusahaan yang tidak bisa mengerti karyawannya seperti itu, ke depannya, aku akan bekerja keras, meski tidak lagi bekerja di tempat itu.."


"Ya, aku tahu kita akan sanggup melaluinya.."


Kedua orang itu berpelukan, melepas kesedihan di dalam hati mereka. Orang-orang di sekelilingnya memang tak bisa mengerti akan sebuah keadaan, hanya saja, setidaknya semua yang terjadi membuat mereka tahu, bahwa yang paling penting di dunia ini hanyalah sebatas keluarga.

__ADS_1


Cklek!


"Permisi, Paman, Bibi..." Terlihat Siska yang baru saja datang dari arah luar.


Kedua orang itu melepas pelukan mereka, dan menatapi sang sahabat yang ternyata datang juga dengan ayah kandungnya.


"Sam? kau pun datang?" tanya Ayah Andrea pada pria itu, lalu memeluknya..


"Aku turut sedih dengan kejadian yang menimpa putramu.." ucap Sam, ayah Siska.


"Paman, bagaimana keadaan Andrea? maaf baru sekali ini bisa menjenguk Andrea, Siska terlalu sibuk akhir-akhir ini, jadi hanya sempat menengok Andrea hari ini.." Ucap Siska, seorang sahabat yang tidak pernah memusuhi Andrea, tapi Andrea malah mengacuhkannya, memilih untuk bergaul dengan kawan yang sebenarnya hanya memberikan efek negatif untuk hidupnya.


"Tidak apa-apa, paman mengerti, kau duduklah, temani putri kami, dia butuh seorang teman untuk mengisi hari-harinya yang membosankan di rumah sakit.." Jawab Sam dengan senang hati..


"Terima kasih paman, sejak awal aku tahu kalau Gilbert bukanlah anak yang baik, tapi Andrea tetap saja tidak mau mendengar apa kataku, aku menyesal membiarkan dia terjerumus dalam kehidupan Gilbert yang buruk itu, kalau saja aku memberitahu dia lebih keras, mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi.." Ucap Siska dengan penuh sesal.


"Tidak perlu menyesali yang sudah terjadi, yang terpenting bagi kami untuk saat ini adalah, Andrea selamat dari kejadian naas yang sangat menakutkan ini," jawab ibunya Andrea.


"Bisakah aku berbicara padamu tentang sesuatu? tapi aku rasa aku butuh waktu hanya berdua denganmu, Jack!" tanya Sam pada ayahnya Andrea.


"Baiklah, mari kita bicarakan semuanya di luar.." Jawab Jack pada sang sahabat, "kita bicara sambil minum kopi, aku yang traktir.."


Mereka berdua berjalan beriringan keluar dari ruangan tersebut.


"Tidak! aku tahu kau baru saja di pecat, tidak perlu mentraktir aku apapun, aku juga punya uang, kau mau kopi, bayar kopi kamu sendiri, dan aku juga bayar sendiri," ucap Sam pada ayahnya Andrea.


"Baiklah, kau memang sahabat yang paling mengerti aku.."


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


__ADS_2